Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Janji Di Masa Lalu


__ADS_3

"Terima kasih karena kamu sudah mau mengajak anak-anak aku untuk main di rumah kamu, maaf selalu merepotkan." Melani terlihat menunduk tak enak hati.


Andrew tersenyum, lalu dia mengangkat dagu Melani dengan jari telunjuknya. Tatapan mereka pun kini bertemu, Andrew terlihat tersenyum dengan sangat manis.


"Mbak, kita nikah yuk?" ajak Andrew.


"Hah?"


Mendengar apa yang diucapkan oleh Andrew, Melani nampak kaget. Dia bahkan sampai memundurkan langkahnya, lalu menatap Andrew dengan tatapan tidak percaya.


Berbeda dengan Andrew yang masih terlihat menatap Melani dengan intens, bahkan bibirnya terlihat tersenyum dengan sangat manis.


Melani sempat berpikir, apakah ini sebuah lelucon?


Dia sudah mau berumur tiga puluh satu tahun, sedangkan Andrew berumur dua puluh dua tahun. Apakah Andrew sedang mengigau, pikirnya?


Kenapa tiba-tiba saja Andrew mengajaknya untuk menikah? Apakah Indonesia sudah kehabisan stok wanita lajang?


Melihat Melani yang menatap Andrew dengan tatapan bingung, membuat Andrew langsung tersenyum.


Andrew lalu mendekati Melani dan menggenggam tangannya dengan erat, Melani terlihat menurunkan pandangannya lalu menatap tangannya.


"Kenapa seperti orang bingung seperti itu? Apa Mbak pikir aku bercanda?" tanya Andrew.


Melani mendongakkan kepalanya, lalu dia menatap wajah Andrew dengan lekat.


"Ma--maksunya bagaimana? Jangan bercanda deh," kata Melani.


"Aku tidak bercanda, Mbak. Aku mengajak Mbak buat nikah, mau ngga nikah sama aku?" tanya Andrew lagi.


Melani nampak melepaskan tangannya dari genggaman Andrew, lalu dia memijat pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa sakit.


"Astaga, Tuhan! Aku baru tahu ada anak kecil yang melamar janda dengan cara seperti ini, seperti lelucon. Tahu kamu?" kata Melani.


"Mbak, aku memang belum membawa apa-apa. Tapi, kalau Mbak beneran mau nikah sama aku, aku akan mengajak Mama sama Ade untuk langsung mengajak Mbak Nikah. Sekalian bawa cincin lamarannya," kata Andrew.


"Masalahnya bukan itu, pernikahan itu sebuah hal yang sakral. Jangan asal ajak nikah-nikah saja, besok bisa-bisa kamu ngajakin aku cerai!" kata Melani.


"Ngga Mbak, aku ngga seperti itu. Aku tulus cinta sama Mbak," kata Andrew.


Melani tertawa sinis, dia tak menyangka dengan apa yang diucapkan oleh Andrew.

__ADS_1


"Cinta? Mana ada kaya gitu, kita kenal saja baru dua bulan. Ngga mungkin cinta datang secepat itu," kata Melani.


"Ish! Mbak salah, aku sudah mencintai Mba dari aku masih sejak usiaku 13 tahun. Bahkan saat itu Mbak sudah berjanji mau nikah sama aku, tapi pas lulus kuliah Mbak malah nikah sama si Albino itu!" kata Andrew.


"Yang benar saja, aku bahkan belum pernah bertemu sama kamu! Nyebut mantan aku juga salah, namanya Aldino," kata Melani.


Semakin lama Melani berbicara dengan Andrew, rasanya omongan Andrew semakin ngaco saja.


Mana ada anak SMP yang sudah jatuh cinta, pikirnya. Bahkan di usia yang baru menginjak tiga belas tahun, yang ada itu namanya cinta monyet, pikirnya.


Jika benar Andrew mencintai dirinya di saat usia tiga belas tahun, berarti saat itu Melani berusia dua puluh satu tahun.


Seingatnya saat itu Melani sedang dekat dengan Ajun, masa-masa dia sedang menyusun skripsi saat mau lulus kuliah dulu.


Dia merasa tidak pernah merasa mengenal lelaki yang bernama Andrew, apa lagi seorang anak SMP.


"Mbak pasti lupa, saat itu Mbak sedang terburu-buru. Katanya harus memberikan tugas penting pada dosen killer, terus karena saking ngebutnya bawa motor Mbak sampai nabrak anak SMP yang sedang menyebrang jalan," kata Andrew.


Melani nampak terdiam, dia duduk di sofa sambil mengingat-ingat kejadian yang diutarakan oleh Andrew.


Tak lama kemudian, Melani nampak membukatkan matanya. Dia juga langsung menutup mulutnya yang terlihat terbuka.


Andrew nampak menghampiri Melani, lalu dia duduk tepat di samping Melani.


Melani nampak menganggukkan kepalanya, lalu dia menatap wajah Andrew dengan lekat.


Melani pun mulai mengingat jika waktu itu dia memang harus memberikan tugas kepada seorang dosen yang terkenal killer, karena tidak hati-hati dia pun menabrak seorang anak lelaki berseragam SMP.


Anak lelaki itu bahkan tidak bisa berdiri karena ulahnya, beruntung tak jauh dari sana ada sebuah klinik 24 jam.


Melani pun membawa bocah berseragam SMP itu ke klinik tersebut, setelah mendapatkan pengobatan Melani dengan tergesa hendak meninggalkan Andrew di klinik 24 jam tersebut.


Namun, sebelum Melani pergi Andrew sempat menahan tangan Melani, lalu dia pun berkata.


"Mba kok tega banget ninggalin saya, kalau kaki saya buntung, terus ngga bisa jalan. lagi gimana?" tanya bocah SMP itu.


"Ck! Ngga bakal, kata dokter palingan kamu butuh istirahat satu minggu," kata Melani.


"Kan belum tentu seperti itu, kalau misalkan nanti kaki saya buntung terus saya beneran ngga bisa jalan, Mbak mau tanggung jawab?" tanya bocah SMP itu.


"Ya ampun, Dek. Mbak harus tanggung jawab kaya gimana?" tanya Melani kesal.

__ADS_1


"Karena Mbak sudah nabrak saya, Mbak harus nikahin saya." Bocah SMP itu terlihat menatap Melani dengan lekat.


Melihat tatapan matanya membuat Melani tertawa, namun karena dia tak mau berlama-lama lagi berada di dekat bocah SMP itu, Melani pun lalu mengiyakan permintaan anak SMP tersebut.


"Ya, nanti Mbak nikahin kamu. Sekalian entar Mbak yang beliin kamu mas kawinnya," ucap Melani seraya tergelak.


"Janji adalah hutang loh, Mbak. Nanti aku akan tagih janjinya Mbak," kata bocah SMP itu.


Melani hanya mengibaskan tangannya sambil berkata 'terserah', setelah itu Melani pun meninggalkan bocah SMP tersebut di klinik 24 jam.


Tentunya setelah menelpon orang tuanya terlebih dahulu, karena tak mungkin dia lepas tanggung jawab begitu saja.


"Mbak sudah ingat?" tanya Andrew.


"Astaga?" Melani terlihat mengusap dadanya, karena kaget melihat Andrew yang tiba-tiba saja terlihat duduk di sampingnya.


"Ta--tapi, itu kan, anu." Melani terlihat menggigit bibir bawahnya karena bingung harus menjelaskan seperti apa kepada Andrew.


Karena dulu dia mengatakan hal tersebut karena hanya ingin membuat Andrew diam saja, bukan benar-benar mengatakan hal tersebut dari hatinya sendiri.


"Kenapa diam, Mbak membohongi aku karena aku lebih kecil dari Mbak? Inget loh Mbak, pernikahan itu bukan mainan. Pernikahan itu hal yang sakral," kata Andrew membalikkan kata-kata Melani.


"Jangan mentang-mentang aku lebih muda dari Mbak, terus Mbak seenaknya bohongin aku!" rajuk Andrew.


"Ya Tuhan!" hanya itu yang dapat Melani ucapkan.


"Jadi gimana Mbak, mau nikah sama aku?"


"Astaga!" kesal Melani karena Andrew terus saja mengulang-ulang pertanyaannya.


"Ish! Mba berisik dari tadi cuma bicara nnga jelas, Mbak emang mesti dikasih pelajaran karena sudah berani membohongi aku," kata Andrew.


Tanpa Melani duga, Andrew langsung menarik tengkuk leher Melani. Andrew langsung menautkan bibirnya ke bibir Melani.


Melani nampak tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Andrew, dia hanya bisa mengerjapkan-ngerjapkan matanya karena kaget.


Berbeda dengan Andrew yang mulai menutup matanya dan mulai memagut bibir Melani, bibir Melani yang terbuka membuat Andrew begitu mudah untuk menikmati manisnya bibir wanita pujaannya.


"Bagaimana, sudah yakin mau nikah sama aku?" tanya Andrew setelah melepaskan pagutannya.


Melani yang seakan tersadar dari keterkejutannya langsung memukul dada Andrew berkali-kali.

__ADS_1


"Sinting!" pekik Melani.


__ADS_2