
Setelah mendengar penuturan Gia, Tuan Dirja merasa tak tenang. Dia sedang duduk sambil merenung di ruang kerjanya, dia sedang memikirkan semua kemungkinan yang sudah terjadi.
Tuan Dirja juga merasa sangat bersalah pada Elsa, pantas saja 6 tahun yang lalu Elsa tiba-tiba menghilang tanpa kabar.
Ternyata, semua ini adalah ulah putranya. Tuan Dirja tak bisa membayangkan, bagaimana sedihnya Elsa saat itu.
Tuan Dirja tak bisa membayangkan, bagaimana hinaan dan cibiran yang Elsa dapat kala itu. Kala hamil, dan tentunya tanpa suami.
Tuan Dirja merasa sangat bodoh, karena dulu dia percaya begitu saja dengan apa yang Gia ucapkan. Andai saja, dulu, dia menyelidiki nya terlebih dahulu, mungkin saat ini rasa bersalah dalam hati nya tidak akan sebesar sekarang.
Dia bisa langsung meminta maaf pada Elsa, dia juga bisa membujuk Elsa dan menikahkan Elsa secara baik-baik dengan putranya.
"Aaargh!!! Bodoh!!! Bodoh!!! Bodoh!!!" Tuan Dirja menjambak rambutnya dengan kasar, dia sangat merasa kesal.
Tuan Dirja bangun dari kursi kebesarannya, kemudian dia mondar-mandir di dalam ruangan tersebut. Dia sedang memikirkan, Bagaimana caranya meminta maaf kepada Elsa?
"Sepertinya, aku harus bertemu dengan Elsa. Aku harus meminta maaf padanya, aku juga harus memastikan kedua putri kembar itu." ucap Tuan Dirja lirih.
Tuan Dirja lalu melihat jam yang melingkar di tangan nya, waktu baru menunjukkan pukul sembilan pagi.
"Elsa pasti ada di rumahnya saat ini, aku harus ke sana sekarang." ucap Tuan Dirja.
Tuan Dirja pun langsung mengambil kunci mobil yang berada di atas meja, kemudian dia pun berlari keluar dan masuk kedalam mobilnya. Dia melajukan mobilnya dengan cepat, karena dia ingin segera bertemu dengan Elsa.
Sampai di kediaman Elsa, dia segera memberhentikan mobilnya. Awalnya, Tuan Dirja merasa ragu untuk turun dan masuk ke rumah Elsa.
Tapi, demi keingintahuannya terhadap masa lalu Elsa dan Gia. Demi meminta maaf kepada Elsa, Tuan Dirja pun, akhirnya turun dan segera melangkahkan kakinya menuju pintu rumah Elsa.
Tok!!! Tok!!! Tok!!!
"Siapa?" terdengar suara wanita paruh baya dari dalam.
"Saya, Dirja." jawab Tuan Dirja.
Ceklek!!
Pintu pun terbuka, nampaklah wanita paruh buatnya yang masih terlihat cantik di usia semuanya.
"Anda, siapa?" tanya Ibu Anira.
"Saya... saya Dirja. Bisa bertemu dengan Elsa," pinta tuan Dirja.
"Ada apa?" tanya Ibu Anira khawatir.
__ADS_1
"Mau berbicara tentang masalah peribadi," ucap Tuan Dirja.
Dahi Bu Anira berkerut dalam, dia takut jika Elsa sedang tersandung masalah. Tuan Dirja seakan tahu akan kegundahan hati, dari Ibu Anira.
"Saya mau minta maaf, tidak ada yang salah dengan Elsa. Justru saya yang merasa sangat bersalah padanya," ucap Tuan Dirja.
Ibu Anira pun langsung tersenyum lega," Silahkan, masuk."
Tuan Dirja pun langsung masuk dan duduk di ruangan tamu, sedangkan ibu Anira, langsung ke belakang untuk memanggil Elsa.
Tak lama, datanglah Bu Anira bersama Elsa. Elsa nampak mengernyit , dia menatap Tuan Dirja dengan heran. Karena tidak biasanya, dia melihat Tuan Dirja bersama ke rumahnya.
Bahkan, Elsa merasa lebih heran lagi, saat melihat wajah Tuan Dirja yang terlihat lebih tegang dari biasanya.
Saat Tuan Dirja menyadari kedatangan Elsa, Tuan Dirja pun langsung bangun, dia menghampiri Elsa dan langsung bersimpuh di kaki Elsa.
Tuan Dirja langsung menangis, dia sudah tak bisa menahan gejolak rasa bersalah di dalam hatinya.
"Maafkan aku, Elsa. Maafkan anakku, Gia." ucap Tuan Dirja di sela tangisnya.
Bu Anira dan Elsa nampak saling pandang, kemudian Elsa berusaha merengkuh tubuh lelaki paruh baya itu.
"Maksud Tuan apa?" tanya Elsa.
Tangis Tuan Dirja pun kembali pecah, dia merasa tak sanggup untuk meneruskan ucapannya. Elsa pun langsung paham, jika ini pasti ada hubungannya dengan apa yang sudah Gia lakukan padanya.
"Bangunlah, Tuan. Kita bicarakan semuanya dengan baik-baik," ajak Elsa.
Tuan Dirja menurut, Tuan Dirja pun langsung berdiri dan duduk di sofa sederhana yang berada di ruang tamu.
Elsa dan Bu Anira pun langsung duduk, mereka masih menunggu apa yang akan di katakan oleh Tuan Dirja.
"Maafkan aku, Elsa. Maafkan juga anak ku, Gia." ucap Tuan Dirja.
"Maksud, Tuan?" Elsa pura-pura tak mengerti.
"Gia, sudah menceritakan semuanya pada ku. Dia sudah berbuat hina pada mu, Elsa. Atas nama Gia, aku meminta maaf padamu.." ucap Tuan Dirja.
"Aku sudah memaafkan nya, Tuan. Tapi, rasa sakitnya belum bisa saya lupakan." ucap Elsa.
Mata Elsa seakan menerawang ke masa enam tahun lalu, matanya terlihat merembes. Dia menangis tanpa suara, Bu Anira langsung mengelus lembut punggung putrinya.
"Aku tahu, perbuatan anakku sangatlah keji. Tapi, dia sudah menyesalinya." ucap tuan Dirja.
__ADS_1
"Aku tahu, aku bisa melihatnya dari cara dia meminta maaf." ucap Elsa.
"Jadi, kamu bersedia kan memaafkan putraku?" tanya Tuan Dirja.
"Sudah aku bilang, Tuan. Aku sudah memaafkan, putra anda. Tapi, rasa sakit dan kecewa atas perlakuan putra anda, masih sangat membekas di dalam hati saya." terang Elsa.
"Aku tahu, pasti kamu butuh waktu lama untuk berdamai dengan hati mu. Tapi, boleh kah aku bertanya?" tanya Tuan Dirja.
"Silahkan," ucap Elsa.
"Apakah, Aurora dan Aurelia adalah cucu ku?" tanya Tuan Dirja penuh harap.
"Sudah ku duga, dia pati akan menanyakan tentang hal itu. Tapi, aku masih merasa enggan untuk mengatakan, jika kedua putriku, adalah cucunya."
"Kenapa malah diam? Apa mereka, benar-benar cucu ku?" tanya Tuan Dirja.
Elsa masih terdiam, dia masih enggan untuk mengucapkan apapun. Bu Anira seakan paham, dia pun langsung membuka suaranya.
"Tuan, mungkin Elsa masih enggan untuk bercerita. Mungkin, kalau suatu saat Elsa sudah siap. Anda bisa bertanya kembali," ucap Bu Anira.
Tuan Dirja, nampak menghela nafas berat. Sebenarnya, dia masih penasaran. Dia sangat ingin bertanya kepada Elsa, tentang kebenarannya.
Tetapi, dia juga harus menghargai keputusan Elsa. Memang semua ini terjadi karena ulah anaknya, pasti Elsa akan trauma, pikirnya.
Dia juga merasa beruntung, karena Elsa tak melaporkan kejadian itu pada polisi. Elsa malah pergi, dengan membawa sejuta luka karena ulah anaknya.
Tuan Dirja, nampak menyusut air matanya. Dia merasa sangat berat untuk pergi, karena belum dapat jawaban yang dia ingin kan.
"Aku pergi, kalau kamu sudah siap, aku menunggu jawaban atas pertanyaanku." ucap Tuan Dirja.
"Iya, Tuan." jawab Elsa.
"Satu lagi, anak-anak mu akan pulang malam. Mereka harus mengadakan promosi, untuk lagu mereka. Karena minggu depan, mereka harus sudah mempersiapkan acara Tuor Keliling Asia." ucap Tuan Dirja.
"Tapi, Tuan--"
"Tidak usah khawatir, mereka bersama ku." ucap Tuan Dirja, Elsa pun mengangguk.
dengan langkah gontai, dia meninggalkan rumah Elsa. Sebenarnya, dia masih ingin bertahan dan bertanya tentang kebenarannya.
Apakah Aurora dan Aurelia adalah cucunya?
Tetapi, dia juga harus menghargai keputusan Elsa. Akhirnya, dengan berat hati dia pun pergi menuju sekolah internasional.
__ADS_1