Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Rencana Liburan


__ADS_3

Dua minggu kemudian, Gia berniat mengajak semua anggota keluarganya untuk berlibur ke pulau B. Dia ingin memanjakan Elsa dan juga anak-anaknya.


Tentunya Gia tidak hanya bersama dengan keluarganya saja, namun dia juga mengajak serta Ajun dan juga dokter Irawan beserta anak dan juga istrinya.


Elsa pun tak mau kalah, dia mengajak serta sahabatnya Dina dan juga anak serta suaminya.


Gia sengaja menyewa sebuah Villa mewah di pulau B di dekat pantai, agar bisa menikmati suasana romantis kala matahari terbit dan terbenam.


Gia juga sengaja memilih menyewa Villa dekat pantai, agar anak-anak merasa senang bisa bermain air dan juga membuat istana pasir di pinggir pantai.


"Sudah siap, Sayang?" tanya Gia.


"Sudah, Mas." Elsa terlihat sedang menutup kopernya.


"Baguslah, kalau semuanya sudah siap. Jangan sampai ada yang ketinggalan," kata Gia.


"Iya, Mas Gia, Sayang." Elsa menghampiri Gia dan langsung mengecup bibirnya.


"Nakal!" bisik Gia.


"Biarin, nakal juga sama suami sendiri." Elsa naik ke atas pangkuan Gia dan mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.


"Jangan mancing-mancing kamu, nanti Mas bisa khilaf." Gia mengelus lembut pipi istrinya.


"Ngga apa-apa, Mas. Lakuin aja, lagian sudah lebih dari empat puluh hari. Akunya juga udah pengen," rengek Elsa.


"Sayang, Mas belum tega. Mas itu kasihan kalau inget kamu lahiran," kata Gia.


"Tapi, Mas. Aku udah ngga bakal hamil lagi, aku pengen." Elsa merengek seraya mengggoyangkan pinggulnya.


"Astaga!" pekik Gia kala merasakan miliknya yang langsung bangun dan berdiri dengan tegak.


Elsa tersenyum menyeringai kala merasakan milik suaminya yang sudah mengeras, Elsa turun dari pangkuan Gia dan langsung berjongkok.


Elsa langsung membuka kain penutup bagian bawah milik suaminya, Gia tersentak kaget dengan apa yang dilakukan oleh istrinya.


"Sayang, kamu mau apa?"


Gia berusaha menahan tangan Elsa agar tidak membuka kain penghalang yang kini sedang menutupi miliknya.


"Mau ini," kata Elsa seraya mengelus dan meremat milik suaminya.


"Astaga!" Gia langsung memejamkan matanya kala merasakan sensasi luar biasa yang tercipta karena ulah istrinya.

__ADS_1


"Makanya jangan suka bilang ngga mau kalau emang pengen," kata Elsa seraya terkikik.


Elsa langsung bermain dengan milik suaminya yang sudah seperti tongkat itu, Gia hanya bisa pasrah dengan kelakuan istrinya.


Awalnya Gia masih bisa menahan gejolak yang datang, namun ternyata Elsa begitu lihai bermain dengan miliknya.


Hal itu membuat Gia tidak tahan, dia langsung bangun dan menggendong tubuh istrinya. Lalu, dia hempaskan tubuh istrinya dan dia kurung pergerakan istrinya tersebut.


"Bersiaplah, Sayang. Jangan salahkan aku, jika malam ini kamu tidak akan bisa tidur." Gia langsung melucuti pakaian milik istrinya dengan tidak sabar.


Elsa tersenyum kala melihat kabut gairah di mata suaminya, dia tahu jika Gia menginginkan dirinya. Hanya saja Gia seakan tak tega saat melihat kondisi Elsa.


Padahal, Elsa merasa sudah sangat sehat. Bahkan dia juga sudah sangat rindu dengan belaian manja sang suami.


Tak lama kemudian, di dalam kamar milik Gia terdengar suara khas percintaan. Elsa dan Gia terlihat berlomba untuk mencapai puncak kenikmatan.


*/*


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, namun Elsa dan juga Gia belum juga terbangun dari tidurnya.


Tentu saja hal itu terjadi karena Gia benar-benar membuktikan ucapannya, dia mengajak istrinya bercinta sampai menjelang pagi.


Tentu saja dia rindu dengan kelembutan milik istrinya, dia rindu untuk memadu kasih dengan istrinya. Bahkan Elsa juga terlihat begitu agresif, hal itu membuat Gia sulit untuk menghentikan aksi panasnya.


"Bu, Gia mana?" tanya Ajun pada Bu Anira.


Hal itu tentu saja membuat Ajun geram, Gia meminta Ajun untuk mengatur jadwal kerjanya agar bisa berlibur.


Namun, pada kenyataannya Gia yang selalu melenceng dari rencana awal.


"Mereka belum keluar kamar," jawab Bu Anira.


Mendengar apa yang diucapkan oleh bu Anira, Ajun nampk menggelengkan kepalanya.


"Ya ampun, kita akan berangkat pukul sepuluh. Bagaimana bisa jam segini dia belum bangun?" tanya Ajun seraya melirik jam yang melingkar di tangannya.


Melihat kekesalan di wajah Ajun, bu Anira berinisiatif untuk membangunkan anak dan juga menantunya tersebut.


"Biar ibu bangunkan," kata Bu Anira.


"Ya," jawab Ajun singkat.


Bu Anira terlihat melangkahkan kakinya menuju kamar Gia dan juga Elsa, tiba di depan kamar Gia, bu Anira langsung mengetuk pintu kamar tersebut.

__ADS_1


Cukup lama dia menunggu di depan pintu, hingga sepuluh menit kemudian pintu nampak terbuka. Muncullah sosok Gia yang hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.


Bu Anira sempat memalingkan wajahnya saat melihat penampilan menantunya tersebut, malu rasanya melihat akan hal itu.


"Ada apa, Bu?" tanya Gia seraya mengucek matanya.


"Itu, Anu. Senuanya sudah menunggu di luar, sebentar lagi kita harus berangkat ke Bandara," lapor Bu Anira.


Untuk sesaat Gia nampak terdiam saat mertuanya berkata seperti itu, namun tak lama kemudian wajah Gia terlihat panik. Dia langsung menutup pintu kamarnya dan berlari ke arah ranjang.


Bu Anira sampai menggelengkan kepalanya melihat tingkah menantunya tersebut, kemudian dia memilih untuk pergi dan menunggu Gia bersama putrinya di ruang keluarga.


Di kamar, Gia terlihat sedang berusaha untuk membangunkan Elsa yang nampak kelelahan karena ulahnya.


"Sayang, bangun. Kita harus segera mandi, sebentar lagi kita harus berangkat." Gia menepuk-nepuk pipi istrinya.


"Memangnya kita mau pergi kemana?" tanya Elsa dengan mata yang masih terpejam.


"Ya ampun, Sayang. Kita mau pergi liburan, gara-gara kamu yang terus merayuku, jadinya aku khilaf sampai--"


"Suut! Ayo kita mandi," ajak Elsa seraya menarik tangan suaminya menuju kamar mandi dengan tubuh yang tidak terbalut apa pun.


Gia hanya bisa pasrah sambil mengikuti langkah istrinya, sesekali matanya menatap area paforitnya.


Di halaman rumah Pranatdja.


Semuanya sudah berkumpul, mereka terlihat berdecak karena Elsa dan juga Gia tak juga muncul.


"Lama," keluh Dokter Irawan.


Dia merasa kesal terhadap sahabatnya tersebut, karena Gia sendiri yang telat. Padahal kemarin sore dia sudah koar-koar jika mereka tidak boleh telat dan harus berkumpul tepat waktu di depan kediaman Pranadtja pukul delapan pagi agar mereka tidak telat sampai ke Bandara.


"Hooh, gue rasa abis buka puasa tuh dia," kata Ajun seraya terkekeh.


"Khilaf kayanya," ucap Dokter Irawan seraya terkikik geli akan ucapannya sendiri.


"Khilaf apa kalap?" tanya VB seraya berdecak.


Dokter Irawan dan juga Ajun langsung terbahak mendengar apa yang diucapkan oleh VB.


*


*

__ADS_1


Bersambung....


Selamat pagi, maaf kemarin tidak up. Masih sibuk di dunia nyata, i love you kesayangan. Jangan lupa tinggalkan jejak, yes.


__ADS_2