Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Flash Back


__ADS_3

"Kamu teh udah KDRT sama Bapak, tapi Bapak tetep sayang. Tuan Alfonso cuma ngajak ketemuan, katanya ada hal yang ingin ditanyakan. Booleh kan ya, Bapak ketemuan sama dia?" tanya Pak Galuh.


"Tapi kan, Pak. Dia orang asing," ucap Gadis.


Dia terlihat tidak suka saat mendengar Pak Galuh yang akan bertemu dengan Tuan Alfonso, karena kemarin saat mereka bertemu, Tuan Alfonso terlihat terus saja memandanginya.


Gadis hanya takut jika Tuan Alfonso punya niat tidak baik, apa lagi dia merupakan orang berduit. Biasanya orang berduit itu akan berkuasa dan selalu semaunya.


Dia juga jadi teringat akan Danish yang selalu semaunya karena kuasa yang dimiliki oleh Dad'nya, dia hanya takut jika Tuan Alfonso berniat jelek padanya.


"Apa salahnya membantu walaupun dia orang asing? Jangan suka salah menilai orang, Bapak tahu kalau kamu punya prasangka buruk sama dia," ucap Pak Galuh.


"Bapak Ih, dibilanginnya susah! Gadis cuma merasa, jika Bapak menemui dia, Bapak akan kecewa." Gadis memeluk erat lelaki yang selalu mengurusnya itu.


"Tidak akan, itu hanya perasaan kamu aja." Pak Galuh berusaha untuk menenangkan putrinya.


"Hem," jawab Gadis enggan.


*/*


Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, Tuan Alfonso terlihat gelisah. Dia terus saja bolak balik berjalan tak karuan, beberapa kali dia melirik jam mewah yang melingkar di tangannya.


Dia takut sekali jika pak Galuh tak mau datang, karena dia sangat mengharapkan kehadiran lelaki yang sekiranya berusia sama dengannya.


"Kemana Pak Galuh? Apa dia tak jadi datang? Kenapa tak menelpon?" tanyanya lirih.


Tuan Alfonso terlihat menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, lalu dia pun menyandarkan tubuhnya sambil menengadahkan wajahnya. Dia menutup matanya dan. mengingat-ingat kala dirinya bertemu dengan Gadis.


"Ya Tuhan, apakah Pak Galuh tidak jadi datang?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Dia sudah pasrah, mungkin karena belum saling mengenal makanya dia seakan tak mau menerima ajakan dirinya untuk bertemu.


Tak lama kemudian terdengarlah suara ketukan dari luar, sehingga membuat dia terlihat kembali bersemangat.


"Masuk!" ucap Tuan Alfonso.


Tak lama kemudian, pintu pun terbuka. Dia sangat senang karena ternyata yang datang adalah Pak Galuh bersama dengan asisten kepercayaannya.


Tuan Alfonso pun langsung bangun dan dia segera menghampiri Pak Galuh.


"Mari, Pak. Duduk," ajak Tuan Alfonso.


Pak Galuh menurut, dia mengikuti langkah Tuan Alfonso. Lalu, mereka pun duduk di sofa dan saling berhadapan.


"Rey, tolong bawakan dua cangkir kopi ke sini," ucap Tuan Alfonso.

__ADS_1


"Siap Mister," ucap Rey.


Tuan Alfonso dan juga Pak Galuh terlihat saling diam, tiba-tiba saja mereka merasa canggung.


Jika Tuan Alfonso merasa canggung karena tak tahu harus memulai berbicara seperti apa, dia tak tahu harus apa dulu yang dia tanyakan.


Berbeda dengan pak Galuh, dia merasa canngung karena ini pertama kalinya dia datang kesebuah perusahaan besar karena undangan dari sang pemilik perusahaan.


"Maaf, Mister. Ini kopinya, silahkan dinikmati." Rey terlihat menyimpan kopi pesanan Tuannya di atas meja.


"Terima kasih," jawab Tuan Alfonso.


Rey terlihat membungkuk hormat, lalu dia pun pergi dari ruangan tersebut.


"Ekhm," Tuan Alfonso berdehem untuk menetralkan perasaannya.


Rasanya jantungnya begitu tak karuan, terasa berdetak dengan cepat seperti sedang bertemu dengan wanita incaran hatinya.


Padahal dia hanya ingin bertanya, namun mulutnya seakan susah sekali untuk memulai pembicaraan tersebut.


"Maaf, Tuan. Sebenarnya Tuan teh mau ngomong apa? Saya pegel juga ini," ucap Pak Galuh seraya menekan-nekan kedua pahanya.


"Eh, maaf. Saya mau bertanya, tapi ini lebih ke arah peribadi. Boleh?" tanya Tuan Alfonso pada akhirnya.


"Apakah Gadis putri kandung Bapak?" tanya Tuan Alfonso to the point.


"Ma--maksud, Tuan?" tanya Pak Galuh terbata.


"Maaf jika sebelumnya saya menyinggung perasaan, Bapak. Tapi, saat pertama kali saya melihat Gadis, saya merasa melihat wajah istri saya." Tuan Alfonso terlihat tertunduk lesu.


"Me--mangnya siapa istri, Tuan?" tanya Pak Galuh.


Tubuhnya tiba-tiba saja terasa panas dingin, dia sangat takut jika dia akan kehilangan putrinya.


"Intan Paramita, wanita cantik yang berasal dari kota B. Pekerjaannya hanya pemetik daun teh," ucap Tuan Alfonso.


Mendengar nama Intan Paramita disebutkan, tubuh Pak Galuh mendadak lemas. Wajahnya pun terlihat pucat pasi.


"Dulu saya terpaksa meninggalkan istri saya, karena saya di deportasi." Tuan Alfonso terlihat tersenyum getir.


Dia terlihat menerawang jauh, mengingat kala dia muda dulu.


#Flash Back On#


"Dad, aku ingin berlibur ke Indonesia." Alfonso memelas pada Dadnya, dia meminta hadiah kelulusan kuliahnya untuk pergi ke negara yang sangat ingin dia kunjungi.

__ADS_1


"Tapi Al, kamu hanya pergi sendiri. Dad tak mengizinkan," ucap Daddy Jendrick.


"Aku sudah besar, Dad. Aku bisa jaga diri, hanya sebulan Dad. Setelah itu aku akan kembali," ucap Alfonso.


"Terserah," ucap Daddy Jendrick pada akhirnya.


"Tanks, Dad." Alfonso langsung memeluk dan mengecup pipi Dadnya.


Ke esokan harinya, Alfonso pun langsung pergi ke Indonesia. Negara yang sangat ingin dia kunjungi, sengaja dia ke sana karena ingin berlibur di kota-kota yang ditumbuhi dengan banyaknya pepohonan.


Tujuan utamanya adalah kota B, karena salah satu temannya pernah ke sana. Dia berkata jika di sana suasananya sangat asri, sejuk dan juga banyak pohon hijau yang menyejukan mata.


Setelah menempuh perjalanan selama sebelas jam dua puluh menit, Alfonso tiba di Bandara.


Dia begitu antusias saat keluar dari Bandara, dia langsung memesan taxi dan meminta sopir tersebut untuk mengantarkannya ke kota B.


Dua jam berlalu, dia dia pun sampai di kota B. Sampai di sana dia langsung menyewa kamar di sebuah penginapan sederhana.


Tentu karena Alfonso sangat menyukai kesederhanaan, karena lelah mendera Alfonso pun langsung merebahkan tubuhnya di kasur single yang ada di dalam kamar tersebut.


*/*


Pagi telah menjelang, hawa dingin seakan menusuk sampai ke tulang. Alfonso bangun dan meregangkan otot-otot lelahnya.


"Selamat pagi Indonesia," ucapnya.


Dia langsung keluar dari dalam kamarnya, lalu dia pun menatap hamparan kebun teh yang terlihat begitu luas.


"Segar sekali udaranya," ucap Alfonso.


Alfonso menghirup udara banyak-banyak, dia seakan begitu serakan ingin memenuhi paru-parunya dengan udara segar.


"Ngga sia-sia aku ke sini, udaranya segar sekali. Sepertinya aku harus mandi, biar bisa keliling sekalian nyari sarapan." Alfonso langsung bejalan ke kamar mandi, dia pun segera membersihkan tubuhnya.


Lima belas menit kemudian, dia sudah terlihat sangat tampan dengan menggunakan kaos putih pendek dan juga celana jeans panjang berwarna biru laut.


Dia bersiul dan menyambar jaketnya untuk pergi berkeliling kampung.


*


*


Jangan marah ya, Othor mau mulai cerita di masa lalu dulu. Biar ceritanya jelas, terima kasih untuk Kaleyan yang selalu setia membaca karya Othor.


Mungkin untuk Babang Gia, nanti setelah kejelasan hubungan Ajun.

__ADS_1


__ADS_2