Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Pikirkanlah


__ADS_3

Dokter Irawan terlihat benar-benar merasa sangat bersalah kepada Anita, dia tidak menyangka jika Clarista akan melakukan hal tersebut kepada Anita.


Padahal, niat dokter Irawan mengatakan jika Anita adalah calon istrinya hanya untuk membuat Clarista pergi dari kliniknya.


Namun ternyata, dia salah. Clarista tetaplah Clarista yang selalu merasa tak ingin tersaingi oleh wanita mana pun.


Bahkan, Clarista dengan teganya langsung melabrak Anita yang memang pada kenyataannya tidak tahu apa-apa.


Tiba di parkiran, dia langsung membuka pintu mobilnya dan mendudukkan Anita di samping kemudi.


Setelah memastikan Anita duduk dengan nyaman, dokter Irawan langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.


Untuk sesaat mereka saling diam, dokter Irawan pun seperti tak berniat untuk melajukan mobilnya.


Tak lama kemudian, Anita pun bersuara.


"Maaf, Dok. Sebenarnya Dokter mau mengantarkan saya pulang atau tidak? Badan saya sudah terasa lengket, kalau Dokter tidak mau mengantarkan saya, saya mau turun saja. Saya mau naik taksi saja," ucap Anita.


Mendengar ucapan Anita, dokter Irawan terlihat kaget sekali. Dia langsung menatap Anita dan dia pun mulai berkata.


"Eh? Jangan-jangan, biar saya antar. Maaf kalau tadi saya sedikit melamun," ucap Dokter Irawan.


Setelah mengatakan hal itu, dokter Irawan pun langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Anita.


Sesekali dia memperhatikan tubuh Anita yang terlihat basah dan lengket karena ulah Clarista, dia jadi merasa tidak enak hati.


"Maaf," ucap Dokter Irawan.


Anita yang terlihat sedang fokus menatap jalanan, langsung memalingkan wajahnya ke arah dokter Irawan.


"Maaf untuk apa, Dok?" tanya Anita.


"Maaf untuk kelakuan Clarista yang sudah mempermalukan kamu di depan orang banyak," kata Dokter Irawan.


Anita nampak tersenyum kecut mendengar ucapan dari dokter Irawan, sebenarnya dia ingin sekali marah kepada dokter Irawan.


Namun, dia merasa percuma jika harus marah-marah tidak jelas, lagi pula semuanya sudah terjadi.


"Tidak apa-apa, Dokter tidak perlu maaf kepada saya," kata Anita


"Kamu tahu? Clarista pasti akan mencari masalah lagi dengan kamu, dia akan membuat kamu merasakan hal yang lebih memalukan lagi dari tadi," ucap Dokter Irawan.


"Maksud Dokter bagaimana, saya tidak paham?" tanya Anita.

__ADS_1


"Clarista tahunya kamu adalah calon istri saya, sudah dapat dipastikan jika dia akan terus mengganggu kamu," ucap Dokter Irawan.


"Kalau begitu, tolong Dokter jelaskan kepada Clarista kalau saya bukan siapa-siapanya Dokter," pinta Anita.


"Tidak bisa dengan mudah menjelaskan sesuatu hal kepada Clarista, itu merupakan hal yang sulit. Apa lagi dia sudah terlanjur menyangka jika kita berdua akan segera menikah, pasti dia sekarang sedang berpikir untuk membuat kamu menjauh dari saya."


Dokter Irawan terlihat menepikan mobilnya, lalu dia pun menatap Anita dengan lekat.


"Bagaimana kalau kita menikah saja?" ajak Dokter Irawan.


Mendengar ucapan dokter Irawan, mata Anita langsung membulat dengan sempurna. Dia tidak menyangka jika dirinya akan diajak menikah dengan cara yang seperti ini.


"Dokter jangan bercanda, saya tidak suka," kata Anita.


"Saya tidak bercanda, ini demi kebaikan kita. Semua yang terjadi karena ulah saya, saya harus bertanggung jawab. Setidaknya kalau kita menikah, saya bisa menjaga kamu," kata Dokter Irawan.


"Tapi, kita tidak saling mengenal, Dokter. Saya tidak mau menikah dengan orang yang tidak saya kenal," kata Anita.


"Kita bisa berusaha saling mengenal setelah kita menikah, saya sudah tua. Hidup saya sudah penuh dengan dosa, bagaimana kalau kita memulai semuanya dengan kebaikan?" tanya Dokter Irawan.


"Maksud Dokter kebaikan seperti apa, yang sedang anda tewarkan kepada saya? Saya tidak paham, tolong Dokter jelaskan!" kata Anita.


"Bukankah akan lebih baik jika kita menikah terlebih dahulu? Setelah itu kita bisa berusaha untuk saling mengenal dan berpacaran setelah menikah. sepertinya itu akan lebih bagus," ucap dokter Irawan.


Apa lagi mereka sama sekali tidak saling mengenal, dia takut rumah tangganya nanti akan menjadi sebuah permainan belaka.


Karena menurutnya, pernikahan adalah hal yang sangat sakral, bukan sebuah permainan. Apa lagi mencoba berlindung di balik kata pernikahan.


Melihat Anita yang terlihat diam saja, dokter Irawan pun tahu jika Anita butuh waktu untuk berpikir.


"Pikirkanlah baik-baik, jika kamu bersedia menikah dengan saya, jangan sungkan untuk langsung memberitahukannya kepada saya," kata Dokter Irawan.


Dokter Irawan lalu mengambil kartu namanya dan memberikannya kepada Anita.


"Kalau kamu bersedia menjadi istri saya, kamu bisa menghubungi saya." Dokter Irawan berkata sambil tersenyum.


Anita menerima kartu nama tersebut, lalu memasukkannya ke dalam saku celananya. Setelah itu, dokter Irawan pun langsung melajukan kembali mobilnya.


Setelah itu mereka hanya saling diam, tak ada lagi percakapan diantara mereka. Tiba di depan rumah Anita, dokter Irawan langsung turun dan segera membukakan pintu mobil untuk Anita.


"Terima kasih, Dok," ucap Anita.


"Sama-sama," jawab Dokter Irawan.

__ADS_1


Setelah mengucapkan kata terima kasih, Anita pun terlihat melangkahkan kakinya menuju rumahnya.


Dokter Irawan nampak mengikuti langkah Anita yang hendak masuk ke dalam rumahnya tersebut.


Anita yang merasa jika dia diikuti oleh dokter Irawan, dia pun langsung berbalik dan menatap dokter Irawan.


"Dokter pulang saja, saya tidak berniat untuk mengajak dokter mampir," ucap Anita.


Dokter Irawan terlihat tersenyum kecut, baru kali ini pria turunan bule itu diacuhkan oleh seorang wanita.


Padahal, biasanya wanita yang bertemu dengan dokter Irawan akan langsung mencari perhatiannya.


"Ya sudah, kamu mandi dulu sana, biar badan kamu lebih segar," ucap dokter Irawan.


"Baiklah, kalau begitu saya masuk dulu," ucap Anita.


Anita pun terlihat masuk kedalam rumahnya, dokter Irawan nampak terdiam sambil memperhatikan tubuh Anita yang menghilang dari pandangannya.


Setelah Anita masuk kedalam rumahnya, dokter Irawan pun bermaksud untuk pulang. Baru saja dia membalikkan tubuhnya, dia sudah dikejutkan oleh seorang wanita paruh baya yang sedang berdiri tepat di belakangnya.


"Astaga!" Dokter Irawan nampak mengelus dadanya karena kaget.


"Maaf kalau saya mengagetkan, kamu siapa ya?" tanya Mama Andrew.


"Saya dokter Irawan, Tante." Dokter Irawan nampak menunduk dan mencium punggung tangan Mama Andrew.


Mama Andrew terlihat tersenyum, karena ternyata lelaki yang berada di hadapannya terlihat sangat sopan.


"Terus kamu kesini mau apa?" tanya Mama Andrew.


"Itu, Tante. Anu, ngantar Anita pulang," ucap Dokter Irawan seraya mengelus tengkuk lehernya.


"Kok nggak mampir dulu?" tanya Mama Andrew.


"Iya, Tante. Mungkin lain kali," jawab Dokter Irawan.


"Baiklah, kalau begitu Tante masuk dulu. Terima kasih sudah mengantarkan anak Tante," kata Mama Andrew.


"Ya, sama-sama," kata Dokter Irawan.


Setelah berpamitan kepada Mama Andrew, dokter Irawan pun langsung melajukan mobilnya menuju kediamannya.


Tentu saja hal itu dia lakukan karena dokter Irawan sudah selesai dengan tugasnya di klinik, ada dokter lain yang menggantikan tugasnya.

__ADS_1


__ADS_2