
Sudah satu bulan Elsa koma, Gia sampai putus asa dan takut jika Elsa tidak bisa kembali lagi kepadanya.
Setiap hari pekerjaan Gia hanya menunggui istrinya, beruntung untuk urusan pekerjaan ada Ajun yang mengurusi semuanya.
Pria yang sudah seperti Kakaknya itu begitu pandai dan cakap dalam masalah pekerjaan, sesekali dia akan datang untuk meminta tanda tangan kepada Gia, bila ada berkas penting yang memang tidak bisa memakai tanda tangannya.
Lalu, bagaimana dengan keadaan baby boy?
Keadaannya sudah mulai stabil, berat badannya pun sudah mulai normal. Baby boy kini sudah dibawa pulang ke kediaman Prandtja, tentunya Gia menyewa seorang perawat untuk menjaga putranya.
Sesekali Gia akan pulang hanya untuk menjenguk keempat anaknya, atau sekedar mengambil pakaian ganti untuknya.
Gia terlihat begitu sibuk membagi perhatian untuk Elsa dan keempat anak-anaknya. Hal itu menyebabkan Gia tak sempat untuk mencukur bulu-bulu yang tumbuh di wajahnya.
Kumisnya terlihat tumbuh dengan lebat, jenggotnya terlihat panjang, brewokan dan rambutnya terlihat gondrong. Sungguh penampilan Gia saat ini tidak mencerminkan sebagai seorang CEO.
"Tuan!" panggil Ajun seraya menepuk pundaknya.
"Hem," jawab Gia tanpa berkeinginan untuk menoleh ke arah suara.
"Ada berkas yang harus anda tanda tangani," lapor Ajun.
Gia bangkit dari bangku tunggu, lalu dia melangkahkan kakinya menuju sofa dan duduk anteng di sana.
"Mana?" tanya Gia.
Ajun langsung menghampiri Gia dan memberikan berkasnya, dengan cepat Gia membubuhkan tanda tangannya.
"Apa ada lagi?" tanya Gia seraya memberikan berkas yang sudah dia tanda tangani.
"Sebenarnya tidak ada, hanya saja saya ingin mengemukakan pendapat saya," kata Ajun.
"Apa?" kata Gia.
Sebenarnya Ajun merasa tak enak hati untuk mengatakannya, namun dia merasa jika apa yang ada di pikirannya harus segera dikeluarkan.
"Ehm, itu, Tuan. Kalau bisa anda segeralah pergi ke salon, benahi penampilan anda. Cukur rambut dan cukur semua bulu yang tumbuh di wajah anda," kata Ajun.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Ajun, dahi Gia nampak mengernyit dalam. Dia tidak mengerti kenapa Ajun bisa mengatakan hal seperti itu.
"Maksud kamu apa? Kamu ngatain saya jelek, atau bagaimana?" tanya Gia.
Melihat raut tidak suka di wajah Gia, Ajun pun segera mengibas-ngibaskan tangannya dan berkata.
__ADS_1
"Bukan seperti itu, Tuan. Hanya saja saya takut jika Elsa terbangun nanti, dia akan kaget saat melihat wajah anda. Bahkan mungkin Elsa tidak akan mengenali wajah anda yang sekarang," ucap Ajun mengemukakan pendapatnya.
"Ck! Mana ada yang seperti itu, dia istriku. Pasti dia mengenaliku, san pergi! Kamu mengganggu suasana hatiku," ketus Gia.
Ajun hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh atasannya tersebut, padahal apa susahnya membenahi pnampilannya, pikirnya.
"Terserah anda saja, kalau begitu saya permisi," pamit Ajun.
"Iya," jawab Gia.
Setelah berpamitan kepada Gia, Ajun langsung kembali ke perusahaan Pranatdja. Karena masih banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan di sana.
Selepas kepergian Ajun, Gia langsung kembali menghampiri istrinya. Dia duduk di bangku tunggu, sambil menggenggam tangan istrinya dengan erat.
"Sayang, aku rindu. Kenapa kamu tidurnya lama banget? Apa selama ini kamu selalu kurang tidur karena selalu melayaniku?" tanya Gia dengan wajah sendunya.
Gia menatap wajah Elsa dengan raut khawatir, dia benar-benar merasa putus asa saat ini.
"Sayang," ucap Gia lirih.
Gia mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya, dia mengecup kening Elsa dengan lembut. Lalu, dia menyatukan keningnya seraya memejamkan matanya.
"Bangun, Sayang. Mas rindu," kata Gia lirih.
Gia merasa jika itu hanyalah mimpi, dia menjauhkan wajahnya. Gia menegakkan tubuhnya, lalu dia memandang wajah wanita yang kini terlihat menatap dirinya dengan tatapan aneh.
"Sa--sayang, kamu sudah bangun?" tanya Gia dengan air mata yang sudah berurai.
Elsa tak menjawab, dia hanya diam dengan mata yang terlihat memicing.
"Sayang," panggil Gia lagi.
"Si--siapa kamu? Kenapa kamu ada di sini? Kenapa panggil-panggil, Sayang? Di mana suamiku?" tanya Elsa dengan suara lemahnya.
"Ya Tuhan, apakah istriku hilang ingatan? Kenapa dia tak mengenaliku?" tanya Gia seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
Elsa terlihat mengedarkan pandangannya, lalu dia menatap perutnya yang sudah rata. Matanya terlihat membulat dengan sempurna, kemudian tatapannya beralih kepada Gia.
"Kau! Apa yang kau lakukan kepada anakku?" tanya Elsa seraya mengelus perutnya.
Gia panik melihat istrinya menatap dirinya dengan tatapan bengis, dia bingung harus bicara apa. Apa lagi saat melihat Elsa meremat selimut yang dia pakai dengan penuh amarah.
"Sa--sayang, ini Mas Gia. Suamimu, Sayang. Jangan seperti ini," kata Gia berusaha menenangkan Elsa.
__ADS_1
Elsa terlihat menggelengkan kepalanya, lalu dia manatap Gia dengan tatapan penuh emosi.
"Kau pasti penculik!" tuduhnya.
Gia benar-benar panik, dia bangun lalu segera berlari keluar dari ruang perawatan tersebut. Gia berteriak memanggil suster dan juga dokter, dia benar-benar takut terjadi sesuatu terhadap istrinya tersebut.
Padahal di samping ranjang pasien ada tombol darurat, mungkin karena saking paniknya dia sampai tak sadar akan hal itu.
Tak lama kemudian, Gia kembali masuk ke dalam ruang perawatan Elsa beserta dengan tiga orang perawat dan satu orang dokter.
Melihat Elsa yang sedang berusaha untuk bangun, salah satu perawat langsung membantu Elsa untuk duduk bersandar.
Setelah itu, dokter langsung memeriksa kondisi kesehatan Elsa.
"Kondisi anda sudah sangat bagus, Nyonya," jelas Dokter.
"Maaf, Dokter. Anak saya--"
Melihat raut kegelisahan di mata Elsa, dokter nampak paham dengan apa yang dirasakan oleh Elsa, kemudian dia langsung berkata.
"Putra anda sudah lahir dengan selamat, dua hari yang lalu baru diajak pulang," jawab Dokter.
"Putra, Dok? Aku melahirkan seorang putra, Dok?" tanya Elsa.
"Ya, Nyonya," jawab Dokter.
Mendengar ucapan dokter, mata Elsa langsung berkaca-kaca. Binar bahagia terlihat begitu jelas di wajahnya.
"Terima kasih, Tuhan. Mas Gia pasti senang sekali karena aku sudah melahirkan seorang putra," ucap Elsa.
Mendengar namanya disebut, Gia langsung menghampiri Elsa. Dia tersenyum sambil mengelus lembut punggung tangan istrinya. Namun, dengan cepat Elsa menepis tangan Gia dengan kasar.
"Kamu sipa sih? Dari tadi menggangguku terus, nanti Mas Gia marah!" ketus Elsa.
"Sayang, Ini Mas Gia. Suami kamu," kata Gia.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Gia, Elsa nampak memperhatikan wajah lelaki yang berada di hadapannya itu.
Lelaki dengan berambut gondrong, berkumis, memiliki jenggot, bahkan lelaki itu nampak berjambang. Hal itu membuat Elsa bergidig.
"Suamiku itu tampan, tidak buruk rupa sepertimu," kata Elsa.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Elsa, dia nampak memelototkan matanya. Berbeda dengan suster dan dokter yang ada di sana, mereka terlihat mengatupkan mulutnya menahan tawa.
__ADS_1