Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Gadis Bar-bar


__ADS_3

Ternyata pekerjaan di kantor cabang begitu banyak, sehingga menguras waktu Ajun. Ajun kira dia akan sebentar saja di sana, namun ternyata dia salah.


Pukul delapan malam, dia baru saja kelar menyelesaikan semua tugasnya. Ajun pun lalu bersiap untuk pulang, rasanya dia sudah sangat lelah.


Namun dia tidak ingin berlama-lama di sana, dia bisa saja menyewa sebuah kamar di hotel untuk tidur di sana dan pagi-pagi berangkat ke Jakarta.


Namun, rasanya itu tidak akan mungkin. Karena besok pagi dia ada meeting pagi, sebenarnya perutnya juga sudah terasa sangat lapar.


Namun, Ajun seakan enggan untuk mencari makanan. Yang ingin dilakukan saat ini ialah segera pulang dan istirahat di rumah, menurut Ajun rasanya makan pun akan lebih enak di rumah saja.


Saat tiba di lobby kantor, Ajun pun segera masuk ke dalam mobilnya. Dia benar-benar sudah tak sabar ingin segera sampai di rumah dan merebahkan tubuh lelahnya.


"Hah! Hari yang sangat melelahkan, andai saja Tuan Gia mau ikut bersama, sudah pasti segala sesuatunya akan cepat selesai." Ajun langsung menyalakan mesin mobilnya, lalu melajukan mobilnya.


Baru saja lima belas menit dia melakukan perjalanan, tiba-tiba saja ada seorang wanita yang memberhentikan laju mobilnya.


Perempuan itu nampak seperti orang gila dan dia terlihat melambaikan tangannya di tengah jalan. Dengan terpaksa Ajun pun memberhentikan mobilnya, tak lama kemudian perempuan itu pun langsung menggedor-gedor mobil Ajun.


"Ck! Mau apa sih perempuan itu?" tanya Ajun.


"Tuan, tolong buka pintunya. Tolong saya," ucap perempuan itu memelas.


Karena hari sudah gelap, Ajun tidak bisa melihat perempuan itu dengan jelas. Karena kesal pun Ajun langsung bersiap untuk turun dari dalam mobilnya.


"Awas saja kalau cuma orang gila!" umpat Ajun.


Ajun pun segera membukakan pintu mobilnya, lalu menghampiri perempuan itu. Tanpa Ajun duga, perempuan itu langsung berlari dan memeluk Ajun.


"Om!" pekik perempuan itu, "syukurlah aku bertemu dengan, Om. Aku takut Om, aku ikut pulang ya, Om." Ternyata Gadis'lah perempuan yang memberhentikan perjalanan Ajun.


Ajun bisa merasakan jika Gadis sedang tertekan, dia ketakutan. Bahkan tubuhnya pun terasa bergetar, nafasnya tersenggal.


"Kamu habis apa, sih? Lari maraton?" tanya Ajun.

__ADS_1


"Om!" pekik Gadis.


Bahu Gadis terlihat bergetar, bahkan Ajun bisa merasakan jika kemejanya terasa basah. Dia tahu Gadis sedang menangis.


Namun, dia pura-pura tidak tahu. Dia hanya diam saja membiarkan Gadis mengeluarkan kesedihannya.


Melihat keadaan Gadis yang seperti itu, Ajun bisa menyimpulkan jika dia sedang dalam masalah, Ajun berusaha melerai pelukan Gadis. Kemudian karena kasihan, Ajun pun membukakan mobil pintu untuk Gadis dan menuntun Gadis agar duduk di samping kemudi.


"Duduklah, kita pulang sekarang," kata Ajun.


"Iya, Om," ucap Gadis menurut.


Setelah memastikan Gadis duduk dengan benar, Ajun pun menutup pintu mobilnya. Lalu, dia mengitari mobilnya dan masuk untuk duduk di balik kemudi.


Ajun langsung memasang seat belt untuk dirinya dan juga untuk Gadis, dia tahu jika Gadis sedang ketakutan dan bermasalah jadi dia pun tidak ada keinginan untuk menanyakan apapun.


''Terima kasih," hanya itu kata yang keluar dari bibir Gadis.


"Hem," jawab Ajun.


Selama perjalanan pulang Gadis terlihat membenahi penampilannya yang terlihat acak-acakan, bahkan Ajun pun bisa melihat jika baju Gadis terlihat robek di bagian belakang.


Karena kasihan Ajun pun melepaskan jasnya, lalu memberikannya pada gadis.


"Terima kasih, Om. Om baik banget sama Gadis," ucap Gadis.


"Hem," jawab Ajun.


Ajun bisa melihat jika Gadis masih terlihat sangat ketakutan, dia sebenarnya sangat ingin bertanya. Akan tetapi, menurutnya itu tidak ada sangkut-pautnya dengan dirinya.


Namun, saat melihat wajah Gadis yang terlihat pias, Ajun merasa tak tega. Ajun pun mengambil air mineral dan memberikannya pada Gadis.


"Minumlah," ucap Ajun dengan nada perintah.

__ADS_1


"Terima kasih, Om." Ucapnya, Gadis pun lalu meneguk air mineral yang diberikan oleh Ajun sampai tandas.


Malam ini Ajun melihat sosok Gadis yang berbeda, tak ada Gadis yang cerewet. Tak ada Gadis yang selalu bar-bar, hanya ada Gadia yang pendiam dan terlihat sangat takut.


Setelahnya, tak ada lagi percakapan diantara mereka, Ajun terlihat fokus dalam mengendarai mobilnya. Gadis pun sama sekali tak bersuara, membuat Ajun merasa tenang dalam melajukan mobilnya.


Pukul 11.30 malam, Ajun pun sampai di kediamannya. Rumah yang terlihat lumayan besar, sayangnya dia hanya tinggal sendiri di sana.


Hanya akan ada Bi Narsih yang datang dua kali dalam seminggu untuk membersihkan rumahnya, karena Ajun memang sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri.


Perlahan Ajun membuka seat belt'nya, saat dia hendak turun, dia pun tersadar jika dia tadi pulang bersama dengan Gadis.


Ajun pun langsung melihat ke arah Gadis, ternyata Gadis tertidur dengan sangat lelap.


"Pantas saja tidak ada suaranya, dia tidur." Ajun menyandarkan tubuhnya, lalu menatap wajah Gadis dengan lekat.


Tersungging sebuah senyuman kala mengingat Gadis yang selalu saja menempel padanya dan memanggilnya dengan sebutan Om.


"Kamu itu Cantik, sayangnya cerewet dan genit. Terus, aku harus apa sekarang?" tanya Ajun pada dirinya sendiri.


"Kamu merepotkan," imbuhnya lagi.


Ajun langsung turun dari dalam mobilnya, kemudian dia pun mengangkat tubuh Gadis dengan perlahan dan membawanya masuk menuju rumahnya.


Sebenarnya dia tidak ingin mengajak Gadis ke dalam rumahnya, takutnya ada salah paham. Namun, mengingat dirinya yang sudah sangat lelah, dia begitu enggan untuk mengantarkan Gadis menuju rumahnya.


Rasanya, dia sudah ingin mandi dan segera tidur. Direbahkannya tubuh Gadis dengan perlahan di ruang tamu, nampaknya Gadis begitu kelelahan. Dia terlihat sangat capek, sampai-sampai Ajun menggendongnya pun dia tidak ingat sama sekali.


Setelah Gadis terlihat tidur dengan sangat nyaman, Ajun pun langsung menyelimuti tubuh Gadis sampai sebatas dada.


"Dasar gadis Bar-bar, bisanya cuman merepotkan saja." Ajun tersenyum lalu keluar dari kamar tamu tersebut.


Dia segera masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengambil handuk karena dia ingin segera mandi. 15 menit kemudian, Ajun pun sudah terlihat segar dengan hanya menggunakan kimono mandi saja.

__ADS_1


Dia ingin sekali langsung tidur saja, namun perutnya terasa kosong. Dia pun langsung berjalan ke dapur dan mengisi perutnya yang terasa sangat lapar, karena tak ingin lama-lama di dapur Ajun hanya memakan roti saja.


Setelahnya, dia pun meminum segelas susu dan langsung masuk kedalam kamarnya. Karena sangat mengantuk Ajun langsung merebahkan tubuhnya dan tidur sambil memeluk guling kesayangannya.


__ADS_2