
" Jangan cemas, Bapak yakin Ajun orang yang sangat kuat," ucap Pak Galuh.
"Ya, Daddy setuju. Ajun pasti akan cepat sadar, mungkin dia hanya syok setelah mendengar jawaban 'Iya' dari kamu," ucap Tuan Alfonso menyemangati.
Gadis hanya bisa menganggukan kepalanya, lalu dia pun segera duduk di bangku tunggu. Begitu pun dengan Tuan Alfonso dan juga pak Galuh, mereka langsung menyusul Gadis dan duduk tepat di sebelah kanan dan kiri Gadis.
Setelah cukup lama menunggu, dokter yang memeriksa Ajun pun keluar dari ruang pemeriksaan. Gadis langsung bangun dan menghampiri dokter Arman.
"Selamat siang, Dok. Bagaimana dengan keadaan calon suami saya?" tanya Gadis.
Dokter Arman nampak menyunggingkan senyumannya, kemudian dia pun berkata.
"Calon suami anda baik-baik saja, sepertinya dia hanya kelelahan dan dia juga belum sarapan. Dari pagi belum ada asupan gizi yang masuk ke dalam tubuhnya, jadi tubuhnya melemah dan pingsan," jelas Dokter Arman.
Gadis terlihat mengangguk-anggukan kepalanya, dia tak habis pikir kenapa Ajun bisa pergi dengan perut kosong.
Padahal mereka melakukan perjalanan cukup jauh, di jalan saja Ajun menyetir selama 3 jam. Gadis pun jadi merasa bersalah dibuatnya, dia pasti terburu-buru karena ingin bertemu dengan Gadis.
Makanya dia tak sempat sarapan, karena dia terlalu sibuk mempersiapkan diri untuk melamar Gadis.
"Terima kasih, Dok. Atas penjelasannya, apa saya sudah boleh masuk?" tanya Gadis.
"Boleh, silahkan saja. Tapi harap gantian," ucap Dokter Arman.
"Ya, Dok." Gadis langsung mengangguk tanda mengerti.
Dokter pun langsung pergi ke dalam ruangannya, sedangkan Gadis sebelum dia masuk ke dalam ruangan di mana Ajun berada, Gadis menghampiri pak Galuh dan juga Dadnya.
"Daddy, bisakah aku meminta tolong," ucap Gadis.
Tuan Alfonso langsung bersiap untuk mendengarkan ucapan dari putrinya.
"Apa Sayang? Katakanlah! Dengan senang hati Daddy akan mengabulkannya," ucap Tuhan Alfonso.
"Itu, Dad. Daddy dengar sendiri kan kalo Om Ajun sakit karena belum sarapan, bisakah Daddy menyuruh anak buah Daddy untuk membelikan makanan buat, Om Ajun?" tanya Gadis.
"Tentu, Sayang. Kamu masuklah, tunggulah Ajun di dalam. Biar Daddy meminta anak buah Daddy untuk membelikan makanan untuk Ajun," ucap Tuan Alfonso.
"Baiklah, terima kasih Daddy," ucap Gadis.
Gadis lalu mengecup pipi Tuan Alfonso dan juga pak Galuh secara bergantian, setelah itu dia pun berlari kecil masuk ke dalam ruangan di mana Ajun berada.
__ADS_1
Saat dia masuk ke dalam ruangan tersebut, nampaklah Ajun yang sedang tak sadarkan diri di ranjang pasien.
Wajahnya masih terlihat memucat, tubuhnya yang selalu terlihat kuat, kini nampak tak berdaya. Gadis sangat sedih sekali melihat kondisi lelaki yang dia cinta.
Gadis pun lalu duduk di bangku tunggu sambil memperhatikan wajah Ajun, tangan Gadis terulur. Lalu, menggenggam tangan Ajun yang terasa sangat dingin.
"Om bangun, jangan tidur aja. Nanti Gadis tinggal," ucap gadis seraya tersenyum kecut.
"Padahal badan Om, gede banget. Otot-otot Om, terlihat menonjol di mana-mana. Kenapa Om malah pingsan, jangan-jangan mas malam pertama Om malah pingsan lagi. Kasihan banget tuh pisang ngga jadi nancep," Gadia langsung terkikik setelah bergumam dalam hatinya.
"Om, bangun. Kalau ngga bangun-bangun nanti Om, aku cium nih." Gadis mencondongkan wajahnya, dia menatap wajah Ajun yang tetap saja terlihat tampan walaupun wajahnya pucat.
Bibir Ajun yang terlihat sangat menggoda membuat Gadis menelan salivanya berkali-kali, apa lagi kala mengingat benda tak bertulang itu pernah bermain di bibirnya.
Gadis terlihat gemas, kalau saja mencuri itu halal. Pasti Gadis sudah melakukannya. Gadis terus saja memperhatikan wajah pujaan hatinya, sesekali dia tersenyum sambil memejamkan matanya, entah sedang membayangkan apa.
Mandiri ciuman, maksudnya ya gengs.
"Kamu kenapa senyum-senyum seperti itu?"
Terdengar sebuah pertanyaan di telinganya Gadis. "Ngga apa-apa."
"Ngga dong," ucap Gadis seraya tersenyum-senyum tak jelas.
Lalu, Gadis pun menyadari jika sedari tadi ada yang bertanya kepada dirinya. Gadis terlihat mengedarkan pandangannya, namun tak ada siapapun selain dirinya dan juga Ajun.
Kemudian, dia pun menatap wajah Ajun dengan lekat. Ternyata pria itu sudah sadar dari pingsannya, dia bahkan terlihat tersenyum dengan sangat manis kearah Gadis.
Ya, walaupun wajahnya masih terlihat pucat. Namun setidaknya itu lebih baik, karena Gadis tidak terlalu khawatir lagi.
"Om udah sadar?" tanya Gadis.
"Ya, aku sudah sadar calon istriku," jawab Ajun.
Gadis terlihat mencebik kesal, Ajun berkata jika dirinya adalah calon istrinya. Namun, cincin lamarannya saja belum sempat Ajun sematkan di jari manis Gadis.
"Om belum memakaikan cincin lamarannya, mana bisa di sebut sebagai calon istri?" protes Gadis.
Ajun langsung terkekeh mendengar nada protes dari Gadis, dia pun berusaha untuk bangun. Gadis dengan sigap membantu prianya.
"Om, mau apa?" tanya Gadis.
__ADS_1
Tentu saja Ajun ingin segera mengikat wanitanya, setidaknya dengan cincin lamaran itu, pikirnya.
"Seperti yang kamu minta, Sayang. Cincin'nya mana?" tanya Ajun.
Gadis terlihat tersenyum dengan pertanyaan Ajun, ternyata Ajun benar-benar ingin segera menyematkan cincin lamarannya itu.
"Ada di luar, sebentar aku ambilkan." Gadis langsung bangun dan keluar dari ruangan tersebut.
Ajun terlihat sangat senang, karena akhirnya bisa segera menikahi Gadis. Wanita yang mampu membuat hatinya berdebar tak karuan, wanita yang mampu membuat jiwa Ajun yang sedari dulu mati rasa menjadi bergairah kembali.
"Semoga kamu mau menerima aku yang apa adanya," ucap Ajun lirih.
Sepuluh menit kemudian, Gadis datang dengan membawa sepiring nasi lengkap dengan lauknya. Sedangkan Tuan Alfonso terlihat membawa buket bunga dan kotak kecil berwarna merah hati.
"Mau makan dulua, atau mau ngasih cincin'nya dulu buat aku?" tanya Gadis.
"Mau pakein cincinnya dulu," jawab Ajun cepat.
"Kamu terlihat sudah tak sabar, Nak. Saya jadi ingat waktu dulu kala mendekati Intan. Karena takut ada yang menikahinya, saya dengan tergesa mengajaknya menikah. Beruntung dia mau hidup serba sederhana dengan saya saat itu," ucap Tuan Alfonso seraya menitikan air matanya.
"Daddy, jangan sedih lagi." Gadis langsung memeluk Tuan Alfonso dengan penuh kasih.
"Berjanjilah kalian akan selalu saling melengkapi, saling mencintai dan saling menutupi kekurangan masing-masing. jika ada hal kecil sekali pun yang akan menjadi bibit masalah, kalian harus segera membahasnya. Jangan biarkan ada kesalahpahaman diantara kalian," ucap Tuan Alfonso.
Bukan tanpa sebab dia berkata seperti itu, tapi karena dia sudah menyelidiki putrinya tersebut dan Tuan Alfonso menemukan fakta bahwa Gadis sempat diperkosa oleh mantan kekasihnya.
Hal itu membuat Tuan Alfonso merasa sangat bersalah karena dia merasa tidak berguna sebagai ayah, dia benar-benar menyesal karena tidak mencari keberadaan Gadis dari dulu.
"Yes, Dad. Pasti," jawab Gadis.
"Ya, aku akan berusaha untuk selalu membahagiakan putri anda. Semoga saja dia tidak melirik pria yang lebih muda dariku," ucap Ajun seraya tersenyum menggoda.
"Om!" pekik Gadis.
Satu pukulan mendarat tepat di tangan Ajun, sedangkan Tuan Alfonso dan juga Ajun terlihat menertawakan Gadis yang terlihat cemberut.
*
*
Hai, selamat pagi. Selamat beraktifitas, semoga kalian sehat selalu. Jangan lupa like dan komentnya ya, apa lagi kalau mau ngasih Vote, di tunggu pisan.
__ADS_1