
Setelah kepergian Gia, Ajun langsung menghampiri Gadis lalu menggoyangkan tangannya.
"Bangun!" ucap Ajun.
Gadis terlihat menggeliatkan tubuhnya, lalu dia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena tidur di sofa.
"Sudah selesai Om, meetingnya?" tanya Gadis sambil mengucek matanya.
"Sudah, ayo pulang." Ajun mengulurkan tangannya, dia berniat untuk membantu Gadis untuk berjalan.
Gadis langsung tersenyum, dia pun dengan senang hati langsung menerima uluran tangan dari Ajun.
"Terima kasih, Om." Dengan cepat Gadis memeluk tangan kekar Ajun dan menyandarkan kepalanya di tangannya.
"Ya Tuhan, kenapa tingkahmu bener-bener seperti sugar Babby?" tanya Ajun.
"Kan Gadis masih susah jalan, Om. Pegangan kaya gini, kan, Gadis merasa lebih aman." Gadis makin mengencangkan pelukannya.
Sebenarnya itu hanya akal-akalan Gadis saja, karena dia memang ingin berdekatan dengan Ajun. Dari pertama bertemu, Gadis merasa suka pada sosok pria dewasa seperti Ajun.
"Ya ampun... terserah!" ucap Ajun pada akhirnya.
Ajun pun berjalan dengan perlahan, tentu saja karena tak mau membuat Gadis merasakan sakit di kakinya. Tapi saat Ajun melihat kaki Gadis, terlihat sudah kempes dan tidak memerah.
Mungkin karena sudah di beri obat dan juga dikompres, pikir Ajun.
Sampai di parkiran, Ajun langsung memakaikan helm pada Gadis, lalu setelahnya dia pun memakai helem dan langsung naik ke atas motor matic kesayangan Gadis.
Gadis yang tak mau ditinggalkan oleh Ajun pun langsung naik dan memeluk erat perut Ajun. Untuk sesaat Ajun memandang tangan mungil Gadis, lalu Ajun pun langsung menggelengkan kepalanya.
"Dasar bocah!" ucap Ajun pelan.
Walaupun Ajun berkata dengan pelan, namun Gadis masih bisa mendengar ucapan Ajun dengan jelas.
Mendengar ucapan Ajun, Gadis langsung mencebikan bibirnya. Dia sudah dua puluh satu tahun, sebentar lagi akan menjadi seorang sarjana. Lalu apa yang tadi Ajun katakan tentangnya? Bocah?
Yang benar saja... Mulutnya itu loh bikin ngga ngenakin, bikin pengen nyabein. Sayangnya Gadis sangat suka pada kepribadian Ajun yang terlihat dingin dan cuek, namun sangat peduli.
"Aku udah bisa bikin bocah, Om. Jangan bilang aku bocah," ucap Gadis.
"Hem," hanya itu jawaban dari mulut Ajun, karena dia tak mau lagi memperpanjang masalah.
Ajun lalu melajukan motor Gadis, tentu tujuan utamanya adalah mengantarkan Gadis pulang. Lalu dia harus segera ke kantor, karena banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan.
__ADS_1
Tiba di depan kedai sup buah, Ajun langsung memberhentikan motor yang dia tunggangi. Dia langsung meminta Gadis untuk turun, setelah Gadis turun, Ajun pun ikut turun.
Melihat Ajun yang sudah turun dari motor matic kesayangan, Gadis nampak tersenyum.
"Kenapa malah senyum-senyum seperti itu?" tanya Ajun merasa heran.
"Mau minta tolong lagi," jawab Gadis singkat.
"Ck, minta tolong apa lagi?" tanya Ajun dengan raut sedikit kesal.
"Kaki aku masih sakit, Om. Tolong anterin aku ke dalem dong, Om." Gadis merentangkan kedua tangannya, dia berharap Ajun akan menggendongnya sampai masuk ke dalam rumahnya.
"Ck, merepotkan!" keluhnya.
Benar sesuai dugaan Gadis Ajun langsung menggendong Gadis, sayang'nya tak seperti harapannya.
Dia berharap digendong dengan gaya bridal style, namun Ajun malah menggendong Gadis seperti mengangkat sekarung beras. Membuat Gadis nampak mendengus sebal.
Bahkan Pak Galuh yang melihat Ajun dan Gadis pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, ada-ada saja menurutnya sikap anak sekarang.
Namun dia sangat bersyukur, karena Gadis sudah mulai mau berinteraksi lagi dengan lelaki, karena Gadis sempat menutup diri setelah kejadian dua tahun yang lalu.
Ajun langsung mendorong pintu rumah Gadis dan mendudukkan Gadis di salah satu sofa yang berada di ruang tamu.
"Ada, Om. Om'nya, nunduk dulu. Gadis ngga sampe," ucap Gadis seraya menggoyangkan jari telunjuknya.
Ajun menurut, dia langsung menunduk hingga wajahnya tepat berada di depan wajah Gadis.
"Ada apa lagi?" tanya Ajun.
Cup!
Satu kecupan mendarat dengan sempurna di pipi Ajun, hal itu membuat wajah Ajun nampak merona.
"Itu sebagai ucapan terima kasih dari aku, karena Om, sangat baik padaku." Gadis nampak menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Dasar bocah!" umpat Ajun.
Ajun langsung melangkahkan kakinya keluar dari rumah Gadis, sesekali dia mengusap pipinya yang terasa memanas.
"Jangan bilang aku menyukai tingkah konyol bocah itu?" ucap lirih Ajun.
Ajun mempercepat langkahnya, dia langsung menuju ruangannya. Beruntung rumah Gadis berada di sebrang kantor milik keluarga Pranadtja, jadi dia tak perlu menghabiskan waktu yang lama untuk segera sampai.
__ADS_1
"Gila! Bocah itu bener-bener absurd tingkahnya," ucap Ajun seraya mendaratkan bokongnya di kursi kebesarannya.
Awalnya Ajun ingin sekalian pergi makan siang, namun dia merasa malas. Dia akan memesan makanan online saja, pikirnya.
Jika Ajun sudah mulai melakukan tugasnya, Gia malah asik mengobrol dengan kedua putrinya. Karena ternyata dia kedatangan tamu, istrinya dan kedua putri kembarnya.
Ternyata Elsa habis melakukan pemeriksaan kandungan, selepas kepergian Gia, perut bagian bawahnya terasa keram.
Elsa pun memutuskan untuk memeriksakan kondisi kandungannya, beruntung kata Dokter Elsa hanya kelelahan. Janinnya dalam keadaan baik, Elsa hanya perlu istirahat saja.
Setelah memeriksakan kandungannya, Elsa memutuskan untuk menjemput kedua putrinya, memebeli makanan di sebuah Resto ternama, lalu mengajak mereka untuk ke kantor Ayahnya.
"Ayah, senang sekali kalian bisa berkunjung, Ayah jadi makin semangat buat kerja." Gia langsung mengecupi kening kedua putrinya secara bergantian.
"Bunda yang jemput, Yah." Aurora terlihat duduk di pangkuan sang Ayah.
"Manja bener sih, putri Ayah," kata Gia.
"Aku juga mau duduk di pangkuan Ayah," ucap Aurelia.
"Oke, Kakak duduk di paha kanan Ayah. Biar Rere duduk di paha kiri Ayah," ucap Gia.
Aurora dan Aurelia menurut, entah ada angin dari mana. Namun mereka bertingkah sangat manja siang ini, namun Gia tak keberatan. Justru dia merasa sangat senang.
"Bunda ngga mau, Ayah pangku juga?" tanya Gia dengan tatapan nakalnya.
"Ya ampun, Sayang. Ngga mau," ucap Elsa.
Gia langsung mencebik, sedangkan kedua putrinya nampak menertawakan Ayahnya.
"Oiya, Mas. Aku beli makanan tadi di luar, kita makan siang bareng ya?" tawar Elsa.
"Ya, bukalah. Mas memang sudah lapar," ucap Gia.
Elsa pun menurut, Elsa keluar dari ruangan Gia. Lalu mengambil beberapa piring dan juga mangkok untuk tempat makanan yang dia beli di Resto dekat sekolah kedua putrinya.
Setelah mendapatkan apa yang dia butuhkan, Elsa pun kembali ke dalam ruangan Gia kemudian menuangkan makanan yang tadi sudah dia beli.
"Mas mau disuapin," ucap Gia manja.
"Rara juga," ucap Aurora menimpali.
"Rere juga," ucap Aurelia tak mau kalah.
__ADS_1
"Astaga! Kalian benar-benar manja," ucap Elsa.