Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Meminta Bantuan


__ADS_3

Aldino menggeliatkan tubuhnya, tangannya meraba-raba kasur berharap menemukan istrinya. Sayangnya tak ada siapa pun di sana, Aldino pun berusaha untuk membuka matanya.


"Sayang!"


Aldino memanggil istrinya, berharap mendapatkan sahutan. Sayangnya tak ada, Aldino pun bangun dan langsung mengambil handuk dan melilitkan handuk tersebut di pinggangnya.


Aldino melihat ke arah meja yang berada di dekat jendela, tak ada apa pun di sana. Padahal biasanya kalau dia terbangun, pasti sudah ada segelas kopi dan juga kue kesukaan Aldino.


"Kamu kemana sih, Yang? Biasanya kalau aku bangun kamu lagi bersiap untuk kerja, terus kopi kesukaan aku juga udah kamu siapin." Aldino menjatuhkan tubuhnya di sofa.


Tak lama kemudian, Aldino mendengar telponnya berdering. Ternyata satu panggilan dari Nyonya Mariene, dia terlihat berdecak.


"Mengganggu!" umpatnya.


Aldino tak mengangkat panggilan telpon tersebut, dia langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, dia langsung memakai baju kerjanya dan keluar dari dalam kamarnya.


"Mah, Melani mana?" tanya Aldino saat melihat Nyonya Mesti yang sedang duduk di ruang makan.


"Sudah berangkat, katanya ada urusan," jawab Nyonya Mesti.


Dahi Aldino nampak mengernyit, dia terlihat heran karena biasanya Melani tak pernah berangkat sepagi itu. Aldino pun menghampiri Ibunya dan duduk tepat di samping ibunya tersebut.


"Kok tumben sih, Mah? Biasanya dia tak pernah berangkat sepagi ini, dia juga tak pernah lupa menyiapkan kopi dan kue kesukaan aku," ucap Aldino penuh protes.


Nyonya Mesti terlihat menggedikkan kedua bahunya, dia tidak tahu kenapa Melani berangkat sepagi itu. namun yang dia tahu, dia merasakan jika rumah tangga Melani dan Aldino tidak baik-baik saja.


"Ck! Kemana dia?" tanya Aldino.


"Entahlah, Sayang. Mamah ngga tahu, yang Mamah tahu. Akhir-akhir ini Melani sering menangis, dia sering terlihat sedih sekali. Namun jika Mamah bertanya, dia selalu saja berkata tidak apa-apa. Apa kamu tahu kenapa, Sayang?" tanya Nyonya Mesti lembut.


DEG!


Jantung Aldino terasa berdetak lebih kencang, entah kenapa dia jadi merasa jika Melanie mengetahui hubungan dirinya dengan Nyonya Mariane.


Selama ini dia memang menjalin hubungan dengan Nyonya Mariane, akan tetapi dia melakukan itu karena dia ingin mendapatkan banyak harta kekayaan dari Nyonya Mariane.

__ADS_1


Tentunya harta itu akan dia persembahkan untuk anak dan juga istrinya, awalnya Aldino selalu membatasi diri dengan Nyonya Mariane.


Namun seiring berjalannya waktu, dia tidak bisa membohongi perasaannya. Jika pesona Nyonya Mariane memanglah sangat luar biasa, sampai-sampai dia pun jatuh hati kepada Nyonya Mariane.


Wanita yang selalu memanjakan dirinya dengan fasilitas mewah dan juga wanita yang selalu memanjakan dirinya di atas ranjang.


"Benarkah, Mah? Apa dia sering menangis?" tanya Aldino memastikan.


"Ya, setiap pulang kerja dia selalu menangis. Tapi, dia selalu berusaha untuk tersenyum ketika di hadapan kedua buah hati kalian. Begitu pun di hadapan Mamah," ucap Nyonya Mesti.


Aldino nampak berpikir, dia pun jadi teringat kala mereka bertengkar dan menurunkan Melani di pinggir jalan. Aldino sangat marah karena kala itu Melani menyudutkan dirinya dengan pertanyaan mengenai Nyonya Mariane.


"Mamah cuma berpesan sama kamu, Nak. Melani wanita yang baik dan penurut, jangan sampai kamu menyesal. Wanita memang selalu bertahan dengan lelaki yang dia cintai, tapi... kalau dia udah tak kuat, dia akan pergi tanpa mau berbalik lagi. Walaupun prianya mengemis untuk kembali," ucap Nyonya Mesti.


Jantung Aldino makin berdetak dengan kencang, dia pun jadi mengingat sang Ayah yang rela menikah lagi dengan wanita lain.


Dia beralasan jika dia menikah lagi agar hidupnya dan juga ibunya bisa lebih baik lagi, namun sayangnya dia berbohong. Pesona istri keduanya membuat sang Ayah lupa diri, sehingga Nyonya Mesti pun memutuskan untuk berpisah dan membesarkan dirinya sendirian.


"Tidak akan, Melani tak akan seperti itu," ucap Aldino.


Setelah berbicara dengan ibunya, Aldino pun memutuskan untuk pergi. Dia ingin segera menemui Melani di Caffe'nya sebelum dia datang ke kantornya tempat dia bekerja.


Aldino pun langsung menghampiri Reni dan menanyakan keberadaan istrinya.


"Selamat pagi, Ren. Di mana istriku?" tanya Aldino.


"Istrimu? Dia belum sampai," jawab Reni.


"Tapi, kata Mamah dia sudah berangkat dari pukul enam," kata Aldino.


"Aku tidak tahu, mungkin dia pergi ke tempat lain," kata Reni.


Wajah Aldino terlihat panik, dia pun segera pergi dari sana menuju kantor tempat dia bekerja. Selama perjalanan, dia terlihat berpikir dengan keras tentang kemana pergi istrinya tersebut.


Sebenarnya dia masih ingin mencari keberadaan istrinya, namun karena waktu sudah menunjukkan pukul 8, Aldino pun segera memutuskan untuk pergi ke kantor tempat dia bekerja.

__ADS_1


*/*


"Mel, bangun." Ajun menepuk pelan pundak Melani.


Melani yang memang kurang tidur malah ketiduran di loby kantor milik keluarga Pranadtja, saat mendapatkan tepukan dari Ajun, dia pun segera membuka matanya.


"Eh? Maaf aku ketiduran," ucap Melani.


"Tak apa? Ada apa kemari?" tanya Ajun.


"Aku ingin meminta tolong," jawab Melani lirih.


"Kita keruangannya saja," ajak Ajun.


Melani menurut, dia pun langsung mengikuti langkah Ajun untuk masuk ke dalam ruangannya bersama dengan Gia.


Saat mereka masuk, Gia sudah terlihat duduk anteng di atas sofa sambil memainkan ponselnya. Dia terlihat tersenyum-senyum karena sedang membalas pesan dari sang istri tercinta.


"Selamat pagi tuan Gia," siapa Melani.


Gia pun langsung menghentikan aktivitasnya, lalu dia mempersilahkan Melani untuk duduk.


Melanie pun menurut, dia langsung duduk tepat di hadapan Gia. Ajun pun turut duduk di sofa singel samping Gia.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Gia to the point.


"Saya ingin bercerai dengan suami saya, tapi saya ngga tahu bagaimana prosesnya. Bisakah Tuan membantu?" tanya Melani.


Gia terlihat memandang Ajun, karena memang yang selalu mengerjakan semua tugas-tugasnya adalah Ajun. Ajun terlihat menghela napas, bukannya tak mau membantu.


Namun, saat ini perusahaan Pranadtja sedang banyak project. Tentu Ajun tak ada waktu untuk membantu Melani, beruntung Gadis sudah berbicara dengannya.


Jika Melani membutuhkan bantuan, Gadis akan dengan senang hati membantu Melani.


"Em, begini Mel. Kalau untuk urusan itu, kamu akan dibantu sama istri aku. Jadi, kamu pulanglah dulu. Nanti sore kita ketemuan," ucap Ajun.

__ADS_1


"Terima kasih, Kak. Kalau begitu aku pulang dulu, nanti Kakak langsung ke Caffe aku saja. Aku tunggu," kata Melani.


"Ya, aku pasti datang," jawab Ajun.


__ADS_2