
Melani pun lalu segera mengambil ponselnya, dia melihat ada pesan dari mantan mertuanya. Ada juga pesan dari Aldino dan ada pesan dari Andrew.
Tentu saja yang pertama kali dia buka adalah pesan dari mantan mertuanya, alangkah kagetnya Melani saat membaca pesan dari mertuanya tersebut.
"Asam lambung Mamah kumat, maaf karena Mamah tidak bisa datang untuk mengasuh Fajri."
Melani terlihat kebingungan setelah membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh Nyonya Mesti.
Dia benar-benar gelisah, dia benar-benar merasa gundah. Dia jadi bertanya-tanya dalam hatinya, lalu dengan siapa Fajri dari pagi kalau Nyonya Mesti tidak datang ke rumahnya?
Lalu, siapa yang menjemput Merissa saat pulang sekolah? Dia juga jadi berpikir, siapa yang menyediakan makan siang untuk Merissa?
Banyak lagi pertanyaan yang muncul di benaknya, dia merasa sangat bersalah terhadap kedua buah hatinya.
Melani benar-benar merutuki kebodohannya, karena semenjak mendapatkan akta cerai dari pengadilan, Melanie nampak seperti orang bodoh.
Dia lebih banyak melamun, dia lebih banyak mengingat masa-masa lalunya yang terasa indah bersama dengan Aldino.
Tanpa dia sadar, jika dia telah mengabaikan ponselnya selama seharian. Melihat Melani yang terlihat gusar, Reni pun langsung menghampiri sahabatnya tersebut.
"Ada apa, hem? Kenapa gelisah banget?" tanya Reni.
"Mamah Mesti sakit, dia ngga dateng ke rumah aku. Lalu, dengan siapa kedua anak aku?" tanya Melani gelisah.
"Astaga! Mending kamu pulang duluan, aku jadi ikut khawatir." Reni terlihat mengusap lembut punggung Melani.
"Oke, kalau begitu aku pulang dulu. Maaf karena aku akhir-akhir ini tidak bisa konsisten," ucap Melani.
"Tak apa, pergilah! Kedua buah hatimu lebih penting," ucap Reni.
Setelah berpamitan dengan Reni, akhirnya Melani pun langsung melajukan mobilnya menuju kediamannya.
Saat tiba di kediamannya, dia melihat Merissa sedang duduk di bangku kayu yang berada di teras depan rumah.
Melihat Melani yang baru saja tiba, Merissa terlihat sangat senang sekali. Dia langsung bangun dan menghampiri Bundanya.
Dia pun langsung memeluk Melani dengan erat, seperti sudah tak bertemu selama berbulan-bulan.
"Mer, kangen." Merissa terlihat mengurai pelukannya.
__ADS_1
"Maaf ya, Sayang. Buna tadi ngga bisa jemput kamu, terus kamu siang pulang sendiri? Berani kamu? Terus kamu makan apa? Sudah makan, kan?" tanya Melani bertubi-tubi.
Mendengar banyaknya pertanyaan yang keluar dari bibir Melani, membuat Merissa tertawa.
Dia lalu menuntun Melani untuk duduk di teras depan rumah.
"Mer pulang di antara sama Om dokter, kebetulan saat Mer mau pulang ketemu sama Om dokter. Terus pas pulang aku juga dibeliin makanan cepat saji sama Om dokter," kata Merrisa.
"Ya ampun, terus pas Om dokternya udah pulang kamu sendirian di rumah?" tanya Melani.
"Iya, Buna. Aku langsung tidur siang," kata Merissa.
"Terus dedenya ke mana?" tanya Melani.
"Nggak tahu, Buna. Aku nggak tahu kemana Dede,"ucap Merissa.
Mendengar Merissa yang berkata tidak mengetahui keadaan adiknya, Melani pun lalu memutuskan untuk bertanya kepada ibunda Andrew.
"Tungga sebentar, Buna ke rumah Om Andrew dulu," kata Melani.
Merissa pun menurut, dia nampak duduk di teras depan rumah. Sedangkan Melani terlihat melangkahkan kakinya menuju rumah Andrew.
"Selamat sore, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Mama Andrew.
"Maaf, Tante. Saya mau tanya anak saya Fajri, tadi pagi soalnya dia masuk ke rumah ini bersama dengan putra ibu, Andrew.
Perempuan paruh baya itu nampak tersenyum, kemudian dia pun mempersilakan Melani untuk masuk ke dalam rumahnya.
Sampai di ruang tamu, Melani pun langsung menghempaskan bokongnya ke atas sofa empuk yang ada di ruangan tersebut.
Kemudian, dia pun kembali bertanya tentang puteranya, Fajri.
"Maaf, Tante. Anak sayanya mana?" tanya Melani.
Wanita paruh baya itu kembali tersenyum, lalu mengelus lembut pundak Melani. Dia terlihat berusaha menenangkan kegelisahan di mata Melani, lalu kemudian Mama Andrew pun terlihat menjelaskan.
"Anak kamu ikut bersama dengan putra saya keluar kota," kata Mama Andrew.
Mendengar ucapan mamanya Andrew, Melani merasa sangat tidak enak hati karena dia harus merepotkan pria lajang tersebut.
__ADS_1
"Astaga! Dia pasti kerepotan, sudah harus bekerja bawa anak saya pula," kata Melani tak enak hati.
Melihat raut wajah Melanie, Mama Andrew langsung tersenyum. Dia merasa lucu saat melihat hal tersebut.
"Sebenarnya saya sudah merayu putra kamu untuk tidak ikut, namun anak pintar itu tak mau lepas dari anak saya. Dia malah berteriak 'mau ikut, Ayah'," jelas Mama Andrew.
Mendengar akan hal itu, Melanie Nampak tak enak hati. Dia benar-benar merasa sudah sangat merepotkan Andrew, apa lagi Andrew masih lajang pikirnya.
Bagaimana kalau misalkan Fajri rewel, apakah dia bisa mengatasi hal tersebut?
Karena dia begitu menghawatirkan Fajri, akhirnya dia pun meminta nomor telepon Andrew kepada Mamanya.
Melani ingin segera menanyakan keadaan Fajri kepada Andrew, apa lagi waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam.
Dia sungguh khawatir terhadap putranya tersebut, Mama Andrew pun dengan senang hati memberikan nomor polsel putranya tersebut kepada Melani.
Setelah mendapatkan nomor ponsel Andrew, Melani pun langsung menghubunginya. Sudah beberapa kali Melani mencoba menghubungi nomor Andrew, namun sayangnya tak kunjung diangkat.
Melani jadi merasa sangat khawatir dibuatnya, dia pun jadi terus berpikiran tentang putranya.
"Aku harus apa Tante? teleponnya ngga diangkat," keluh Melani.
"Sabar dulu, Nak. Siapa tahu Andrew lagi di jalan, jadi dia tidak bisa menerima telepon," ucap Mama Andrew menenangkan.
Setelah mendengar ucapan Mama Andrew, Melani nampak sedikit lega. Namun tetap saja dalam hati kecilnya dia begitu mengkhawatirkan putranya tersebut.
"Tunggu sebentar ya, Tante ambilkan minum dulu. Biar kamu bisa lebih tenang," ucap Mama Andrew.
Setelah mengucapkan hal itu, Mama Andrew terlihat masuk ke dalam dapurnya dan membuatkan segelas teh hangat untuk Melani.
"Minumlah biar kamu lebih tenang," ucap Mama Andrew.
Melani pun dengan senang hati menerima teh hangat buatan Mama Andrew, Melani meminumnya beberapa teguk.
Tak lama kemudian terdengar deru mobil yang berhenti tepat di depan rumah Andrew, Melani pun dengan cepat bangun dan berlari kearah luar.
Benar saja, saat sampai di luar Melani melihat Andrew turun dari mobilnya sambil menggendong Fajri yang tertidur dalam dekap hangatnya.
Untuk sesaat Melanie tertegun melihat pemandangan seperti itu, karena Aldino malah tak pernah memperlakukan Fajri seperti itu. Bahkan, Aldino sangat jarang sekali berinteraksi dengan putranya, Fajri.
__ADS_1
"Em, An. Terima kasih karena sudah mau mengajak putraku, maaf karena sudah merepotkan,"kata Melani.