
Pukul tujuh pagi Gia sudah terlihat mengurus administrasi di Klinik Bersalin, karena dokter yang menangani Elsa sudah membolehkan Elsa dan juga Babynya untuk pulang.
Gia terlihat sangat senang sekali, karena akan memboyong putri cantiknya ke kediaman Pranadtja.
Sebenarnya, Gia sangat ingin sekali membawa Elsa dan ketiga putrinya untuk tinggal di kediaman pribadinya.
Namun, dia merasa tak tega untuk meninggalkan Tuan Dirja sendirian di rumah beasar itu.
Akhirnya Gia pun memutuskan untuk kembali pulang ke rumah utama, mungkin itulah bentuk baktinya selama Tuan Dirja masih ada, pikirnya.
"Sudah siap, Yang?" tanya Gia.
Elsa yang sedang menggendong putri cantiknya pun langsung menatap Gia sambil tersenyum.
"Siap dong, Dede udah ngga sabar mau bobo di rumah," jawab Elsa.
Semua barang-barang dan juga kado sudah dibawa ke dalam mobil oleh sopir, sehingga Elsa tinggal menggendong putrinya saja.
Gia pun dengan setia berjalan beriringan dengan istrinya, tangannya setia merangkul pundak Elsa.
Sesekali dia menoel-noel pipi gembil putri Cantiknya, hingga putrinya menggeliat karena merasa terganggu.
Sesampainya di lobby Klinik Bersalin, sopir pribadi Gia dengan cepat langsung membukakan pintu mobil untuk Gia dan juga Elsa.
Gia pun dengan cepat menuntun Elsa agar masuk kedalam mobilnya, kemudian barulah dirinya setelah Elsa dan juga putrinya masuk.
"Jalan, Pak," ucap Gia setelah melihat pak sopir duduk di balik kemudi.
"Siap, Tuan muda," jawab sopir tersebut.
Setelah menjawab ucapan Gia, sopir tersebut pun langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Pranadtja.
Tiba di kediaman Pranadtja, Gia sudah disambut oleh Tuan Dirja dan juga Ibu Anira. Mereka terlihat sangat bahagia saat melihat Elsa turun dari mobil dengan menggendong putri cantiknya.
"Cucu Kakek, cantik banget. Kakek udah kangen, boleh gendong?" tanya Tuan Dirja.
"Tentu, Dad. Boleh," jawab Elsa.
Tuan Dirja pun langsung menggendong cucunya dengan sangat hati-hati, Baby mungil itu langsung menggeliat dan mengusakkan wakahnya di dada Tuan Dirja.
"Oh, Sayang. Kamu mirip sekali dengan Ayah kamu," ucap Tuan Dirja.
"Tentu dong, Dad. Kan aku yang selalu bekerja keras saat proses pebuatannya," ucap Gia bangga.
"Mas!" satu cubitan Elsa layangkan pada pinggang Gia, terasa cukup pedas dan membuat Gia meringis kesakitan.
"Sakit, Yang. Tega ih," keluh Gia.
__ADS_1
"Sudah-sudah, ayo masul dulu. Ibu sudah siapkan makanan kesukaan kalian," ucap Bu Anira menengahi.
"Ibu memang paling the best," puji Gia.
Akhirnya bu Anira, Tuan Dirja, Elsa, Gia beserta Baby kecilnya langsung masuk ke dalam ruang makan.
Mereka pun sudah duduk anteng di kursi masing-masing.
"Sini, Dad. Biar aku yang menggendong putriku," ucap Elsa.
"Ya, Kamu benar. Aku tak akan bisa makan kalau terus menggendong putri kamu," ucap Tuan Dirja seraya terkekeh.
"Kalian tahu, Ibu dan juga Daddy kamu sengaja tak sarapan terlebih dahulu. Agar kami bisa sarapan bareng sama kalian," ucap Ibu Anira.
"Terima kasih, Bu. Terima kasih, Dad," ucap Elsa.
"Sama-sama, Sayang," ucap Tuan Dirja.
Melihat Elsa yang menggendong putrinya, Tuan Dirja pun berpikir jika Elsa tak akan bisa makan, dia pun langsung mengusulkan untuk mencari Babysitter kepada Gia.
"Gia, bagaimana kalau kamu mempekerjakan Babysitter untuk mengurus putri kamu?" usul Tuan Dirja.
"Daddy benar, biar Elsa tidak kecapean. Besok aku akan mencarikan Babysitter di yayasan," ucap Gia.
"Ya, itu harus. Walaupun Baby cantik ini akan terus bersama ibunya, namun ada kalanya Elsa juga membutuhkan bantuan dari seorang Babysitter," ucap Tuan Dirja.
"Tidak, Bu. Ibu sudah capek mengurusi kedua putri cantikku, jangan lagi ditambahi beban dengan datangnya si kecil ini," ucap Gia.
Bu Anira pun paham jika menantunya tersebut menghawatirkan kondisi kesehatan dirinya, yang memang sudah tua dan sering merasa lelah.
"Baiklah, terserah nak Gia saja," ucap Bu Anira pasrah.
"Untuk saat ini, biar Mas yang suapin kamu." Gia begitu cekatan mengambil nasi dan. lauknya, lalu dia pun langsung menyuapi Elsa.
Tuan Dirja dan Bu Anira terlihat sangat senang, karena bisa melihat perhatian Gia yang begitu besar terhadap Elsa dan juga putrinya.
Selesai sarapan, Gia pun langsung mengajak Elsa dan juga Babynya untuk masuk ke alam kamarnya.
Namun, sebelum Gia pergi. Tuan Dirja pun bertanya kepadanya.
"Jadi, siapa nama cucuku?" tanya Tuan Dirja tak sabar.
"Adeliana putri Pranadtja," jawab Gia.
"Bagus, nama yang bagus. Dad suka," ucap Tuan.
"Terima kasih, Dad. Aku permisi dulu," ucap Gia.
__ADS_1
Setelah berpamitan kepada Tuan Dirja, Gia dan Elsa pun langsung masuk ke dalam kamar milik mereka.
Rasanya Gia begitu kangen dengan kamar miliknya itu, karena setiap hari dia harus tidur di atas sofa kecil di Klinik Bersalin tersebut.
Gia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur big size dimilikinya, hingga tubuhnya sedikit memantul.
"Ah, empuknya." Gia langsung menggoyang-goyangkan kedua kaki dan tangannya.
Elsa hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat tingkah suaminya itu. Terlihat sangat kekanak-kanakan, pikirnya.
"Mas, aku mau membersihkan diri dulu. Gerah banget, tadi pagi aku ngga sempet mandi." Elsa lalu duduk di samping Gia.
"Terus?" tanya Gia.
"Mas pegangin Baby Adel dulu," ucap Elsa.
Gia langsung bangun dan duduk sambil menyandarkan tubuhnya.
"Tapi, Yang. Mas nggak begitu bisa menggendong Baby Adelia, bagaimana dong?" ucap tanya Gia.
"Oh ayolah, Mas. Hanya sebentar saja," ucap Elsa.
"Baiklah," jawab Gia pasrah.
Elsa pun dengan perlahan memberikan Baby Adel, Gia pun langsung menyambut putri ketiganya tersebut.
Dia menggendong putrinya dengan sangat kaku, Elsa jadi ingin tertawa dibuatnya. Namun sebisa mungkin dia tahan.
"Kamu sama Ayah dulu, Bunda mau mandi sebentar." Elsa kecup pipi Gembil Baby Adelia dengan lembut.
"Jangan lama, Mas takut," pesan Gia.
"Ya, Sayang," jawab Elsa.
Setelah menitipkan putrinya, Elsa pun langsung bergegas mengambil handuk dan juga baju ganti.
Setelah itu dia pun segera ke kamar mandi untuk menunaikan ritual mandinya, Elsa langsung memutar kran untuk mengalirkan air hangat ke tubuhnya.
Rasanya begitu nikmat, saat air hangat itu mengalir di tubuhnya. Elsa benar-benar terlihat begitu menikmati ritual mandinya.
Berbeda dengan Gia, Gia sudah mulai terlihat khawatir saat melihat Baby Adelia yang mulai menggeliatkan tubuhnya.
Dia merasa bingung harus apa, dia takut jika Baby Adelia akan menangis karena ditinggal oleh Bundanya.
Gia terlihat mulai panik kalau Baby Adelia menggeliat dan membuka matanya, tangannya terlihat bergerak dan juga kakinya terlihat dia goyang-goyangkan.
Hal itu membuat Gia makin panik, apa lagi kala melihat bibir Baby Adelia yang mulai mengkerucut.
__ADS_1
"Ibu! Tolong Gia," teriak Gia tanpa sadar.