
Tiba di Danau pak Sopir nampak memarkirkan mobilnya, dengan penuh semangat Aurelia nampak turun dari mobil dan berlari menuju tepi Danau.
Berbeda dengan Aurora yang nampak biasa saja, dia terlihat mengekori langkah adiknya dengan perlahan.
"Kak, aku mau naik ke jembatan yang ada di sana. Boleh ngga?" kata Aurelia.
Aurelia terlihat menunjuk sebuah jembatan yang tidak jauh dari sana, tidak terlalu tinggi dan terlihat aman.
"Boleh, De. Hati-hati, Kakak mau beli minuman sama camilan dulu," kata Aurora.
Aurora berpikir, akan lebih baik jika mereka menikmati waktu santai sore mereka dengan menghabiskan camilan dan juga minuman di tepi Danau.
Karena sudah sangat lama sekali mereka tidak melakukan hal itu.
"Boleh, Kak. Sekalian beli ice cream, ya?" pinta Aurelia.
Aurora nampak tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, walaupun sudah besar, adiknya itu selalu saja meminta untuk dibelikan ice cream.
"Ya, nanti Kakak minta pak Supir untuk membelikannya untukmu," kata Aurora.
Mendengar jawaban dari kakaknya, Aurelia nampak mengacungkan kedua jempol tangannya.
Dia terlihat sangat bahagia, karena kakaknya itu selalu saja mau menuruti keinginannya.
"Okeh," kata Aurelia.
Setelah berpamitan kepada adiknya, Aurora nampak pergi meninggalkan Aurelia. Dia tidak merasa khawatir saat meninggalkan adiknya tersebut.
Karena di sana ada beberapa pengunjung yang datang walaupun tidak ramai, mungkin karena hari kerja, jadi tidak begitu banyak yang datang ke sana.
Hanya saja udaranya terlalu dingin menurut Aurora, sehingga dia memutuskan untuk mengambil jaket miliknya di dalam mobil, sekalian meminta tolong pak sopir untuk pergi ke Mart.
Selepas kepergian Aurora, Aurelia langsung naik ke atas jembatan yang berada di tepian Danau. Senyumnya terlihat mengembang kala melihat indahnya hamparan air yang terlihat begitu tenang.
Sesekali dia menghirup udara dengan serakah, karena udara di sana masih sangat asri. Banyak pepohonan hijau yang tumbuh di tepian Danau.
Matanya seolah tidak pernah bosan memandang hamparan air dan juga pepohonan hijau yang tumbuh di sekitaran Danau.
"Seger, banget!" kata Aurelia.
Setelah puas menikmati udara segar, Aurelia nampak kembali berjalan menikmati indahnya sore hari dari atas jembatan.
__ADS_1
Terkadang wajahnya terlihat menengadah, dia memperhatikan matahari yang semakin turun dan seakan hendak pulang dan menyembunyikan diri.
Saat dia sedang asik berjalan di jembatan tersebut, tiba-tiba Aurelia melihat ada seorang pria muda yang terlihat sedang celingukkan seperti orang kebingungan.
Sesekali pria muda itu terlihat berdecak sambil menyugar rambutnya dengan gerakan kasar.
Tak lama kemudian, dia langsung terjun ke dalam Danau. Aurelia terlihat panik, dia langsung berlari dan melihat ke arah pria muda yang menceburkan dirinya itu.
"Ya Tuhan, apa orang itu mau bunuh diri? Tapi kenapa dari jembatan sependek ini?" tanya Aurelia lirih.
Aurelia nampak melongokon wajahnya ke arah Danau, ternyata pria muda itu nampak sedang berusaha untuk berenang ketepian. Sayangnya dia terlihat tidak bisa berenang, dengan cepat Aurelia menceburkan dirinya dan langsung menolong pria muda itu.
Dia lingkarkan tangan kanananya di dada pria muda itu, lalu tangan kirinya mengayun untuk bisa sampai ke tepian Danau.
"Menyusahkan saja, kalau belum mau mati jangan nyebur ke Danau!" kesal Aurora dengan napas terengah-engah ketika mereka tiba di tepian Danau.
Pria muda itu nampak menelungkupkan tubuhnya, dia mengatur napasnya, sesekali dia terlihat menepuk dadanya yang terasa sesak.
"Siapa juga yang mau mati, tadi dompetku terjatuh ke Danau. Makanya aku melompat karena ingin mengambil dompetku," sangkal pria muda itu.
Pria muda itu bahkan menunjukkan dompet yang terlihat basah di tangan kanannya. Karena memang pada saat dia tengah asik berjalan di jembatan, dompetnya malah terjatuh ke Danau.
"Ya Tuhan, tidak bisakah kau meminta tolong kepada orang lain?" tanya Aurelia.
Menurutnya lebih baik minta tolong, daripada nekat menceburkan diri ke Danau tapi tidak bisa berenang. Hal itu justru akan membahayakan keselamatan dirinya, pikirnya.
"Tadi aku sudah berusaha mencari orang yang bisa membantuku, tapi di sekitarku tidak ada orang," ucap pria muda itu membela diri.
Aurelia terlihat memutar bola matanya, dia jengah dan lelah berbicara dengan pria muda itu. Dia memang seorang pria, namun mulutnya nampak seperti perempuan pikirnya, cerewet.
"Terserah apa katamu, kau cerewet sekali! Mending aku pergi," kata Aurelia.
Aurelia nampak bangun, dia terlihat akan melangkahkan kakinya. Namun, dengan cepat pria muda itu menyusul Aurelia dan mencekal pergelangan tangannya.
"Tunggu dulu, walau bagaimanapun kau telah menolongku. Terima kasih," ucap pria muda itu tulus.
Untuk sesaat Aurelia memandang tangannya yang digenggam erat oleh pria muda tersebut, kemudian dia menepisnya secara halus.
"Ya, sama-sama," jawab Aurelia.
Aurelia terlihat berjalan menjauhi pria muda itu, sedangkan pria muda itu nampak duduk dengan napas yang masih terengah-engah.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Aurora nampak datang dengan membawa bungkusan di tangannya. Dia nampak kaget saat melihat adik kesayangannya tengah dalam keadaan basah kuyup.
"Ya ampun, Ade. Kamu kenapa? Kenapa baju kamu basah begini?" tanya Aurora.
Untuk sesaat Aurelia nampak memperhatikan penampilannya, dress yang dia pakai nampak basah. Bahkan pengaman atas-bawahnya pun nampak tercetak dengan jelas.
Melihat akan hal itu, Aurora langsung terlihat panik.
"Ya ampun, Dek!"
Aurora nampak membuka jaket levis yang dia pakai, lalu memakaikannya kepada sang adik. Dia tidak mau jika tubuh adiknya menjadi tontonan orang banyak.
"Terima kasih, Kak. Panjang ceritanya, nanti aku ceritakan di rumah," jawab Aurelia.
Aurora nampak menganggukkan kepalanya tanda setuju, lagi pula tidak baik jika mereka terlalu lama di sana.
"Ya sudah, kalau begitu kita pulang saja. Tidak usah bersantai sore di Danau, nanti kamu kedinginan terus masuk angin," kata Aurora.
Aurora terlihat sangat cemas sekali saat melihat keadaan Aurelia, apalagi wajahnya sudah mulai terlihat pucat.
"Baiklah, Kak. Mungkin suatu saat nanti kita pergi ke Danau lagi, sekarang aku juga ingin pulang saja. Ingin mandi, ngga enak rasanya basah kuyup kaya gini," kata Aurelia.
Padahal pergi ke Danau adalah keinginan dari Aurelia sendiri, sayangnya nasib baik seolah belum berpihak kepada dirinya. Dia malah basah kuyup karena berniat untuk menolong pria muda yang tidak dia kenal sama sekali.
"Ya, kamu benar," sahut Aurora.
Akhirnya Aurora dan Aurelia nampak pulang ke rumahnya, karena tidak mungkin mereka menghabiskan waktu sore mereka dengan badan Aurelia yang nampak basah kuyup seperti itu.
BERSAMBUNG....
*
*
Selamat siang kesayangan, semoga kalian dalam keadaan baik-baik saja. Ada yang bilang jangan sampai ada cinta segitiga, hidup sudah rumit. Jangan dibikin rumit.
Tenang ya kesayangan, di sini tidak ada yang namanya cinta segitiga, Kok.
Semangat selalu untuk yang menjalankan puasa, maaf kalau bulan puasa ini Othor up'nya ngga banyak.
Terima kasih untuk kaleyan yang masih setia mantengin ceritanya si kembar, i love you....
__ADS_1