Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Permintaan Tuan Alfonso


__ADS_3

Ajun dan Gadis hanya bisa diam seribu bahasa, mereka sangat sadar dengan apa yang sudah mereka lakukan.


Mereka salah, mereka tidak bisa menahan hasrat yang bergejolak di dalam dada.


Apa lagi dengan Gadis, dia hanya bisa tertunduk lesu karena ini semua memang berawal dari kesalahan dirinya.


Sesekali dia melirik ke arah Ajun, takut-takut lelaki itu akan menyalahkan dirinya. Namun dia salah, karena Ajun tak berkata apapun.


Dia hanya menunduk tanpa berani menatap mata Tuan Alfonso. Setelah selesai menelpon Reon, sang asisten kesayangannya, Tuan Alfonso pun langsung menghampiri Gadis dan juga Ajun.


"Duduklah!" ucap Tuan Alfonso. "Apa ada yang mau diucapkan?" tanya Tuan Alfonso.


Mendengar pertanyaan dari Tuan Alfonso, Ajun langsung memberanikan diri untuk menatap calon mertuanya itu.


"Maaf, bukan maksud saya melecehkan putri anda, Dad. Itu semua saya lakukan karena saya benar-benar mencintai putri anda, saya melakukannya bukan karena naffsu semata," ucap Ajun.


"Lalu?" tanya Tuan Alfonso.


Ajun terlihat menegakkan tubuhnya, lalu dia kembali menatap Tuan Alfonso dengan lekat. Sebenarnya dia sangat takut jika Tuan Alfonsi akan marah padanya, namun dia harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah dia lakukan.


Dia bukan anak kecil lagi yang akan berkilah dari apa yang sudah dia lakukan, dia pria dewasa harus bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat.


"Saya juga mau berterima kasih, karena Daddy mau menikahkan saya secepatnya dengan gadis yang sangat saya cintai," ucap Ajun lagi.


Tuan Alfonso langsung tersenyum saat melihat raut gugup, gelisah dan takut di wajah Ajun.


"Ya, saya tahu pasti kamu akan sangat berterima kasih kepada saya," ucap Tuan Alfonso.


Sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin dia utarakan, namun dia takut untuk mengatakannya.


Namun, dengan sekuat tenaga Ajun memberanikan diri untung mengatakannya.


"Tapi, Dad. Kalau misalkan boleh, semua biayanya untuk pernikahan akan saya tanggung sendiri, karena sayalah yang nanti akan menjadi kepala keluarga. Saya yang harus menjamin kehidupan istri saya ke depannya," ucap Ajun yakin.


Tentu saja dia berani menjamin biaya pernikahannya dengan Gadis, walaupun pernikahan itu akan digelar dengan secara besar-besaran, Ajun sudah 12 tahun mengabdi kepada keluarga Pranadtja.


Sudah dapat dipastikan tabungannya pun sudah menumpuk, karena tak pernah dipakai untuk hal yang tidak perlu.


Dia hanya menggunakannya untuk biaya sehari-hari saja, sedangkan untuk baju dan fasilitas lainnya, Tuan Dirja lah yang selalu memberikannya.


Ajun terkadang merasa tak enak hati dengan Tuan Dirja, namun lelaki itu bersikeras tetap memberikan segala kemudaha kepada Ajun.


Tuan Dirja bahkan memfasilitasi Ajun dengan segala kemudahan, karena baginya Ajun sudah seperti anak kandungnya.


Dia juga sudah seperti Kakak kandung untuk putranya, Gia.


"Tak perlu, semua biaya pernikahan saya yang akan menanggungnya. Anggaplah semua ini sebagai penebus rasa bersalah saya, karena tak pernah mengurus buah hati saya dengan istri tercinta saya," ucap Tuan Alfonso sedih.


Ajun terlihat tak enak hati, dia menatap Tuan Alfonso dengan tatapan penuh permohonan.


Tuan Alfonso sangat paham jika Ajun adalah seorang lelaki, dia pasti mempunyai harga diri yang sangat tinggi dan Tuan alfonso juga yakin jika dia ingin menggelar pernikahannya dengan hasil keringatnya sendiri


Namun, salahkah jika dia menginginkan pernikahan yang mewah dan megah untuk putrinya? Salahkah jika dia ingin memfasilitasi kemewahan untuk sang putri?


Tentu saja jawabannya tidak, namun Ajun pasti akan tersinggung. Dengan cepat Tuan Alfonso pun menghampiri Ajun dan menepuk pundaknya dengan lembut.


"Maafkan Daddy, jika Daddy terlihat sangat egois bagi kamu. Ijinkanlah Daddy memberikan pesta yang sangat meriah untuk kalian besok, izinkanlah Daddy membahagiakan kalian sebelum maut menjemput," kata Tuan Alfonso.


Mendengar ucapan Tuan Alfonso, wajah Ajun pun langsung berubah sendu. Sedangkan Gadis terlihat sangat sedih, dia langsung menghambur kedalam pelukan Tuan Alfonso.


Baru saja mereka bertemu, namun Tuan Alfonso malah membahas tentang kematian. Betapa sedih rasanya hati Gadis, dia juga ingin merasakan dicintai oleh Daddynya.


"Jangan berbicara seperti itu Dad, kamu akan tetap hidup dan panjang umur. Tentunya nanti jika esok aku menikah dengan Om Ajun, dan punya anak Daddy pasti bisa melihat keturunan ku," kata Gadis.


"Ya semoga saja," jawab Tuan Alfonso.


"Aku baru bertemu denganmu, Dad. Aku ingin merasakan kasih sayangmu, jangan oernah lagi berkata seperti itu." Gadis semakin mengeratkan pelukannya.


Mendengar apa yang diucapkan oleh putrinya, membuat hati Tuan Alfonso begitu bahagia. Dia pun merasa sangat bersyukur kepada Tuhan, karena di masa tuanya, di sisa umurnya yang entah kapan ajal akan dijemput, dia masih bisa merasakan kasih sayang dari buah hatinya bersama wanita terkasihnya.


Tanpa sadar, air mata Tuan Alfonso langsung luruh begitu saja, dia tak kuasa menahan haru karena ucapan dari Gadis.


"Daddy merasa senang, karena kamu tidak membenci Daddy. Padahal Daddy tak memberikan kasih sayang sama sekali selama ini kepadamu, Nak." Tuan Alfonso menangis sesenggukan di pelukan putrinya.


"Sudahlah Dad, jangan bersedih lagi. Kita harus memulai semuanya dari awal, aku juga mau jika di masa tua Daddy hanya ada kebahagiaan yang akan dirasakan. Jangan lagi tersiksa rasa," ucap Gadis seraya mengelus lembut punggung Tuan Alfonso.

__ADS_1


"Ya," ucap Tuan Alfonso Seraya menganggukkan kepalanya.


Tuan Alfonso lalu melerai pelukannya, Gadis pun kembali duduk di samping Ajun. Tatapan mata Tuan Alfonso kini beralih pada Ajun.


"Bolehkah Daddy meminta satu hal?" tanya Tuan Alfonso.


Ajun sudah terlihat harap-harap cemas, takut-takut dia akan meminta hal yang Ajun tak bisa sanggupi.


"Ada apa, Dad? Bicaralah," ucap Ajun.


"Daddy minta, tinggallah selama satu minggu saja setelah kalian menikah di rumah Daddy. Daddy ingin sekali merasakan Indahnya kebersamaan bersama anak dan menantu Daddy," pinta Tuan Alfonso.


Gadis langsung menatap Ajun dengan tatapan penuh permohonan, Ajun paham. Toh Tuan Alfonso memintanya hanya seminggu tinggal di sana.


Ajun lalu menggenggam tangan Tuan Alfonso, lalu dia mengelus lembut lengannya.


"Baiklah, Dad. Apa pun yang membuat dirimu bahagia, kami akan melakukannya," ucap Ajun.


Seulas senyum pun langsung mengembang di bibir tua Tuan Alfonso, dia begitu sangat senang saat mendengar ucapan dari Ajun yang menyanggupi permintaannya.


Rasanya dengan tinggal bersama Gadis dan Ajun selama satu minggu saja, itu sudah akan membuat dirinya bahagia luar biasa.


Sebenarnya Tuan Alfonso sangat ingin tinggal bersama putrinya tersebut, namun dia sadar jika putrinya dan Ajun akan menikah esok hari.


Tidak mungkin bukan, jika dia hadir di antara rumah tangga keduanya. Rasanya itu tidak akan lucu, karena Ajun dan Gadis pasti merasa tidak bebas jika ada dirinya.


"Terima kasih, ada satu lagi sebenarnya yang Daddy inginkan," kembali Tuan Alfonso berbicara.


Hal itu membuat Ajun deg-degan, dia takut jika Tuan Alfonso kali ini benar-benar meminta hal yang tak akan bisa dia sanggupi.


Bagaimana jika dia tak bisa memberikan apa yang diminta oleh Tuan Alfonso? Apakah dia harus rela berpisah dengan Gadis?


Padahal Gadis sudah berhasil mencuri hatinya, bahkan Ajun merasa jika dia tak akan sanggup bila berjauhan lagi dengan Gadis.


"Jangan tegang seperti itu, Daddy tidak akan meminta hal yang aneh-aneh," ucap Tuan Alfonso seraya terkekeh.


Ajun terlihat bisa bernafas dengan lega, lalu kemudian dia pun bertanya kepada Tuan Alfonso.


"Memangnya apa lagi yang Daddy inginkan?" tanya Ajun.


Ajun langsung terlihat berdecak, lalu dia pun langsung menghambur kedalam pelukan pria tua itu.


" Ya Tuhan, Daddy. Kapan pun kamu ingin berkunjung ke rumah kami, dengan senang hati kami akan menerimanya. Pintu rumah kami selalu terbuka lebar untuk Daddy, jangan pernah sungkan," ucap Ajun.


Tuan Alfonso terlihat sangat senang sekali, apalagi dia masih akan sering bertemu dengan putrinya setelah Gadis dan Ajun menikah.


Setelah berbicara panjang lebar, akhirnya Tuan Alfonso pun mengajak Gadis dan juga Ajun untuk makan malam bersama.


Rumah yang biasanya sepi, terasa sangat ramai karena saat mereka berkumpul di meja makan Gadis tak hentinya berceloteh.


Apa lagi ada pak Galuh yang ikut bergabung, dan yang lebih membuat Gadis bahagia semua menu makanan yang tersaji adalah makanan favoritnya.


Entah bagaimana ceritanya, tapi Tuan Alfonso seakan sudah mengenal Gadis dari kecil.


Setelah acara makan malam selesai, Ajun pun berpamitan. Dia ingin menginap di rumahnya saja, dia beralasan jika dia takut tidak tahan jika tinggal satu rumah bersama dengan Gadis.


Padahal yang sebenarnya terjadi, dia ingin sekali menelepon dan memberitahukan kabar bahagia ini kepada Gia.


Ajun juga ingin memberitahukan kabar bahagia ini kepada para sahabat dan juga teman sekantornya, tak lupa Ajun pun ingin memberitahukan kepada Tantenya dan juga sepupunya.


Ya, walaupun selama ini hubungan dia dan sepupunya itu renggang. Namun Ajun tak ingin menjadi penghambat di acara sakralnya kali ini.


Ajun yang sedari dulu selalu takut jika dia akan bertemu dengan Melani sang pujaan hatinya pun, sudah menyiapkan mentalnya.


Lagi pula Melani masalalu, pikirnya. Dia harus mulai memikirkan masa depannya, dia juga harus mulai membersihkan hatinya.


Dia tak boleh terus membenci saudara sepupunya, kalau dipikir saudara sepupunya pun tak salah-salah juga.


Walaupun dia tahu jika Ajun mempunyai perasaan kepada Melani, namun Ajun tak pernah berani mengungkapkannya kala itu.


Jadi, wajar saja jika sepupunya Aldino mendahului Ajun untuk mendapatkan Melani.


Bahkan yang dia dengar mereka sudah mempunyai dua buah hati.


"Daddy, Gadis, Pak. Ajun pamit," ucap Ajun sebelum dia pulang.

__ADS_1


"Ya, jam satu siang kamu sudah harus berada di hotel. Jangan sampai telat, apa lagi berani meninggalkan altar pernikahan." Tuan Alfonso langsung tertawa seraya menepuk pundak Ajun beberapa kali.


"Tenang saja, Dad. Aku tak mungkin tak hadir di acara yang benar-benar aku menginginkannya, aku menginginkan putrimu lebih dari apa pun," ucap Ajun.


Ucapan Ajun yang sangat sederhana itu mampu membuat Gadis tersipu malu, dia bahkan langsung bersembunyi di balik tubuh kekar Daddynya.


"Ya, aku percaya," jawab Tuan Alfonso.


Setelah berpamitan, Ajun pun langsung berjalan menuju halaman besar rumah Tuan Alfonso. Gadis pun izin kepada Daddynya untuk mengantar Ajun sampai masuk ke dalam mobilnya.


Tuan Alfonso tentu mengijinkannya, Gadis pun langsung berjalan mengekori langkah Ajun. Saat Ajun sudah masuk ke dalam mobilnya, Ajun langsung menarik tangan Gadis hingga Gadis terduduk di pangkuannya.


"Om!" pekik Gadis.


"Suut! Jangan berisik, nanti anak buah Daddy kamu pasti berdatangan." Arjuna memeluk Gadis dengan posesif, lalu dia menyandarkan kepalanya di ceruk leher Gadis.


"Om, manja," cibir Gadis.


"Ngga apa-apa manja, yang penting sama kamu," kilah Ajun.


"Ya, sekarang aku mohon Om pulang. Karena besok kita akan menikah, jadi Om harus tidur dengan cukup," usir Gadis halus.


"Baiklah," ucap Ajun.


Ajun langsung mendongakkan kepalanya, dia menatap wajah Gadis dengan sendu. Sedetik kemudian bibir mereka sudah saling bertaut, mereka saling mencecap rasa manis yang begitu membuat mereka candu.


Setelah puas bermain dengan bibir Gadis, Ajun pun lalu melepaskan tautannya.


"Terima kasih, Sayang. Karena kamu sudah mau memilih Om sebagai calon suami kamu," ucap Ajun.


Gadis terlihat salah tingkah, dia merasa lucu pada dirinya sendiri karena dia merasa tak ingin berpisah dengan Ajun.


"Ya, Om," sahut Gadis.


"Om, pulang dulu. Kamu segeralah bobo," ucap Ajun.


"Pulanglah," sahut Gadis.


Ajun langsung tertawa mendengar ucapan dari Gadis, sedangkan Gadis terlihat mengernyitkan dahinya melihat Ajun yang tertawa seperti itu.


" Om, kenapa?" tanya Gadis.


"Tentu saja Om mau pulang, tapi kamunya duduk terus di pangkuan, Om. Terus, Om nya kapan pulangnya?" tanya Ajun.


Gadis yang sudah mengetahui kesalahannya pun, langsung meminta maaf kepada Ajun.


"Maaf," ucap Gadis.


Gadis pun lalu turun dari pangkuan Ajun, kemudian dia menutup pintu mobil dan melambaikan tangannya.


Ajun pun tersenyum, lalu dengan cepat dia melajukan mobilnya ke kediaman miliknya. Sampai di rumah Arjun langsung mengambil ponselnya dan menelepon Gia.


Bos sekaligus adik yang sangat menyebalkan, walaupun begitu dia tetap menyayangi Gia.


Sudah 4 kali panggilan dia lakukan, namun tak juga dia menjawab panggilan dari Ajun. Barulah di panggilan kelima, Gia mengangkat panggilan dari Ajun tersebut.


"A--ada apa?" tanya Gia tergagap.


Ajun sempat mengernyitkan dahinya, kala mendengar suara Gia yang terasa aneh di telinganya.


"Saya mau menikah besok sore," ucap Ajun to the point.


"What?" pekik Gia dari sebrang sana.


"Mas! Sakit, kamunya kenceng banget. Ini Babynya kasihan," samar-samar terdengar suara Elsa yang merintih kesakitan.


Saat menyadari apa yang mungkin saja terjadi, Ajun pun langsung memutuskan sambungan telponnya.


"Astaga! Pasti mereka lagi main kuda-kudaan, sabar." Ajun langsung mengelus miliknya yang selalu nganggur itu.


+


+


Hai kesayangan, jangan lupa like, comment, Vote dan juga hadiahnya. Ini babnya spesial aku kasih panjang loh 😀😀😂

__ADS_1


__ADS_2