
"Bisakah kalian tidak bertengkar terlebih dahulu? Anakku sedang demam, dia membutuhkan pertolongan dari Dokter," kata Melani.
Mendengar ucapan Melani, seorang lelaki yang memakai baju dokter langsung mendorong tubuh wanita yang sedari tadi berdebat dengannya untuk keluar dari ruangan tersebut.
Perempuan tersebut nampak tidak suka, dia berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya. Namun, lelaki yang berseragam dokter tersebut seakan tak peduli. Justru dia merasa terselamatkan dengan adanya Melani yang datang.
Setelah perempuan itu keluar dari ruangan dokter Irawan, Melani dengan cepat menidurkan Fajri di bed pasien.
Merissa terlihat duduk sambil memperhatikan wajah Fajri yang terlihat memerah karena panas.
Dokter Irawan langsung menghampiri Fajri, dan mengukur suhu tubuhnya dengan termometer.
Ternyata panasnya sangat tinggi 40,3 derajat celcius, dokter Irawan nampak panik melihatnya.
Dia nampak menggendong Fajri dan langsung meminta Melani untuk duduk dan memangku putranya.
"Panasnya sangat tinggi, aku takut dia akan kejang-kejang. Kita langsung memberikan obat penurun panas lewat anu* saja, rasanya itu akan lebih baik," kata Dokter Irawan.
Melani seakan mengerti dengan apa yang diucapkan oleh dokter Irawan, dia langsung memeluk Fajri dan membuka kain penutup bagian bawahnya.
Dokter Irawan pun dengan sigap langsung mengambil obat penurun panasnya dan langsung memasukkannya lewat anu*, Fajri terlihat memeluk Bundanya dengan sangat erat.
Dokter Irawan tahu jika Fajri terlihat ketakutan, walaupun matanya terlihat terpejam. Seolah merasa iba, dokter Irawan langsung mengusap-usap punggung Fajri dengan lembut.
"Sebentar lagi kondisi kamu akan lebih baik, sekarang boboan dulu, ya, Sayang." Fajri terlihat menganggukkan kepalanya.
Melani pun dengan perlahan merebahkan tubuh mungil Fajri, anak itu nampak pasrah. Apa pun yang dilakukan bundanya, dia terlihat menurut.
"Anak pandai, Kakaknya tolong jagain Adeknya dulu. Om Dokter mau bicara dulu sama Bunda kalian," kata Dokter Irawan pada Merissa.
"Iya, Om," jawab Merissa.
Dokter Irawan terlihat ramah sekali saat berbicara dengan Merissa dan juga Fajri, berbeda kala dia berbicara dengan wanita yang tadi diusirnya dari ruangan tersebut.
Dokter Irawan nampak mengajak Melani untuk membicarakan kondisi kesehatan Fajri, sedangkan Merissa nampak menghampiri Fajri.
Dia pun terlihat mengelus lembut lengan adik kesayangannya itu, Fajri terlihat begitu nyaman.
"Bagaimana keadaan putra saya?" tanya Melani.
"Sepertinya putra anda kecapean bermain di luar rumah, dia juga mengalami radang tenggorokan. Makan es krim terlalu sering, juga makan camilan yang mengandung MSG berlebih. Sehingga menyebabkan panas tubuhnya tinggi," jelas Dokter Irawan.
__ADS_1
Untuk sesaat Melani nampak terdiam, dia pun jadi teringat jika dalam sebulan ini Melani selalu melihat mertuanya sering membawa kedua buah hatinya ke taman.
Mungkin, di sanalah Fajri sering membeli camilan dan juga es krim yang dia sangat inginkan.
Tentu saja dia tak bisa menyalahkan mertuanya begitu saja, karena memang Melani akhir-akhir ini sangat sibuk.
Padahal dulu saat masih satu rumah dengan mertuanya, Melani begitu rajin membuat camilan sehat untuk kedua buah hatinya.
Melani juga sering membuatkan es krim yang terbuat dari buah dan susu, itu semua dia lakukan agar mertuanya tidak kerepotan dalam memilah makanan di luar.
"Jangan melamun, sepuluh menit lagi dia akan terlihat lebih baik. Kamu duduklah dulu, aku akan meresepkan obat untuk anak tampan itu." Dokter Irawan nampak terlihat menuliskan obat yang harus diminum oleh Fajri.
Pria berumur tiga puluh empat tahun itu nampak serius saat menuliskan obat untuk Fajri, sedangkan Melani sedang berpikir untuk izin tak masuk kerja karena harus menjaga putranya.
Awalnya dokter Irawan terlihat ingin memberikan sobekan kertas yang bertuliskan resep obat untuk Fajri, namun saat melihat Melani yang terlihat asyik dengan lamunannya, dokter Irawan pun menjadi kasihan.
Mungkin wanita di depannya terlalu bersedih hati, makanya dia sampai terlihat terus melamun saja. Akhirnya dokter Irawan pun memutuskan untuk menebuskan obat tersebut untuk Fajri.
"Kamu tunggulah di sini, biar aku yang menebus obatnya di apotek." Dokter Irawan nampak bangun untuk segera menebus obatnya.
Mendengar ucapan dokter Irawan, Melani seakan tersadar dari lamunannya. Dia pun langsung mendongakkan kepalanya dan menatap wajah dokter Irawan dengan intens.
Dokter Irawan terlihat tersenyum, lalu dia pun memberikan sobekan kertas yang berisi resep obat yang harus ditebus oleh Melani.
Melani pun segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut, dia pun segera mencari apotek dan langsung menebus obat yang diperlukan oleh Fajri.
Hanya butuh waktu lima belas menit untuknya menebus obat tersebut, setelah itu Melani pun nampak kembali ke dalam ruangan pemeriksaan yang didalamnya berada dokter Irawan dan kedua buah hatinya.
Saat dia masuk, ternyata Fajri sudah terlihat lebih baik. Bahkan, dia sedang duduk di atas pangkuan dokter Irawan sambil bercerita dengan riangnya.
Saat melihat Melani yang masuk ke dalam ruangan tersebut, Fajri pun langsung melihat ke arahnya dengan senyum cerianya.
"Buna!" ucapnya lantanga.
Melani pun tersenyum, lalu dia menghampiri putranya dan langsung menggendong putranya dengan penuh kasih.
Rasanya begitu sedih sekali, di saat buah hatinya sakit seperti ini, tidak ada sosok suami yang mendampinginya, menguatkannya dan berusaha untuk menenangkan buah hatinya yang terlihat tidak baik-baik saja.
Tanpa terasa buliran bening pun menetes dari pelupuknya, dokter Irawan sempat melihat kesedihan di mata Melani.
Namun, Melani tak ingin terlihat cengeng. Dia tak ingin terlihat lemah, dengan cepat dia pun mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
__ADS_1
"Kamu sudah lebih baik, Sayang?" tanya Melani kepada putranya.
"Iya, Buna. Aji cudah sembuh," ucapnya dengan gemas.
Melani nampak terkekeh, lalu dia pun melerai pelukannya dan mengecupi setiap inci wajah putranya.
"Buna sayang Dede," kata Melani seraya mengecup pelembut kening Fajri.
"Aji juga cayang, Buna." Fajri terlihat mengecup kedua pipi Melani secara bergantian.
Rasanya mendapatkan perlakuan manis seperti itu dari putranya, membuat Melani tambah bersedih. Dia ingin sekali menangis, namun sekuat tenaga dia tahan.
"Kita pulang, ya, Sayang," ajak Melani.
"Ya, Buna," jawab Fajri.
Tatapan mata Melani beralih kepada dokter Irawan, dia terlihat tersenyum hangat padanya lalu dia pun berkata.
"Terima kasih, Dokter. Terima kasih atas bantuannya, berkat anda keadaan putra saya kini sudah membaik," ucap Melani tulus.
Mendengar ucapan Melani, dokter Irawan pun tampak tersenyum. Lalu, dia pun membalas ucapan Melani.
"Semuanya berkat Tuhan, Nyonya. Saya hanya perantara saja," ucap Dokter Irawan.
Mendengar jawaban dari dokter Irawan, Melani pun tersenyum.
Ya, semuanya memang kehendak Tuhan, pikirnya. Dia pun menjadi janda tentu karena kehendak Tuhan, Tuhan melepaskan hal yang Melani punya.
Mungkin, di balik itu semua, Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik lagi.
"Kalau begitu saya pamit," ucap Melani.
+
+
Selamat malam guys, selamat beristirahat. Apa ada yang masih ingat dengan Dokter Irawan?
Dokter playboy yang sukanya bergonta-ganti perempuan tanpa berniat untuk menikahinya, tentu saja dibalik itu semua ada alasannya.
Kalau sudah Ingat siapa dokter Irawan, jangan lupa kasih like, komen dan hadiahnya juga ya...😘😘😘😘😘😘😘😘
__ADS_1