Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Tamu Untuk Aurelia


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 malam, Aurora, Gia, Elsa, Adelia dan juga Alex sudah terlihat berkumpul di ruang makan.


Bahkan bu Anira juga sudah ikut bergabung dengan anak, menantu dan cucu-cucu'nya.


Hanya Aurelia saja yang belum menampakkan batang hidungnya, Gia menjadi khawatir. Karena saat Kiandra mengantar Aurora pulang, Gia bisa melihat raut kecemburuan di wajah Aurelia.


"Rara, bisakah kamu panggilkan Rere untuk segera makan bersama kita?" tanya Gia.


"Bisa dong, Ayah," jawab Aurora seraya bangun dari tempat duduknya.


Dia segera melangkahkan kakinya menuju kamar Aurelia, tiba di depan kamar Aurelia, dia langsung mengetuk pintu kamar tersebut.


Namun, sudah beberapa kali dia mengetuk pintu kamar tersebut, tak ada sahutan sama sekali. Aneh, pikir Aurora.


"Ada apa dengan Rere? Kenapa dia tidak juga membuka pintunya?" tanya Aurora lirih.


Karena merasa khawatir, Aurora memberanikan diri untuk membuka pintu kamar milik adiknya tersebut.


Saat pintu terbuka, dia melihat Aurelia yang sedang duduk di depan jendela. Matanya terlihat menatap ke arah luar jendela, namun pikirannya terlihat sedang menerawang jauh entah kemana.


Aurora terlihat memberanikan diri untuk masuk dan duduk tepat di samping adiknya tersebut, dia peluk adiknya dari samping dengan penuh kasih.


"Sedang apa, hem? Kenapa melamun saja? Kenapa tidak segera ke ruang makan? Ayah, bunda, sama kedua adik kita yang sangat cerewet itu sedang menunggu. Apa kamu belum lapar?" tanya Aurora.


Aurelia terlihat begitu kaget saat mendapati kakaknya yang langsung memeluk dirinya, lalu membrondong dirinya dengan banyak pertanyaan.


Aurelia berusaha untuk tersenyum, lalu dia menjawab pertanyaan dari kakaknya tersebut.


"Maaf, aku terlalu asyik dengan lamunanku." Aurelia membalas pelukan dari Aurelia.


Aurora merasakan tatapan mata yang berbeda dari adiknya tersebut, namun dia berusaha untuk bersikap biasa saja.


"Jangan kebanyakan melamun, nanti cantiknya hilang," goda Aurora.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Aurora, Aurelia nampak mencebikkan bibirnya.


"Iya, aku tahu. Pesona Kakak memang luar biasa," kata Aurelia.


Aurora langsung terkekeh mendengar pernyataan dari adiknya tersebut.


"Adik Kakak yang cantik ini juga tidak kalah memesona, ayu kita makan." Aurora nampak melerai pelukannya.

__ADS_1


"He'em," jawab Aurelia.


Kedua gadis berparas sama namun berbeda watak itu terlihat keluar dari kamar Aurelia, mereka langsung melangkahkan kaki menuju ruang makan.


Gia dan Elsa langsung tersenyum, saat melihat kedua putri kembarnya yang selalu nampak akur dan berusaha untuk saling mengerti dan memahami itu datang dan langsung duduk.


"Kak Rere, lama," keluh Alex.


"He'em, cacing di dalam perutku sudah berdisco!" timpal Adelia.


Aurelia nampak tersenyum, kemudian dia mengacak rambut kedua adiknya tersebut secara bergantian. Lalu, dia berkata.


"Maaf, lain kali Kakak tidak akan telat lagi."


Akhirnya acara makan malam pun berjalan dengan khidmat, tak ada yang berbicara saat acara makan malam berlangsung.


Semuanya terlihat asyik saat menikmati setiap makanan yang terhidang di piring mereka masing-masing.


🏵🏵🏵🏵


Acara makan malam telah selesai, kini Gia beserta anak istrinya sedang berkumpul di ruang keluarga.


Hanya bu Anira yang tidak ikut serta, karena dia memang sering merasa tidak enak badan. Mungkin karena faktor usia.


Adelia dan Alex juga nampak anteng bermain lego beralaskan karpet tebal di depan televisi, sedangkan Gia terlihat merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan kepala dia sandarkan di paha istrinya.


"Permisi, Tuan. Di depan ada tamu yang datang, katanya mau bertemu dengan Non Rere," kata salah satu Art yang bekerja di sana.


Gia langsung bangun dan menegakkan tubuhnya, dia merasa penasaran dengan siapa yang datang.


"Siapa?" tanya Gia penasaran. Jika menyangkut anak-anaknya Gia memang sangat selektif.


"Den Cristian," jawabnya.


Mendengar nama Cristian disebut, Gia tersenyum. Kemudian dia menatap Aurelia, dia seakan meminta pendapat dari Aurelia sendiri.


"Aku akan menemuinya," jawab Aurelia.


"Perlu teman?" tanya Gia menawarkan diri.


"Tidak usah Ayah, aku bisa sendiri. Aku sudah besar, berikan aku kepercayaan," kata Aurelia.

__ADS_1


Gia terlihat mengangguk setuju dengan apa yang diucapkan oleh putrinya.


"Baiklah, Ayah mengerti." Gia tersenyum penuh arti.


Setelah berpamitan kepada ayah dan bundanya, Aurelia langsung melangkahkan kaki menuju halaman kediaman Pranadtja.


Di sana dia melihat Cristian yang sedang duduk di bangku dekat kolam ikan kesukaan Alex, Aurelia menghampiri Cristian dan duduk di bangku yang sama.


"Eh? Kamu sudah datang? Maaf mengganggu, aku rindu sama kamu. Aku sudah telepon dan juga kirim pesan chat, tapi ngga dapet respon. Aku takut kamu kenapa-kenapa, jadi aku langsung ke sini," kata Cristian.


Hati Aurelia terasa menghangat, karena di tengah kecemburuannya kepada Aurora, masih ada Cristian yang begitu perhatian terhadap dirinya.


Aurelia memang tidak memperhatikan ponselnya, karena sedari pulang bekerja dia malah asyik melamun.


"Kamu gombal, lagian diantara kita tidak ada apa-apa. Kenapa kamu harus rindu padaku?" tanya Aurelia.


Cristian tersenyum saat mendengar pertanyaan dari Aurelia, kemudian dia memandang wajah Aurelia dengan lekat.


"Entahlah, semenjak pertama kali kita bertemu, hatiku sudah terpaut sama kamu," jawab Cristian.


"Lebay!" seru Aurelia. Namun wajahnya terlihat memerah, ternyata ucapan Cristian mampu menyentuh kalbunya.


"Aku serius, walaupun kita tidak boleh pacaran. Tapi, aku boleh bukan hanya sekedar datang untuk menemui dirimu? Atau datang untuk menjemput dan mengantar kamu ke kampus?" tanya Cristian.


"Boleh, asal niatnya tulus." Aurelia terkekeh.


"Perasaan aku sangat tulus sama kamu, bahkan aku rela terjun ke dunia bisnis karena saking seriusnya sama kamu," kata Cristian.


Dahi Aurelia nampak mengernyit saat mendengar perkataan dari Cristian, rasanya sangat tidak nyambung antara kata serius yang Cristian ucapkan dengan menjalani bisnis.


"Maksudnya?" tanya Aurelia.


"Selama ini aku selalu saja malas untuk membantu ayah di perusahaan miliknya, aku hanya serius menjalani usaha kecil-kecilan yang aku jalani. Tapi semenjak mengenal kamu, aku setuju untuk memimpin perusahaan ayah," kata Cristian.


"Hubungannya sama aku?" tanya Aurelia.


"Biar bisa mengumpulkan uang yang banyak dari gaji selama aku bekerja," jawab Cristian.


"Untuk apa uangnya?" tanya Aurelia.


"Untuk menikahi kamu," jawab Cristian cepat.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2