Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Pingsan


__ADS_3

Hari yang gelap kini telah berubah menjadi terang, sinar matahari dari ufuk timur sudah mulai menampakan dirinya. Dengan tidak sabarnya sinar mentari menerobos masuk ke dalam kamar yang Dina tempati.


Dina mulai menggeliatkan tubuhnya, lalu dia mengusap matanya dengan lembut dan membuka matanya dengan perlahan.


Dina lalu tersenyum, segera duduk dan mengelus lembut perutnya yang masih rata.


"Selamat pagi kesayangan, Mommy." Senyum di bibir Dina terus terukir seraya mengelus lembut perutnya.


Dia lalu mengajak Babby yang sedang dia kandung berbicara, senang rasanya di usianya yang sudah masuk dua pulu delapan tahun kini dia sudah bisa merasakan yang namanya hamil.


"Rasanya, Mommy sudah sangat puas tidur malam ini. Sekarang, waktunya bangun dan sarapan," kata Dina Lirih.


Dina pun langsung turun dari tempat tidurnya, kemudian dia pun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Lima belas menit kemudian, Dina pun sudah mandi dan sudah terlihat cantik. Dia sengaja hanya memakai kaos pendek dan juga celana pendek di atas lutut.


Karena dia pikir, dia hanya akan di rumah saja. rambutnya yang panjang dia ikat asal. Lalu dia pun pergi ke dapur untuk mulai memasak, beruntungnya saat dia tiba di kampung halamannya dia langsung berbelanja untuk keperluan dirinya.


Dari mulai makanan, camilan dan juga bahan makanan sudah dia belanja. Semua keperluan sudah dia beli saat dia datang ke kampung halamannya tersebut.


Saat tiba di dapur, Dina langsung mengelus lembut perutnya. Lalu, dia pun bertanya pada Babby yang dia kandung.


"Mau makan apa, hem?" tanya Dina.


Dina lalu membuka lemari pendingin dan memilah-milah bahan makanan apa yang akan dia masak, Dina pun memutuskan untuk memasak ikan mujaer sambel tauco sama tumis labu.


"Kayaknya bakalan enak," kata Dina.


Dina lalu membersihkan ikan mujair, mencuci labu dan juga bumbu dapur lainnya. Dengan cekatan dia mulai memotong lagunya, merajang bumbu dan menggoreng ikannya.


Sesekali Dina bersenandung riang, dia begitu senang karena bisa memasak apa yang sedang dia inginkan.


Setengah jam kemudian, Dina pun sudah menyelsaikan masakannya. Dia langsung menatap makanan yang sudah dia masak di atas meja makan mini yang hanya muat untuk duduk empat orang saja.


"Mommy, lapar, Sayang." Dina langsung mengambil piring dan bersiap untuk mengendok nasi.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan pintu, namun bukan pintu depan. Melainkan pintu belakang rumah. Yang tak lain. pintu yang berada di dekat dapur.


Dina pun. langsung bangun dan membuka pintu tersebut, Dina langsung mengernyit heran saat melihat Bibinya yang datang sambil celingukan.


"Ada apaan sih, Bi?" tanya Dina.


"Itu, Na. Ada cowok tidur di depan pintu, tapi kepalanya ditutupi jaket gitu. Bibi ngga bisa lihat wajahnya, takutnya orang mati doang. Soalnya Bibi panggil-panggil ngga bangun," kata Bibi Asih setengah berbisik.


"Siapa ya, Bi?" tanya Dina.


"Kamu itu bagaimana sih? Bibi nanya, malah balik nanya. Aneh!" keluh Bibi.


"Ya sudah, bagaimana kalau kita lihay saja." Dina menarik tangan Bibinya menunu pintu utama.


Perlahan Dina membuka pintu tersebut, lalu saat pintu terbuka dia pun melihat seorang lelaki yang sedang tertidur dengan kepalanya yang ditutup dengan jaket.


Dina yang penasaran pun langsung membuka jaket itu dengan perlahan, saat jaket itu terbuka, Dina. sangat kaget luar biasa.


"Mas'!" pekik Dina.


Walaupun Bibi Asih belum pernah bertemu dengan VB, tetapi dia sudah melihat foto pernikahan Dina dan VB saat VB menikah dengan Dina.


Karena memang keluarga Bibi Asih saat itu sedang ada keperluan, sehingga tidak bisa langsung berangkat ke Jakarta.


Akan tetapi, mereka langsung mendapatkan kiriman foto-foto pernikahan VB dan Dina lewat pesan chat. Karena menurut Dina itu saja sudah bisa mewakili.


"Iya, Bi. Ini suami Dina, sejak kapan ya Mas VB datang? Kok dia enggak ngetuk pintu?" tanya Dina.


Sebenarnya Dina masih sangat kesal terhadap VB, namun dia tidak bisa menunjukkan kekesalan di depan Bibi Asih.


Karena Dina beralasan, jika dia pulang ke sana karena mengidam. Itu adalah keinginan Babby yang ada di dalam perutnya, sedangkan suaminya sedang bekerja di luar kota.


Jadi, dia mengatakan jika VB tidak bisa mengantarkan Dina untuk pulang ke kampung halamannya.

__ADS_1


"Aduh! Kamu itu ya, Na. Jadi istri kok durhaka banget, suami pulang saja sampai tidak tahu. Udah gitu tidurnya di luar begitu, kayak orang gelandangan mati di jalan. Buruan bangunin suami kamu, suruh Istirahat di dalam," kata Bibi Asih.


Dina hanya bisa tersenyum kecut, sebenarnya dia masih ogah bersentuhan dengan suaminya itu. Namun Bibi Asih pasti curiga, pikirnya.


Akhirnya dengan terpaksa Dina pun berjongkok dan menggoyangkan tangan VB.


"Mas, bangun." Kembali Dina menggoyangkan tangan VB.


Dina sudah berulang-ulang kali menggoyangkan tubuh VB, tapi VB tak kunjung bangun. Untuk sesaat Dina memperhatikan wajah VB yang terlihat memucat, Dina pun lalu mengecek suhu tubuh suaminya.


Ternyata suhunya sangat panas, tubuhnya VB pun terasa sangat panas. Setelah Dina mengecek kondisi VB, ternyata suaminya itu dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Bi, Mas VB pingsan!" pekik Dina.


Tanpa terasa air matanya langsung luruh, padahal dia masih sangat kesal pada VB. Tapi melihat kondisi suaminya yang memperihatinkan, Dina pun menjadi tak tega.


Bibi Asih pun terlihat ikut panik, dengan cepat dia pun masuk ke dalam dan mencari ponsel yang dia tinggalkan di atas meja makan.


Setelah menemukannya, dia pun langsung menelpon Mantri yang berada di daerah tersebut.


"Na, kita angkat suami kamu dulu ke kamar." Bibi menepuk pundak Dina agar tersadar dari lamunannya.


"Berat, Bi. Mas VB tinggi gede begitu!" keluh Dina.


"Ck, ya udah Bibi nyari bantuan dulu." Bibi Asih pun langsung berlari mencari bantuan.


Dia berlari ke arah tetangganya, untuk meminta bantuan agar bisa menggendong VB masuk ke dalam kamar Dina.


Beruntung ada 3 orang lelaki yang mau membantunya, mereka mendapatkan sup kerja siang hari. Jadi, mereka masih bisa membantu Dina saat ini.


"Ada apa, Kak?" tanya salah satu dari mereka.


"Ini, Bang. Tolong bantuin saya, bawa suami saya ke dalam kamar saya?" pinta dina.


"Boleh, Kak." Ketiga lelaki tersebut dengan sigap langsung menggendong VB dan membawanya ke dalam kamar sesuai dengan instruksi dari Dina.

__ADS_1


"Terima kasih, Bang." Dina langsung memberikan bantal agar VB bisa tiduran dengan nyaman.


Tak lama kemudian, Mantri yang dipanggil oleh Bibi Asih pun datang dengan membawa peralatan medisnya. Bibi Asih pun langsung meminta Mantri tersebut untuk segera memeriksakan VB.


__ADS_2