Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Pertemuan


__ADS_3

"Om ngga romantis, tapi Gadis suka." Gadis turun dari pangkuan Ajun.


Gadis kembali duduk di samping Ajun, lalu merapihkan bajunya yang terlihat acak-acakan karena ulah Ajun.


Ajun langsung terbengong mendengar ucapan Gadis.


"Maksudnya?" tanya Ajun.


"Dengar ya, Om. Di mana-mana itu orang melamar itu dengan cara yang romantis, ada cincin lamarannya juga. Sedangkan Om sangat lucu, setelah mencium Gadis, Om melamar Gadis. Sangat tidak romantis," ucap Gadis.


"Ck! Aku memang bukan laki-laki yang romantis, tapi aku jamin kalau kamu menikah denganku, aku akan berusaha untuk membahagiakanmu." ucap Ajun seraya menatap manik coklat milik Gadis dengan lekat.


"To tweet..." Gadis menggoyang-goyangkan wajah Ajun.


Ajun langsung menarik kedua tangan Gadis dan kembali mengecup bibir si wanita bar-bar yang ada di depannya itu.


"Ish, halalin aku dulu, Om. Jangan diciumin mulu!" kesal Gadis.


"Tapi kamunya juga suka, buktinya kamu bales ciuman aku. Ampe naek-naek pula, jambakin rambut aku juga." Setelah mengatakan hal itu, Ajun langsung melajukan mobilnya.


Gadis terlihat cemberut, sedangkan Ajun terlihat tersenyum dengan sangat manis. Dia sangat menyukai kebersamaannya dengan Gadis, wanita yang dia anggap sebagai anak ingusan.


Namun kini, anak ingusan itu sudah mampu melelehkan hatinya. Bahkan kalau saja boleh memilih, Ajun ingin terus membawa Gadis kemanapun juga.


"Sudah sampai," ucap Ajun.


"Iya, aku turun ya, Om." Gadis langsung membuka seat bealtnya.


Gadis hendak membuka pintu mobil, namun dengan cepat Ajun menahan tangan Gadis.


"Jangan marah sama aku," ucap Ajun.


Dia berkata dengan lembut sekali, dia sungguh takut jika Gadis akan terus marah padanya.


"Iya, aku nggak marah. Cuma sedikit kesel aja," ucap Gadis.


"Terima kasih kamu sudah mau menemani aku," ucap Ajun.


"Sama-sama, Om," ucap Gadis.


Gadis lalu turun dari mobil, Ajun hanya tersenyum sambil memperhatikan Gadis yang langsung masuk ke dalam rumahnya.


"Ah... dia benar-benar membuatku candu. Besok kan hari sabtu, sebaiknya aku melakukannya besok." Ajun langsung melajukan mobilnya menuju perusahaan milik keluarga Pranatdja.


Kembali dia berkutat dengan pekerjaannya yang begitu banyak, karena memang tidak ada Gia yang bisa membantunya.

__ADS_1


Pukul 4 sore Ajun pun bersiap untuk pulang, namun saat dia sedang merapikan berkas yang sudah dia kerjakan, tiba-tiba saja ponselnya berdenting.


Ajun pun segera mengambil ponselnya, ternyata ada satu pesan masuk di sana. Dahi Ajun terlihat berkerut saat dia mendapatkan pesan dari Tuan Alfonso.


Padahal dia sangat tahu jika Tuan Alfonso itu begitu sulit berhubungan dengan orang lain, dia adalah sosok lelaki paruh baya yang sangat tertutup.


"Apakah anda ada waktu?" Isi dari pesan tersebut.


"Apakah ada hal yang penting?" tanya Ajun.


"Hanya ingin mengobrol saja, saya tunggu di Caffe." Jelasnya sedikit memaksa.


Ajun menghembuskan nafasnya, padahal dia ingin segera pulang. Dia sudah sangat lelah, tapi dia tak bisa mengabaikan pesan ajakan dari Tuan Alfonso.


"Tunggulah dua puluh menit lagi," balas Ajun.


Setelah merapikan semua berkasnya, Ajun langsung mengambil kunci mobilnya dan berlalu dari kantor Pranatdja.


Sungguh dia sangat penasaran kenapa Tuan Alfonso tiba-tiba saja mengajaknya untuk bertemu, padahal pria tertutup itu sangat jarang pergi keluar kalau bukan di jam kerja.


Tiba di Caffe M, Ajun sudah bisa melihat jika Tuan Alfonso telah duduk di dekat jendela. Ajun pun langsung masuk ke Caffe tersebut dan langsung duduk tepat di hadapan Tuan Alfonso.


"Ada apa, Mister?" tanya Ajun.


"Hanya ingin mengobrol saja, mau pesan apa?" tanya Tuan Alfonso.


Tuan Alfonso langsung tergelak kala mendengar jawaban dari Ajun, namun Ajun terlihat biasa saja.


"Anak rumahan yang baik," ucap Tuan Alfonso.


Tuan Alfonso lalu memanggil pelayan dan memesankan segelas susu hangat untuk Ajun.


"To the point aja, apakah kamu mengenal Gadis?" tanya Tuan Alfonso.


Dahi Ajun terlihat mengernyit dalam, dia jadi bertanya-tanya dalam hatinya.


Melihat reaksi dari Ajun, Tuan Alfonso pun langsung tertawa. Dia bisa menebak jika Ajun pasti berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya.


" Jangan berpikir yang macam-macam Tuan Ajun, saya hanya bertanya saja. Saya tidak menyukai Gadis seperti lelaki kepada wanita, saya hanya ingin tahu identitas Gadis aja," ucap Tuan Alfonso.


"Begitukah? Tapi untuk apa anda ingin mengetahui identitas Gadis?" tanya Ajun.


"Ada sesuatu yang anda tak perlu tahu," ucap Tuan Alfonso.


Ajun terlihat menarik nafas dalam, lalu dia menghembuskannya secara perlahan.

__ADS_1


"Gadis adalah putri dati Pak Galuh, seorang penjual sop buah di depan kantor milik keluarga Pranatdja. Dia gadis yang baik, lukus dengan nilai terbaik di universitas negeri dengan bantuan beasiswa," jelas Ajun.


"Ibunya?" tanya Tuan Alfonso.


"Sudah meninggal dua tahun yang lalu," jawab Ajun.


"Kamu tahu nama ibunya?" tanya Tuan Alfonso.


"Tidak, karena kami baru kenal lima minggu. Jadi saya belum bertanya sampai kesana," jawab Ajun.


"Kalian baru mengenal lima minggu, tapi kamu terlihat sudah mantap ingin memperistri Gadis." Tuan Alfonso terlihat melipat kedua tangannya.


"Tidak harus butuh waktu yang lama untuk memantapkan hati, jika sudah cocok dan merasa nyaman tak perlu menunda lagi." Ajun berkata dengan tegas.


"Saya suka sama lelaki kaya kamu," ucap Tuan Alfonso.


"Saya tidak butuh pujian," ucap Ajun.


Tuan Alfonso langsung tergelak mendengar ucapan Ajun, dia lalu meminum kopi miliknya. Ajun pun sama, dia meminum susu kesukaannya.


"Terima kasih untuk waktunya, saya do'akan semoga hubungan kalian akan berlangsung sampai ke jenjang pernikahan dan bisa bersama sampai maut memisahkan." Tuan Alfonso terlihat sedih saat mengucapkan hal itu.


Ajun ingin sekali bertanya, namun dia rasa bukan urusannya.


"Sama-sama, Mister. Kalau begitu saya permisi," pamit Ajun.


"Silahkn," ucap Tuqn Alfonso.


Setelah obrolan itu selesai, Ajun langsung pulang ke rumahnya. Sedangkan Tuan Alfonso masih setia dengan gemingnya, dia seakan enggan untuk pergi dari sana.


Namun, tak lama kemudian orang kepercayaannya datang dan mengajak Tuan Alfonso untuk pulang.


Dia pun menurut, karena memang hari juga sudah semakin sore. Tiba di rumah besarnya yang selalu terlihat sepi, Tuan Alfonso langsung masuk ke dalam kamarnya.


Dia langsung duduk di tepian ranjang, lalu mengambil foto seorang wanita dari atas nakas dan mendekapnya dengan sangat erat.


Tak lama air matanya pun luruh begitu saja, dia menatap foto wanita itu dengan derai air mata di pipinya.


"Maafkan aku, Sayang. Maaf," hanya kata itu yang keluar dari bibirnya yang terlihat bergetar.


+


+


+

__ADS_1


Selamat pagi semuanya, jangan lupa tinggalkan likenya. Koment dan juga hadiahnya ya, ngarep..


__ADS_2