Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Demam


__ADS_3

Pukul 4 pagi, Elsa terlihat lemas dan langsung turun dari tubuhnya Gia. Dia, langsung memeluk Gia dengan erat dan langsung tidur dengan pulas.


Elsa benar-benar terlihat kelelahan, Gia jadi merasa bersalah terhadap istrinya. Dia pun merutuki perbuatannya, yang memberikan obat perangsang tersebut pada Elsa.


Dia langsung membalas pelukan Elsa, dia mengelus lembut puncak kepala Elsa, lalu mencium keningnya.


"Maafkan aku, Sayang. Aku janji tidak akan melakukannya lagi," ucap Gia lirih.


Karena Gia pun merasa lelah, akhirnya Gia pun tertidur dengan lelap.


*/*


Malam yang gelap, kini berganti dengan siang. Cahaya matahari menerobos masuk melalui jendela, walaupun tertutup dengan gorden tetap saja terasa panas saat menerpa kulit.


Gia yang merasa kepanasan pun, langsung mengerjapkan matanya. Dia segera mengucek matanya, agar bisa terbuka dengan sempurna.


Setelah matanya terbuka, Gia melihat jam yang bertengger cantik di dinding. Ternyata, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang.


Mata Gia, kini beralih pada sosok wanita cantik yang semalam suntuk sudah bermain dengan sangat liar dengannya.


Senyumnya langsung mengembang saat melihat Elsa yang masih tertidur di sampingnya, hanya saja, Gia merasa tak suka. Karena Elsa, tidur membelakangi dirinya sambil memeluk guling.


"Ck, kenapa membelakangi aku?!" tanya Gia.


Gia segera mengulurkan tangannya, dia bermaksud untuk menarik Elsa ke dalam pelukannya. Tapi, baru saja tangannya menyentuh pundak Elsa, Gia langsung kaget.


Ternyata badan Elsa terasa panas, Gia panik. Dia langsung bangun dan mengambil kimono mandinya, dia bingung harus melakukan apa.


Gia pun segera masuk ke dalam kamar mandi, dia mencuci mukanya lalu berlari ke arah kamar Bu Anira.


"Bu! Tolongin, Gia!" teriak Gia dari balik pintu kamar.


Bu Anira yang sedang asik mengobrol dengan Dina pun, langsung keluar dari dalam kamarnya.


"Ada apa, Nak?" tanya Bu Anira cemas.


Pasalnya penampilan Gia terlihat acak-acakan, wajahnya terlihat pucat. Bahkan, saat ini Gia tak menggunakan alsa kaki.

__ADS_1


"Elsa demam, Bu. Gia bingung harus apa," adu Gia.


"Elsa demam?" tanya Dina yang hendak berlari menuju kamar Gia.


"Stop! Elu ngga boleh masuk kamar gue, cukup Ibu aja." Gia langsung menghalangi langkah Dina.


Bu Anira hanya menggelengkan kepalanya, kemudian dia langsung melangkahkan kakinya menuju kamar Gia.


Gia pun langsung mengekori langkah Bu Anira, sedangkan Dina langsung pergi menuju dapur. Dia ingin meminum air dingin, untuk menenangkan hatinya yang sedang kesal terhadap Gia.


Saat masuk ke dalam kamar Gia, Bu Anira langsung menggelengkan kepalanya. Baju Gia dan Elsa berserakan di mana-mana, bahkan pakaian dalam Elsa pun nyangkut di atas lampu tidur.


Bu Anira pun nampak menghela napas panjang, saat melihat tubuh Elsa yang masih dalam keadaan polos.


Bu Anira langsung menghampiri Elsa, dia langsung mengecek kondisi tubuh Elsa. Benar saja, Elsa ternyata benar-benar demam.


Bu Anira pun, meminta Gia, untuk mengambilkan sapu tangan dan juga air hangat. Dengan cepat GIa, pun berlari ke kamar mandi untuk mengambil air hangat.


Tak lupa, Gia juga mengambil sapu tangan miliknya, kemudian dia memberikannya pada Bu Anira.


Dengan telaten, Bu Anira mengelap tubuh Elsa dengan air hangat. Gia hanya bisa meringis saat melihat tanda yang dia buat di dada istrinya, sedang di lap oleh ibu mertuanya.


"Tolong ambilkan baju buat Elsa," titah Bu Anira.


Gia pun dengan cepat langsung mengambil baju untuk istrinya, Bu Anira dengan cekatan memakaikan baju pada putrinya.


Dalam hatinya dia merasa tak habis pikir, kenapa Elsa bisa demam? Apakah mereka bercinta semalam suntuk?


Tapi, setahunya Elsa masih trauma terhadap perlakuan Gia. Lalu, bagaimana caranya Elsa bisa melakukan itu bersama Gia sampai pagi menjelang?


Bu Anira, ingin sekali menanyakan hal itu kepada Gia. Tetapi, dia berpikir jika itu adalah privasi mereka. Bu Anira pun memutuskan untuk tidak menanyakan apapun kepada Gia, biarlah itu menjadi urusan mereka berdua.


"Ibu mau membuat bubur untuk Elsa, kamu segeralah mandi. Jangan lupa, bajunya di rapihkan." Setelah mengucapkan hal itu, Bu Anira pun langsung pergi dari kamar Gia menuju dapur.


Bu Anira harus segera membuat bubur untuk Elsa, karena Elsa harus segera makan dan meminum obat agar dia bisa cepat sembuh.


Sedangkan Gia, langsung memunguti semua baju yang berserakan. Kemudian dia pun langsung mandi, karena badannya memang sudah sangat lengket karena keringat.

__ADS_1


Satu jam kemudian, Bu Anira sudah kembali dengan semangkuk bubur di tangannya.


"Elsa, Sayang bangun." Bu Anira dan Gia langsung membantu Elsa untuk duduk dan menyandarkan tubuh nya.


"Maafin, Mas, Sayang. Sekarang kamu makan dulu, Mas siapin obatnya." Gia langsung mengambil obat demam dari kotak P3K, sedangkan Bu Anira langsung menyuapi Elsa dengan telaten.


Walaupun mata Elsa terpejam, tapi dia masih mau memakan bubur buatan Bu Anira sampai habis. Setelah itu, Elsa pun segera meminum obat demam dari Gia.


"Terima kasih, Bu. Kalau tidak ada Ibu, Gia tidak tahu apa yang harus Gia lakukan." Gia langsung tertunduk sambil mengecupi kening Elsa.


"Sama-sama, tapi kalau boleh Ibu minta... Tolong perlakukan Elsa dengan lembut, Elsa pernah mengalami trauma yang lama setelah kejadian itu. Bahkan, Ibu sempat membawanya berobat ke psikiater." Kata Bu Anira.


"Maaf, Bu. Gia terlalu terburu-buru ingin itu sama, Elsa." Gia langsung tertunduk lesu sambil menggenggam tangan Elsa.


Bu Anira pun tersenyum," Ibu tahu, kamu laki-laki normal, tapi, Ibu harap kamu bisa lebih lembut lagi." Ucap Bu Anira.


"Iya, Bu." Gia semakin lesu saat melihat wajah istrinya yang masih terlihat pucat.


"Ibu keluar dulu, anak-anak sebentar lagi pulang." Bu Anira pun langsung keluar dari kamar Gia.


Dia harus segera memasak untuk kedua cucunya, dan juga harus bersiap untuk menjadi pendengar yang baik untuk mereka. Karena hari ini, hari pertama mereka masuk sekolah.


Sudah dapat dipastikan, jika mereka akan sangat antusias dalam menceritakan hari pertama masuk sekolah.


Sedangkan Gia, kini nampak merebahkan tubuhnya di samping Elsa, dia menarik Elsa ke dalam pelukannya.


Air matanya luruh, dia menangis sambil mengecupi wajah Elsa. Dia benar-benar merasa bersalah, karena sudah melakukan kesalahan terhadap istrinya.


"Maaf, Sayang. Mas, janji, Mas ngga akan memaksakan keinginan Mas lagi. Kalau kamunya ngga mau, Mas ngga bakal sentuh kamu." Gia kembali menghujani wajah Elsa dengan ciuman.


Gia benar-benar merasa sangat menyesal, dan Gia sungguh berjanji. Akan memperlakukan Elsa dengan lebih baik lagi.


+


+


+

__ADS_1


Happy weekend gengs.. Selamat berbahagia..


__ADS_2