
Pukul empat sore Ajun terlihat keluar dari perusahaan Pranadtja dengan sangat tergesa, tentu saja tujuan yang paling utama dia ingin segera menuju markas para Bodyguard-nya.
Dia ingin segera mengetahui bagaimana keadaan Gadis, menurutnya keadaan Danish tak terlalu penting. Anak buahnya mau melakukan apapun dia tak peduli, yang dia pikirkan saat ini adalah keselamatan Gadis.
Tentu saja sebelum Ajun pergi, Ajun menemui Pak Galuh terlebih dahulu. Saat melihat kedatangan Ajun, Pak Galuh langsung menghampirinya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Pak Galuh.
"Saya hanya mau bilang, Gadis ada sama anak buah saya. Dia aman," ucap Ajun.
"Syukurlah kalau begitu, saya sangat khawatir karena dari siang dia tak kunjung pulang," ucap Pak Galuh.
"Bapak tenang saja, Gadis baik-baik saja," ucap Ajun.
"Ya, saya percaya sama, Tuan. Tapi, saya--"
Ajun seakan paham dengan apa yang di akan diucapkan oleh Pak Galuh, Ajun pun langsung menepuk pundak Pak Galuh dengan perlahan.
"Bapak tidak usah khawatir lagi, saya sudah mengirim orang untuk menjaga Gadis. Makanya tadi siang saat Danish akan membawa Gadis, Danish terlebih dahulu dibekuk oleh orang suruhan saya." Pak Galuh terlihat syok mendengar ucapan Ajun.
Ternyata Danish masih saja mengejar putrinya, pikirnya. Padahal banyak sekali perempuan cantik di luar sana, kenapa Danish seolah terobsesi pada Gadis.
Tentunya yang membuat pak Galuh khawatir, Danish selalu saja memperlakukan Gadis dengan sangat kasar saat mereka bertemu.
Bahkan Pak Galuh pun sempat melihat Gadis yang ditampar oleh Danish, karena tidak mau menuruti keinginannya.
"Jadi, Danish masih mengejar-ngejar Gadis?" tanya Pak Galuh.
"Ya, dan saya akan melindungi anak Bapak. Jadi, jangan khawatir." Ajun mengupas senyum, dia berusaha menenangkan hati Pak Galuh.
"Terima kasih," ucap Pak Galuh tulus.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu." Pak Galuh terlihat menganggukan kepalanya.
Ajun pun segera pergi dari tempat Pak Galuh dia ingin segera bertemu dengan gadis dia harus bergegas dengan cepat karena membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk sampai di markas bodyguard-nya.
Ajun melajukan mobilnya menuju pinggiran kota, Setelah menempuh perjalanan selama satu jam. Ajun pun sampai di pinggiran kota dekat hutan.
Ajun memberhentikan tepat di depan bangunan tua bekas gudang yang sudah tak terpakai, dengan tergesa Ajun turun dan masuk ke dalam gudang tersebut.
"Bos," sapa Bodyguard A.
"Di mana Gadis?" tanya Ajun.
__ADS_1
"Di kamar saya, Bos. Masih belum sadarkan diri, si sombong itu kayaknya niat banget mau merkosa Nona Gadis. Ngasih obat biusnya ampe banyak banget, tadi saya sudah panggil dokter. Katanya kondisinya Nona Gadis baik-baik aja, tinggal nunggu siuman aja." Bodyguard A nampak menunjukkan arah kamarnya.
Ajun pun dengan tergesa segera melangkahkan kakinya menuju kamar yang ditunjuk oleh anak buahnya, dia sudah tak sabar ingin melihat wanita yang sudah membuat dirinya merasa gelisah.
Krieeet !
Pintu kamar tersebut nampak terbuka karena dorongan tangan Ajun, nampaklah Gadis yang sedang terlelap dalam pengaruh obat bius.
Ajun. langsung menghampirinya dan duduk tepat di samping Gadis, dia tatap wajah wanitanya dengan lekat, dia elus lembut pipi Gadis.
Wajah Gadis terlihat pucat, namun hal itu tak mengurangi kecantikannya. Dia tetap saja terlihat cantik di mata Ajun.
"Kamu cantik banget, cepet bangun. Kita harus segera pulang terus kamu harus segera makan, pasti kamu laper." Ajun berbisik tepat di telinganya Gadis.
Ajun menggenggam tangan Gadis yang terasa dingin, dia menggosokkan tangannya ke tangan Gadis. Dia berpikir dengan seperti itu Gadis akan cepat siuman, dan dia sudah tak sabar untuk segera mengobrol dengan Gadis yang bar-bar itu.
Ajun mengedarkan pandangannya, dia berharap di sana ada sesuatu yang bisa menghangatkan tubuh Gadis.
Ternyata Ajun melihat ada minyak hangat yang berada di atas nakas, Ajun pun segera mengambilnya dan mengoleskannya ke tangan Gadis dan juga kaki Gadis.
Dia sangat berharap dengan seperti itu Gadis akan cepat siuman, karena dia merasa tak tahan saat melihat Gadis hanya diam dalam lemahnya.
"Bangun Nona bar-bar, aku rindu ocehan'mu." Ajun mencuil dagu Gadis lalu dia tersenyum dengan sangat manis.
"Aaaahh!!"
"Hey! Kenapa berteriak?" tanya Ajun.
"Om!" Gadis langsung melompat ke dalam pelukan Ajun, dia sudah seperti anak koala saja.
Ajun langsung tertawa, dia juga langsung menahan kedua paha Gadis agar dia tak terjatuh.
"Gadis ngga diperkosa lagi, kan, Om?" tanya Gadis.
"Ngga, Nona bar-bar. Jadi, turunlah dari tubuhku. Jika tidak, aku yang akan memperkosa kamu." Ajun terlihat menggoda Gadis dengan meremat bokong Gadis.
"Om!" pekik Gadis.
Gadis langsung turun dari tubuh kekar Ajun, lalu dia pun langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Ajun. langsung tertawa, dia menghampiri Gadis dan
langsung mengelus punggung Gadis dengan lembut. Dia bisa merasakan jika Gadis terlihat sangat ketakutan, tubuhnya bergetar dengan hebat.
__ADS_1
Padahal Ajun hanya menggodanya saja, tapi ternyata Gadis menanggapinya dengan serius.
"Jangan takut, aku hanya bercanda. Maaf," ucap Ajun lirih.
"Beneran Om cuma bercanda?" tanya Gadis.
"Ya, aku hanya ingin menggoda kamu saja." Ajun. terus saja mengelus lembut punggung Gadis.
Gadis terlihat membuka selimutnya, hingga wajah pucat Gadis terlihat dengan jelas.
"Om ngga bakalan perkosa aku, kan?" tanya Gadis dengan wajah yang sudah basah dengan air mata.
Ajun langsung menggelengkan kepalanya, "tidak akan."
Gadis langsung menyibak selimutnya, kemudian dia langsung menghambur ke dalam pelukan Ajun.
"Jangan berkata seperti itu lagi ya, Om. Gadis takut," pinta Gadis.
"Ya, Nona bar-bar. Mau. langsung pulang, atau mau memberilan pelajaran terlebih dahulu sama si kutu kupret sok jago itu?" tanya Ajun.
Gadis nampak mengernyitkan dahinya, dia langsung mendongakkan kepalanya lalu memandang Ajun dengan lekat.
"Siapa si kutu kupret sok jago itu?" tanya Gadis.
Ajun hanya diam, mulutnya seakan haram untuk menyebut nama Danish. Nama lelaki yang telah merenggut kesucian Gadis.
Gadis yang seakan paham, langsung tersenyum lalu dia pun. menganggukkan kepalanya.
"Kita lihat dia dulu, Om. Gadis pengen kasih dia pelajaran," ucap Gadis.
"Kamu ngga takut sama dia?" tanya Ajun.
"Kan ada, Om." Gadia terlihat menyunggingkan senyumnya, Ajun langsung terpesona dibuatnya.
Bibir Gadis terlihat sangat menggoda, bahkan tanpa pewarna bibir pun sudah terlihat sangat menggoda. Kalau saja tidak mengingat Gadis yang memiliki trauma, ingin sekali rasanya dia menyesap bibir tipis milik Gadis.
Melihat Ajun yang malah melamun, Gadis langsung menggoyangkan badan Ajun.
"Om, Om kenapa malah melamun?" tanya Gadis.
Ajun langsung tersadar dari lamunannya, "Ngga apa-apa."
"Om!" pekik Gadis.
__ADS_1
Gadis terlihat memeluk Ajun dengan erat, dia takut jatuh karena tiba-tiba saja Ajun menggendong Gadis seperti anak koala. Tubuh Gadis terasa menempel dengan sempurna di tubuh Ajun, bahkan bokongnya terasa diremat dengan kencang.