Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Ayo


__ADS_3

Mereka melihat ke arah Anita dan mereka menunggu jawaban dari Anita.


"Kamu mau, kan, nikah sama aku?" tanya Dokter Irawan.


Tatapan dokter Irawan kini berubah sendu kala melihat raut wajah Anita yang terlihat tidak yakin.


Bahkan semua orang yang ada di sana pun terlihat harap-harap cemas, saat melihat raut wajah Anita.


Dihadapkan dengan situasi seperti ini membuat Anita menjadi bingung, terlebih lagi Anita hanya bermaksud menggertak Clarista saja.


Dia tak ada niatan untuk menikah dengan dokter Irawan, bukan karena dia tak tampan, bukan karena dia tak mapan.


Namun, dia masih muda. Masih bersetatus sebagai mahasiswi, umurnya pun baru dua puluh tahun. Rasanya belum pantas kalau untuk menikah.


"Anu, Dok. Saya masih kuliah, mana mungkin kita menikah sekarang. bagaimana kalau nanti saja setelah saya lulus kuliah?"


Anita mencoba bernegosiasi, rasanya dia belum siap untuk menjadi seorang istri.


"Heh!"


Terdengar helaan napas berjamaah di ruangan tersebut, mereka kecewa dengan keputusan Anita.


Dokter Irawan sudah menceritakan semuanya kepada Andrew dan Mamanya, dia benar-benar takut jika Clarista akan lebih nekat lagi dalam bertindak.


Lagi pula usia dokter Irawan sudah tidak muda lagi, rasanya memulai rumah tangga dengan Anita adalah hal yang baik.


Memang saat ini mereka tidak saling mencintai, tapi dia percaya jika cinta datang karena terbiasa hidup bersama.


"Kuliah tidak menjadi alasan, setelah kita menikah kamu masih boleh melanjutkan studi kamu. Aku juga ngga bakalan minta hak aku selama kamu belum siap, tapi... kamu harus bersikap seperti istri yang baik walaupun kita belum saling mencintai."


"Lagi pula aku ingin melindungi kamu dari bahaya yang bisa saja datang, karena Clarista tidak pernah main-main dengan ucapannya." Kembali Dokter Irawan menjelaskan.


Dokter Irawan mencoba memberikan penawaran kepada Anita, siapa tahu dia mau memikirkannya lagi.


Anita nampak berpikir, tindakan yang dilakukan oleh Clarista memang sudah keterlaluan.


Bahkan terlalu ekstrim menurutnya, akan sangat aman memang jika dia menikah dengan dokter Irawan.

__ADS_1


"Tapi--"


Anita terlihat tak enak hati saat hendak mengatakan unek-unek yang ada di dalam hatinya, dia terlihat memandang dokter Irawan sejenak, lalu menunduk menatap lantai.


"Kamu tahu? Bahkan aku sudah menelepon Mommy, dia sangat bahagia ketika mendengar aku akan meminang seorang perempuan. Bahkan setelah 5 tahun dia tidak pulang, dia langsung terbang ke Indonesia hanya karena mendengar aku akan meminang kamu," ucap dokter Irawan.


Anita mengangkat wajahnya, dia memberanikan diri untuk menatap wajah dokter Irawan.


Dia juga menatap wajah Andrew, Melani mamanya dan semua orang yang berada di ruangan tersebut secara bergantian.


Saat menatap wajah mamanya, dia merasa kasihan. Karena mamanya sering sakit-sakitan, Anita pun jadi berpikir, jika dia menikah dengan dokter Irawan maka kesehatan mamanya pun akan lebih terjaga.


Tentu saja hal itu bisa terjadi karena ada dokter Irawan yang memantau kesehatan mamanya.


Selain itu, dirinya pun akan aman dari ancaman Clarista yang bisa saja membahayakan dirinya kapan pun dan di mana pun.


"Tapi, beneran, kan, kalau kita nikah aku masih boleh kuliah?" tanya Anita.


"Ya," jawab Dokter Irawan.


"Terus kamu mau bantu aku buat ngerawat mama aku, kan?" tanya Anita lagi.


"Kamu bakal ngelindungin aku dari si Nenek sihir itu, kan?"


"Ya," kata Dokter Irawan lagi.


"Terus, kamu ngga bakal maksa aku buat itu, kan?" ucap tanya Anita malu-malu sambil menautkan kedua jari telunjuknya.


Dokter Irawan nampak menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa gatal, kemudian dia pun menganggukkan kepalanya.


"Ah, aku lega. Kalau begitu kita nikah," kata Anita.


Semua orang yang ada di sana terlihat bahagia, namun Andrew terlihat termenung. Bukan karena tak suka, namun dia merasa jika adiknya itu masih sangat kecil.


Namun, kini sudah ada yang meminang. Rasanya hatinya merasa kurang setuju. Namun, jika itu bisa membuat adiknya bahagia, kenapa tidak, pikirnya.


"Ehm, karena kamu sudah setuju untuk menikah. Pakailah cincin ini," kata Dokter Irawan.

__ADS_1


Dokter Irawan terlihat memberikan kotak kecil berwarna merah kepada Anita, Anita nampak mengernyitkan dahinya, kemudian dia pun berkata.


"Meskipun kamu hendak menikahiku bukan karena cinta, tapi setidaknya kamu harus bersikap romantis. Pakaikan dong cincinnya, masa aku pakai sendiri!" protes Anita.


Kembali dokter Irawan menggaruk pelipisnya, padahal dia sudah sering berhadapan dengan wanita. Dia bahkan dicap sebagai playboy yang sering bergonta-ganti pasangan.


Namun saat berhadapan dengan Anita, dia merasa seperti ABG yang baru mengenal cinta. Bahkan dia mendadak lupa bagaimana caranya bersikap romantis terhadap seorang perempuan.


"Ish!" keluh Anita.


Anita terlihat mengangkat tangan kirinya, lalu menggerak-gerakkan jari manisnya di depan dokter Irawan.


Semua yang ada di ruangan tersebut nampak tertawa, bahkan dokter Irawan pun langsung nyengir kuda.


Ternyata begini rasanya berhubungan dengan anak kecil, pikirnya. Tentu saja dia mengatakan Anita sebagai anak kecil, karena usianya sudah mecapai tiga puluh empat tahun.


Berbeda dengan Anita yang baru berusia dua puluh tahun, perbedaan usia di antara mereka saja sampai empat belas tahun.


Dengan perlahan dokter Irawan pun mengambil cincin berlian yang sudah dia siapkan, lalu dia menyematkannya di Jari manis Anita.


Ruangan tersebut nampak riuh setelah dokter Irawan menyematkan cincin tersebut, kemudian Gia terlihat menghampiri dokter Irawan. Lalu, menepuk pundaknya.


"Gue seneng karena pada akhirnya elu nikah juga, cuman satu yang gue ngga nyangka. Ternyata elu pedofil," ucap Gia seraya tertawa.


Mendengar ucapan Gia, dokter Irawan terlihat mendelik sebal. Dia pun langsung menyikut perut Gia sampai dia mengaduh kesakitan.


Elsa bukannya menolong sang suami, dia malah menertawakan suaminya tersebut. Melihat Elsa tertawa, membuat Gia melayangkan protesnya.


"Sayang, kamu apa tidak kasihan sama aku? Dia sudah menyakitiku," adu Gia.


"Itu semua karena salah kamu, Mas," jawab Elsa.


"Ck!" Gia terdengar berdecak sebal.


"Sudah-sudah, jangan berdebat. Karena sekarang ajakan nikahnya sudah diterima, kita harus merayakan hal ini," kata Mama Andrew.


"Memangnya mau ngapain, Mas?" tanya Anita.

__ADS_1


"Kita makan bersama di taman belakang, pasti ramai dan lebih seru," kata Mama Andrew.


Semuanya setuju, mereka langsung pergi menuju taman belakang.


__ADS_2