
"Tunggu, Tuan," cegah Pak Galuh.
Ajun pun kembali membalikkan badannya, lalu dia pun menatap Pak Galuh. "Ada apa?"
"Sebagai ucapan terima kasih saya, bagaimana kalau Tuan makan malam di rumah saya?" tawar Pak Galuh.
"Tidak usah, saya makan malam di rumah saja." Ajun terlihat mengibas-ngibaskan kedua tangannya.
"Masa iya gue bilang mau, pan malu. Tapi laper, nyampe rumah juga ngga bakal bisa langsung masak."
"Jangan sungkan, mari." Pak Galuh langsung menarik lembut tangan Ajun dan mengajaknya menuju ruang makan.
Gadis pun ikut mengekori dua pria beda generasi tersebut, Gadis dengan cekatan langsung mengambil piring kosong dan mengisinya dengan nasi lengkap dengan lauknya.
Kedua pria itu langsung tersenyum, sedangkan Gadis langsung duduk tepat di samping Pak Galuh. Gadis yang biasanya terlihat bar-bar dan banyak bicara, kini hanya diam saja.
Dia merasa sangat malu kepada Ajun, karena Ajun sudah mengetahui rahasia terbesar dalam hidupnya. Gadis merasa sangat yakin, jika setelah ini Ajun tak akan mau lagi dekat dengan dirinya.
"Silahkan, Tuan. Jangan sungkan," ucapan Galih.
"Iya, Pak." Ajun langsung menyuapkan satu sendok penuh nasi dengan lauknya ke dalam mulutnya.
Pak Galuh nampak tersenyum karena Ajun terlihat makan dengan lahap, padahal pak Galuh hanya memasak tumis labu, ikan asin, tempe, bakwan jagung sama sambel terasi.
Berbeda dengan Gadis yang terlihat begitu enggan untuk makan, bukan karena tak lapar. Namun rasanya sangat canggung setelah kejadian tadi sore, entah kenapa Gadis merasa sangat malu dan takut.
Gadis merasa sangat tidak enak hati kepada Ajun, padahal Ajun terlihat biasa saja.
"Dimakan atuh Gadis, jangan di udek-udek begitu. Nasinya kasihan itu," kata Pak Galuh.
"Eh? Iya, Pak. Ini Gadis mau makan," jawab Gadis.
Gadis pun lalu memakan makanannya walaupun terlihat begitu enggan, Ajun hanya bisa tersenyum melihat tingkah Gadis yang biasanya bar-bar kini tiba-tiba saja menjadi pendiam.
"Saya sudah selesai, terima kasih. Makanannya enak," ucap Ajun.
"Nambah lagi, Tuan," tawar Pak Galuh.
"Tidak usah, Pak. Saya sudah kenyang," ucap Ajun.
Ajun lalu bangun dan dia pun segera berpamitan, karena waktu terus berjalan dan rasanya ini sudah terlalu larut untuk Ajun.
"Saya permisi dulu, Pak. Ini sudah malam, tidak enak nanti sama tetangga," pamit Ajun.
__ADS_1
"Iya, Tuan. Terima kasih karena sudah mau mampir," ucap Pak Galuh.
"Gadis," panggil Ajun.
"Iya, Om," jawab Gadis seraya mendongakan kepalanya.
"Si kitty sudah berada di depan rumah, jadi kamu tidak usah mencarinya," ucap Ajun.
"Eh? Iya, Om. Terima kasih," jawab Gadis.
Padahal, biasanya Gadis tak pernah melupakan Si kitty. Namun karena dia begitu gugup, tak enak hati dan juga malu saat bersama dengan Ajun, dia malah melupakan Si kitty.
Beruntung Ajun masih ingat terhadap motor matic kesayangannya itu, bahkan dia pun merasa bingung kenapa Si Kitty tiba-tiba saja berada di depan rumahnya, padahal Ajun tidak berbicara apapun kepada Gadis.
Setelah berpamitan, Ajun pun langsung melangkahkan kakinya keluar dari rumahnya Pak Galuh. Pak Galuh langsung menyikut lengan Gadis, dia menatap Gadis seolah dia sedang berkata 'antarkan Tuan Ajun sampai di depan rumah'.
Gadis yang mengerti pun langsung mengangguk patuh, lalu dia mengantarkan Ajun sampai di depan rumahnya.
Saat Ajun hendak masuk ke dalam mobilnya, tanpa Gadis juga Ajun langsung mengecup kening Gadis, lalu dia pun tersenyum dan mengacak pelan rambut Gadis.
"Beraktifitas'lah seperti biasa, aku sudah menyiapkan orang yang akan menjagamu." Ajun mengelus lembut pipi Gadis.
"Ti--tidak usah, Om. Itu terlalu berlebihan," ucap Gadis terbata.
Gadis hanya bisa diam seraya memegangi keningnya, rasanya semua ini terasa seperti mimpi baginya. Tiba-tiba saja ada benda kenyal yang terasa hangat mendarat tepat di keningnya.
Ajun tersenyum saat melihat wajah Gadis, lalu dia pun dengan cepat masuk ke dalam mobilnya.
Saat hendak melajukan mobilnya, Ajun menurunkan kaca mobilnya. Dia mengerlingkan sebelah matanya lalu melambaikan tangannya.
"Ya Tuhan, apakah itu beneran Om Ajun? Kenapa dia jadi seperti itu? Apa mungkin aku sedang bermimpi?"
Gadis langsung menepuk pipinya. "Aduh!! Sakit ternyata, bukan mimpi."
Gadis langsung tersenyum senang seraya melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumahnya, Pak Galuh yang melihat tingkah putrinya hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
*/*
Gia terlihat sedang merayu istrinya untuk bisa melakukan pergumulan panasnya di atas ranjang, sedangkan Elsa tak bisa menuruti keinginan suaminya.
Karena kedua putrinya kini sedang meminta bantuannya untuk mengerjakan tugas prakarya dari sekolah, membuat gedung pencakar langit.
"Yang, ayo... Mas udah ngga tahan ini," bisik Gia.
__ADS_1
Bukannya mengiyakan, Elsa malah menyikut perut Gia. Dia merasa jengah karena suaminya itu merengek terus seperti anak kecil. Padahal kedua putrinya saja tak pernah merengek seperti itu.
Aurora dan Aurelia yang sedang asik membuat prakarya pun langsung menatap Ayah'nya.
"Ayah kenapa? Sakit?" tanya Aurora.
"Ayah terlihat gelisah, ada apa sih, Yah?" tanya Aurelia.
"Ayah sakit, Nak. Milik Ayah tegang banget ini, minta masuk ke dalam sarangnya. Tapi tugas lucnut kalian membuat Ayah susah untuk menyalurkan hasrat, Ayah." Gia hanya bisa mengungkapkan kekesalannya di dalam hatinya.
"Ayah ngantuk, badan Ayah Pegel semua. Pengen minta pijitin sama Bunda, tapi tugas kalian itu engga kelar-kelar." Gia terlihat memeluk Elsa dan menyandarkan kepalanya di bahu Elsa.
"Mas... berat ih, sana masuk kamar duluan. Nanti kalau sudah selesai, aku menyusul." Elsa mengelus lembut puncak kepala Gia.
Ternyata hal itu sangat ampuh, karena Gia pun langsung menurut.
"Ya udah, Mas ke kamar duluan. Kamu jangan lama, Mas nunggu. Punya Mas udah tegang banget, minta diurutin katanya." Kembali Gia berbisik tepat di telinga Elsa.
Aurora dan Aurelia hanya saling pandang melihat tingkah Ayahnya, mereka bingung melihat tingkah Ayahnya yang dirasa aneh akhir-akhir ini.
"Iya, Mas Gianandra, Sayang." Elsa mengecup kening Gia.
Gia terlihat sangat senang, dia langsung mengecup kening Elsa dan kening kedua putrinya secara bergantian.
"Ayah sayang kalian," ucap Gia.
Mendengar ucapan ayahnya, Aurora dan Aurelia langsung mengecup pipi kanan dan kiri Gia. Gia terlihat sangat senang karena mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari anak dan juga istrinya.
Sebelum Gia masuk kedalam kamarnya, dia pun tak lupa mengecup perut buncit Elsa. Usia kehamilan Elsa yang memasuki bulan ke-6, membuat perut Elsa terlihat sudah mulai besar.
Setengah jam kemudian, gedung pencakar langit buatan Aurora dan Aurelia sudah jadi. Elsa pun meminta seorang pelayan untuk merapikan bekas pekerjaan mereka.
Setelah itu, Elsa pun mengantarkan kedua putrinya ke dalam kamar mereka agar mereka segera tidur karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Kalian tidurlah, ini sudah malam. Jangan lupa gosok gigi sebelum tidur," ucap nasehat Elsa.
"Siap, Bunda." Aurora dan Aurelia pun langsung berlari ke kamar mandi, sedangkan Elsa langsung pergi dari kamar kedua putrinya menuju kamar utama.
Saat Elsa masuk kedalam kamarnya, dia melihat suaminya yang sudah tertidur dengan pulas sambil memeluk guling. Elsa hanya tersenyum dan menghampiri suaminya tersebut.
"Maaf ya, Sayang. Akunya tadi bantuin kedua putri kita dulu, jangan marah."
Cup
__ADS_1
Satu kecupan dia daratkan di bibir tebal Gia, lalu Elsa pun merebahkan tubuhnya. Memeluk Gia dengan erat dan memejamkan matanya.