
Pagi-pagi sekali Ajun sudah berangkat menuju kantor tempat dimana dia bekerja, hal itu dilakukan karena pukul 8 pagi akan ada meeting penting.
Tentu saja Ajun harus mempersiapkan semuanya sebelum Gia datang, agar meeting pagi ini berjalan dengan lancar.
Ajun rela berangkat pukul 6 pagi, bahkan dia belum sarapan. Perutnya memang terasa lapar, namun dia rela akan hal itu. Tentu saja hal itu dia lakukan karena dia takut meeting pagi ini tidak akan berjalan dengan sempurna.
Ajun melangkahkan kakinya menuju loby tempat dia bekerja, langkah Ajun langsung terhenti tatkala ada seorang gadis yang langsung menghadang jalannya, Ajun sempat terlihat kesal. Namun dia tetap berusaha untuk mengontrol emosinya.
"Maaf, Om. Saya hanya ingin memberikan ini, baju Om yang sudah saya kotori kemarin." Gadis mengulurkan tangannya, dia memberikam sebuah paper bag yang berisi baju Ajun.
Tentunya sudah dia cuci bersih dan sangat wangi. Mendengar Gadis memanggilnya dengan sebutan Om, Ajun terlihat menatap Gadis dengan tatapan tak suka.
"Sejak kapan saya menikah dengan Tante kamu?" tanya Ajun dengan ketus.
"Iish! Jangan marah Om, kan. Om memang sudah berumur, eh... maksudnya Om terlihat sudah dewasa dan terlihat sangat...."
"Apa?" tanya Ajun.
"Tidak apa-apa, Om. Ini bajunya mau diambil apa buat saya saja, jan. lumayan Om bisa saya peluk kalau mau tidur. Anggap saja lagi meluk badan Om yang..." Gadis menghentikan ucapannya, kala melihat wajah Ajun yang terlihat tidak bersahabat.
Ajun mengambil paper bag tersebut dari tangan Gadis, lalu dia pun dengan cepat melangkahkan kakinya. Tentu karena dia harus segera menyiapkan semua keperluan meeting yang akan dilaksanakan sebentar lagi.
"Sombong sekali Om Ajun itu, wajahnya tampan. Sayangnya judes banget!" umpat Gadis.
Tanpa Gadis duga, Ajun ternyata mendengar ucapan Gadis. Dia langsung berbalik dan kembali menghampiri Gadis.
"Ngomong apa, kamu?" tanya Ajun.
Gadis terlihat gelagapan, dia langsung mengibaskan tangannya beberapa kali.
"Tidak, Om. Saya tidak berkata apa-apa, saya hanya bilang Om itu ganteng banget, badan Om juga sekseh, apa lagi perut Om... Uh, bikin saya pengen nyubit." Kata Gadis dengan wajah yang terlihat sangat menggemaskan.
__ADS_1
"Ck, saya belum tuli. Awas kalau kamu berani ngatain saya lagi!" Ajun langsung menunjuk wajah Gadis.
Gadis pun dengan cepat meniru gerakan mengunci rapat mulutnya, lalu melemparkan kuncinya. Ajun ingin sekali tertawa, namun sekuat tenaga dia tahan.
"Anak baik," ucap Ajun seraya menepuk kepala Gadis dengan pelan.
Ajun langsung pergi, sedangkan Gadis malah bengong sambil mengusap-usap kepalnya. Tak lama senyum pun terukir dari bibirnya, rasanya dia begitu senang. Padahal hanya mendapatkan tepukan, apa lagi kalau mendapatkan yang lain.
Gadis langsung pergi dari sana dengan raut wajah yang penuh dengan kebahagiaan, dia benar-benar tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat tangan Ajun menyentuh kepalanya.
"Ya Tuhan, dia tampan sekali. Dia sudah punya istri belum ya?" tanya Gadis pada dirinya sendiri.
Sesampainya di ruang meeting, Ajun langsung mempersiapkan semuanya. Karena Ajun memang selalu ingin semuanya terlihat perfect.
Setengah jam menyiapkan semuanya, Gia bersama para petinggi perusahaan pun datang ke ruang meeting. Setelah memastikan semuanya siap dan semuanya sudah hadir, Gia pun langsung memulai meeting pagi ini.
Pukul sembilan pagi, meeting telah selesai, semuanya berjalan dengan lancar. Apa lagi kondisi Gia sekarang yang sudah terlihat membaik, membuat pekerjaan kantor dengan mudah bisa terselsaikan.
"Tuan, saya mau izin sebentar." Ucap Ajun pada Gia.
"Izin kemana?" tanya Gia.
"Saya belum sarapan, mau nyari sarapan dulu." Kata Ajun jujur.
Gia langsung tersenyum, dia jadi teringat akan Sup buah yang kemarin dia makan. Rasanya sangat enak dan juga bikin nagih.
"Ya, boleh. Tapi, kamu beliin saya sup buah yang kemarin." Kata Gia dengan nada tak ingin di bantah.
"Ya Tuhan... ngga minta yang lain saja, Tuan. Saya males banget kalau harus kesitu, Tuan kan tahu kalau di sana antriannya sangat panjang. Pasti akan sangat lama, minta yang lain saja, oke?" ucap Ajun memelas, tentu karena dia tak mau bertemu dengan Gadis.
Mendengar tawaran dari Ajun, membuat Gia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tentu saja itu adalah keinginannya yang tidak bisa diganggu gugat, mana bisa diganti dengan permintaan yang lainnya.
__ADS_1
"No! Aku mau sup buah yang kemarin, enak. Kalau bisa, suruh Gadis yang membuatnya." Ucap Gia penuh perintah.
"Gadis, siapa Gadis?" tanya Ajun.
"Wanita yang kemarin menabrak kamu, namanya Gadis Berliana. Dia salah satu anak beasiswa dari kantor kita, saya sempat melihat nila-nilainya. Sangat bagus, dia sangat pintar. Dua bulan lagi dia wisuda, saya mau kamu langsung mempekerjakan dia kalau lulus nanti." Kata Gia penuh perintah.
Ajun terlihat menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba terasa gatal, rasanya dia tidak ingin bertemu dengan gadis itu. Namun, Gia malah menyukai kepintaran dari gadis itu.
"Ya Tuhan, jangan sampai nanti dia dekat dengan ku. Bisa kesal tiap hari aku," gerutu Ajun dalam hati.
"Ngga usah banyak mikir, saya mau dia jadi sekretaris saya. Saya tahu dia sangat berkompeten, jangan benci begitu kamu sama dia. Jatuh cinta tahu rasa kamu," ucap Gia.
"Mana ada saya jatuh cinta sama bocah ingusan kaya dia, yang ada jatuh harga diri saya nanti, lagian saya bukan pedofilia. Saya masih normal," ucap tegas Ajun.
Gia mencabik dalam hati, Ajun berkata jika dirinya masih normal. Namun sampai saat ini, dia tak pernah melihat Ajun berpacaran barang sekali'pun. Rasanya dia ingin sekali tertawa, namun dia tahan dengan sekuat tenaga.
"Terserah, sekarang cepat kamu pergi. Awas saja kalau tidak membelikan saya sup buahnya!" ancam Gia.
"Iya, Tuan." Jawab Ajun cepat.
Ajun pun langsung melangkahkan kakinya menuju Restoran yang ada di depan kantor, dia ingin membeli makanan untuk dia sarapan.
Walaupun memang sudah telat, setelah mendapatkan pesanannya Ajun langsung meminta pelayan Restoran tersebut untuk membungkusnya.
Karena Ajun merasa, jika dia lebih baik memakan sarapannya di kantor saja. Agar dia bisa makan sambil mengerjakan tugasnya.
Sesuai dengan perintah Gia, setelah mendapatkan menu sarapannya Ajun langsung pergi ke kedai sup buah yang tak jauh dari Restoran tersebut.
Saat masuk ke dalam kedai tersebut, Ajun merasa tenang karena dia tidak bertemu dengan Gadis. Ajun langsung memesan sup buahnya kepada seorang bapak-bapak yang berjaga di kios tersebut.
"Sup buahnya satu," pesan Ajun.
__ADS_1
"Siap!" ucap Abang sup Buah, "Neng tolong bawain, buah melonnya!" ucap Abang buah.
Tak lama nampaklah Gadis dengan baskom di tanganya, tentu saja isi dari baskom tersebut adalah buah melon pesanan dari Bapak'nya.