
Ajun dan Gadis langsung masuk ke dalam kamar pengantin mereka, Gadis langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang pengantin mereka.
Taburan kelopak bunga mawar langsung berhamburan seiring pergerakan yang dilakukan oleh Gadis, wanginya pun langsung menyeruak ke seluruh ruangan tersebut.
Melihat kelakuan istrinya, Ajun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kemudian dia menghampiri Gadis dan duduk tepat di sisi tempat tidur.
"Mandilah terlebih dahulu, barulah nanti kita tidur," ucap Ajun seraya mengusap puncak kepala istrinya.
Bibir Gadis terlihat mengkerucut sempurna, dia merasa tak suka jika Ajun menyuruhnya untuk mandi.
Padahal dia sudah sangat lelah, rasanya dia tidak ingin lagi menyentuh air. Akan tetapi, ingin langsung memejamkan matanya dan memeluk tubuh kekar suaminya.
"Ngantuk, Om. Bobo aja ya, mandinya besok. bolehkan?" ucap Gadis memelas.
"Kamu ko jorok sih, Yang? Tadi kita abis itu loh... emang ngga lengket?" tanya Ajun.
Gadis langsung nyengir kuda mendengar pertanyaan dari Ajun, memang miliknya terasa lengket dan terasa tidak nyaman.
Namun matanya terasa sangat lelah, dan lagi area intinya terasa sakit. Walaupun ini bukan yang pertama untuk Gadis, tapi milik Ajun yang besar dan pergerakan yang dirasa begitu cepat membuat miliknya terasa sakit.
"Tapi, Om. Punya Gadis, sakit." Gadis terlihat menggigit bibir bawahnya.
Ajun terlihat menatap Gadis dengan tatapan tak percaya, ini bukan yang pertama untuk Gadis. Lalu, kenapa dia bilang sakit? Alasankah?
"Ini kan bukan yang pertama buat kamu, masa bisa sakit sih?" tanya Ajun.
Gadis langsung bangun, dia memeluk Ajun dari samping. Lalu, dia berbisik tepat di samping telinga Ajun.
"Punya Om, gede." Satu cubitan langsung Gadis dapatkan tepat di hidung bangirnya.
"Nakal kamu!" kata Ajun.
Gadis terlihat memberengut kesal sambil mengusap hidungnya yang terlihat memerah, Ajun langsung bangun dan tanpa Gadis duga Ajun langsung menggendong Gadis.
Ajun membawa Gadis ke kamar mandi, lalu mendudukannya di atas closet. Dia mengisi buthup dengan air hangat, lalu Ajun melucuti bajunya dan juga baju Gadis.
"Ayo mandi dulu," ajak Ajun.
"Om gitu ih, orang aku kan udah bilang aku nggak mau mandi," protes Gadis.
"Jangan suka jorok, Sayang. Kalau kamu ngga mau mandi--"
Ajun mengusap miliknya dan hal itu membuat Gadis paham, dengan cepat Gadis menahan tangan Ajun.
"Jangan dielusin kaya gitu, Om. Nanti dia bangun, aku ngga mau dimasukin lagi. Masih sakit soalnya," ucap Gadis.
Gadis langsung masuk ke dalam buthup dengan tergesa, dia sangat takut jika Ajun akan mengajaknya untuk kembali bercinta.
"Om mau ngapain?" tanya Gadis.
Gadis terlihat was-was saat melihat Ajun yang ikut masuk ke dalam butup, Ajun langsung tersenyum dan mengangkat tubuh mungil Gadis ke atas pangkuannya.
Dia mangambil sabun dan menuangkan sabun cair yang banyak di atas spon, kemudian Ajun mengusap seluruh tubuh Gadis dengan spon tersebut.
Gadis memejamkan matanya, dia menikmati sensasi rasa yang begitu nikmat saat tangan Ajun mengusap setiap inci tubuhnya.
"Astaga!" pekik Gadis saat merasakan benda tumpul yang kini tengah mengarah ke dalam celah miliknya.
"Kenapa, hem?" tanya Ajun.
"Ngga apa-apa, Om. Tapi Gadis mohon, Om. Jangan lagi, ya?" pinta Gadis.
"Telat, Sayang. Dia udah bangun," ucap Ajun.
Ajun langsung mengangkat tubuh Gadis, lalu dia menyalakan shower dan mengguyur tubuh mereka berdua dengan air hangat yang mengalir.
Busa-busa sabun langsung bersih seketika setelah terguyur air, membuat tubuh molek Gadis terlihat begitu indah.
"Lagi ya?" ajak Ajun.
"Tapi",-- Ajun langsung mengecupi leher jenjang Gadis--"enak, Om!"
Gadis langsung menutup mulutnya, karena dia merasa telah salah berucap. Sedangkan Ajun terlihat menyunggingkan senyuman kemenangan.
Kedua tangan Ajun langsung meremat dada istrinya, sedangkan bibirnya terus saja mengecupi setiap inci punggung istrinya.
Gadis menggeliat, antara enak, geli dan... merasa ingin cepat dimasuki kembali.
"Emph!"
Suara tertahan keluar dari mulut Gadis, karena dia masih saja menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Jangan ditahan, Sayang. Aku mau denger," ucap Ajun.
__ADS_1
"Om, jadi nakal!" kata Gadis.
"Ngga apa-apa, nakalnya sama istri sendiri." Ajun langsung mengangkat tubuh Gadis dan mendudukannya di sisi buthup, lalu dia pun berjongkok.
Rasanya, bagi Ajun itu adalah pemandangan yang sangat indah. Karena Ajun bisa melihat tubuh indah istrinya yang basah, dan itu terlihat sangat seksi di matanya.
"Kamu seksi banget, Sayang." Ajun langsung menuduk dan mencari area inti terkecil milik istrinya.
Gadis langsung menaikkan kedua kakinya di atas pundak Ajun, tangannya pun mulai menjambak rambut Ajun dengan kasar.
Rasa sakit yang tadi terasa, kini hilang entah kemana. Hanya ada rasa nikmat dan rasa tak sabar untuk segera dimasuki.
"Om, ja--jangan di sini, ya?" pinta Gadis terbata.
Ajun menurut, dia menggendong Gadis dan mendudukannya di depan meja rias. Ajun mengeringkan rambut Gadis dengan hairdrayer yang ada di sana.
Setelahnya, Ajun langsung menidurkan Gadis di atas kasur yang dipenuhi oleh hamparan kelopak bunga mawar.
"Di sini?" tanya Ajun.
Gadis langsung mengangguk setuju, Gadis sudah membayangkan pasti rasanya akan sangat nikmat bergumul di atas tempat tidur yang empuk.
"Iya, Om," jawab Gadis malu-malu.
Dan gulungan kenikmatan pun hadir saat Ajun kembali memasuki milik Gadis, apa lagi saat Ajun kembali mengayunkan pinggulnya.
Gadis seakan merasa tak menjejak bumi, Ajun seakan membawanya terbang ke dunia yang berbeda.
Ada rasa bangga dalam diri Ajun karena dia bisa memanjakan dan memberikan kepuasan pada istri kecilnya.
Karena dia sangat sadar, wanita seusia Gadis sedang inginnya dimanja dan dipuaskan. Awalnya Ajun merasa tak percaya diri, dia bahkan sampai berkonsultasi dengan dokter.
Setelah dokter memberikan penjelasan tentang area sensitif wanita yang biasanya sangat haus akan sentuhan, Ajun pun mulai paham.
Dia pun berjanji akan berusaha untuk memuaskan istrinya, baik itu untuk urusan ranjang atau pun untuk urusan materi.
"Om, Gadis udah mau dua kali. Om belum mau udahan?" tanya Gadis di sela kegiatan panas mereka.
Ajun terlihat menyunggingkan senyumnya, dia benar-benar merasa sangat bangga pada miliknya yang bisa membuat istrinya terpuaskan.
"Dikit lagi, Yang." Ajun pun mempercepat laju ayunan pinggulnya dan... Gadis langsung mencengkram punggung Ajun.
"Sakit, Om," ucap Gadis.
Ajun terdiam sesaat sambil memejamkan matanya, dia begitu menikmati sensasi pelepasan kedua yang dia rasakan.
"Punya aku juga sakit, Om. Dalem banget ini, lepasin dulu napa!" keluh Gadis.
"Maaf, Yang," kata Ajun.
Ajun pun menurut, dia melepaskan miliknya lalu mengecup kening Gadis dan menjatuhkan tubuhnya di samping istrinya.
Ajun memiringkan tubuhnya, lalu dia menatap wajah istrinya yang terlihat begitu kelelahan. Ada rasa kasihan karena tak membiarkan istrinya untuk beristirahat, namun ada rasa senang karena bisa memuaskan dan merasa terpuaskan.
"Nikmat banget, Yang. Makasih ya?" ucap Ajun.
"Iya, Om. Gadis lelah banget, boleh bobo sekarang?" tanya Gadis.
Mendengar pertanyaan dari istrinya, Ajun langsung menarik Gadis ke dalam pelukannya. Lalu, dia juga menarik selimut dan menutupi tubuh polos mereka.
"Tidurlah, Sayang. Maaf karena aku terlalu memaksa," ucap Ajun.
"Ngga apa-apa, Om. Walau sakit tapi tetep enak," ucap Gadis jujur.
"Kamu tuh ya, nakal banget." Ajun langsung menunduk dan mengecup bibir istrinya.
"Tidurlah, besok aku ajak jalan-jalan." Ajaun membenamkan wajah istrinya di dadanya.
Gadis menurut, dia memeluk Ajun dengan erat dan langsung memejamkan matanya. Tak lama kemudian, Gadis pun langsung terlelap.
Ajun merasa sangat senang karena akhirnya di usianya yang tidak lagi muda dia bisa merasakan yang namanya berumah tangga, apa lagi mendapatkan istri muda dan cantik seperti Gadis.
"Terima kasih, Tuhan. Karena engkau telah memberikan kebahagiaan di usiaku yang sudah mulai menua," ucap syukur Ajun.
Ajun mengelus lembut puncak kepala istrinya, lalu dia pun berusaha untuk menjemput mimpinya. Tak lama kemudian, sepasang pengantin baru itu pun sudah terlelap dalam tidurnya.
Tak jauh dari kamar pengantin Ajun, ternyata Gia pun memesan kamar pengantin untuk dirinya dan juga Elsa.
Entah kenapa dia merasa iri hati terhadap Ajun, dia pun ingin merasakan kembali tidur di atas ranjang pengantin.
Tak tanggung-tanggung, Gia memesan kamar pengantin terbaik yang ada di hotel tersebut. Ruangannya benar-benar di desain sangat romantis, Elsa bahkan sampai menggelengkan kepalanya berkali-kali karena kelakuan suaminya itu.
Padahal, menurutnya sebentar lagi dia akan melahirkan. Untuk apa menghabiskan waktu hanya untuk menyewa kamar pengantin saja.
__ADS_1
Menurutnya akan lebih baik jika dia beristirahat saja di rumah, namun Gia tak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Elsa.
Bahkan Gia beralasan jika itu adalah salah satu hal yang diinginkan oleh calon Baby mereka, Elsa bahkan sempat menolak jika hal itu merupakan keinginan Baby-nya.
Namun dia bersikukuh bahwa dia sedang mengidam, menurut Elsa itu adalah ngidam yang sangat tidak masuk akal.
"Yang." Gia memeluk Elsa dan mengusakkan kepalanya di belahan dada istrinya.
Terasa sangat nyaman dan menenangkan, apa lagi sekarang bentuknya yang makin besar dan padat. Membuat mulut Gia terasa gatal ingin segera mencicipinya.
"Apa sih, Mas?" tanya Elsa.
"Buka," rengek Gia seraya mengusap ujung dada istrinya.
"Ya Tuhan!" pekik Elsa.
"Akunya pengen enen, buruan." Gia begitu tak sabar sampai menggoyangkan tangan Elsa.
"Hem!" jawab Elsa malas.
Elsa menurut dia membuka kancing piyama tidur miliknya, Gia pun langsung tersenyum dan membuka pembungkus benda pavoritnya.
"Harusnya kamu bawa lingerie, Yang. Biar makin seksi. Aku suka kamu yang sekarang, makin berisi. Makin enak, makin padet." Satu pukulan mendarat tepat di pundak Gia.
"Ngaco ih, aku ngga nyaman pake baju kaya gitu. Perut gede begini, enaknya pake baju yang longgar." Elsa langsung mencebikkan bibirnya.
"Maaf, Yang." Gia langsung menautkan bibirnya ke bibir Elsa yang terlihat sangat menggoda.
Awalnya Elsa terlihat sangat enggan, namun setelah Gia menyentuh area-area sensitifnya, membuat hasrat Elsa pun langsung memuncak.
Elsa terlihat membusungkan dadanya, Gia yang paham pun langsung melepaskan tautannya. Dia langsung menunduk dan bermain di area dada istrinya.
"Aku udah ngga tahan, Mas," kata Elsa.
Gia langsung bersorak dalam hatinya, karena dia telah berhasil membuat istrinya memintanya terlebih dahulu.
Setelah melihat wajah Elsa yang begitu mendamba, dia pun langsung bangun dan memasuki istrinya dari arah samping.
Dia yang takut menyakiti Calon Baby-nya, sering berkonsultasi kepada dokter. Dia sering menanyakan posisi yang baik agar calon Baby-nya tidak merasa terganggu.
"Aduh, Mas!" pekik Elsa.
Gia langsung menghentikan aktivitasnya, padahal dia baru saja melakukannya selama dua puluh menit.
Namun melihat wajah Elsa yang memerah seperti menahan rasa sakit, Gia langsung melepaskan miliknya.
"Kenapa, Yang?" tanya Gia.
"Sakit banget, Mas. Perut aku sakit banget, mules." Elsa terlihat meringis kesakitan.
"Maksudnya gimana? Mas nggak ngerti," ucap Gia.
"Kayaknya aku mengalami kontraksi deh Mas, tapi kok ini sakit banget ya... Dulu lagi mau lahiran twins enggak langsung sakit kayak gini, Mas. tapi kok ini sakit banget ya, Mas?" tutur Elsa.
Mendengar ucapan istrinya, Gia pun menjadi panik. Dia langsung bangun dan dengan cepat memakai bajunya, dia juga menghampiri Elsa dan memakaikan Elsa piyama tidurnya kembali dengan sangat hati-hati.
Saat dia akan memakaikan celana piyama Elsa, dia melihat ada cairan bening bercampur sedikit darah keluar dari area inti Elsa.
Dia menjadi resah, dia segera mengambil tisu basah dan mengelap area inti istrinya tersebut.
"Kita ke Rumah Sakit sekarang!" ucap Gia.
Elsa pun hanya bisa menganggukkan kepalanya, karena rasanya untuk bicara saja dia sudah tak sanggup.
Sebelum Gia pergi, dia mengambil ponselnya. Dia hendak menelepon Ajun, namun kala dia ingat Ajun baru saja menikah, dia pun langsung berdecak sebal.
"Asial!" kesalnya.
Tanpa pikir panjang Gia pun langsung menggendong tubuh Elsa, dia berjalan dengan sangat cepat.
Gia merasa benar-benar khawatir jika Elsa akan melahirkan saat itu juga, saat tiba di lobby Hotel dia pun menyerahkan kunci mobilnya kepada security.
Dia meminta security tersebut untuk mengambilkan mobil Gia yang berada di parkiran basement hotel tersebut.
Security tersebut pun dengan cepat berlari menuju parkiran, tak lama mobil Gia pun berhenti tepat di depannya.
Dengan sangat hati-hati dia mendudukan tubuh Elsa di samping kemudi, kemudian dia pun segera masuk dan duduk di balik kemudi.
Gia segera mencari Rumah Sakit terdekat di daerah sana, karena kalau menuju Rumah Sakit besar sangat tak mungkin.
Karena melihat wajah Elsa yang terlihat begitu kesakitan, dia pun merasa tak tega. Bersyukur tak jauh dari sana dia menemukan sebuah Klinik Bersalin, dengan cepat dia memarkirkan mobilnya dan menggendong Elsa untuk masuk kedalam Klinik Bersalin tersebut.
"Langsung bawa ke ruang bersalin aja, Pak. Sepertinya istri anda akan segera melahirkan," ucap salah satu suster yang ada di sana.
__ADS_1
"Ah, iya Sus. Terima kasih," ucap Gia.
Dia pun dengan sigap langsung membawa istrinya ke dalam ruang bersalin tersebut.