Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Jujurlah


__ADS_3

Pukul enam pagi, Gia sudah sampai di negara T. Dia sudah sampai di depan gerbang sebuah rumah yang lumayan besar, rumah yang di sewa oleh Tuan Dirja.


Tempat tinggal untuk empat hari selama Tuan Dirja, twins A, Elsa dan para Crew melakukan Tour di sana. Gia yang sudah di beri alamat oleh sang Daddy, langsung datang ke sana.


Gia sudah tak sabar ingin mengatakan, jika Gia adalah Ayah biologis dari kedua putri Elsa. Gia sudah tak sabar untuk melepas rindu karena, sudah hampir tiga minggu mereka tak bertemu.


Rindu?


Tentu saja, Gia sangat Rindu. Bukan hanya pada Daddynya atau pada twins A, tapi, Gia juga begitu rindu pada Elsa.


Pada wanita yang sudah melahirkan dua puteri cantik karena kesalahannya, rindu pada wanita cantik, yang sudah dia renggut paksa kesuciannya.


Gia sudah bertekad, ingin mendapatkan maaf dari Elsa. Ingin meluluhkan hati Elsa, yang terlanjur membelu karena ulahnya.


"Selamat pagi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya penjaga rumah tersebut.


"Ah, saya Gia. Saya Ayah dari twins A, boleh saya masuk?" tanya Gia sopan.


Penjaga rumah tersebut nampak menelisik penampilan Gia dari atas sampai bawah, kemudian dia pun langsung berucap.


"Tunggu sebentar, Tuan. Saya tanyakan dulu, pada Tuan Dirja." ucap Nya.


"Silahkan," ucap Gia.


Penjaga rumah tersebut, langsung masuk ke dalam. rumah. Sedangkan Gia, nampak menunggu di depan gerbang. Tak lama, penjaga rumah tersebut pun datang kembali.


Dia langsung membuka gerbang itu, Gia pun langsung tersenyum senang.


"Anda dipersilahkan masuk," ucap nya.


Tanpa basa-basi, Gia pun langsung masuk ke dalam rumah tersebut. Dan saat dia masuk, dia melihat Tuan Dirja yang sedang duduk di ruang tengah sambil memangku laptopnya.


"Dad," panggil Gia.


Tuan Dirja pun langsung memalingkan wajahnya, dia menatap wajah putranya dengan penuh rindu. Tuan Dirja juga memperhatikan putranya, yang berjalan tanpa tongkat.


Dia merasa sangat senang, bahkan rasanya ingin melompat-lompat karena kegirangan.


"Sini, Nak." Tuan Dirja berucap sambil mengayunkan tangannya.


Gia pun langsung menghampiri Tuan Dirja dan memeluknya dengan erat, Tuan Dirja langsung membalas pelukan putranya.


"Dad, senang. Karena kamu sudah bisa berjalan dengan lancar," ucap Tuan Dirja.

__ADS_1


"Dad, akan lebih senang dengan kabar baik yang aku bawa." ucap Gia.


"Apa?" tanya Tuan Dirja tak sabar.


Gia langsung melerai pelukannya, kemudian dia pun mengambil secarik kertas dari saku kemejanya. Gia langsung memberikan kertas itu kepada Tuan Dirja, Tuan Dirja pun dengan senang hati langsung menerima kertas tersebut.


"Apa ini, Nak?" tanya Tuan Dirja penasaran.


"Bukalah, Dad. Kalau Daddy sudah membuka dan membaca tulisan tersebut, Dad pasti merasa sangat bahagia." ucap Gia.


Tuan Dirja membuka kertas yang diberikan oleh Gia, Tuan Dirja pun membacanya dengan seksama. Dia memang tidak begitu paham dengan tulisan tersebut, tetapi dia sangat tahu artinya, karena di bawah kanan kertas tersebut, tertulis jika Aurora, Aurelia dan Gia akurat 99,99%.


Tuan Dirja begitu senang, dia bahkan sampai menangis. Antara sedih dan bahagia bercampur jadi satu.


Tuan Dirja langsung meninju lengan kanan putranya cukup keras. Gia bahkan sampai mengaduh kesakitan.


"Dad!!!" kelakar Gia.


"Pertanggungjawabkan perbuatan mu, Gia. Buatlah Elsa memaafkan semua kesalahan kamu, bahagiakanlah kedua cucu ku." ucap Tuan Dirja.


"Aku akan berusaha," ucap Gia.


"Good, sekarang Elsa sedang mempersiapkan keperluan twins A di ruang ganti. Temui dia," ucap Tuan Dirja.


"Di belakang, di sebelah kanan pojok." ucap Tuan Dirja.


Gia pun mengangguk, lalu dia pun langsung bangun dan menuju ruang ganti. Ruangan di mana Elsa sedang mempersiapkan segala keperluan untuk kedua putrinya.


Saat Gia masuk, Gia melihat Elsa yang sedang melipat baju twins A. Elsa begitu serius, sampai dia tak sadar jika Gia sudah duduk di samping Elsa.


"Hai, Cantik." bisik Gia.


"Astaga!! " ucap Elsa sambil mengelus dadanya.


Elsa langsung memalingkan wajahnya, dia sangat kaget. Saat tahu, bahwa Gia sudah berada tepat di sampingnya.


"Ka--kamu? Sejak kapan kamu di sini?" tanya Elsa.


"Baru saja, Cantik. Kamu makin cantik banget, aku jadi makin suka." ucap Gia.


"Ka--kamu ngomong apa sih?" tanya Elsa.


Gia langsung menggenggam kedua tangan Elsa, dia menatap manik indah milik Elsa. Elsa berusaha untuk melepaskan tangannya, tapi, Gia menggenggam tangan Elsa dengan erat.

__ADS_1


"Tatap aku, Sa. Aku mau ngomong sebentar saja, jangan pergi." ucap Gia lembut.


Elsa seakan terhipnotis dengan ucapan Gia, dia langsung menganggukan kepalanya.


"Mau ngomong apa?" tanya Elsa.


"Aku minta maaf karena waktu itu, aku sudah memperkosa kamu. Dan sekarang, aku ingin bertanggung jawab atas perbuatan ku. Izinkan aku, untuk menikahi kamu, Elsa." pinta Gia.


Elsa menggelengkan kepalanya dengan pelan," Aku tidak bisa."


"Kenapa?" tanya Gia dengan wajah sendunya.


"Aku masih takut, kejadian hari itu masih teringat jelas di ingatan ku. Aku masih sering merasa ketakutan, terkadang, kejadian itu selalu masuk ke dalam mimpiku dan membuatku tak bisa tidur." ucap Elsa.


"Maaf, aku janji akan berusaha menyembuhkan luka yang selama ini kamu derita. Aku akan berusaha untuk menjadi seorang Ayah yang baik untuk kedua putri kecil kita, dan aku akan berusaha untuk menjadi pria terbaik untuk kamu, Sa." Gia meyakinkan Elsa sebisanya.


"Kenapa kamu yakin sekali, Jika Aurora dan Aurelia adalah ke-2 putrimu, anak kandung mu?" tanya Elsa.


"Elsa Anindita, umur tiga puluh tahun. Tidak pernah dekat dengan lelaki manapun, setelah aku mengambil paksa mahkota mu, kamu pergi ke kota B. Dan saat kamu tahu jika kamu hamil, kamu kembali ke kampung dan bekerja keras untuk menghidupi kedua putri kecil kita." ucap Gia.


"Hah? Bagaiman kamu bisa tahu?" tanya Elsa.


" Ya ampun, Elsa. Apakah kamu lupa siapa aku? Hanya dengan satu jentikan jari saja, aku bisa mengetahui semuanya." jawab Gia pongah.


Elsa pun nampak berpikir, mungkin benar saja dengan apa yang diucapkan oleh Gia. Secara Gia adalah orang kaya, banyak duit, punya kekuasaan, dan dia pun pasti bisa dengan mudah mengetahui apapun yang dia inginkan.


"Tapi, Kenapa kamu begitu yakin jika mereka adalah putrimu? Bagaimana jika anak ku, adalah hasil perbuatan ku dengan peria lain?" tanya Elsa.


"Kamu adalah wanita baik, dan wanita baik tidak akan berhubungan secara sembarangan dengan pria mana pun." ucap Gia.


"Sok tahu!! " ucap Elsa.


Gia pun langsung terkekeh," Jadi, bagaimana?"


"Apanya?" tanya Elsa.


"Kamu mau kan menikah dengan ku?" tanya Gia.


"Mana ada seorang pria yang melamar seorang wanita seperti ini?" ucap Elsa pelan.


"Oh, maaf. Jadi, kalau mau lamaran yang seperti apa?" tanya Gia.


Elsa hanya menghedikan kedua bahunya, kemudian dia pun menarik tangannya dari genggaman tangan Gia, dan meninggalkan Gia begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2