
Hari ini Gia benar-benar menghabiskan waktunya bersama dengan Elsa dan juga ketiga putrinya, selepas makan siang dia mengajak Elsa dan juga ketiga putrinya untuk jalan-jalan ke Mall terbesar yang ada di pusat kota.
Itu adalah bentuk rasa bersalah dari Gia, dia ingin menebus kesalahannya dengan mengajak Elsa untuk jalan-jalan dan ketiga putrinya untuk jalan-jalan.
Aurora dan Aurelia begitu senang, bahkan Baby Adelia pun terlihat berceloteh sepanjang jalan.
Elsa sudah seperti anak remaja bersama Dua putri cantiknya, sedangkan Gia menjadi Ayah yang sangat baik hari ini.
Pekerjaan Gia hanya mendorong Baby Adelia saja di kereta dorongnya, dia benar-benar menuruti keinginan dari kedua putrinya dan juga Elsa.
Gia terus saja mengekori langkah Elsa dan kedua putri kembarnya, dia seolah tak lelah berjalan sambil mendorong Baby Adelia.
Dari mulai berbelanja baju, tas, sepatu hingga aksesoris perempuan yang Gia tak tahu seperti apa bentuk dan kegunaannya.
Bahkan Aurora dan juga Aurelia memilihkan banyak baju dan juga mainan untuk Baby Adelia, padahal mainan yang dulu sempat mereka belikan pun belum tersentuh sama sekali.
Karena Baby Adelia memang belum bisa bermain dengan mainannya, dia baru bisa berceloteh, tersenyum dan menangis ketika dia kehausan atau pun karena pup atau kelaparan.
Setelah sekian lama tidak pernah menyempatkan waktu untuk keluarga kecilnya, ada rasa kepuasan batin yang sangat luar biasa yang dia rasakan.
Ternyata berkumpul dan bercanda tawa bersama dengan keluarganya adalah hal yang paling membahagiakan.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, Arora dan Aurelia sudah terlihat kelelahan. Begitu pun dengan Gia, bahkan Baby Adelia kini sudah terlihat tertidur dengan pulas di kereta dorongnya.
Baby Adelia terlihat sangat lelah, Baby mungil itu sampai terlelap Karen lelah mengikuti keinginan Bunda dan kedua Kakakny.
Sebenarnya Gia sudah sangat ingin pulang dan beristirahat, namun kedua putrinya meminta agar mereka makan malam dulu di Restoran Jepang yang ada di sana.
"Yah, Rara mau makan di Resto Jepang," pinta Aurora.
Mau tak mau Gia pun menuruti keinginan kedua putri kesayangannya tersebut, saat mereka tiba di Restoran tersebut, tanpa sengaja mata Elsa melihat keberadaan VB dan juga Dina.
VB terlihat begitu telaten menyuapi Dina, Elsa tersenyum lalu mengajak Gia dan ketiga putrinya untuk bergabung bersama dengan Dina.
"Kita ke sana, biar rame," ajak Elsa.
Aurora dan Aurelia langsung mengiyakan, mau tak mau Gia pun langsung berkata setuju. Yang penting hati Elsa dan kedua putrinya senang, pikirnya.
__ADS_1
"Na!"
Elsa setengah berlari menghampiri Dina, lalu dia memeluk Dina dan menautkan pipinya ke pipi Dina.
"Gue kangen," kata Elsa.
"Gue juga," kata Dina.
Elsa terlihat melarai pelukannya, kemudian dia pun melihat perut Dina yang terlihat begitu besar. Elsa lalu mengelus lembut perut Dina dan dia pun langsung berkata.
"Keponakan Aunty sudah besar banget ini, bahkan perut Mommy kamu sampai terlihat turun banget. Belum kontraksi, Na?" tanya Elsa.
"Sebenarnya beberapa hari ini Dina sudah merasakan kontraksi semua, namun dia tetap saja berkata ingin makan di Resto ini," Adu VB.
"Ya ampun, Na!" kata Elsa seraya menggelengkan kepalanya.
Dina hanya tersenyum menanggapi perkataan Elsa, lalu pandangan Dina beralih kepada Aurora dan Aurelia yang berada di samping Elsa.
"Hai, Sayang-sayangnya, Aunty. Enggak rindu sama Aunty?" tanya Dina.
Aurora dan Aurelia langsung tersenyum, lalu mereka pun segera memeluk Dina dan mengecupi pipi kanan dan kiri Dina.
"Aunty juga wajahnya makin tembem," kata Aurelia.
"Ya ampun, mana Baby Adelia?" tanya Dina.
"Anak gue tidur pules, Na. Ini dia," Elsa lalu menunjuk Baby Adelia yang tertidur pulas di kereta dorongnya.
"Oh, ya ampun. Keponakan atau Aunty lucu banget," ucap Dina.
Dina terlihat memandang gemas ke arah Baby Adelia, lalu dia melarai pelukannya dengan Aurora dan Aurelia. Dina langsung berjongkok dan mengecupi pipi gembil Baby Adelia.
"Lucunya, keponakan Aunty." Dina langsung menoel-noel pipi gembil Baby Adelia.
Setelah puas melepas rindu dengan Baby Adelia, Dina pun berusaha untuk bangun. Dia berpegangan ke tangan VB yang berada di dekatnya.
Karena semenjak perutnya membesar, Dina memang kesusahan untuk bergerak, itu dikarenakan selama masa kehamilannya dia terus aja makan dan tidur.
__ADS_1
Hal itu membuat badan Dina membengkak, bahkan berat badan Dina kini naik drastis. Dari yang tadinya empat puluh lima kilo, sekarang menjadi tujuh puluh kilo.
Beruntung VB tak pernah mempermasalahkan hal itu, menurutnya yang penting Dina dan calon Baby mereka sehat, itu tidak masalah.
"Aduh!" pekik Dina kala merasakan kontraksi.
VB terlihat khawatir dibuatnya, dia langsung berjongkok dan mengelusi punggung istrinya. Lalu VB pun menuntun Dina agar duduk, Dina menurut.
"Kenapa?" tanya VB.
"Sakit banget, Yang. Sakit banget ini, perutnya sakit." Dina langsung mencengkeram tangan VB.
Elsa dan juga kedua putrinya ikut merasa khawatir melihat perubahan raut wajah Dina, raut wajah Dina yang awalnya terlihat ceria langsung berubah pucat pasi.
Tak lama kemudian, area bawah Dina terlihat mengeluarkan darah. VB yang melihatnya langsung melepaskan tangan Dina, dia terlihat memegangi dadanya dan tak lama kemudian dia pun jatuh pingsan.
"Astaga!" pekik Elsa.
"Ya Tuhan, VB. Istri kamu mau melahirkan, kenapa kamu malah pingsan?" keluh Gia.
"Sudah, Yah. Jangan menggerutu, mending Ayah gendong Aunty Dina. Tolong bawa ke Rumah Sakit terdekat, Yah. Sepertinya Aunty Dina sudah mau melahirkan," kata Aurora.
Gia terlihat memandang wajah Dina yang makin memecat, bahkan darah yang mengalir pun kian banyak.
Tanpa pikir panjang, Gia pun langsung menggendong Dina. Gia langsung membawa Dina ke Rumah Sakit terdekat, sedangkan Elsa langsung berteriak meminta bantuan.
Tentu saja agar bisa mengangkat tubuh besar VB yang kini tergeletak di lantai, tak lupa Aurora dan Aurelia pun langsung menghubungi Ibunda VB untuk memberitahukan bahwa Dina sudah mau melahirkan.
Suasana pun menjadi ramai, banyak orang-orang yang datang untuk membantu VB. Elsa bahkan mengambil minyak hangat milik Baby Adelia dan membalurkannya ke tangan dan leher VB agar dia cepat sadar.
Di dalam perjalanannya menuju Rumah Sakit, Dina terlihat kesakitan. Dia mencengkram bantal milik Aurora yang berada di dalam mobil, dia terlihat meringis menahan sakit.
Gia benar-benar merasa tak tega saat melihatnya, namun dia tak bisa membantu apa pun.
Gia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak lama kemudian mereka pun sampai di Rumah Sakit terdekat.
Dengan terburu-buru, Gia langsung turun dari mobilnya dan segera menggendong Dina menuju ke ruang bersalin. Dina terlihat meringis menahan sakit sambil mencengkeram tangan Gia.
__ADS_1
"Dasar VB sialan! Istri mau melahirkan malah pingsan," gerutu Gia.