
VB terlihat uring-uringan, karena malam ini dia harus tidur sendiri. Nyonya Miranda benar-benar melakukan apa yang dia katakan, dia tahu jika anaknya tidak sabaran.
Dia sengaja memberikan jarak untuk sementara kepada anak dan menantunya, dia takut jika VB akan khilaf dan akan menerkam istrinya dikala sakit.
VB hanya membolak-balikan tubuhnya tanpa ada niat untuk memejamkan matanya, sudah terbiasa tidur sambil memeluk Dina. Dia merasa kesulitan untuk tidur, bahkan bernapas saja sekaan tak tenang. Hingga pukul dua pagi, barulah dia bisa memejamkan matanya.
Pukul empat pagi VB sudah terbangun kembali dari tidurnya, dia merasakan hawa dingin yang terasa menembus sampai ke tulang.
Saat VB membuka matanya, ternyata dia lupa menutup jendela kamarnya.
"Pantas saja terasa dingin, hujan ternyata." Ucap VB.
VB menutup jendelanya, lalu kembali merebahkan tubuhnya. Dia mencoba untuk tidur kembali, sayangnya bukannya bisa tidur tapi malah senjata laras panjangnya kini terlihat sudah siap untuk menembakkan pelurunya.
Hawa dingin ternyata begitu gampang membangunkan miliknya yang tak tahu situasi itu, bukannya tidur karena tak ada lawannya malah asik bergerak seakan mencari tempat ternyamannya.
"Ya Tuhan, ini sangat menyiksa." Keluh VB.
Karena miliknya semakin tegak berdiri, akhirnya VB pun memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi. Berendam dengan air hangat dan mencoba menenangkan miliknya yang makin menegang.
Tahu lah ya,,, apa yang akan terjadi di sana. Jadi, Othor ngga usah jelasin.
*/*
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, VB keluar dari kamarnya dengan wajah yang terlihat sangat kusut. Dia langsung melangkahkan kakinya menuju ruang makan.
Kemudian, dia langsung duduk dan langsung menikmati sarapannya tanpa melihat ke arah Dina, Nyonya Miranda, ataupun Tuan Alson.
Dina dan kedua orangtua VB terlihat keheranan melihat tingkah VB pagi itu, sebenarnya mereka merasa khawatir apalagi saat melihat penampilan VB yang terlihat acak-acakan.
Namun, ini semua sengaja Nyonya Miranda lakukan agar VB bisa berpikir dengan jernih dan juga agar Dina bisa pulih kembali dari sakit yang dia rasa.
Setelah selesai sarapan, VB langsung mengecup kening Dina dan Nyonya Miranda secara bergantian, kemudian dia mencium punggung tangan Daddynya.
__ADS_1
Tak lama, dia pun langsung pergi meninggalkan mereka tanpa sepatah kata pun. Hal itu membuat Dina merasa kasihan terhadap suaminya tersebut, dengan cepat Dina mengejar suaminya.
Saat VB masuk kedalam mobilnya, Dina pun ikut menyusul. Dia langsung memeluk suaminya dengan erat, Dina mendongakkan kepalanya, lalu dia menatap wajah suaminya dengan intens.
"Mas, kenapa jadi aneh kaya gini? Mukanya juga kusut banget," kata Dina.
"Mas kangen sama kamu, boleh cium ngga?" tanya VB dengan raut wajah memelas.
Dina langsung menganggukkan kepalanya, dengan penuh semangat VB pun langsung menautkan bibirnya. Rasanya begitu nikmat setelah semalaman berpisah dengan istrinya, kini dia bisa memeluk dan mencium bibir Dina yang sudah menjadi candu untuknya.
"Terima kasih, Sayang." Ucapnya setelah melepaskan tautannya.
"Sama-sama, kerjanya yang semangat. Na, sayang Mas." Dina mengecup bibir VB beberapa kali.
VB tersenyum lalu mengecup keningnya Dina, "Mas berangkat."
"Hem," ucap Dina.
Dina melerai pelukannya, lalu dia pun turun dari mobil VB. Tangan Dina terlihat melambai saat mobil yang VB kendarai mulai terlihat semakin menjauh dari kediaman Fahreza.
Dia sudah sempat memanggil Dokter, katanya Gia terkena syndrom simpatik. Pengaruh dari kehamilan sang istri, Gia sebenarnya merasa sangat heran.
Padahal saat dia tahu istrinya mengandung dia merasa baik-baik saja, tapi kala Elsa sudah terlihat sehat dan pulih dari komanya dia malah merasa badannya benar-benar tidak sehat.
Jangankan untuk bangun dan bergerak, untuk membuka mata saja rasanya terlalu sulit.
"Mas, bangun dulu. Aku sudah bawain kamu sup sama jus buah," ucap Elsa.
"Ngga mau, Mas mau tidur aja." Jawab Gia tanpa berniat untuk membuka matanya.
"Mas, nanti kamu tambah lemes. Isi dulu perutnya, biar cepet sehat.
Elsa berusaha untuk membantu Gia bangun dari tempat tidurnya, Gia langsung menyandarkan tubuhnya. Matanya tetap terpejam, karena jika dia membuka matanya, rasanya dunia serasa berputar.
__ADS_1
Hal itu membuat Gia makin merasa pusing dan mual. Elsa pun paham, dengan sabar Elsa merayu Gia agar mau makan walaupun hanya sedikit.
"Sayang, makanlah biar sedikit." Tawar Elsa.
"Mas ngga mau makan, kamu bawa jus buah apa?" tanya Gia dengan mata yang tetap saja tak ingin dia buka.
" Bawa jus lemon, biar mualnya berkurang." Jawab Elsa
" Mas, minum jus buah aja kalau gitu. Biar merasa lebih enakan, tapi Mas nggak mau makan nasi, mual!" ucap Gia.
Elsa hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar, dia tahu jika Gia memang membutuhkan asupan gizi yang harus masuk ke dalam tubuhnya.
Akan tetapi, jika dipaksakan juga tidak akan baik, yang ada dia akan mual dan muntah. Dia akan mengeluarkan semua isi perutnya, Elsa pun pasrah. Akhirnya dia pun membantu Gia untuk meminum jus lemon yang telah dia buat untuk Gia.
"Enak, Yang. Rasanya seger, Mas mau bobo lagi." Kata Gia.
Elsa tak bisa berkata apa-apa, Elsa pun menuruti keinginan Gia. Dengan perlahan dia membantu Gia untuk merebahkan tubuh ringkihnya itu, kemudian Elsa pun membenarkan letak selimutnya dan meninggalkan Gia menuju dapur.
"Bagaimana dengan Gia, Nak?" tanya Tuan Dirja.
"Masih sama seperti kemarin, dia terbaring lemah tanpa mau makan. Hanya mau minum air putih sama jus saja, Dad." Ungkap Elsa.
Mendengar penuturan dari Elsa, Tuan Dirja bukannya merasa kasihan dia malah tergelak. Elsa langsung mengerutkan dahinya, dia merasa heran karena Tuan Dirja malah menertawakan Putra semata wayangnya.
"Kenapa, Dad?" tanya Elsa dengan raut bingungnya.
"Sepertinya Babby kamu ingin membalas perbuatan Ayahnya di masa lalu, dulu saat kamu hamil pasti sangat tersiksa karena status kamu. Sekarang Tuhan seakan sedang memberikan Gia pelajaran, agar dia bisa merasakan seperti apa sakitnya saat mengalami masa ngidam." Jelas Tuan Dirja.
Elsa hanya bisa tersenyum kecut mendengar ucapan dari mertuanya itu, beruntung Elsa tak mengalami mual muntah saat hamil Aurora dan Aurelia.
Mereka seakan mengerti jika Bundanya hanya sendirian, Bundanya tak akan sanggup jika harus mengalami mual dan muntah di kala banyaknya tekanan batin.
"Jangan pikirkan ucapan, Dad. Maaf jika mengingatkan kamu akan masa kelam yang telah lalu." Tuan Dirja mengusap lembut tangan Elsa.
__ADS_1
"Tak apa, Dad. Semuanya sudah berlalu, Mas Gia pun sudah berubah." Jawab Elsa.