
"Apa kamu serius ingin berpisah dengan Aldino?" tanya Ajun.
Ajun memang kesal terhadap sikap Aldino, namun walau bagaimanapun juga Aldino adalah adik sepupunya
Dia tidak bisa begitu saja membiarkan Aldino akan merasa menyesal nantinya, Ajun pun berusaha meyakinkan keinginannya Melani.
"Iya, Kak. Aku sudah yakin untuk berpisah dengan Mas Aldino, aku sudah berusaha sabar selama ini, Kak. Tapi rasanya, aku sudah tak kuat," ucap Melani.
"Baiklah, jika keputusannya sudah final kamu persiapkan saja semua berkasnya. Nanti akan ada orang kepercayaan Daddy yang akan membantu kamu untuk menggugat cerai ke pengadilan, dia akan mendampingi kamu terus sampai proses perceraian selesai," ucap Gadis.
"Terima kasih banyak, kalian sangat baik sekali kepadaku," ucap Melani.
"Tidak usah sungkan, jika kamu membutuhkan bantuan langsung telepon aku saja," ucap Gadis.
"Iya, pasti," jawab Melani.
Obrolan pun berlanjut sampai hari gelap, Ajun lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain bersama dengan Fajri. sedangkan Gadis terlihat mengobrol dengan Melani.
Berbeda dengan Merrisa, anak itu lebih memilih untuk masuk kedalam kamar yang biasa ditempati oleh Melani.
Karena dia ingin membantu Bundanya merapihkan semua barang-barang yang mereka bawa.
Pukul 7 malam, Ajun dan Gadis pun memutuskan untuk pulang. Melani tentu saja mengiyakan.
Dia juga tak lupa untuk berterima kasih, kepada sepasang suami istri yang sangat baik hati itu. Melanie benar-benar merasa bersyukur, karena masih ada orang-orang baik yang bersedia untuk membantunya.
Setelah kepergian Gadis dan juga Ajun, Melani meminta waktu kepada Reni untuk beristirahat. Rasanya hari ini hati dan pikirannya terasa sangat lelah.
Sampai di dalam kamarnya, dia melihat semua barang-barang yang Melani bawa dari rumah mertuanya sudah tertata dengan rapi.
Ternyata putrinya Merissa benar-benar bisa diandalkan, tinggal bersama dengan neneknya ternyata membuat dia lebih mandiri.
"Buna, Dede sudah tidur?" tanya Merrisa kala melihat Melani yang merebahkan tubuh mungil Fajri.
"Iya, Sayang. Kamu juga tidurlah, pasti kamu cape," kata Melani.
"Sebentar lagi, Buna. Aku mau mengerjakan PR aku dulu," jawab Merrisa.
"Baiklah, kamu kerjakan PR' nya. Bunda mau mandi dulu," ucap Melani.
"Iya, Buna," jawab Merrisa.
Setelah mengatakan hal itu, Melanie pun langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dia ingin membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian, Melani pun sudah selesai dengan ritual mandinya. Alangkah kagetnya saat dia melihat Mamah mertuanya sudah berada di samping Merissa.
Mereka terlihat saling berpelukan, bahkan Nyonya Mesti terlihat menitikkan air matanya.
"Mamah?"
Mendengar suara Melani, Nyonya Mesti langsung mengurai pelukannya bersama dengan Merrisa. kemudian, dia pun langsung berdiri dan memeluk Melanie dengan sangat erat.
"Baru setengah hari ditinggalkan, tapi Mamah sudah begitu rindu kepada kalian. Bolehkan jika malam ini Mamah menginap di sini?" tanya Nyonya Mesti.
Melani tak bisa berkata apa pun, dia hanya bisa menangis sambil menganggukkan kepalanya di dekapan hangat Mamah mertuanya.
Melani sebenarnya tak tega memisahkan Mamah mertuanya bersama dengan kedua buah hatinya.
Namun rasa sakit yang selama ini dia rasakan tak mampu membuat dirinya bertahan lagi bersama dengan Aldino, rasanya sudah cukup sakit hati yang selalu Aldino torehkan.
Rasanya sudah cukup selama ini dia mengalah dan diam saja, dia sudah tak mampu lagi menunggu suaminya berubah seperti dulu lagi.
*/*
Pukul 11 malam Aldino pun pulang ke kediamannya, tentu saja bukan pulang karena habis bekerja.
Akan tetapi, dia pulang setelah menghabiskan waktunya bersama dengan Nyonya Mariene. Saat masuk ke dalam rumah tersebut, suasananya terasa sangat sepi sekali.
Tak seperti biasa, karena saat dia masuk ke dalam rumah tersebut. Pasti Melani masih belum terlelap dalam tidurnya, walaupun dia hanya diam saja.
Aldino pun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, namun di sana juga tak ada istrinya.
Lantai kamar mandi terlihat kering, seperti seharian tak ada yang menggunakan kamar mandi tersebut.
Aldino menjadi gelisah, dia pun mencoba mencari Melani di dapur. Dia pun tak juga menemukan Melani di sana, Aldino tak putus asa.
Dia kembali mencari Melani di kamar kedua buah hatinya, alangkah kagetnya Aldino saat melihat kamar kedua buah hatinya kosong.
Bukan hanya Melani yang tidak ada, tetapi kedua buah hatinya pun tak ada di sana. Hatinya kembali resah, dia mulai merasa takut kali ini.
Aldino segera keluar dari kamar buah hatinya, kemudian menghampiri kamar Nyonya Mesti. Dia mengetuk pintunya berulang-ulang, namun tak ada sahutan.
"Mah, mama di dalam kan?" tanya Aldino.
Berkali-kali dia bertanya dan mengetuk pintu, namun tak ada sahutan dari dalam kamar ibunya tersebut.
Karena penasaran, Aldino pun langsung membuka pintu kamar Nyonya Mesti. Aldino semakin resah dibuatnya, karena di sana tak ada ibunya.
__ADS_1
"Sebenarnya kemana semua orang? Kenapa rumah sangat sepi?" Aldino bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, Aldino segera merogoh saku celananya dan mengambil ponsel miliknya.
Aldino lalu mencoba menghubungi nomor ponsel istrinya, sayangnya berkali-kali dia menelpon istrinya tapi tak ada jawaban dari istrinya tersebut.
"Yang, kamu di mana?" tanya Aldino lirih.
Aldino berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri, dia berpikir jika Melanie bersama dengan Ibu dan juga kedua buah hatinya sedang jalan-jalan.
''Mungkin mereka sedang jalan-jalan, karena sedari pagi Melani sudah pergi dari rumah," ucap Aldino.
Aldino segera masuk kedalam kamarnya. karena tubuhnya merasa sangat lengket, Aldino pun segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air hangat.
Sepuluh menit melakukan ritual mandinya, Aldino terlihat keluar dari kamar mandi tersebut. Dia duduk di atas sofa dengan hanya menggunakan kimono mandi saja.
Karena merasa sangat sepi, Aldino pun menyalakan televisi untuk menemani malamnya.
Entah suatu kebetulan atau apa, di televisi tersebut sedang terlihat sebuah drama keluarga di mana sang istri terlihat sangat sedih saat melihat suaminya berselingkuh.
Sang istri tersebut terlihat duduk termenung dengan air mata yang berurai di pipinya, tak lama kemudian terdengarlah sebuah lagu yang membuat Aldino merasa tersentil.
***Kau pernah bilang aku
Setengah matimu mengejar cintaku
Tapi sekarang kamu
Bukanlah Kekasih yang ku kenal dulu
Kau berubah
Semakin jauh
Sudah tak mencintaiku lagi
Kapan lagi puji diriku
Seperti saat engkau mengejarku
Kapan lagi kau bilang I love you
I love you yang seperti dulu
__ADS_1
Engkau mengejarku***
Hati Aldino terasa sakit saat mendengar lagu itu, dia terlihat uring-uringan. Dia sangat takut, jika Melani tak ada di rumah karena pergi dari dirinya.