
Hari telah berganti, matahari terlihat meninggi. Panasnya sang surya sudah mulai terasa membakar kulit, namun cahayanya tetap paling dibutuhkan.
Di saat semua orang sudah bergelut dengan pekerjaannya, berbeda dengan Gia dan juga Elsa. Mereka masih saja terlelap dalam tidurnya.
Bukan karena malas untuk bekerja atau beraktivitas, namun karena mereka begitu lelah dengan apa yang sudah mereka lakukan kemarin sore.
Gia menggauli istrinya dari sore hari sampai malam tiba, entah berapa banyak dosis obat perangsang yang Melinda berikan padanya.
Sampai-sampai Gia tak mau berhenti untuk mengayunkan pinggulnya, padahal Elsa sudah terlihat lemas.
Bahkan, Elsa sudah mendapatkan pelepasannya berkali-kali. Namun, Gia seakan belum mencapai puncak kenikmatannya.
Pukul satu malam, barulah Gia memperdalam miliknya dan menyemburkan cairan putih lengket ke dalam rahim istrinya.
Mata Elsa langsung terpejam karena rasa kantuk dan cape menerpanya, sedangkan Gia masih sempat sadar dan mengecupi setiap inci wajah istrinya.
Rasa sesal dan rasa kesal bercampur aduk menjadi satu, dia tatap wajah lelah istrinya dengan tatapan penuh cinta.
"Maafkan aku, Sayang. Aku janji, mulai saat ini akan lebih menjaga diriku lagi. Aku hanya milikmu, aku tidak akan pernah memberikan celah pada wanita lain untuk masuk ke dalam kehidupan kita." Kembali Gia mengecup kening istrinya sebelum matanya terpejam.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang Gia terlihat menggeliat, tangannya mulai meregangkan otot lelahnya.
Tak lama kemudian, Gia pun membuka matanya. Alangkah senangnya Gia kala wajah istrinya' lah yang terpampang nyata di depan matanya.
Seulas senyum langsung tersungging di bibir Gia, dia begitu merasa bahagia karena mempunyai istri yang sangat baik dan tak pernah protes akan apa yang dia lakukan terhadap dirinya.
Bahkan selalu hanya ada dukungan yang membuat Gia selalu bersemangat yang terucap dari bibir tipis Elsa.
Gia terlihat mengedarkan pandangannya, lalu dia pun menyadari jika hari sudah sangat siang. Matahari sudah terlihat terik, bahkan cahaya lampu pun seakan tak berguna.
Gia pun langsung melihat jam digital yang bertengger cantik di atas nakas, matanya langsung membulat kala melihat waktu menunjukkan pukul 11 siang.
"Astaga! Ternyata ini sudah sangat siang, kenapa tidak ada yang membangunkanku?" tanya Gia bermonolog sendiri.
Dengan perlahan Gia turun dari tempat tidurnya, lalu dia pun segera pergi menuju kamar mandi karena dia harus membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket dan juga terasa lelah.
Mungkin, dengan diguyur air dingin akan membuat tubuhnya lebih segar dan lebih bersemangat.
__ADS_1
Gia sengaja tak membangunkan istrinya, dia tahu jika istrinya pasti sangat lelah.
Sampai di kamar mandi, Gia langsung mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Hingga sepuluh menit kemudian, dia keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih segar.
Gia tersenyum kala melihat Elsa menggeliat danbmenarik selimutnya sampai sebatas leher, sepertinya dia begitu enggan untuk bangun.
Gia langsung memakai baju santai dan segera menelpon Ajun.
"Ya, Tuan." Sapa Ajun setelah sambungan telepon terhubung.
"Hari ini aku tak bisa masuk," ucap Gia.
"Ck! Kamu tak berucap pun aku sudah tahu, kamu pasti lelah karena habis bertarung dengan obat perangsang itu. Lagian di sini sudah ada Tuan Dirja, kamu tak perlu khawatir," kata Ajun.
"What? Ada Daddy di sana?" tanya Gia.
"Ya, apa kamu lupa? Hari ini ada investor penting, perlu tanda tangan yang tak bisa diwakilkan. Beruntung ada Tuan Dirja," kata Ajun.
"Ah, sial! Ini gara-gara perempuan sundel itu!" kesal Gia.
"Hey! Jangan menyalahkan perempuan sundel itu, ini semua terjadi karena kebodohan kamu. Bukannya sudah aku peringatkan untuk berhati-hati?" telak Ajun.
"Sudah jangan banyak bicara, lebih baik kamu siapkan makanan penuh gizi untuk Elsa. Pasti badannya remuk redam karena ditimpa gajah besar semalaman sepertimu," cibir Ajun.
"Hey! Jangan mengataiku, tubuhmu lebih besar dariku. Istrimu bahkan hanya bocah kecik, kalau aku jadi kamu, aku tak akan tega menggaulinya," ledek Gia.
"Dasar bos sialan!" umpat Ajun seraya mematikan sambungan telponnya.
"Berani sekali dia mematikan ponselnya, tapi apa yang dia katakan sangatlah benar. Aku harus segera menyiapkan makanan penuh gizi untuk Elsa," kata Gia.
Gia pun segera melangkahkan kakinya menuju dapur, dia ingin segera membawakan makanan untuk Elsa.
Seorang pelayan wanita menghampiri Gia, dia pun dengan cepat langsung membungkuk hormat dan bertanya kepadanya.
"Tuan butuh apa?" tanya pelayan tersebut.
"Tolong siapkan makanan untuk saya dan juga Elsa, jangan lupa buahnya dan juga susu untuk Elsa," ucap Gia penuh perintah.
__ADS_1
"Siap Tuan," jawab pelayan tersebut.
Pelayan tersebut pun dengan cekatan mengendokkan nasi, dia juga menyiapkan lauk serta sayur dan juga buah.
Tak lupa dia pun menyiapkan segelas susu, segalas air putih dan segelas jus. Setelah siap, dia pun menyimpannya ke atas nampan.
"Sudah siap, Tuan," kata pelayan tersebut.
"Terima kasih," ucap Gia.
Gia pun langsung membawa nampan yang berisikan makanan tersebut ke dalam kamar, tiba di dalam kamar dia langsung menyimpan makanannya di atas meja.
Kemudian, dia pun langsung menghampiri Elsa dan membangunkannya.
"Bangun, Sayang. Ini sudah sangat siang," kata Gia.
Elsa terlihat menggeliatkan tubuhnya dan tersenyum kala melihat suaminya yang kini sedang berada di sampingnya.
"Mas sudah bangun?" tanya Elsa.
"Ya, Mas sudah bangun. Karena ini sudah sangat siang, sekarang kamu mandi dulu. Nanti kita sarapan," kata Gia.
Elsa melirik jam yang bertengger di dinding, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 siang.
"Ini bukan waktunya sarapan, Mas. Ini waktunya makan siang," ucap Elsa.
"Iya, Sayang. Sama saja," kata Gia seraya tertawa.
Elsa lalu bangun dari tempat tidurnya, dia pun segera berjalan ke kamar mandi dengan langkah tertatih.
Gia yang melihatnya pun merasa kasihan, akhirnya dia pun menggendong istrinya dan membawanya ke kamar mandi.
Dengan telaten dia memandikan istrinya tersebut, rasa bersalah langsung menyeruak ke dalam hatinya.
Apa lagi saat melihat banyaknya tanda merah di sekujur tubuh istrinya tersebut, Gia langsung mengelus lembut pipi istrinya.
"Maaf," kata Gia tulus.
__ADS_1
"Tak apa, Sayang. Tapi, lain kali kamu harus lebih hati-hati lagi," kata Elsa.
"Ya, Sayang." Gia langsung mengecup bibir istrinya.