
Rasa lemas yang dirasakan oleh Elsa ternyata tak berlangsung lama, setelah usia kehamilannya memasuki usia enam belas minggu, Elsa terlihat lebih segar dan juga lebih lincah.
Elsa bahkan terlihat lebih agresif saat di atas ranjang, terkadang Gia sampai ragu untuk mengikuti keinginan istrinya.
Dia takut akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap janin yang berada di dalam kandungan istrinya tersebut.
Namun, Elsa selalu meyakinkan bahwa dia dan janin yang berada di dalam kandungannya akan baik-baik saja.
Bahkan dalam kesehariannya, Elsa sering mengajak ketiga putrinya untuk sekedar makan siang di luar atau berbelanja di mall.
Terkadang dia juga mengajak Dina beserta dengan putranya yang tampan dan juga menggemaskan untuk pergi jalan-jalan.
Jika weekend tiba, Elsa akan mengajak serta Gia untuk pergi. Entah itu ke taman hiburan, ataupun pergi ke taman kota untuk berpiknik.
Tentunya Ajun beserta anak dan istrinya akan ikut turut serta, begitupun dengan VB dan juga Dina beserta putranya, mereka akan ikut kemana pun Elsa pergi. Karena jika mereka tidak mau, Elsa akan mengancam mereka dengan kehamilannya.
Berbeda dengan dokter Irawan yang memang putrinya masih rawan untuk diajak pergi, dia memilih untuk tidak ikut. Dokter Irawan malah lebih sering menghabiskan waktunya bersama dengan anak istrinya di rumah saja.
Ternyata berada di rumah saja tidak pernah membuatnya bosan, apa lagi sudah ada anak dan istri yang selalu membuat rumah terasa ramai.
Bahkan mom Clara pun memutuskan untuk tinggal di Indonesia, hal itu membuat dokter Irawan merasa senang bukan main.
Perusahaan miliknya yang ada di negara A dikelola oleh Dad Julian, mom Clara tinggal duduk manis menikmati oembagian hasil dalam setiap bulannya.
Lalu, bagaimana dengan Clarista?
Dia menjalani hidupnya dengan baik, karena Steven mampu membuat dirinya jatuh cinta dalam tempo singkat.
Steven dan Clarista dipercaya mengelola perusahaan milik Das Julian yang ada di Indonesia, karena Clarista tak mau tinggal di negara A.
Kini usia kehamilan Elsa sudah masuk ke dua puluh delapan minggu, namun perutnya yang semakin besar tak menyurutkan niatnya untuk tetap aktif untuk bergerak.
Sama halnya seperti siang ini, Elsa baru saja pulang menjemput kedua putrinya dari sekolah. Pulangnya sekalian mampir untuk makan siang di Resto ternama.
Adelia yang terlihat lelah langsung dibawa kekamarnya untuk ditidurkan, begitupun dengan Aurora dan Aurelia yang langsung masuk ke dalam kamarnya karena lelah.
Elsa yang merasa lelah terlihat duduk di ruang keluarga, dia merasa enggan untuk masuk kedalam kamarnya.
Tuan Dirja yang baru saja keluar dari dalam kamarnya terlihat tersenyum, lalu dia menghampiri Elsa dan duduk tepat di samping memantu kesayangannya tersebut.
"Cape ya?" tanya Tuan Dirja.
__ADS_1
"Cape, Dad. Tapi seru," jawab Elsa.
Tuan Dirja tersenyum, kemudian dia menatap wajah Elsa dengan lekat dan dia pun berkata.
"Bolehkah Daddy mengelus perut kamu?" tanya Tuan Dirja.
Mendapatkan pertanyaan dari mertuanya, Elsa tersenyum. Kemudian, dia pun menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja boleh, ini cucumu." Elsa terlihat menarik lembut tangan kanan Tuan Dirja dan menyimpan tangan tua itu tepat di atas perutnya.
Tuan Dirja tersenyum senang, kemudian dia pun mengelus lembut perut Elsa. Tak lama kemudian matanya terlihat berbinar, karena sebuah tendangan yang sangat kencang dirasakan di tangannya.
"Dia sangat lincah, apa cucu Kakek ingin mengajak Kakek bermain bola?" tanya Tuan Dirja.
Elsa langsung terkekeh mendengar pertanyaan dari Tuan Dirja, dia mengelus lembut tangan Tuan Dirja lalu dia pun berkata.
"Sehat selalu, Dad. Elsa mau Daddy melihat pertumbuhan semua anak-anak yang Elsa lahirkan," ucap Elsa.
"Semoga saja, seperti itu," jawab Tuan Dirja ragu.
"Daddy!" kata Elsa penuh protes.
"Kamu tahu, Sayang. Semenjak kehadiran kamu dan juga anak-anak kamu, kehidupan Daddy dan juga Gia berubah total. Kami menjadi lebih bahagia, Gia pun berubah menjadi lelaki yang lebih baik dan bertanggung jawab. Terima kasih, Sayang." Tuan Dirja berucap dengan tulus.
"Daddy," kata Elsa dengan mata yang berkaca-kaca.
"Hem, kamu memang wanita baik yang mendatangkan kebahagiaan di hidup kami." Tuan Dirja langsung memeluk Elsa.
Elsa pun langsung membalas pelukan Tuan Dirja, dia bahkan menagis haru di dalam pelukan mertuanya.
Tak lama kemudian, Tuan Dirja nampak melerai pelukannya. Kemudian, dia kembali mengelus lembut perut Elsa. Bahkan dia mengecup perut Elsa dengan lembut.
"Jika suatu hari Daddy pergi, jaga anak-anak kamu dengan baik. Daddy juga minta tolong untuk kamu menyayangi putraku yang nakal itu, walaupun dia nakal, tapi dia baik dan bertanggung jawab." Tuan Dirja terlihat menetesken air matanya.
"Daddy, jangan berkata seperti itu. Elsa jadi sedih," keluh Elsa.
Elsa terlihat mengusap air mata di pipi Tuan Dirja, kemudian dia tersenyum dan kembali memeluk Tuan Dirja dengan erat.
"Jangan berkata seperti itu, Daddy. Elsa tidak mau mendengar Daddy berkata seperti itu lagi," kata Elsa.
"Baiklah, kalau begitu Daddy mau beristirahat. Maria sudah menungguku," ucap Tuan Dirja seraya terkekeh.
__ADS_1
Elsa hanya tersenyum mendengar ucapan dari Tuan Dirja, karena mertuanya itu memang selalu tidur dengan membawa foto mendiang istrinya.
"Mimpi indah, Dad," kata Elsa.
"Ya," jawab Tuan Dirja seraya pergi menuju kamar utama.
Selepas kepergian Tuan Dirja, Elsa memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya. Dia pun ingin memejamkan matanya yang sudah terasa sangat lelah.
Tiba di dalam kamar, Elsa langsung merbahkan tubuhnya di atas kasur. Namun, baru saja dia hendak memejamkan matanya, rasanya dia ingin memakan martabak rasa durian.
Elsa langsung bangun dan mengambil ponselnya, stu pesan chat dia kirimkan pada suaminya.
"Mas Gia, Sayang. Pulang kerja beliin martabak rasa duren, ya?"
Ternyata tak perlu menunggu waktu lama, sebuah balasan pesan masuk ke ponsel milik Elsa.
"Ya, Sayang. Nanti Mas, cariin. Apa ada lagi?" tanya Gia.
"Tidak ada, Sayang. Terima kasih," balas Elsa.
Hatinya merasa senang, dia pun kembali merebahkan tubuhnya dan tak lama kemudian dia langsung masuk kealam mimpinya.
*/*
"Bangun, Yang," suara yang tak asing terdengar begitu nyaring di telinganya.
Elsa berusaha untuk membuka matanya, walaupun terasa sangat berat. Wajah Gia langsung terlihat saat mata Elsa terbuka.
"Mas sudah pulang?" tanya Elsa.
"Sudah, Mas juga bawain pesanan kamu. Ada di ruang makan," kata Gia.
"Oh, so sweet. Bangunin," ucap Elsa seraya merentangkan kedua tangannya.
Gia terkekeh, lalu Gia mengangkat tubuh Elsa dan membawanya kedalam pelukannya.
"Mau makan martabak, atau mau ngemut yang lain?" tanya Gia.
"Ish?! Baby maunya makan martabak," jawab Elsa.
"Baiklah," kata Gia seraya tersenyum hangat.
__ADS_1