Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Kerinduan


__ADS_3

"Suamiku itu tampan, tidak buruk rupa sepertimu," kata Elsa.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Elsa, dia nampak memelototkan matanya. Berbeda dengan suster dan dokter yang ada di sana, mereka terlihat mengatupkan mulutnya menahan tawa.


"Sayang, aku Gia, suami kamu." Gia memandang Elsa dengan raut sedih dan juga kesal.


Selama satu bulan dia terus saja menemani istri cantiknya itu, bahkan saking khawatirnya Gia jarang sekali pulang. Dia juga tak sempat mencukur rambut dan bulu yang tumbuh di wajahnya.


Karena dia sangat takut, jika Gia meninggalkan Elsa, istrinya itu akan sadar tanpa memandang wajahnya sebagai orang pertama yang dia lihat.


"Aku tidak percaya," kata Elsa seraya memalingkan wajahnya ke arah dokter.


Mendapatkan penolakan dari wanita yang sangat dia cintai, membuat dirinya sangat sedih. Bahkan Gia langsung menatap wajah dokter, dia seolah meminta pertolongan kepada wanita yang selama 1 bulan ini selalu menangani perawatan Elsa.


"Nyonya Elsa, apa yang dikatakan pria yang anda bilang buruk rupa ini benar adanya. Dia adalah Tuan Gianandra, suami anda. Dia sampai tak sempat mengurus dirinya, karena anda koma sampai satu bulan," jelas Dokter.


Mendengar apa yang dikatakan oleh dokter wanita tersebut, mata Elsa langsung membulat dengan sempurna.


Dia tidak menyangka jika dirinya akan mengalami koma sampai selama itu, seingatnya dia begitu sedih karena kepergian tuan Dirja sehingga pada saat dia ingin mencuci muka sebelum pergi ke acara pemakaman mertuanya, tanpa sengaja dia terpeleset di kamar mandi.


Dia sempat mengalami sakit di perut bagian bawahnya, bahkan pinggangnya terasa sangat panas. Namun, dia tak mengindahkannya. Karena dia ingin segera ikut ke acara pemakaman mertuanya tersebut.


"Aku koma selama satu bulan, Dok?" tanya Elsa.


"Lalu, bagaimana dengan bayiku?" tanya Elsa.


"Sekarang sudah sehat, dia sudah dibawa pulang oleh neneknya dan juga babysitternya," jelas Dokter.


"Terima kasih ya, Tuhan." Elsa mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.


"Yang, kamu sudah percaya, kan?" tanya Gia.


Elsa menolehkan wajahnya ke arah Gia, dia menatap wajah pria itu lekat. Lalu, Elsa berkata.


"Seharusnya kamu merawat diri, Mas. Jangan sampai jelek seperti ini, rasanya aku mau cari pria yang lain saja. Pria yang tampan dan memesona," kata Elsa.


"What?!" teriak Gia.


Wajah Gia yang setiap hari sendu langsung berubah seketika, wajahnya terlihat memerah seperti sedang menahan amarah.


Saking kesalnya, Gia langsung pergi dari sana. Bahkan dia sampai membanting pintu karena begitu kesalnya.


"Astaga!" kata Elsa seraya mengelus dadanya.

__ADS_1


Dokter dan suster yang ada di sana nampak menggelengkan kepalanya melihat keributan antara Elsa dan juga Gia, mereka benar-benar merasa heran dengan pasangan suami istri tersebut.


Bukannya saling mencurahkan rasa rindu, malah... hah, sudahlah.


"Ehm, Nyonya Elsa, apakah ada yang anda butuhkan?" tanya seorang suster.


"Aku haus," jawab Elsa.


Seorang suster langsung mengambilkan sebotol air mineral yang ada di atas nakas dan memberikannya kepada Elsa.


"Ini, Nyonya."


"Terima kasih," kata Elsa.


Elsa langsung meminum air yang diberikan oleh suster tersebut, dia benar-benar merasa sangat haus.


"Ehm, Dok. Aku sudah merasa sangat sehat, bolehkah aku pulang? Aku sudah sangat rindu dengan anak-anakku, apa lagi dengan putraku. Aku penasaran dengan wajahnya," kata Elsa seraya tersenyum-senyum.


"Kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, Nyonya. Jika kondisi anda benar-benar baik, besok anda sudah boleh pulang," kata Dokter.


"Ah, aku sangat tidak sabar." Elsa terlihat membayangkan wajah putra yang dia lahirkan.


Dokter dan suster yang ada di sana nampak tersenyum melihat tingkah Elsa, wanita yang sudah membuat suaminya sangat kesal karena tuduhan buruk rupa yang dia lontarkan kepada suaminya.


"Biarkan saja, Sus. Nanti juga dia balik lagi," kata Elsa seraya terkikik.


*/*


Malam telah menjelang, Elsa sudah terlihat cantik dan wangi. Dia sudah mandi dan juga mengganti bajunya, dia terlihat duduk sambil memegang ponsel di tangannya.


Dia terlihat tersenyum, sesekali dia tertawa kala melihat rekaman video putra kecilnya yang ada di ponsel Gia.


Ya, Gia pergi tanpa membawa ponselnya. Sehingga Elsa bisa dengan leluasa mengotak-atik ponsel suaminya itu.


"Sayang!" panggil Gia dari ambang pintu.


Elsa langsung memalingkan wajahnya ke arah Gia, dia menatap Gia dengan raut tak percaya. Kini Gia sudah terlihat tampan, dia sudah mencukur habis bulu yang tumbuh di wajahnya.


Gia juga sudah memangkas rambutnya, dia bahkan sudah mandi dan berganti pakaian. Gia benar-benar terlihat sangat tampan.


"Ya Tuhan, suamiku tampan sekali," decak Elsa.


Gia langsung tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, dia merasa lucu dengan reaksi dari istrinya tersebut.

__ADS_1


Gia melangkahkan kakinya menuju bed pasien yang sedang Elsa tempati, dia duduk di tepi ranjang lalu menarik lembut istrinya ke dalam pelukannya.


"Mas rindu, Sayang." Gia melabuhkan kecupan lembut di puncak kepala istrinya.


Elsa tersenyum, lalu dia mengeratkan pelukannya.


"Aku pun sangat rindu, maaf sudah membuat kamu khawatir," kata Elsa penuh sesal.


"Tidak apa, semuanya sudah berlalu. Tadi Mas ke ruangan dokter, besok kamu sudah boleh pulang. Kamu tahu, Yang? Anak-anak dan ibu sudah sangat rindu," kata Gia.


"Ya, besok kita berikan kejutan kepada mereka," kata Elsa.


"Hem," jawab Gia.


Gia terlihat mengurai pelukannya, lalu dia menunduk dan langsung menautkan bibirnya ke bibir istrinya.


Dia rindu bibir mungil istrinya, dia rindu rasa manis dari bibir istrinya. Elsa pun sama, dia terlihat begitu menikmati setiap cecapan dari bibir suaminya.


Bahkan, Elsa tak ragu untuk membalas tautan bibir dari suaminya.


"Ehm!"


Suara deheman langsung membuyarkan keromantisan diantara mereka berdua, Elsa dan juga Gia langsung melepaskan tautan bibir mereka, lalu mereka menoleh ke arah suara.


Diambang pintu sudah ada Ajun dan juga Gadis, mereka terlihat sedang tersenyum kikuk saat melihat tatapan mata Gia.


"Maaf mengganggu, tadinya aku pikir adikku tersayang ini belum sadar. Aku sangat khawatir kepada bosku yang selalu uring-uringan, aku berinisiatip untuk menemaninya. Tapi ternyata--"


"Masuklah!" kata Gia pada akhirnya.


Gadis dan Ajun menurut, merka langsung masuk dan duduk di sofa tunggu.


"Aku bawa kue dan juga camilan untuk kalian," ucap Gadis seraya menyimpan paper bag di atas meja.


"Terima kasih," jawab Elsa.


"Bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya Ajun.


"Sudah lebih baik, Kak. Aku sudah tidak sabar untuk pulang, aku rindu anak-anak. Rindu ibu juga," kata Elsa antusias.


"Ya, mereka juga sama. Mereka merindukan Bundanya, apa lagi Ayahnya. Dia sangat merindukan belaian--"


Ajun tak meneruskan ucapannya, karena dia langsung mendapatkan tatapan tidak mengenakkan dari Gia.

__ADS_1


"Ck! Jangan berisik," ketus Gia.


__ADS_2