
Keesokan harinya acara pemakaman pun berlangsung, kabut duka terasa menyelimuti orang-orang terkasih dari tuan Dirja Pranatdja.
Langit terlihat mendung, gumpalan awan hitam terlihat berkumpul. Tak lama kemudian, rintik hujan turun berbarengan dengan jasad tuan Dirja yang diturunkan ke dalam liang lahad.
Tangis orang-orang terkasih pecah, air mata luruh seiring dengan perginya orang terkasih. Semua bersedih, semua menangis. Melihat jasad dari tuan Dirja yang kini telah dikebumikan.
Begitu banyak yang menghadiri acara pemakaman tuan Dirja, dari mulai kerabat, saudara, kolega bisnis, bahkan sampai artis yang selama ini dia dukung melalui rumah produksi miliknya.
Bahkan banyak wartawan yang meliput kepergian tuan Dirja menuju alam abadinya, mereka turut bersedih dengan meninggalnya pengusaha sekaligus pemilik sebuah rumah produksi tersebut.
Satu jam kemudian, acara pemakaman pun telah usai. Semua orang yang hadir nampak pulang satu-persatu, kini tinggal orang-orang terdekat yang masih setia menemani Gia yang terlihat duduk terpaku di depan makan sang daddy.
"Daddy," ucapnya lirih.
Dia pegang tanah merah yang basah, air matanya terus terurai. Dia benar-benar merasa kehilangan, namun dia harua ikhlas. Karena ini sudah takdir tuhan.
"Jangan bersedih terus, ini semua sudah jalan Tuhan. Kita pulang," ajak Dokter Irawan.
Gia nampak menggelengkan kepalanya, dokter Irawan nampak menghela napas berat.
"Gue pulang duluan, elu harus kuat. Inget, ada anak istri yang membutuhkan elu." Dokter Irawan nampak menepuk pundak Gia, kemudian dia berlalu dari sana.
Ajun dan juga VB yang hadir di sana langsung menghampiri Gia, mereka berusaha untuk menguatkan Gia.
"Tuan harus kuat, harus tenang dan sabar. Semua sudah takdir Tuhan," kata Ajun.
"Iya, Bang. Setiap ada kelahiran pasti ada kematian, aku tahu Abang orang yang kuat," kata VB menyemangati.
Air matanya nampak berderai, namun. bibirnya berusaha untuk tersenyum.
"Terima kasih," kata Gia.
"Saya balik dulu, Tuan segeralah pulang. Hujannya semakin besar, takutnya nanti tidak bagus untuk kesehatan," pamit Ajun.
Sebelum pergi Ajun memeluk Gia, dia berusaha memberikan kekuatan kepada lelaki yang sudah dia anggap sebagai adik tersebut.
__ADS_1
Setelah kepergian Ajun, VB pun nampak berpamitan kepada Gia. Karena hari sudah semakin siang, namun hujan semakin turun dengan deras.
Semua kerabat yang hadir nampak sudah meninggalkan pemakaman, bahkan Aurora dan Aurelia pun sudah pulang.
Kini tinggal Elsa, Gia dan beberpa bodyguard yang masih setia berada di sana. Hal itu terjadi karena Gia tak juga mau pulang, dia masih setia duduk sambil menatap gundukan tanah basah bertaburkan kembang tujuh rupa.
Dia masih begitu enggan meninggalkan pusara terakhir sang daddy, kakinya seakan terpaku pada tanah dan sulit untuk bergerak.
"Mas, kita pulang. Besok kita ke sini lagi untuk bertemu dengan daddy," ucap Elsa.
Perut Elsa sudah terasa tidak enak dari dia bangun tidur, dia sudah sering mengalami kontraksi. Padahal usia kandungannya baru tujuh bulan, hal itu mungkin terjadi karena Elsa terlalu sedih dan terus saja menangis.
"Kamu pulanglah dulu, Yang. Aku masih mau menemani daddy," kata Gia.
"Tapi, Yang. Kamu sudah terlalu lama di sini, kita pulang dulu," ajak Elsa.
"Pulanglah, aku masih ingin di sini," kekeh Gia.
Elsa juga sama, dia merasa sedih. Namun, rasanya hal yang Gia lakukan salah.
Ucapan Elsa terhenti kala dia kembali merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya, dia mengaduh kesakitan seraya mencengkram kuat tang Gia.
Darah segar langsung mengalir di kaki Elsa, rasa sakit yang luar biasa langsung menyerang.
"Sa--sakit, Mas," keluh Elsa.
Gia panik, dia langsung bangun dan membopong tubuh istrinya. Dia berlari menuju parkiran mobil, beberapa bodyguard yang ada di sana dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Gia.
Gia langsung mendudukan Elsa di bangku penumpang, dia menyenderkan kepala istrinya di pundaknya. Lalu, mengelus lembut punggung istrinya.
Seorang bodyguard dengan sigap langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi, dia pun langsung melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit terdekat.
"Sabar, Sayang. Kita ke Rumah Sakit, tahan ya, Sayang. Kamu kuat, aku yakin kamu dan baby kita baik-baik saja," ucap Gia menyemangati.
Elsa tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa menangis sambil mencengkram baju Gia.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian, mobil yang Gia tumpangi berhenti tepat di depan Rumah Sakit. Dengan cepat Gia langsung menggendong istrinya dan membawanya ke ruang IGD.
Dokter yang sedang berada di ruangan tersebut dengan sigap langsung memeriksa kondisi Elsa, sedangkan Gia dengan sabar menunggu di depan ruang IGD.
"Ya Tuhan, lindungi istri dan anak hamba," do'a Gia.
Tak lama kemudian, pintu ruang IGD nampak terbuka. Gia dengan cepat menghampiri dokter yang kini sedang berdiri di ambang pintu.
"Bagaimana keadaan anak istri saya, Dok?" tanya Gia dengan raut wajah cemas.
Wajah dokter wanita tersebut nampak sendu, Gia pun semakin cemas dibuatnya. Karena itu artinya, ada hal yang tidak baik yang dialami oleh istri dan anaknya.
"Bagaimana, Dok?" tanya Gia tidak sabar.
"Kondisi istri dan putra yang ada di dalam kandungan istri anda sangat lemah, istri anda mengalami pendarahan hebat. Harus segera dilakukan tindakan operasi, silakan anda menandatangani surat persetujuannya," kata Dokter.
"Putra, Dok? Anak yang di kandung istri saya seorang putra?" tanya Gia.
"Ya, kondisinya sangat lemah. Saya harap anda bisa bekerja sama dengan kami untuk segera menandatangani surat persetujuannya," kata Dokter.
"Iya, Dok," jawab Gia lesu.
Gia segera menandatangani surat persetujuannya, dia tidak mau jika keadaan putra dan istrinya semakin memburuk.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Gia, dokter dan beberapa perawat nampak membawa Elsa menuju ruang operasi.
Beruntung dokter memperbolehkan Gia untuk menemani sang istri, dia sangat bahagia sekali, setidaknya dia bisa menguatkan istrinya dengan berada di sampingnya.
Tak berselang lama, operasi caesar pun dilaksanakan. Gia dengan setia menemani Elsa, dia terus saja menggenggam tangan Elsa dengan erat sesekali.
Sesekali Gia mengecup kening istrinya dan mengelus lembut pundak istrinya, kata-kata cinta pun dia ucapkan tepat di samping telinga Elsa.
Walaupun dia tahu jika keadaan Elsa sangat lemah, Gia bahkan hampir tidak mendapatkan respon dari Elsa. Karena kesadaran Elsa kian berkurang, dia seolah sudah tidak kuat untuk membuka matanya.
Tak lama kemudian seorang bayi mungil berjenis kelamin pria nampak bisa diselamatkan, namun kondisinya sangat lemah sekali.
__ADS_1
Bahkan tidak ada tangisan sama sekali, hal itu membuat Gia sangat sedih sekali. Bahkan dia sampai menitikan air matanya, apa lagi saat melihat mata Elsa yang terpejam dengan sempurna, membuat Gia menangis dengan kencang.