
VB yang lelah setelah seharian mencari istrinya menepikan mobilnya di pinggir jalan, dia seakan putus asa karena tak kunjung menemukan belahan jiwanya. Wanita yang telah berhasil menggetarkan hatinya.
VB keluar dari dalam mobilnya, lalu duduk di rerumputan yang ada di pinggir jalan.
"Na, Maafin gue. Gue tahu, kalau gue emang salah. Please, jangan siksa gue kaya gini." Gumam VB.
Lelaki yang baru saja berubah status itu pun menyandarkan tubuhnya pada pohon besar yang ada di sana. Mengusap wajahnya dengan kasar dan sesekali menghentakkan kaki panjangnya.
Hari sudah mulai gelap, tapi anehnya suasana terasa sepi. Bukankah Ibu kota selalu mengalami kemacetan di kala sore?
VB yang penasaran pun langsung mengambil ponselnya, dia melihat Google Map dan ternyata posisinya kini berada di luar kota.
VB sempat berdecak karena dia tidak menyadari akan hal, itu saking seriusnya mencari Dina dia terus saja melajukan mobilnya tanpa melihat arah hanya melihat kanan dan kiri, dia mengharapkan sosok Dina yang dia lihat di pinggir jalan.
VB bahkan sengaja mencari Dina sendiri, karena tak mau merepotkan Elsa. Elsa memang sempat ikut mencari Dina selama 1 jam, akan tetapi, dia tak tega jika harus mengajak Elsa.
Karrena Elsa, masih punya twins A yang harus diurus dan juga suaminya Gia yang pasti membutuhkan dirinya. Dia tidak enak hati terhadap suaminya tersebut.
Hujan mulai turun, hari pun mulai gelap. VB terlihat mulai panik, dia bingung harus kemana karena ini kali pertama dia menginjakan kaki di desa tersebut.
"Ya tuhan, ternyata gue ada di luar kota. Gue harus neduh di mana?" tanya VB pada dirinya sendiri.
VB mengedarkan pandangannya, Tak jauh dari sana ternyata ada sebuah pantai. Ada beberapa warung kecil di tepian pantai tersebut, VB segera masuk ke dalam mobilnya.
Dia melajukan mobilnya menuju pantai tersebut, menurutnya tak salah bukan jika dia mampir sebentar di warung hanya untuk sekedar ngopi. Atau bisa juga menikmati keindahan pantai, di bawah sinar rembulan. Ditemani rintik hujan, bukan buaian.
"Kang, kopinya satu." VB langsung duduk di bangku kayu yang ada di sana.
"Siap, Jang." Kata Kang kopi tersebut.
Sesekali VB terlihat mengusap kedua tangannya, dia merasa hawa dingin sudah mulai menusuk sampai ke tulang. Andai saja dia tak melakukan kesalahan, sudah pasti dia sedang asik bergumul di bawah selimut dengan istri tercintanya.
"Kopina, Jang." Seru Kang kopi seraya menyodorkan segelas kopi hitam pada VB.
VB pun langsung menerimanya," terima kasih, Kang."
VB mulai menyesap kopi hitam pesanannya, sensasi pahit dan manis berbaur menjadi satu di lidahnya. Pedagang kopi tersebut sempat memperhatikan penampilan VB, dia yang hanya bekerja sebagai penjual kopi di pinggir pantai, hampir tak pernah menonton tv. Dia pun tak mengenali identitas VB.
Akan tetapi, jika melihat dari penampilan VB Kang kopi pun bisa menyimpulkan jika VB bukanlah orang biasa. Apa lagi, saat ia datang dengan mobil mewah miliknya.
__ADS_1
"Kayaknya, Ujang teh bukan orang sini ya?" tanya Kang kopi.
VB tersenyum, lalu menyimpan kopinya di atas meja kayu.
"Saya dari Jakarta, saya sedang mencari istri saya." VB langsung tertunduk lesu, kala mengingat Dina yang tak kunjung dia temukan.
"Euleh-euleh, karunya pisan. Pasea'nya?" todong Kang kopi.
(Aduh-aduh, kasihan banget. Berantem ya?)
VB hanya bisa melongo, karena dia tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Kang kopi tersebut. Dia mengambil ponsel di saku celananya, lalu melihat posisinya saat ini.
"Serang, Banten. Sunda ya?" gumamnya.
"Eh, maaf atuh, Jang. Saya lupa kalau Ujang teh dari Kota, istrinya kenapa bisa kabur?" tanya Kang kopi.
VB langsung memutar bola matanya, dia tak menyangka jika lelaki yang ada di hadapannya itu ternyata sangat menyebalkan.
"Kepo bener sih nih orang, niat hati buat nenangin diri malah di todong pertanyaan. Elu di mana, Na? Gue kangen banget, Maafin gue."
"Kok ngga jawab, Jang?" tanya Kang kopi.
"Banyak atuh, tapi penginapan kecil. Kalau Ujang mau saya bisa anter, ngga jauh." Kata Kang kopi penuh semangat.
"Memangnya di mana?" tanya VB.
"Lihat ke arah barat, di sana banyak penginapan. Harganya murah, cuma dua ratus ribu semalam." Kang kopi tersebut langsung mempromosikan penginapan yang ada di sana.
"Kalau itu sih deket, Kang. Ngga usah dianter, saya bisa sendiri." Kata VB.
VB langsung memberikan selembar uang berwarna biru, kemudian dia dia langsung pergi ketempat penginapan dengan mobilnya.
Kang kopi tersebut sempat berteriak, karena hendak memberikan uang kembaliannya. Akan tetapi, VB seolah tak mendengarnya.
Sampai di penginapan, VB langsung menemui seorang lelaki bertubuh tinggi dan kurus yang sedang berjaga di sana.
"Permisi, Pak. Saya mau menyewa kamar," ucap VB sopan.
"Yah, sayang pisan atuh, Jang. Tadi memang masih ada yang kosong, sekarang sudah terisi." Jawab lelaki tersebut.
__ADS_1
VB terlihat sangat lesu, dia bingung, dia harus kemana coba. Masa iya dia harus menginap di dalam mobilnya.
"Yang barusan nyewa kamar, cewek apa cowok?" tanya VB.
"Sayangnya, Cewek." Ujarnya.
"Astaga, sial banget nasib gue!" kesal VB.
VB terlihat pasrah, dia pun segera melangkahkan kakinya menuju mobilnya. Akan tetapi, pada saat dia akan masuk ke dalam mobilnya, dia melihat sosok wanita yang sangat dia kenal.
Wanita itu hendak masuk ke dalam salah satu kamar penginapan yang ada di sana, tangannya terlihat menenteng sebuah kantong plastik berisi makanan.
VB langsung berlari dan memeluk wanita tersebut," Yang."
VB langsung mengeratkan pelukannya, sedangkan wanita yang dia peluk yang tak lain adalah Dina langsung memberontak.
"Lepasin gue, gue ngga mau elu peluk!" kata Dina.
"Yang, seharian ini gue nyariin elu. Cape, pengen dimanja." Kata VB.
"Ngga mau, sono pulang aja." Tolak Dina.
"Yang, Maafin gue napa sih? Gue merana banget, dari pagi muter-muter nyariin elu." Keluh VB.
Dina bukan tak tahu, Elsa sudah memberitahukan soal itu padanya. Karena Dina sempat mengaktifkan ponselnya. Akan tetapi, dia masih marah pada VB. Dia masih kesal.
Namun, Dina pun sadar. Jika mereka baru memulai rumah tangga, mereka harus memulainya dengan baik.
"Minta maaf yang bener!" kata Dina
VB langsung melerai pelukannya, kemudian dia bersujud sambil memeluk kaki Dina.
"Maafin aku, Yang. Aku akan berusaha untuk menjadi suami yang baik, jangan tinggalin aku lagi." Kata VB tulus.
Dina tak menyangka jika suaminya mampu melakukan hal itu, Dina pun merasa tak enak hati.
"Bangun, Yang." Titah Dina.
VB mendongakkan kepalanya, dia menatap wajah Dina dengan intens. Sedangkan penjaga yang ada di sana, hanya bisa melongo melihat adegan mirip di sinetron yang baru saja dia tonton.
__ADS_1
"Akunya dimaafin ngga, Yang?" tanya VB dengan tatapan penuh permohonan.