
"Makan dulu, Mas. Baru nanti kita meneruskannya lagi," kata Dina.
Mata VB langsung membulat dengan sempurna kala mendengar ucapan dari Dina.
"Memangnya boleh?" tanya VB, Dina langsung menganggukkan kepalanya. Hal itu membuat VB terlihat sangat senang tiada terkira.
VB langsung bangun tanpa menurunkan Dina dari pangkuannya, dia langsung mengajak Dina untuk duduk di atas sofa dan memakan makanan yang sudah Dia bawa untuknya.
"Suapin, Yang," pinta VB.
Dina memutar bola matanya, dia merasa VB terlalu manja padanya. Namun, walau bagaimanapun juga, dia mencintai lelaki itu.
"Lepasin akunya dulu, susah nyuapin kamunya kalau aku dipangku kaya gini." Dina berusaha melepaskan tangan VB yang melingkar indah di pinggangnya.
"Iya, Sayang," kata VB.
VB langsung melerai pelukannya, membuat Dina lebih leluasa untuk melepaskan diri darinya. Dengan telaten Dina menyuapi suami brondongnya, VB nampak tersenyum senang.
Senyum di bibirnya tak pernah surut, dia begitu sangat bahagia karena sebentar lagi miliknya akan berpungsi juga. Ngga jadi karatan ya... setelah dua minggu lebih ngga dapet jatah.
"Udah abis, Yang. Ayo... aku udah ngga sabar." VB bangun dan mengulurkan tangannya, Dina hanya tersenyum pada suaminya itu.
"Baru kelar loh, makannya. Nanti sakit perut," jelas Dina.
"Ck! Alasan kamu tuh, banyak banget." VB langsung duduk dan membelakangi istrinya.
"Bukan alasan, Sayang. Namun memang seperti itu, kata Dokter ngha boleh langsung beraktifitas kalau sudah makan," ucap Dina.
"Aku ngga percaya sama kata-kata kamu itu, bilang aja ngga jadi nyelup akunya." VB berucap tanpa menatap Dina, dia terus saja membelakangi istrinya.
Dina yang melihat kemarahan suaminya, langsung memeluk VB dari belakang. Dia mengusap-usap dada bidang VB dengan lembut.
VB terlihat memejamkan matanya, dia suka sentuhan dari istrinya membuatnya ingin segera menerkam Dina saat itu juga.
"Yang..." erang VB.
"Apa?" tanya Dina pura pura-pura tak tahu.
"Aku udah ngga kuat, sekarang aja ya?" ucap VB.
__ADS_1
"Kita kan baru pertama ngelakuin setelah libur, aku maunya kita melakukannya di tempat yang nyaman." VB melepaskan tangan Dina dari pelukannya, kemudian dia berbalik dan menatap manik mata Dina dengan lekat.
"Mau di mana?" tanya VB.
"Di hotel, kalau ngga di rumah aja." Jawab Dina, lalu. mengecup bibir VB.
"Baiklah," ucap VB.
VB langsung merangkul pundak Dina, dia mengajak Dina untuk segala pergi dari sana. Tentunya sebelum pergi dia pun berpesan kepada sekretarisnya agar menghandle semua pekerjaannya, dengan senang hati sekretarisnya pun mengiyakan.
"Kita mau kemana?" tanya Dina.
"Kejora saja," jawab VB.
"Ngga pulang aja?" tanya Dina.
"Ngga, Yang." jawab VB.
Sebenarnya VB ingin pulang, namun dia takut jika Mom'nya akan marah kepadanya jika dia pulang siang-siang dan langsung mengunci pintu untuk bercinta dengan istrinya.
Jadi, biar aman lebih baik mencari hotel, pikirnya.
"Oke, Sayang." VB langsung merangkul pundak istrinya, lalu pergi dari sana.
Sekretaris VB yang mendengar ucapan VB dan Dina hanya bisa tersenyum kecut. Pasalnya dia masih gadis, namun harus mendengar obrolan antara suami istri tersebut.
Lima belas menit kemudian, mereka pun sampai di sebuah hotel berbintang. VB langsung menyewa kamar termewah untuk tiga jam ke depan.
Menurutnya tiga jam sudah cukup berduaan dan memadu kasih dengan istrinya itu, setelah mendapatkan kunci kamarnya, VB langsung merangkul pundak istrinya dan menuntun Dina agar segera masuk ke dalam kamar hotel yang mereka pesan.
VB yang sudah sangat tidak sabar langsung menuntun Dina untuk naik ke atas tempat tidur, VB langsung merebahkan tubuh istrinya dengan perlahan dan penuh dengan kasih sayang.
VB pun dengan sangat hati-hati membuka dress yang di pakai oleh Dina, dia sudah tak sabar ingin memainkan benda pavoritnya yang sudah dua minggu lebih tak dapat dia nikmati.
"Mas, mau apa?" tanya Dina.
Menurut Dina VB terlalu terburu-buru, takunya pas milik VB yang berukuran jumbo itu masuk Dina malah merasa sakit karena kurangnya pemanasan.
"Mas mau kamu, Sayang. Mas udah ngga tahan," jawab VB.
__ADS_1
"Pelan-pelan, Mas. Aku ngga mau kalau sampai harus masuk Rumah Sakit lagi," keluh Dina.
"Ngga, Sayang." VB langsung menautkan bibirnya, dia sudah sangat rindu dengan manisnya bibir istrinya.
Ya... selama dua minggu ini VB bahkan tak berani mencium istrinya, dia takut akan memperkosa istrinya karena tak tahan.
Apa lagi Dina mempunya tubuh yang berisi, begitu terlihat seksi di mata VB. Dada Dina bahkan mempunyai ukuran yang besar, kalau kata Othor mah, Neng Dina teh menuni semok pisan.
Bikin hati VB berdesir, bikin VB ngga mau berkedip kalau lihat Dina tanpa busana, bikin VB ketar-ketir. Bahkan bisa bikin senjata laras panjang milik VB bergerak dengan lincah untuk mencari tempat peraduannya.
VB memberikan sentuhan sentuhan kenikmatan kepada tubuh istrinya, respon tubuh Dina pun begitu membuat VB senang karena Dina terlihat menggeliat dan menggelinjang di bawah kungkungan VB.
Setelah melihat Dina terangsang, VB pun langsung bermain di area inti Dina. Hal itu membuat Dina kalang kabut, dia gelisah.
Bahkan beberapa kali dia mencoba menjambak rambut VB dengan pelan, walaupun terasa sedikit perih namun VB tak perduli karena dia ingin mendapatkan kenikmatan yang lebih dari apapun.
Setelah melihat Dina mendapatkan pelepasan nya, VB pun dengan tak sabar langsung membuka kain penghalang yang ada di seluruh tubuhnya.
Dia ingin segera memulainya, dia ingin segera memasukkan miliknya ke dalam kelembutan milik istrinya yang selalu menjadi candu untuknya.
Pukul empat sore mereka pun langsung memutuskan untuk pulang, VB terlihat sumringah. Wajahnya begitu cerah, karena sudah tak berpuasa lagi.
Sesuai dengan janjinya, dia melakukannya dengan sangat lembut. Bahkan. Dina merasa tak percaya jika suaminya mampu menahan ego dan hasratnya.
Saat di perjalanan menuju pulang, tanpa sengaja mata Dina menangkap sosok Gia yang sedang berdiri di. pinggir jalan.
Ternyata suami dari Elsa itu sedang jajan, jajanan langganan anak-anak SD. Dina sampai menggelengkan kepalanya.
"Kenapa, Sayang?" tanya VB.
"Mas Gia, dia lagi jajan." Dina menunjuk Gia dengan ibu jarinya.
"Kamu benar, kita samperin, yu?"ajak VB.
VB langsung menepikan mobilnya, kemudian setelah itu dia dan Dina langsung menghampiri Gia. Dia terlihat kaget karena melihat kedatangan VB dan juga Dina.
"Sedang apa kalian di sini?" tanya Gia.
"Kami sengaja turun, karena melihatmu sedang jajan di pinggir jalan. Apa yang sedang kamu beli Bang?" tanya VB.
__ADS_1
"Aku sudah membeli cilok dan juga cimol, entah kenapa aku begitu menginginkannya. Padahal aku sama sekali belum pernah memakannya," kata Gia.