
"Baiklah, aku tidak akan mencari kesempatan. Sekarang Mbak duduk anteng, kita akan ke suatu tempat yang mungkin Mbak akan suka," kata Andrew.
"Kemana?" tanya Melani.
"Kesuatu tempat," jawab Andrew.
"Ish!" keluh Melani.
Mendengar pertanyaannya yang tak kunjung dijawab dengan benar, Melani merasa kesal lalu membuang muka ke arah samping.
Dia lebih memilih melihat pintu mobil dari pada wajah Andrew yang dia rasa menyebalkan, Andrew tersenyum melihat tingkah Melani yang seperti anak kecil menurutnya.
Padahal dia hanya ingin memberikan kejutan padanya, namun Melani seolah tak sabar. Untuk menenangkan hati wanita yang dia sukai, dia mengambil jus jeruk kemasan dan memberikannya kepada Melani.
"Minumlah dulu, Mbak. Karena kita akan melakukan perjalanan yang cukup lama," kata Andrew.
Melani memalingkan wajahnya ke arah Andrew, lalu dia mengambil jus jeruk yang berada di tangannya dan langsung meminumnya sampai tandas.
Setelah memastikan Melani menghabiskan minumannya, Andrew langsung memasang sabuk pengamannya dan melajukan mobilnya kembali.
*/*
Mata Melani terasa sangat berat sekali, dia begitu kesusahan untuk membuka matanya. Padahal seingatnya dia sedang melakukan perjalanan dengan Andrew.
Lalu, kenapa dia merasa jika tubuhnya kini sedang terbaring di atas ranjang? Pikiran buruk pun mulai menghantui, dengan cepat Melani membuka matanya dan segera bangun dari posisi tidurnya.
Alangkah kagetnya saat matanya terbuka dengan sempurna, karena kini dia sedang berada di sebuah kamar yang entah Kamar milik siapa dia pun tidak tahu.
"Di mana ini? Astaga! Kenapa aku bisa tidur di sini?" tanya Melani pada dirinya sendiri.
Melani memperhatikan kamar asing yang dia tempati, kemudian dia turun dan mencoba membuka jendela kamarnya.
Saat jendela kamar terbuka, tercium aroma khas pantai yang menyeruak ke dalam hidungnya.
Dahinya mengernyit dalam, sebenarnya dia sedang berada di mana, pikirnya. Lalu dia pun mengingat-ingat kala dirinya pergi bersama Andrew pukul 3 sore, namun saat ini di luar terlihat gelap.
Bahkan dia hanya bisa mencium aroma pantai tanpa bisa melihat pantainya karena gelap, sebenarnya dia sudah berapa lama tertidur, pikirnya.
Melani pun jadi berpikir jika Andrew telah melakukan sesuatu para dirinya, dia segera melihat tubuhnya.
Namun tak ada yang aneh, bahkan saat dia berjalan tak ada rasa sakit atau apa pun itu. Melani lalu melihat jam tangan yang melingkar di tangannya, waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
__ADS_1
"Ya Tuhan, hampir tengah malam!" pekik Melani.
Melani segera masuk kedalam kamar mandi dan segera mencuci mukanya, dia ikat asal rambutnya dan segera keluar dari dalam kamar yang dia tempati.
Saat Melani keluar dari kamar yang dia tempati, dia baru menyadari kalau ternyata dirinya berada di sebuah penginapan yang berada di pinggir pantai.
"Pantai, Andrew mengajak aku ke pantai. Tapi, di mana Andrew?" tanya Melani lirih.
Melani nampak berjalan mencari lelaki yang tadi sore mengajaknya untuk pergi, namun herannya dia tak menemukannya.
Hatinya mulai resah, dia pun mulai berpikir jika dia ditinggalkan di sana. Namun beberapa detik kemudian, dia melihat sosok yang dia cari menghampirinya sambil tersenyum hangat.
Melani merasa sangat lega, walaupun kesal tapi dia merasa ada ketenangan yang menyeruak ke dalam hatinya.
"Sudah bangun?" tanya Andrew.
"Sudah, kamu dari mana? Kenapa aku bisa ketiduran? Terus kamu mana saja? Kenapa aku ditinggal sendirian?" Melani nampak memberondong Andrew dengan banyak pertanyaan.
Mendengar banyaknya pertanyaan yang dilontarkan oleh Melani, membuat Andrew terkekeh.
"Maaf, aku hanya sedang mempersiapkan sesuatu. Kamu sangat kelelahan, aku tidak berani membangunkan kamu. Jadi, aku pesankan kamar saja untukmu," jawab Andrew.
"Oh," kata Melani.
Dia mengajak Melani untuk pergi ke pinggir pantai, karena ada yang ingin Andrew tunjukkan kepada wanita yang sudah membuat dunianya terasa terbalik itu.
Tiba di pinggir pantai, mata Melani langsung membulat dengan sempurna. Karena Andrew sudah mempersiapkan sebuah pesta kecil untuk Melani.
Banyak makanan dan minuman yang terhidang di sana, ada beberapa bangku dan juga meja yang dihias dengan indah. Ada banyak balon berbentuk hati yang mengelilingi tempat tersebut dan juga bunga yang menghiasi tempat itu.
Di sana sudah ada kedua buah hatinya Merissa dan juga Fajri, ada juga Reni beserta suami dan dan buah hatinya.
Bahkan di sana juga ada Mama Andrew dan adik perempuannya, Anita. Dalam hati Melani berspekulasi jika Andrew sudah mempersiapkan acara ini untuk dirinya, namun untuk apa, tanyanya dalam hati.
"Apa ini?" tanya Melani.
"KEJUTAN!" semua yang ada di sana nampak berteriak.
"Maksudnya?" tanya Melani tak mengerti.
"Selamat ulang tahun yang ke tiga puluh satu tahun calon istriku," kata Andrew seraya mengerling nakal.
__ADS_1
"Astaga!" pekik Melani.
"Happy birtday to you, happy birtday to you."
Tiba-tiba Nyonya Mesti datang dengan membawa kue ulang tahun di tangannya sambil menyanyikan lagu ulang tahun untuknya.
Melani nampk kaget karena ada mantan mertuanya juga di sana, semua orang nampak menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Melani.
Apa lagi saat melihat kue ulang tahun yang dipegang Nyonya Mesti adalah kue buatannya sendiri, dia bisa memastikan jika ini pasti adalah ulah Andrew bersama Reni.
Pantas saja mereka terlihat bersikap aneh saat bertamu di Caffe, pikirnya. Namun, terlepas dari apa pun itu Melani sangat bahagia.
Melani sungguh tak bisa berkata apa-apa, dia sangat terharu. Dia hanya bisa diam sambil menatap setiap orang yang ada di sana dengan tatapan senang bercampur bingung.
"Buna, tiup lilinnya!" teriak Merissa.
"Hah!" pekik Melani.
"Ya ampun, Mbak. Tutup mata, berdo'a, lalu tiuplah lilinnya," kata Andrew.
Walaupun masih terlihat bingung, Melani menurut. Dia menutup matanya, berdoa dan bersyukur atas apa yang dia dapatkan hari ini. Kemudian, dia pun meniup lilinnya.
"Terima kasih, karena kalian sudah bersekongkol untuk membuat aku bingung dan bahagia dalam waktu bersamaan," ucap Melani.
Setelah berkata seperti itu, air mata Melani terlihat turun membasahi pipinya. Fajri dan Merissa langsung memeluk Bundanya tersebut, Andrew pun terlihat mengusap punggung Melani dengan lembut.
"Selamat ulang tahun, Buna. Semoga Buna mendapatkan semua kebaikan yang sangat Buna harapkan," kata Merissa.
"Celamat ulang tahun, Buna. Aji cayang, Buna." Fajri terlihat merentangkan kedua tangannya, Melani pun segera mengangkat tubuh mungil Fajri dan mendekapnya dengan erat.
"Buna sayang kalian," kata Melani.
Malam ini Melani terlihat bahagia sekali, semua orang yang ada di sana nampak memberikan ucapan selamat.
Tak hanya ucapan saja, dia bahkan mendapatkan kado dari Reni, Nyonya Mesti, Anita dan juga kado dari Mama Andrew.
Dia benar-benar tak menyangka jika malam ini akan menjadi malam yang spesial untuk dirinya, bahkan tanpa Melani duga Merissa dan juga Fajri memberikan kado untuk dirinya.
Melani bahkan tidak tahu kapan kedua buah hatinya tersebut mempersiapkan kado untuknya, dia sangat terharu sampai-sampai air matanya terus mengalir di kedua pipinya.
Sepertinya dia harus meminta penjelasan pada Reni juga, karena temannya itu bisa ada di sana dan membuatnya begitu terkejut.
__ADS_1
"Mbak, aku punya kado untuk kamu," kata Andrew.
"Mana?" tanya Melani.