
Hidup memang sulit ditebak akan seperti apa, jangankan menebak hidup kita satu tahun lagi akan seperti apa. Satu menit kemudian saja kita tidak akan tahu nasib kita seperti apa.
Seperti halnya Gia, dia yang dari dulu selalu bersikap arogan, semaunya dan bahkan selalu meremehkan kemampuan orang lain.
Dia juga sama seperti mahluk ciptaan Tuhan yang lainnya, dia tak pernah tahu kehidupannya akan seperti apa.
Kini semuanya berubah, dia berubah menjadi pria yang lembut dan penyayang. Sehingga kini dia bisa mendapatkan keluarga yang utuh dan bahagia.
Dia seakan belajar dari pengalaman hidupnya yang telah lalu, dari kekacauan yang dia buat, dari sikap buruknya yang membuat dirinya melakukan kesalahan besar.
Beruntung Elsa mau memaafkan dirinya, hingga akhirnya dia bisa merasakan yang namanya indahnya keluarga utuh seperti apa.
Bahkan dia bisa tahu bagaimana cara menyayangi dan mencintai dengan tulis dari keluarga kecilnya.
Gia juga sangat beruntung mempunyai Daddy seperti Tuan Dirja, karena lelaki paruh baya itu selalu mendukung putranya untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Hari ini adalah hari libur, Gia memutuskan untuk piknik ke Danau yang ada di pinggiran kota. Tempatnya terlihat masih asri dan begitu menyejukkan mata.
Gia bisa saja mengajak keluarganya untuk berlibur ke tempat yang mewah sekalipun. Namun bukan itu yang dia butuhkan, dia menginginkan kebersamaan dengan keluarganya.
Walaupun dengan cara yang sederhana, namun mampu membuat keluarganya begitu bahagia. Bukan masalah tempatnya yang mewah, tapi kebahagiaan yang tercipta dari berkumpulnya Gia dengan keluarganya tersebut.
Dia bukan hanya berkumpul dengan istri dan ketiga putri cantiknya, namun ada Tuan Dirja dan juga Bu Anira yang ikut serta.
"Bunda, aku mau salad buahnya." Aurora nampak membuka keranjang bekal dan menatanya di atas karpet yang sudah Gia bentangkan.
"Biar Rere bantu," kata Aurelia.
Aurora dan Aurelia nampak merapikan makanan dari keranjang bekal di atas karpet, mereka terlihat begitu senang.
Apa lagi setelah berhenti dari dunia keartisan, mereka lebih bisa menghabiskan waktunya untuk bersama dengan keluarga.
Tidak ada lagi fans yang mengejar-ngejar mereka untuk meminta tanda tangan, tidak ada lagi deadline tugas yang menunggu untuk dikerjakan.
Mereka benar-benar merasa bebas dari tuntutan pekerjaan, mereka benar-benar merasakan bagaimana rasanya berkumpul dengan keluarga. Mengobrol santai bersama dan menghabiskan waktu libur bersama.
__ADS_1
"Bunda mau buahnya dong," pinta Elsa.
Aurora dan Aurelia dengan sigap langsung mengambil buah mengupasnya dan juga memotongnya.
"Terima kasih, Sayang." Elsa tersenyum hangat kepada kedua putrinya.
"Bunda, Rere mau lihat bunga-bunga di sana. Sepertinya sangat indah," ucap Aurelia.
Untuk sesaat Elsa memperhatikan arah tatapan mata Aurelia, memang tak jauh dari sana ada bunga-bunga yang tumbuh dengan sangat indah.
"Pergilah, hati-hati." Elsa mengusap lembut puncak kepala putrinya.
"Tan'ks, Bunda." Aurelia terlihat mengecup pipi Bundanya, lalu dia pun melangkahkan kakinya menuju hamparan bunga yang tak jauh dari sana.
Berbeda dengan Aurelia, Aurora terlihat memilih bermain dengan Baby Adelia. Baby Adelia terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
Karena dia sudah mulai bisa merangkak dan mengacak-ngacak makanan yang sudah ditata dengan rapi olehnya, sesekali Aurora terlihat tertawa dan menghalangi tangan Baby Adelia yang mulai menggapai apa pun yang dia lihat.
Tuan Dirja nampak asik duduk dan bercengkrama dengan Bu Anira di bangku taman yang tak jauh dari tempat Gia berada.
Gia juga nampak asyik merebahkan tubuhnya, sesekali dia memperhatikan gerak-gerik Baby Adelia yang begitu lincah saat bermain dengan Aurora.
"Wangi sekali bunga-bunganya, nanti aku mau minta Bunda buat nanem bunga kaya gini di taman belakang," monolog Aurelia.
Saat sedang asyik memperhatikan bunga-bunga indah di depan matanya, Aurelia nampak melihat seorang remaja laki-laki yang sedang berjalan tak jauh dari dirinya.
Anak remaja laki-laki itu terlihat sedang berjalan menuju pinggir Danau, jalanan yang dia lewati terlihat becek dan banyak air yang terlihat menggenang.
Mungkin karena semalam habis hujan, pikir Aurelia. Semakin lama anak remaja lelaki itu terlihat berjalan di pinggir Danau, langkahnya terseok.
Dia seolah sedang melamun, wajahnya terlihat sendu. Namun kakinya tetap saja melangkah, Aurelia terlihat khawatir, dia langsung menghampiri remaja laki-laki itu.
"Aaakhh!" teriak anak remaja lelaki itu kala dia terpeleset di pinggir Danau.
Beruntung Aurelia dengan sigap menahan bobot tubuh anak lelaki remaja tersebut, sehingga dia tak terjatuh ke genangan air yang terlihat kotor.
__ADS_1
"Ceroboh sekali, kaki tetap melangkah tapi pikiran melayang entah kemana. Kalau kamu jatuh bagaimana? Mending kalau jatuh ketanah, kalau jatuh ke Danau bagaimana? Tidak bisakah kamu berhati-hati?" cerca Aurelia.
Untuk sesaat anak remaja lelaki itu terlihat terdiam sambil memandang wajah Aurelia, namun beberapa detik dengan cepat dia pun melepaskan diri dari Aurelia dan menegakkan tubuhnya.
"Ngga usah banyak omong, ngatain aku ceroboh tapi kamu sendirinya selalu bertingkah ceroboh," ucap anak remaja lelaki tersebut.
Mendengar ucapan dari anak remaja lelaki tersebut, Aurelia nampak mengernyitkan dahinya.
"Ceroboh bagaimana maksudnya? Aku tidak pernah ceroboh, lagi pula kita tidak pernah bertemu. Kenapa kamu berkata seperti itu kepadaku?" tanya Aurelia dengan wajah tidak suka.
"Ck! Begitu kalau perempuan, selalu mau menang sendiri tanpa mau menyadari kekurangannya," kata anak remaja lelaki tersebut.
Aurelia terlihat kesal dibuatnya, dia pun memilih untuk pergi meninggalkan anak remaja lelaki tersebut.
Karena takut bertambah emosi, anak remaja lelaki tersebut hanya tersenyum melihat kepergian Aurelia. Lalu, dia pun segera pergi ke tepian Danau dan duduk di sana.
Aurelia terlihat langsung duduk di samping Aurora, tanpa banyak bicara dia mengambil satu buah apel dan langsung menggigitnya dengan cepat.
"Dasar lelaki ngga tahu diri, sendiri yang ceroboh tapi malah mengatakan aku yang ceroboh. Bahkan tadi aku sempat menolongnya, tapi dia bukannya berterima kasih malah membuat aku kesal," kesal Aurelia.
Mendengar umpatan dari adiknya, Aurora nampak tersenyum. Kemudian, dia pun mengelus lembut pundak adiknya tersebut.
"Jangan suka marah-marah, kamu itu adikku. Jangan sampai orang lain mengira kalau kamu adalah kakakku," ucap Aurora.
Mendengar ucapan Aurora, Aurelia nampak mengernyitkan dahinya.
"Maksud Kakak, apa?" tanya Aurelia tak mengerti.
"Orang yang suka marah-marah itu akan cepat tua, jadi jangan suka marah-marah. Nanti kamu bisa cepat tua, yang ada Bunda manggil kamu Kakak, bukan manggil Ade lagi " ucap Aurora seraya tergelak.
Mendengar ucapan kakaknya, Aurelia pun langsung memukul pundak Aurora.
"Dasar Kakak, lucnut!" umpat Aurelia.
Mendengar umpatan adiknya, Aurora malah tergelak. Dia sangat suka ketika melihat Aurelia yang gampang sekali marah.
__ADS_1