
Pagi-pagi sekali Merissa sudah terlihat sangat cantik dengan seragam sekolahnya, anak perempuan yang berstatus sebagai siswi kelas 3 di salah satu sekolah dasar tersebut sudah siap untuk berangkat sekolah diantar oleh nenek tercintanya.
"Aku berangkat ya, Buna. Terima kasih untuk sarapannya," pamit Mereisa.
"Ya, Sayang. Yang pinter, jangan nakal. Kalau Buna belum jemput, kamu jangan pulang dulu." Melani nampak mengecup kening putrinya.
"Ya, Buna." Merrisa langsung berjinjit dan mengecup pipi Bundanya.
"Mamah, antar Mer dulu. Pulangnya Mamah langsung ke rumah saja, mungkin sore hari Mamah akan kesini lagi." Nyonya Mesti namapak mengelus lembut tangan menantunya.
"Ya, Mah," jawab Melani.
Setelah berpamitan, Merrisa pun nampak pergi di antarkan oleh Nyonya Mesti, jarak sekolahan yang dekat membuat mereka memutuskan untuk jalan kaki saja.
Saat Nyonya Mesti mengantarkan Merrisa ke sekolahnya, Melani masuk ke dalam kamarnya.
Dia melihat Fajri yang ternyata masih lelap dalam tidurnya, Melani duduk di bibir tempat tidur sambil memperhatikan wajah putra keduanya.
Nampak tampan seperti wajah Aldino, sayangnya Fajri malah hampir tak mengenal Ayahnya.
Mereka memang tinggal satu rumah, namun kesibukkan Aldino membuat mereka sangat jarang bertemu. Hal itu membuat Fajri tak terlalu dekat dengan Aldino.
"Maafkan Buna, ya, Sayang. Buna akan berpisah dengan Ayah, semoga kamu tidak marah," ucapnya lirih.
Setelah puas menatap wajah putranya, Melani langsung mempersiapkan berkas yang diminta oleh Gadis lewat pesan singkat.
Sebenarnya Gadis sudah memerintahkan orang kepercayaan Tuan Alfonso untuk mengantar Melani mengajukan gugatan cerainya ke pengadilan.
Sayangnya, pagi ini ada meeting penting di kantor. Akhirnya Gadis pun meminta Melani untuk pergi ke kantor pukul sepuluh pagi, agar dia bisa langsung berangkat dari kantor saja bersama dengan orang kepercayaan Tuan Alfonso tersebut.
Melani pun menurut, baginya tak masalah. Yang penting, dia bisa menggugat cerai Aldino hari ini juga.
Pukul 07.00 pagi Aldino sudah sampai di depan Caffe yang dikelola oleh Melani dan juga Reni.
"Benar dugaanku, dia menginap di sini." Aldino memperhatikan pintu Caffe yang tak terkunci, Melani memang lupa menguncinya saat Nyonya Mesti keluar dari Caffe tersebut.
Aldino langsung masuk kedalam Caffe tersebut, lalu dia langsung naik ke lantai 2. Karena dia tahu, jika Melani mempunyai kamar khusus untuk dirinya melepas penat.
"Yang!" Aldino langsung membuka pintu kamar Melani dan langsung masuk saat melihat istrinya yang sedang berdiri di depan meja rias.
__ADS_1
Aldino langsung memeluk istrinya dan mengecupi setiap inci wajah istrinya tersebut, Melani hanya diam tanpa merespon.
"Kenapa menginap di sini?" tanya Aldino.
"Lagi pengen aja," jawab Melani.
"Tadi malem aku ngga bisa tidur, ngga ada kamu sepi banget. Aku telponin kamu tapi ngga diangkat-angkat," kata Aldino.
Melani lalu melihat ponselnya yang berada di atas nakas, lalu dia mengambilnya.
"Ponselnya aku silent, maaf," ucap Melani.
"Ngga apa-apa, yang penting nanti malam kamu jangan pergi-pergian lagi," kata Aldino mengiba.
"Kenapa ngga boleh pergi?" tanya Melani.
"Karena aku sangat mencintai kamu, kamu segalanya bagiku. Jangan pernah pergi," ucap Aldino mengiba.
"Cinta?" tanya Melani.
"Ya," jawab Aldino.
Aldino terlihat melarai pelukannya, dia menggenggam tangan istrinya, lalu dia pun menatap wajah Melani dengan sangat intens.
"Maksud kamu apa, Yang?" Aldino melemparkan pertanyaan yang dirasa konyol menurut Melani.
"Jika kamu ingin rumah tangga kita berlanjut, tinggalkan Nyonya Mariene. Kita mulai lagi semuanya dari awal, tapi... jika kamu melanjutkan hubungan kamu dengannya. Itu artinya, kisah rumah tangga kita cukup sampai di sini." Melani nampak melepaskan genggaman tangan suaminya.
"Mel, aku mendekati Nyonya Mariene hanya untuk mendapatkan hartanya. Kamu tenang saja, hati aku tetap untuk kamu," jawab Aldino.
Melani terlihat tersenyum sinis, lalu dia pun mengelus dada Aldino dengan sangat lembut sekali.
"Di sini sudah tidak ada aku, di sini sudah tidak ada anak-anak kita. Di sini hanya ada nama wanita yang sudah 3 tahun ini menemani hari-hari kamu, jika kamu berkata hati kamu untukku, itu semua hanya omong kosong belaka. Karena pada kenyataannya sudah 3 tahun ini kamu jarang menyentuhku, bahkan dalam satu tahun ini kamu hampir tidak pernah menyentuhku, bahkan dalam satu tahun ini kamu hampir tidak pernah menyentuhku."
Kalimat panjang terlontar dari bibir tipis Melani, kata yang semejak lama ingin dia ucapkan. Aldino nampak terdiam, namun tak lama kemudian dia pun nampak berkata kembali.
"Bersabarlah sedikit lagi, setelah semuanya aku dapatkan maka--"
"Aku sudah lelah, lakukanlah apa pun yang ingin kamu lakukan. Maaf, aku sudah tidak bisa lagi berada di samping kamu. Jika kamu meninggalakan wanita itu saat ini juga, aku akan mengurungkan niatku. Tapi, jika kamu tetap ingin keduanya, aku tidak bisa." Air mata Melani nampak mengalir dengan deras, dia benar-benar merasa sudah putus asa.
__ADS_1
Melani merasa kecewa, karena di saat Melani ingin memberikan kesempatan pada suaminya itu pun, Aldino masih memikirkan wanita selingkuhannya.
"Jangan seperti itu, Yang. Aku mohon, aku--"
"Silahkan keluar, Mas. Aku ingin sendiri," ucap Melani.
"Baiklah, aku akan pergi. Aku tahu kalau kamu hanya membutuhkan waktu, aku tahu kalau kamu masih sangat mencintai aku." Aldino terlihat mengecup bibir Melani, lalu dia pun berlalu dari sana.
Setelah kepergian lelaki yang masih berstatus sebagai suaminya tersebut, Melani langsung mengunci pintunya. Tubuhnya melorot ke lantai, dia memeluk kedua kakinya lalu menangis di sela kedua lututnya.
"Kamu jahat sekali, Mas. Disaat aku memberikan pilihan pun, kamu malah menganggap aku sedang bercanda. Padahal aku sudah benar-benar lelah dengan keadaan seperti ini, maaf Mas. Aku tidak bisa lagi kembali kepadamu," ucap Melani seraya terisak.
Seperti biasanya, pukul 08.00 pagi Caffe tersebut dibuka, Reni dan juga para karyawan sudah datang.
Melani pun ikut membantu, beruntung Fajri sangat anteng. Dia hanya duduk sambil memaikan sebuah robot yang bisa bersuara dan menyala di tangannya.
Pukul sembikan pagi, Melani menghampiri Reni dan meminta izin untuk pergi, Reni yang penasaran pun mendesak sahabatnya tersebut untuk mengatakan semuanya.
Melani pun akhirnya menceritakan semuanya kepada Reni, mendengar apa yang Melani ceritakan, Reni terlihat sangat marah sekali.
"Elu tinggal di rumah gue aja. Elu tahu kan kalau laki gue kerjanya di luar kota, anak elu biar ada teman mainnya," kata Reni.
"Ngga usah, gue tinggal di sini dulu untuk sementara," kata Melani tak enak hati.
"Terserah elu, yang penting elu ngerasa nyaman," kata Reni.
"Terima kasih, ya, Ren. Gue pergi dulu," pamit Melani.
Setelah berpamitan kepada Reni, Melani pun nampak pergi ke perusahaan Tuan Alfonso. Tentu saja dia membawa serta Fajri bersama dengan dirinya.
Tiba di perusahaan Tuan Alfonso, Melani langsung menghampiri resepsionis yang berada di sana.
Dia pun langsung menanyakan keberadaan Gadis, ternyata Gadis memang sudah berpesan kepada resepsionis tersebut jika ada Melani kesana dia menyuruh untuk langsung mengantarkan Melani ke ruangannya.
Melani pun langsung diantar resepsionis tersebut ke dalam ruangan Gadis, di dalam ruangan tersebut ternyata bukan hanya ada Gadis saja.
Akan tetapi, ada seorang lelaki tampan yang terlihat muda dan Melani merasa pernah melihat dirinya.
Melani pun berusaha untuk pengingat wajah tampan lelaki tersebut, lalui ingatannya pun tertuju saat dirinya menangis di depan hotel berbintang dan saat itu ada seorang lelaki tampan yang mengulurkan sapu tangan kepada dirinya.
__ADS_1
"Ah, dia lelaki yang memberikan sapu tangan padaku." Melani bergumam dalam hatinya.