Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Periksa


__ADS_3

Elsa sedang berbahagia karena kehidupannya terasa semakin lengkap, mempunyai dua putri yang begitu genius dan membanggakan, mempunyai suami yang semakin hari semakin pengertian, mempunyai keluarga yang begitu parhatian dan kini dia pun dikarunuai satu janin yang berkembang dengan sehat di dalam rahimnya.


Rasanya Tuhan begitu baik kepadanya, Setelah memberikan ujian yang tiada hentinya. Kini semuanya seakan terbayar dengan datangnya rasa bahagia yang seakan tiada berujung.


Bahkam semakin hari sikap Gia pun semakin melembut, dia lebih sering mengalah dan lebih mementingkan dirinya dan juga semua anggota keluarganya.


Semuanya seperti sebuah mimpi yang seakan sulit untuk menjadi kenyataan, namun saat membuka mata, semua keindahan seakan terbawa ke alam nyata.


"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah menebus semua luka dengan bahagia yang tiada tara," ucap Elsa pada suaminya.


"Sama-sama, Sayang. Justru akulah yang harusnya berterima kasih padamu, karena telah memberikan kesempatan kedua padaku. Aku janji, tak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini." Gia mengecup kening Elsa sebelum Elsa kembali besama dengan kedua putrinya.


Pukul dua siang Elsa dan kedua putrinya kembali menuju kediaman Pranadtja, dia tak mau menganggu kegiatan suaminya itu.


Karena Elsa paling tahu, jika suaminya tak akan konsen dalam bekerja kalau dia berada terus di sampingnya.


...****************...


Berbeda dengan keadaan Elsa, Dina kini sedang merasa gelisah. Di usia pernikahannya yang ke lima bulan, Dina tak kunjung merasakan tanda-tanda kehamilan.


Padahal dia sudah sangat mengharapkan kehadiran penerus untuk keluarga Fahreza, karena tanpa disadari baik Nyonya Miranda atau pun Tuan Alson terlihat begitu menginginkan generasi penerus dari rahim Dina.


"Aku harus ke Dokter, aku harus memeriksakan kondisi kesehatan tubuhku." Dina langsung bersiao dan segera pergi menuju Rumah Sakit.


Sebelum pergi, tentu Dina berpamitan kepada kedua mertuanya. Ya... Tuan Alson sekarang sudah menikmati masa tuanya, dia sudah menyerahkan kepemimpinannya pada putra mahkotanya Vabriella Bian Fahreza.


"Mom, Dad. Aku pergi dulu," pamit Dina.


Nyonya Miranda dan Tuan Alson yang sedang menikmati teh hangatnya langsung menoleh ke arah menantu kesayangan mereka.


"Mau kemana?" tanya Nyonya Miranda.


Dina terlihat sedikit bingung, dia ingin pergi tapi tak mau jika kedua mertuanya tahu akan kemana perginya dia.


"Mmm, itu Mom. Aku mau beli skincare," jawab Dina pada akhirnya.


Nyonya Miranda terlihat tersenyum, dia memang wanita yang sangat menjunjung kecantikan. Karena menurutnya di depan suami itu memang harus cantik, agar suami tak berpindah haluan.


Tentu cantik dalam segala hal ya gengs, cantik wajahnya, cantik dalam bermain di atas ranjang dan selalu bermain cantik dalam bergaul.

__ADS_1


"Ya, Sayang. Pergilah, sekalian pergi ke salon untuk perawatan. Agar tubuh kamu bisa lebih rileks," ujar Tuan Alson.


"Yes, Dad, Mom." Dina langsung menautkan pipinya dengan pipi mertuanya, lalu pergi menuju tempat tujuannya.


"Tiba di Rumah Sakit, dia langsung mengambil nomor antrean di depan ruang Dokter Obgyn. Hal yang pertama ingin dia lakukan adalah memeriksakan kesehatannya.


Dia ingin tahu, kenapa belum juga ada tanda-tanda kehamilan.


"Lima belas," gumam Dina saat melihat nomor antrean miliknya.


Dina duduk di bangku tunggu, di sana banyak calon ibu muda yang sedang menunggu pemeriksaan bersama pasangannya.


Dina mengedarkan pandangannya, ternyata di depannya tinggal tiga no antrean lagi. Binar senang pun terlihat dari raut wajahnya, setidaknya dia tak akan menunggu lama.


Benar saja, setengah jam kemudian....


"Nyonya Dina Fahreza," panggil seorang suster dari gawang pintu.


Dina pun langsung bangun dan menghampiri suster tersebut.


"Saya, Sus," jawab Dina.


"Silahkan duduk," ucap Dokter dengan name tage Merry.


"Terima kasih, Dok." Dina pun dengan senang hati langsung mendaratkan bokongnya tepat di kursi sebrang dokter Merry.


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya Dokter Merry.


"Begini, Dok. Saya sudah lima bulan menikah, tapi belum ada tanda-tanda kehamilan. Kalau boleh saya mau memeriksakan kondisi kesehatan saya, subur atau tidak gitu, Dok?" ucap keluh Dina pada Dokter Merry.


Dokter Merry tersenyum hangat pada Dina, "baiklah, sekarang Nyonya berbaring dulu. Saya akan memeriksakan kondisi kesehatan Nyonya terlebih dahulu."


Dina menurut, dia langsung bangun dan melangkahkan kakinya menuju bad pasien, Dina langsung merebahkan tubuhnya di sana sesuai dengan intruksi dari dokter Merry.


Setelah melihat Dina berbaring dengan rileks, Dokter Merry mulai memeriksa keadaan Dina. Mulai dari denyut nadi, tensi darah dan yang lain sebagainya.


Tak lama dokter Merry terlihat tersenyum, lalu dia segera mengambil alat tespek yang ada di atas lemari miliknya.


"Sekarang Nyonya Dina silahkan pergi ke kamar mandi," pinta Dokter Merry.

__ADS_1


"Untuk apa, Dok?" tanya Dina dengan dahi yang berkerut dalam.


Dia jadi bertanya-tanya dalam hatinya, apakah tes kesuburan juga perlu tes urine? Aneh banget, pikirnya.


"Lakukan saja, mau di temani suster Dira atau mau sendiri?" tanya Dokter Merry seraya menyerahkan tespek dan juga wadah kecil pada Dina.


"Sendiri saja, Dok." Dina dengan cepat bangun dari posisi tidur dan segara mengambil tespek dan juga wadah kecil tersebut dari tangan Dokter Merry.


Dokter Merry hanya bisa tersenyum kala melihat Dina yang berjalan menuju kamar mandi dengan sedikit tergesa.


Lima menit kemudian, Dina sudah kembali dari dalam kamar mandi. Dia pun langsung menyerahkan tespek tersebut pada dokter Merry.


"Silahkan duduk, kita tunggu sebentar untuk hasilnya." Dokter Merry langsung duduk di kursi kebesarannya, langsung disusul oleh Dina.


"Jadi, bagaimana, Dok?" tanya Dina setelah menunggu lima menit.


"Hasilnya positif, anda hamil." Dokter Merry menyerahkan terpeck bertuliskan positif di sana.


Seketika mata Dina seakan memanas, tangis bahagia pun pecah begiti saja. Dia begitu bahagia, dari awal rasa penasaran ingin memeriksakan kondisi kesehatannya, malah dapat kabar bahagia.


"Sa--saya, hamil, Dok?" tanya Dina terbata.


"Ya, bagaimana kalau kita langsung USG saja. Mau?" tanya Dokter Merry.


Dina langsung mengangguk dengan anatusias, "tentu, Dok. Saya mau banget, saya mau tahu kondisi anak saya."


"Kalau begitu silahkan berbaring kembali," pinta Dokter Merry.


Dina menurut, dia langsung merebahkan tubuhnya. Dengan cekatan dokter Merry memberikan gel di perut Dina, lalu dia pun menggerakan sebuah alat kesana dan kemari.


Senyum Dokter Merey seketika mengembang, kala melihat apa yang dia cari telah ditemukan.


"Babby'nya sehat, Nyonya, baru sebesar biji kacang. Tapi pertumbuhannya sangat bagus, usianya diperkirakan masuk minggu ke sembilan." Dokter Merry menghentikan alat yang sedari tadi dia gerakan.


"Sembilan minggu, Dok?" pekik Dina.


"Ya, Nyonya," jawab Dokter Merry.


Binar bahagia langsung menyelimuti wajah Dina, dia senang bukan kepalang. Dia sudah tak sabar untuk segera memberitahukan hal ini pada suaminya.

__ADS_1


__ADS_2