
Meeting pun telah selesai dilaksanakan, Tuan Abidzar pun sudah menandatangani surat perjanjian kontrak kerja sama antara dirinya dengan Gia.
Seperti sebelumnya, setelah semuanya selesai Tuan Abidzar pun langsung berpamitan.
Namun tidak dengan Melinda, dia meminta izin kepada Tuan Abidzar untuk berbicara sebentar dengan Gia.
Tentu saja Tuan Abidzar pun mengizinkan, yang penting tidak lama. Karena Melinda harus menemaninya untuk segera pergi ke luar kota.
Sebenarnya Tuan Abidzar dan Gia seharusnya pergi untuk meninjau tempat di mana akan dilaksanakannya pembangunan hotel.
Namun ternyata, Tuan Abidzar sudah ada janji temu dengan investor asing di luar kota. Dengan berat hati dia pun meminta maaf kepada Gia dan Tuan Abidzar juga meminta agar Gia dan juga Ajun mau meninjau langsung ke lapangan walaupun tanpa dirinya.
Beruntung Gia dan Ajun mempunyai waktu luang. Sehingga mereka pun bersedia untuk pergi ke lokasi, Tuan Abidzar pun langsung mengucapkan banyak terima kasih.
Awalnya Gia terlihat enggan untuk berbicara dengan Melinda, sudah cukup baginya kesalahan yang Melinda lakukan terhadap dirinya.
Tidak usah ada lagi drama antara dirinya dan juga Gia, namun Melinda terlihat begitu memelas.
Dia berkata tidak akan pergi jika Gia tak memberikannya waktu untuk berbicara, dengan berat hati Gia pun mengiyakan.
Tentunya dengan syarat Ajun tetap berada di antara mereka, karena Gia tak mau adanya fitnah nantinya.
Apa lagi sekarang Gia sudah beristri dan mempunyai 3 orang putri yang sangat cantik-cantik, Gia tidak mau bermasalah dengan keluarga kecilnya.
Melinda pun mengiyakan, yang penting baginya, Gia pun mau berbicara dengan dirinya. Dia sudah sangat bersyukur.
"Mau bicara apa? Cepat katakan!" kata Gia ketus.
Mendengar ucapan Gia, Melinda terlihat menundukkan kepalanya dan meremat kedua tangannya secara bergantian.
Dia begitu takut saat melihat tatapan mata Gia dan juga Ajun yang begitu tajam.
"Cepat katakan, apa maumu? Jangan diam saja! Aku masih banyak urusan, kamu tahu sendiri jika aku harus segera pergi," kata Gia lagi.
Melinda terlihat memberanikan diri untuk menatap Gia dan juga Ajun, lalu dia pun mulai berkata.
__ADS_1
"Gia, aku hanya ingin meminta maaf kepadamu. Baik itu kesalahanku yang kemarin, ataupun kesalahanku di masa lalu," kata Melinda.
Gia terlihat tersenyum sinis kepada Melinda, entah kenapa dia merasa jika Melinda meminta maaf tidak disertai ketulusan.
Namun, karena rasa takut yang ada pada dirinya. Dia takut akan mendapatkan hukuman atas kesalahan yang selama ini dia lakukan.
"Aku sudah memaafkan kamu dan aku harap kamu jangan pernah mengusik hidupku lagi, saat ini aku masih berbaik hati. Namun, jika sekali lagi kamu melakukan kesalahan, jangan salahkan aku jika aku berbuat tegas kepadamu!" kata Gia.
Mendengar ucapan Gia, Melinda terlihat bisa bernapas dengan lega. Karena walaupun Gia berbicara dengan nada ketus, tapi dia mengatakan jika dia sudah memaafkan semua kesalahannya.
"Ya, aku janji. Aku tidak akan melakukan kesalahan lagi terhadapmu," kata Melinda.
Tentu saja dia tidak akan berani lagi melakukan kesalahan yang sama, apa lagi Ajun selalu bertindak dengan tegas dan cepat.
Tidak salah memang Tuan Dirja mempercayakan Gia dan juga perusahaannya kepada dirinya, karena memang Ajun selalu cepat dan tanggap dalam mengerjakan hal apa pun.
Apa lagi jika ada yang melakukan kesalahan, dia akan dengan tegas memberikan hukuman yang layak.
"Nah, sekarang semuanya sudah selesai. Jadi, silakan kamu pergi karena Tuan Abidzar sudah menunggu kamu," kata Ajun.
Ada sedikit rasa kesal dalam hati Melinda, kala Ajun mengusirnya. Walaupun dia bersalah, namun dia merasa jika Ajun tak berhak untuk mengatakan kata pengusiran terhadap dirinya.
"Ya, aku akan pergi," kata Melinda.
Melinda langsung bangun dan pergi meninggalkan Ajun dengan Gia, karena memang dia harus melakukan pekerjaan yang sudah menunggu.
Pergi ke luar kota bersama dengan Tuan Abidzar, setelah kepergian Melinda, Ajun dan juga dia langsung bersiap untuk pergi.
*/*
Waktu terus berputar, hari pun sudah menjelang sore. Ajun dan Gia yang sudah selesai dengan pekerjaannya pun langsung pulang ke rumah masing-masing.
Ajun pulang disambut istri cantiknya dengan perutnya yang sudah membuncit di depan teras rumah dengan senyum sumringah di bibirnya.
"Kamu ngga usah nunggu aku di sini, kasihan calon Baby kita kalau kelamaan di luar," kata Ajun.
__ADS_1
Gadis senang sekali karena Ajun begitu pengertian, dia pun langsung berkata.
"Ngga apa- apa, Hubby. Justru aku dan calon Baby kita merindukan Daddynya, jadi kami menunggu di sini," kata Gadis.
Mendengar ucapan Gadis, Ajun pun langsung tersenyum. Kemudian dia berjongkok untuk mensejajarkan kepalanya dengan perut buncit istrinya.
Ajun langsung mengusap dan mengecup perut istrinya tersebut, lalu kemudian dia pun berkata.
"Kalian kangen ya, sama Daddy? Daddy juga kangen, apa lagi sama Mommy." Ajun terlihat mendongakkan kepalanya menatap wajah cantik istrinya.
Mendapatkan tatapan mata dari Ajun, membuat Gadis tersipu. Ajun tersenyum lalu bangun dan segera menggendong istrinya.
Gadis terlihat malu-malu, dia langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
Tuan Alfonso dan juga pak Galuh hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat dua sejoli yang terlihat begitu saling mencintai itu.
Bahkan Tuan Alfonso sempat menertawakan tingkah putrinya, namun tawa itu langsung terhenti kala dia mengingat Intan, istrinya.
Saat ini Gadis terlihat sangat bahagia ketika mengandung anak pertamanya dari Ajun, sedangkan Intan saat dia mengandung, Tuan Alfonso malah dideportasi ke negaranya.
Tuan Alfonso bisa membayangkan bagaimana sedihnya Intan kala itu, apa lagi saat Intan menginginkan sesuatu, pasti dia menginginkan Tuan Alfonso berada di sampingnya dan mewujudkan apa pun keinginannya.
Tanpa terasa air matanya pun menetes, pasti sangat tersiksa sekali pikirnya saat Intan berjauhan dengan dirinya.
Apa lagi dia sampai meninggal saat melahirkan putri mereka, itu semua pasti karena dia stress.
Tentunya karena tidak adanya perhatian dari dirinya, beruntung Gadis terlahir dengan sehat dan sempurna.
Bahkan dia tumbuh menjadi anak yang sangat cantik dan terlihat begitu pandai, wajahnya terlihat menggambarkan perpaduan yang sempurna antara dirinya dan juga Intan.
"Maafkan aku, Intan." Tuan Alfonso terlihat mengusap air matanya.
Pak Galuh yang melihat hal tersebut langsung mengusap punggung Tuan Alfonso.
"Jangan menangis, Intan sudah bahagia di surga sana. Sekarang tugas kita adalah menjaga dan membahagiakan Gadis, agar Intan merasa senang," kata Pak Galuh.
__ADS_1
Tuan Alfonso terlihat setuju dengan apa yang diucapkan oleh pak Galuh, dia pun terlihat tersenyum lalu membalas ucapan pak Galuh.
"Kamu benar," kata Tuan Alfonso.