
Binar bahagia terlihat jelas di wajah cantik Elsa, dia begitu antusias untuk segera bertemu dengan keempat anak-anaknya.
Apa lagi dengan putranya yang dia lahirkan satu bulan yang lalu, sungguh dia sangat rindu dan juga penasaran dengan wajah dari putranya itu.
Tiba di di kediaman Pranadtja, Elsa dengan tidak sabar langsung turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumahnya.
Gia dengan setia mengikuti langkah istrinya, seraya memperhatikan Elsa. Takut-takut istrinya kenapa-kenapa, karena dia baru saja sembuh dari sakitnya.
Tiba di ruang keluarga, Elsa melihat Aurora dan Aurelia nampak sedang duduk termenung. Bu Anira juga terlihat duduk dengan tatapan kosong seraya melihat ke sembarang arah.
Wajah Elsa terlihat sendu melihat akan hal itu, dia langsung menghampiri kedua putri kembarnya dan langsung memeluk mereka.
Mendapatkan perlakuan dirasa tiba-tiba, Aurora dan Aurelia nampak kaget. Mereka terlihat memandang wajah Elsa dengan raut wajah tidak percaya.
Bu Anira yang melihat kedatangan Elsa, langsung memeluk Elsa dan menangis dengan tersedu-sedu.
"Putri Ibu--"
Bu Anira tidak dapat melanjutkan ucapannya, dia benar-benar merasa sangat senang sekali dengan apa yang dia lihat saat ini.
Dia merasa sangat bahagia, karena akhirnya Elsa bisa sadar dari koma.
"Bu-bunda, ini Bunda?" tanya Aurora terbata.
Dia masih merasa belum percaya, dengan siapa yang dia lihat di hadapannya saat ini.
"A--aku ngga mimpi, kan?" tanya Aurelia.
Dia menepuk-nepuk pipinya, takut-takut yang dia lihat hanya halusinasi saja.
"Putri ibu sudah sadar, hem?" tanya Bu Anira seraya mengecupi puncak kepala putrinya.
Elsa tersenyum, lalu dia pun berkata.
"Aku sudah sadar, kalian senang?" tanya Elsa seraya mengeratkan pelukannya.
Keempat wanita berbeda usia itu nampak menagis sambil berpelukan, mereka mencurahkan rasa rindu setelah satu bulan tidak bertemu.
"Rara kangen, Bunda," rengek Aurora.
Dia seakan tak ingin melepaskan bundanya walaupun hanya sebentar.
"Rere juga kangen," kata Aurelia tidak mau kalah.
"Ibu juga," celetuk Bu Anira.
__ADS_1
Mendengar ucapan dari ketiga wanita yang sangat penting dalam hidupnya, Elsa nampak terkekeh. Kemudian Elsa pun berkata.
"Bunda juga rindu kepada kalian," Elsa mengecup kening kedua putrinya secara bergantian. "Rindu sama ibu juga," kata Elsa seraya menatap wajah Bu Anira.
"Ibu apa lagi, sangat rindu." Bu Anira mengecup puncak kepala Elsa dengan lembut.
"Hey, tidak bisakah kalian berhenti untuk berpelukan? Di sini ada baby tampan yang ingin digendong oleh Bundanya," kata Gia yang kini terlihat sedang menggendong putranya.
Elsa melerai pelukannya, lalu dia menatap wajah baby tampan yang terlihat sangat lucu dan juga terlihat sangat kecil dari ukuran baby normal lainnya.
Akan tetapi, walaupun seperti itu. Baby boy yang saat lahir cuma memiliki berat 1800gr, kini sudah memiliki berat 2820gr. Baby boy memang sangat pesat pertumbuhannya.
"Apa dia putraku?" tanya Elsa.
Mata Elsa memancarkan kebahagiaan yang sangat luar biasa kala melihat wajah putranya.
"Ya, Sayang. Dia putra kita, sangat mirip dengan kamu." Gia menghampiri Elsa dan memberikan putra mungilnya kepada istrinya tersebut.
Elsa dengan senang hati menerima baby tampan itu untuk dia gendong.
"Dia sangat tampan," celetuk Elsa seraya mengelus lembut pipi tembem baby boy.
Putra Elsa nampak menggeliat, lalu dia mengusakkan wajahnya ke dada Elsa. Melihat akan itu, Elsa langsung menangis.
Gia yang paham kegundahan hati sang istri, langsung merangkul pundak sang istri dan mengelus lembut lengannya.
"Maafkan, Bunda, Sayang. Karena Bunda tidak bisa menyusui kamu," kata Elsa seraya terisak.
Dia cium kening putranya dengan lembut, dia elus pipinya dengan penuh kasih. Sedih bujan. main, itulah yang dia rasa saat ini.
"Jangan sedih, Sayang. Yang terpenting saat ini kalian dalam keadaan sehat," kata Gia.
Tentu saja sang suami mencoba untuk menyemangati istrinya, agar Elsa bisa merasa lebih tenang.
"Iya, Mas." Elsa nampak menimang-nimang putra tampannya.
Baby tampan itu nampak anteng, dia sangat bersyukur akan hal itu.
"Ayah, sekarang Bunda sudah sembuh. Jadi, siapa nama adik tampanku ini?" tanya Aurora.
Dia begitu penasaran dengan nama dari adik tampannya, karena Gia belum memberikan baby boy nama.
"Iya, Yah. Katakan siapa namanya, aku sudah sangat penasaran," kata Aurelia antusias.
Gia terkekeh melihat antusias dari kedua putrinya, kemudian dia pun berkata.
__ADS_1
"Namanya Alex Wiliam Pranadtja," jawab Gia.
Gia sudah lama menginginkan nama itu dia berikan pada putranya, namun dia harus bersabar karena istrinya sedang koma.
"Kita panggil Al saja," kata Aurelia.
Dia merasa jika panggilan Al sangat mudal di ingat dam disebutkan.
"Nama yang bagus," kata Aurora.
Dia terlihat setuju dengan usulan dari kakak kembarnya.
Semua yang ada di sana nampak tersenyum dengan air mata yang berderai, mereka sangat senang karena akhirnya Elsa bisa sadar dan kembali pulang.
Mereka benar-benar bahagia, karena sempat berpikir jika Elsa tidak akan pernah membuka mata lagi.
Apa lagi kalau mengingat jika mereka baru saja kehilangan tuan Dirja, mereka benar-benar merasa mendapatkan duka yang tak berkesudahan.
Di saat mereka sedang asik bercengkerama, tiba-tiba saja sebuah suara mengalihkan arah tatapan mata mereka.
"Buna," celetuk balita cantik yang langsung berlari ke arah Elsa ditemani babysitternya.
Mendengar suara merdu Adelia, Elsa. memberikan putranya kepada Gia, dia langsung menghampiri Adelia dan merentangkan kedua tangannya.
Adelia nampak senang dan langsung menghambur ke dalam pelukan Bundany, Adelia langsung menangais dalam pelukan bundanya.
"Huwaaaa, Buna. Buna, tenana taja. Iya yindu, Iya tedih Buna inda puyang-puyang," kata Adelia.
Mendengar dan melihat raut wajah kerinduan dari Adelia, membuat Elsa mengais. Dia sangat sedih saat membayangkan putrinya selama satu bulan ini tanpa dirnya.
"Buna tangan peygi yagi, Iya inda ada yang peyuk taya gini, Huawaaaa." Adelia terlihat menumpahkan kerinduannya terhadap sang Bunda.
Semua yang ada di sana nampak terharu melihat akan hal tersebut, mata Elsa bahkan sampai sembab karena terus menangis.
Hari ini keluarga Pranadtja terlihat sangat senang, mereka seperti kembali mendapatkan cahayanya.
Sungguh mereka berharap jika kebahagiaan yang ada tidak akan pernah hilang, tergntikan duka yang menyakitkan seperti saat Elsa koma.
*
*
Selamat pagi kesayangan, maafkeun Othor jika telat up, lagi banyak kegiatan di dunia nyata. Insya Allah bulan depan kita gaskeun, semoga bisa ya.
Semoga kalian masih berkenan membaca karya Othor yang satu ini, jangan lupa kalau sudah baca tinggalkan jejak yes.
__ADS_1