
Elsa kini sudah berada di ruang makan bersama dengan ketiga putrinya, Gia dan juga bu Anira. Mereka sedang menikmati matabak pesanan Elsa dan juga teh lemon hangat.
Baru saja Elsa memakan dua suapan martabak rasa duren, Elsa sudah menghentikan kunyahannya. Melihat tingkah istrinya, Gia langsung bertanya.
"Kenapa? Apa martabaknya tidak enak?" tanya Gia.
Elsa terlihat bingung untuk menjawabnya, karena sedari siang dia begitu menginginkan martabak rasa Durian tersebut. Namun, ketika dia mencicipinya, lidahnya terasa tidak bisa menerima makanan tersebut.
"Entahlah, tadi enak. Sekarang kok ngga, ya?" kata Elsa.
"Ya ampun, Sayang. Aku sudah membeli sepuluh kotak martabak sesuai dengan yang kamu inginkan," kata Gia lesu.
Elsa tersenyum melihat raut kecewa di wajah suaminya.
"Banyak pelayan, Mas. Minta mereka untuk membantu kita untuk memakan martabaknya," kata Elsa.
Setelah mengatakan hal itu, Elsa langsung mengedarkan pandangannya. Dia merasa ada sesuatu yang kurang, tapi apa, dia tak tahu.
Awalnya Gia ingin memanggil para pelayan, namun niatnya dia urungkan karena melihat tingkah Elsa yang menurutnya aneh. Dia terlihat celingukan mencari sesuatu, entah apa Gia tak tahu.
"Kamu kenapa,Yang?" tanya Gia.
Elsa menghentikan aktivitasnya, lalu dia menatap suaminya dan berkata.
"Itu, Mas. Daddy kemana? Kenapa dia tidak terlihat?" tanya Elsa yang menyadari ketidakhadiran mertuanya.
Gia pun ikut mengedarkan pandangannya, dia baru menyadari jika tuan Dirja tidak ada di sana, lalu dia pun memanggil seorang pelayan yang kebetulan lewat di sana.
"Maaf, Mbak. Daddy mana?" tanya Gia.
Pelayan tersebut langsung menghentikan langkahnya, kemudian dia pun membungkuk hormat dan berkata.
"Dari siang, tuan besar belum keluar dari kamar, Tuan," kata pelayan tersebut.
"Oh, terima kasih," jawab Gia.
"Kalau begitu aku ke kamar Daddy dulu ya, Mas. Aku ingin melihat keadaan Daddy, aku juga ingin mengajak Daddy untuk memakan martabak ini," ucap Elsa.
"Iya, Sayang. Pergilah!" ucap Gia.
Setelah berpamitan kepada suaminya, Elsa pun melangkahkan kakinya menuju kamar utama. Dia mengetuk pintu dan berharap jika tuan Dirja akan segera membukakan pintu kamarnya.
"Daddy!" kesekian kalinya Elsa memanggil tuan Dirja, sayangnya tak ada sahutan.
__ADS_1
Karena penasaran, Elsa nampak memegang handle pintu kemudian dia mencoba membukanya.
Ternyata pintunya tidak terkunci, dengan perlahan Elsa mendorong pintu kamar tersebut.
Saat pintu kamar terbuka, dia melihat Tuan Dirja sedang tertidur dengan lelap. Elsa tersenyum lalu menghampiri tuan Dirja dan duduk tepat di tepian tempat tidur.
"Dad, bangun." Tuan Dirja tak bergerak sama sekali.
Elsa menggelengkan kepalanya, padahal sudah pukul empat, pikirnya. Kenapa mertuanya itu begitu lelap dalam tidurnya?
"Dad!" tangan Elsa terayun dan mengusap punggung tangan Tuan Dirja.
Tangan tuan Dirja terasa sangat dingin, perasaan Elsa mulai tidak enak. Untuk sesaat Elsa terdiam seraya menatap wajah Tuan Dirja, dia terlihat memeluk foto mom Maria.
"Dad!" panggil Elsa dengan air mata yang sudah mengelir.
Perlahan Elsa mengambil foto mom Maria dari tangan tuan Dirja, kemudian dia memeluk tuan Dirja dan menyandarkan kepalanya di dada mertuanya.
"Dad, bangun. Dad," ucap Elsa lirih.
Air mata Elsa semakin turun dengan deras kala dia tidak merasakan detak jantung tuan Dirja, badan Elsa terasa lemas sekali.
Jangankan untuk berlari, untuk berteriak pun dia merasa susah sekali. Suaranya seakan tercekat di tenggorokan, bernanapas pun seakan sulit.
"Dad!"
Elsa membuka matanya dan menatap wajah tuan Dirja, sayangnya matanya masih tetap terpejam.
"Dad!" teriak Elsa.
Dia merasa sudah berteriak dengan sekuat tenaga, sayangnya suara yang keluar sangat pelan.
Gia yang merasa Elsa terlalu lama di kamar Daddy'nya, berinisiatip untuk menyusul. Saat tiba di dalam kamar sang daddy, Gia terlihat kaget saat melihat Elsa yang memeluk daddynya dengan air mata yang berurai.
Gia menghampiri Elsa dan langsung mengusap punggungnya dengan lembut.
"Ada apa?" tanya Gia.
Elsa mengurai pelukannya, kemudia dia menatap wajah suaminya dengan intens.
"Daddy, napas daddy tidak ada. Daddy--"
Elsa tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya, dia terus saja menangis karena begitu sedih.
__ADS_1
Gia segera menghampiri tuan Dirja, dia mengecek napas tuan Dirja. Ternyata sang daddy sudah tidak bernapas, dia segera mengecek urat nadinya, nyatanya tak ada detaknya di sana.
Gia menjatuhkan tubuhnya ke lantai, dia benar-benar tak menyangka jika tuan Dirja akan pergi secepat itu.
"Daddy!" teriak Gia.
Semua orang yang sedang berkumpul di ruang makan, sontak langsung berlarian ke kamar tuan Dirja. Mereka terlihat kaget melihat suasana di ruang utama tersebut.
Bu Anira bahkan segera menghampiri Gia dan mencoba membantu Gia untuk berdiri, dia segera membantu Gia untuk duduk di atas sofa.
"Ada apa ini?" tanya Bi Anira.
"Daddy, Bu. Daddy--"
Tanpa menunggu Gia menyelesaikan ucapannya, bu Anira langsung menghampiri tuan Dirja yang terlihat terbujur kaku.
Dia menyadari jika keadaan tuan Dirja tidak baik-baik saja, dia juga langsung mengecek nadi tuan Dirja. Ternyata nadinya sudah berhenti berdetak, dengan cepat bu Anira meminta pelayan untuk menelpon dokter Irawan.
Dia ingin memastikan kondisi tuan Dirja menurut ilmu kedokteran, dengan sigap salah satu pelayan pun menelpon dokter Irawan.
Lima belas menit kemudian, dokter Irawan sampai di kediaman Pranadtja. Dia langsung berlari menuju kamar utama, lalu memeriksa kondisi tuan Dirja.
Dokter Irawan nampak menghela napas berat, kemudian dia menggelengkan kepalanya. Tubuh Gia kembali luruh ke lantai, dia menangis dan meraung seperti orang pesakitan.
"Daddy, Dad! Jangan tinggalkan Gia, Dad. Daddy sudah berjanji akan selalu menemani Gia dalam suka mau pun duka, Daddy bohong!" kata Gia disela isak tangisnya.
Elsa langsung menghampiri suaminya, dia memeluk Gia dan mengelus lembut punggung suaminya.
"Bersabarlah, Sayang. Semua sudah takdir Tuhan, aku tahu kamu menyayangi Daddy. Tapi, Tuhan ternyata lebih sayang kepadanya," ucap Elsa.
Gia sangat tahu akan hal itu, namun tetap saja dia merasa sangat sedih sekali. Dia menatap wajah istrinya dengan tatapan sendu, kemudian membalas pelukan istrinya.
Semuayang ada di sana nampak bersedih, mereka turut beduka cita. Apa lagi Tuan Dirja merupakan sosok yang sangat baik dan dermawan.
Dokter Irawan nampak menghampiri Gia.
''Bangunlah! Kamu anak kuat, jangan cengeng seperti ini. Om Dirja pasti malu memiliki anak cengeng seperti dirimu," kata Dokter Irawan.
Gia nampak mendongakkan kepalanya, dia menatap wajah dokter Irawan dengan lekat.
"Daddy jahat, Wan. Dia tega meninggalkan kami," kata Gia.
"Sudahlah, jangan bebicara seperti itu. Kasihan Om Dirja, lebih baik kita urus proses pemakamannya," usul Dokter Irawan.
__ADS_1