
Pukul empat sore Ajun sudah bersiap untuk pulang, dia sudah merapikan semua berkas yang sudah dia kerjakan lalu menyerahkannya kepada Gia. Saat dia hendak keluar dari ruangan tersebut, tiba-tiba saja Gia memanggilnya.
"Ajun!" panggil Gia.
Ajun langsung menghentikan langkahnya, kemudian dia pun membalikkan tubuhnya dan menghampiri Gia dengan cepat.
"Ada apa, Tuan?" tanya Ajun sopan.
Sebenarnya dia sangat kesal pada Gia, karena ini waktunya dia untuk pulang dan beristirahat. Apalagi seharian ini Gia benar-benar mengerjai dirinya, selalu saja ada alasan untuk menyuruh Ajun agar dia tidak bisa duduk dengan tenang.
"Maaf merepotkan, aku hanya ingin meminta tolong. Sebelum pulang, tolong cek lahan kosong yang besok akan digarap. Sama tolong kasih ini," kata Gia.
Gia menunjukkan Kunci gudang kepada Ajun, karena dia lupa tak memberikan kunci itu pada mandor bangunan yang bekerja di sana.
Padahal tadi siang mandor bangunan tersebut sudah datang menemui Gia dan memberikan laporan kalau pekerjaan akan dimulai esok hari, tentunya mereka tidak akan bisa bekerja jika kunci gudangnya masih di tangan Gia.
Karena bahan-bahan dan semua alat bangunan ada di dalam gudang tersebut.
Ajun hanya bisa memutar bola matanya, menurutnya untuk apa mengecek lahan kosong yang ada di sana. Kecuali kalau memang untuk memberikan kunci gudang pada mandor bangunan tersebut itu masih masuk akal, menurutnya.
Lalu, mengecek tanah kosong apa fungsinya? Ajun hanya bisa bertanya dalam hatinya.
"Tapi, Tuan. jaraknya lumayan jauh membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk sampai di sana," kata Ajun.
"Jadi, kamu tidak mau?" tanya Gia.
"Bukan tidak mau, tapi ini saja sudah pukul empat. Pasti saya akan pulang malam kalau begini," ucap Ajun dengan senyum kecutnya.
"Tenang saja, kamu akan mendapatkan bonus." Gia langsung menyerahkan kunci gudangnya pada Ajun.
Mau tak mau Ajun pun langsung menerima kunci gudang tersebut.
"Besok ada meeting pagi, jangan salahkan saya jika datang terlambat." Ajun langsung berlalu dari ruangan Gia tanpa menunggu jawaban dari bosnya tersebut.
Andai saja dia bisa marah, Ajun sangat ingin meluapkan emosinya kepada Gia. Sayangnya tidak bisa seperti itu, karena selain Gia adalah bosnya, Ajun juga sangat menyayangi lelaki arogan yang sekarang terasa menyebalkan itu.
Ajun sangat menyayangi Gia, walaupun usia mereka hanya terpaut 2 tahun saja, tapi Ajun sudah menganggap Gia sebagai adiknya sendiri.
Apalagi dulu Ajun juga merupakan anak yang yang kurang mampu, dia berkuliah juga berkat beasiswa dari perusahaan milik keluarga Pranadtja.
__ADS_1
Hal itu membuat dirinya ingin mengabdikan dirinya di perusahaan milik keluarga Pranadtja tersebut.
"Dasar Bos sialan! Selalu saja semaunya," umpat Ajun.
Ajun langsung melajukan mobilnya menuju lokasi, dia begitu kesal pada Gia karena waktu istirahatnya kini semakin berkurang saja.
Pukul enam sore Ajun pun sampai di lokasi, tanah kosong seluas seratus hektar tersebut terlihat sangat luas. Tanah itu berada di pinggiran kota.
Gia memang sengaja membangun apartemen di sana, karena di sana banyak orang yang memiliki gaji minim tapi tak punya tempat tinggal. Mereka hanya bisa mengandalkan gaji mereka untuk ngekost, atau bahkan ngontrak.
Gia pun berpikir untuk membangun apartemen untuk kalangan menengah kebawah, bisa bayar secara cash atau kridit. Bahkan warga boleh mencicilnya dengan harga minimal delapan ratus ribu rupiah perbulan, dengan minimal Dp sepuluh juta rupiah.
Ajun langsung turun dari mobilnya, lalu dia berdiri dan menyandarkan tubuhnya pada mobilnya. Lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Pak Mandor.
Dia merasa malas untuk pergi menuju gudang, dia lebih memilih diam sambil memperhatikan tanah kosong yang membentang luas di hadapannya.
"Halo, Tuan," sapa Pak Mandor.
"Bisa ke lokasi pembangunan sekarang?" tanya Ajun.
"Untuk apa, Tuan?" tanya Pak Mandor.
"Oke, sepuluh menit," jawab Pak mandor.
Setelah itu Ajun pun langsung mematikan sambungan teleponnya, kemudian dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
Benar saja, 10 menit kemudian Pak mandor pun datang dengan tergopoh-gopoh. Dia menghampiri Ajun sambil menyapanya dengan ramah.
"Selamat malam Tuan, kenapa malah berhenti di sini? Kenaoa tidak langsung ke gudang saja?" tanya Pak mandor.
"Males," jawab Ajun singkat.
Ajun kemudian merogoh saku celananya dan memberikan kunci gudang tersebut kepada Pak Mandor. "Ini, kuncinya. Tolong pekerjaannya diawasi, jangan sampai lengah."
"Siap, Tuan. Terima kasih, Tuan. Karena sudah menyempatkan diri untuk mengantarkan kunci gudangnya," ucap Pak Mador tulus.
"Ya, sama-sama," jawab Ajun.
"Tuan mau langsung pulang atau di sini dulu?" tanya Pak Mandor.
__ADS_1
"Saya masih ingin di sini," jawab Ajun.
"Mau ditemani at--"
"Tidak usah," jawab Ajun.
Dia merasa ingin sendiri dan merenungi semua yang telah terjadi selama ini pada dirinya, rasanya di sana merupakan tempat yang nyaman.
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi ya,Tuan?" ucap Pak Mandor.
Ajun hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban, setelah mendapatkan jawaban dari Ajun Pak Mandor pun pergi dari sana.
Sedangkan Ajun malah asik berdiam diri di sana, dia terlihat begitu menikmati suasana malam di pinggiran kota tersebut.
Angin malam yang begitu dingin terasa membelai tubuhnya, Ajun pun menyilangkan kedua tangannya di depan dada seraya mengusapnya.
Tak jauh dari sana, Ajun melihat ada sebuah Danau yang sengaja dibuat oleh Gia agar menambah nilai plus saat apartemennya sudah jadi.
Gia juga berencana untuk membangun swalayan, taman dan Resto cepat saji di sana, Ajun pun mulai melangkahkan kakinya menuju Danau tersebut.
Dia terlihat dan mencari-cari tempat yang nyaman untuk dia duduk, dia ingin merenungkan sejenak tentang kehidupan yang ia jalani selama ini.
Namun saat dia hendak duduk, dia malah mendengar isak tangis seorang perempuan. Awalnya Ajun mengira jika itu adalah suara hantu, karena terdengar sangat lirih.
"Kenapa suaranya terdengar sangat lirih?" ucap tanya Ajun seraya mengusap tengkuk lehernya.
Kemudian Ajun pun menajamkan pendengarannya, tak lama dia pun mendengarkan umpatan-umpatan kasar dari seorang wanita.
Ajun pun menjadi penasaran, dia mencari arah suara tersebut dan tak lama dia melihat seorang wanita yang sedang membelakangi dirinya. Sesekali dia terlihat melemparkan batu kecil ke arah Danau sambil mengumpat kasar.
"Dasar Danish Sastra Wijaya sialan! Gara-gara elo hidup gue jadi hancur," umpat perempuan itu.
Lalu dia pun mengambil batu kecil kembali dan melemparkannya ke arah Danau. Ajun terlihat sangat kaget saat mendengar nama yang disebutkan oleh wanita tersebut.
"Bukankah Sastra Wijaya adalah nama keluarga dari salah satu pejabat dari Kota B, lalu apa hubungannya dengan wanita itu?" tanya Ajun dalam hatinya.
"Elu pria brengsek yang pernah gue temui, lelaki bejat yang udah hancurin masa depan gue!" kembali dia terisak, setelah mengumpat kasar.
Ajun merasa jika suara itu terdengar familiar di telinganya, karena penasaran dia pun semakin mendekatkan dirinya ke arah wanita tersebut.
__ADS_1
"Gue emang bodoh, andai saja dulu tidak termakan rayuan elo, gue nggak bakalan mau jadi pacar elo. Gue nyesel, gue nyesel banget karena kenal sama cowok brengsek kau elo!" wanita itu terus saja mengumpat sambil terisak, sesekali dia terlihat menyusut air matanya.