Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Baby Adelia Sakit


__ADS_3

Sudah satu jam Anita dengan setia memeluk suaminya yang terlihat begitu lelap dalam tidurnya, sebenarnya dia sudah sangat ingin turun dari ranjang dan segera mandi.


Namun, dia tak enak hati saat melihat wajah lelah suaminya. Dia takut jika suaminya itu akan terganggu, jika dia melakukan pergerakan.


Namun, semakin lama dia terdiam, ternyata air seninya seakan memaksa untuk keluar dari kantong kemihnya.


'Ya Tuhan, aku sudah kebelet pipis ini. Kenapa pak dokter ngga bangun juga sih!' Anita berkata dalam hati.


Awalnya dia masih bisa menahan, namun lama-kelamaan kantong kemih yang penuh dengan air seni itu semakin mendesak untuk dikeluarkan.


'Ya Tuhan, rasanya sudah tidak kuat.' Kata Anita dalam hatinya.


Mau tak mau Anita pun segera melepaskan tubuhnya dari pelukan suaminya dengan sangat hati-hati, namun ternyata... tetap saja pergerakannya membuat dokter Irawan terbangun dari tidur lelapnya.


Dia langsung menarik kembali tubuh istri kecilnya ke dalam pelukannya.


"Mau kemana?" tanya Dokter Irawan dengan mata yang masih terpejam.


Dia masih mengantuk, namun seakan tak rela jika harus melepaskan istri kecilnya.


"Mau pipis, udah kebelet ini." Anita melipat kedua kakinya untuk menahan keinginannya untuk buang air kecil.


Dokter Irawan nampak membuka matanya, lalu dia pun langsung tersenyum sambil menatap istrinya.


"Mau pipis?" tanya Dokter Irawan.


Anita terlihat membalas tatapan mata dokter Irawan, lalu dia pun menjawab.


"Iya, kebelet!" kata Anita.


Senyum jahil tersungging di bibir dokter Irawan, dia mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Lalu, dia pun berkata.


"Aku pipisin aja mau?" tanya Dokter Irawan.


Anita terlihat membulatkan matanya dengan sempurna, dia tak menyangka jika dokter Irawan akan mengatakan hal itu.


Anita memang belum berpengalaman dalam urusan ranjang, namun dia paham akan arti dari pertanyaan suaminya itu.


"Dasar Pak Dokter tua messum!" Anita langsung memukul pundak dokter Irawan.


Setelah mengucapkan hal itu, Anita langsung berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan suaminya. Lalu, dia langsung berlari menuju kamar mandi dan menutup pintunya dengan cepat.


Sampai di kamar mandi, Anita langsung mengunci pintunya. Lalu dia berdiri di depan cermin dan menatap wajahnya sambil mengusap dadanya berkali-kali karena terasa berdetak lebih kencang.


"Kenapa jadi deg-degan kaya gini?" tanya Anita lirih.


Anita terlihat mengacak rambutnya kasar, lalu dengan cepat dia menuntaskan hajatnya.


"Sepertinya aku harus cepat mandi, biar jantungku tak berdetak dengan cepat seperti ini," kata Anita.


Anita terlihat mondar-mandir tidak jelas, dia merasa jika hatinya mulai memiliki rasa ketertarikan terhadap suaminya itu.


"Lama-lama dekat dokter tua messum itu aku bisa jantungan," timpalnya lagi.


Setelah merasa lebih tenang, Anita pun segera membuka semua kain yang melekat di tubuhnya, lalu segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


Dia ingin menetralkan ritme jantungnya, dia ingin menormalkan perasaannya. Sungguh dia berharap jika air dingin yang mengguyur ke tubuhnya bisa membuatnya merasa lebih waras.


Jika Anita sedang serius dengan ritual mandinya, sedangkan Dokter Irawan masih setia merebahkan tubuhnya di Di atas tempat tidur.


Dokter Irawan nampak tersenyum karena bisa menggoda istrinya, rasa kantuknya kini menghilang entah kemana, berganti dengan rasa senang.


"Dasar bocah, lihat saja... sebentar lagi aku pasti bisa membobol benteng pertahanan kamu, Anita." Dokter Irawan tertawa, lalu dia turun dari tempat tidur dan memutuskan untuk keluar dari dalam kamarnya.


*/*

__ADS_1


Di lain tempat.


Baby Adelia terlihat sedang rewel, mungkin saja karena dia kecapean setelah dua hari banyak melakukan aktifitas. Bayi berusia enam bulan itu nampak merintih, persis seperti orang tua yang sedang meriang.


"Kamu kenapa sih, Nak? Cape ya, kemarin habis ikut main air?" tanya Elsa seraya mengelus lembut punggung putrinya.


Baby Adelia terlihat lebih tenang setelah mendapat usapan lembut dari bundanya, namun bibirnya terus saja merintih seperti orang kesakitan.


Elsa pun menjadi resah, akhirnya dia pun memutuskan untuk menelpon suaminya, Gia. Padahal waktu baru menunjukkan pukul sembilan pagi.


Gia baru saja satu jam keluar dari kediaman Pranadtja, namun Elsa sudah harus menelpon suaminya itu. Karena dia merasa bingung dengan apa yang harus dia lakukan saat ini.


Ya, Sayang. Ada apa?" tanya Gia setelah sambungan teleponnya tersambung.


Mendengar sahutan dari suaminya, hatinya merasa tenang. Itu artinya dia tak mengganggu kegiatan penting yang sedang dilakukan oleh suaminya.


"Baby Adelia rewel, Mas. Dia ngerengek terus," adu Elsa.


Tak terdengar jawaban dari Gia, dia seperti sedang berpikir.


"Mas!" panggil Elsa.


"Ya, Sayang. Coba minta Irawan untuk memeriksanya," kata Gia memberi solusi.


Elsa nampak tersenyum hangat dan menganggukkan kepalanya, walaupun dokter Irawan tak melihatnya.


"Iya, Mas. Aku telpon dokter Irawan dulu," kata Elsa.


"Ya," jawab Gia.


Setelah mendapatkan solusi dari suaminya, Elsa pun memutuskan sambungan teleponnya, kemudian dia mencari nomor kontak dokter Irawan, lalu menelponnya.


"Ada apa, Nyonya Gia? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter Irawan dari sebrang sana.


Setelah mendengar sapaan dari dokter Irawan, Elsa pun langsung mengutarakan maksudnya.


"Baiklah... karena hari ini aku sedang senggang, aku akan datang untuk memeriksa Baby Adelia," kata Dokter Irawan.


"Terima kasih, Dok. Saya tunggu," kata Elsa.


Setelah mengatakan hal itu, Elsa langsung memutuskan sambungan teleponnya. Kemudian, dia menghampiri Baby Adelia dan kembali mengelus lembut punggung putri kecilnya.


"Jangan sakit, Sayang. Nanti Bunda sedih," kata Elsa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Cukup lama Elsa menunggu kedatangan dokter Irawan, hingga pukul 10.00 ada seorang asisten rumah tangga yang mengetuk pintu kamar Elsa.


"Siapa?" tanya Elsa ketika mendengar ketukan pintu tersebut.


"Saya, Nyonya. Bi Narsih," jawab asisten rumah tangga tersebut.


Elsa pun segera melangkahkan kakinya untuk membuka pintu kamarnya.


"Ada apa?" tanya Elsa.


Asisten rumah tangga tersebut langsung mengutarakan apa maksud kedatangannya ke kamar Elsa tersebut.


"Di depan ada dokter Irawan beserta istrinya, katanya beliau mau memeriksa Baby Adelia," kata Bi Narsih.


"Persilahkan mereka untuk masuk," kata Elsa.


Bi Narsih nampak membungkukkan badannya, kemudian dia pun berkata.


"Baik, Nyonya," jawab Bi Narsih.


Bi Narsih nampak meninggalkan Elsa, lalu dia menghampiri dokter Irawan dan juga Anita yang sedang mengobrol dengan Bu Anira.

__ADS_1


Bu Anira bahkan terlihat kaget, saat mendengar cucu kesayangannya sedang sakit. Karena Elsa tak berbicara apa pun kepada dirinya.


"Dokter, Nyonya Elsa mempersilahkan anda untuk masuk ke kamar," kata asisten rumah tangga tersebut.


Dokter Irawan nampak mengalihkan pandangannya kepada asisten rumah tangga tersebut.


"Ya, Bi. Terima kasih," ucap dokter Irawan.


Setelah mendapatkan persetujuan dari Elsa, dokter Irawan, Anita dan bu Anira langsung melangkahkan kaki mereka menuju kamar yang biasa Elsa tempati.


Tiba di dalam kamar, Bu Anira langsung menghampiri baby Adelia dan menempelkan punggung tangannya di kening baby Adelia.


"Baby Adelia, kenapa Sayang?" tanya Bu Anira.


Dia terlihat begitu cemas, saat mendengar cucu kesayangannya sedang tidak enak badan.


"Entahlah, Bu. Dari tadi dia seperti kesakitan," jawab Elsa.


Mendengar ucapan Elsa, bu Anira terlihat tersinggung. Karena Elsa tak memberitahukan kondisi baby Adelia terlebih dahulu kepada dirinya.


"Kenapa kamu tidak bilang sama ibu? Kalau tau begitu tadi ibu jemur bangle di baskom berisi air," ucap Bu Anira.


Elsa terlihat mengerutkan dahinya, dia merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh Ibunya.


"Maksud Ibu, apa?" tanya Elsa.


"Baby Adelia pasti kecapean, karena dua hari kemarin dia melakukan aktivitas berlebih. Kalau orang tua dulu biasanya akan menjemur bangle yang ditusuk pisau dan direndam dengan air, lalu airnya dipakai buat mandi. Biar badannya lebih segar kembali," jelas Bu Anira.


Mendengar ucapan bu Anira, Elsa terlihat terkekeh. Begitu pun dengan dokter Irawan dan juga Anita, mereka nampak menertawakan perkataan dari bu Anira.


Melihat Anita, dokter Irawan dan juga Elsa yang tertawa, membuat Ibu Anira tersinggung. Lalu, dia pun melayangkan protesnya.


"Cara itu memang kuno, tapi ampuh untuk menyembuhkan rasa sakit yang didera oleh balita, kalian keterlaluan sekali menertawakan Ibu," Bu Anira terlihat mencebikkan bibirnya.


Elsa langsung memeluk Bu Anira agar tak marah lagi.


"Maaf," kata Elsa.


"Hem, sekarang periksalah Baby Adelia!" kata Bu Anira.


"Siap, Bu," jawab Dokter Irawan cepat.


Dokter Irawan terlihat mengeluarkan peralatan medisnya dari tas khusus miliknya, dia langsung memeriksa kondisi kesehatan baby Adelia.


Beberapa menit kemudian, dokter Irawan pun nampak menghampiri Elsa. Lalu, dia pun berkata.


"Baby Adelia hanya kecapean, anda hanya perlu membalurkan minyak hangat dan sedikit memijat tubuhnya agar terasa lebih baik lagi," jawab Dokter Irawan.


"Kalau begitu biar ibu yang memijat baby Adelia," jawab Bu Anira.


Bu Anira terlihat dengan sigap langsung mengambil minyak hangat, kemudian dia pun langsung membalurkannya ke tubuh baby Adelia seraya memijat lembut tubuh baby Adelia.


Tak lama kemudian, baby Adelia terlihat lebih tenang dan bisa tertidur dengan pulas. Bu Anira tersenyum, lalu dia pun menidurkan baby adelia di dalam box bayi miliknya.


"Terima kasih, Dok. Karena sudah mau datang untuk memeriksa baby Adelia," kata Elsa tulus.


"Ya, Nyonya Gia. Kalau begitu saya permisi," kata Dokter Irawan.


"Loh, kok buru-buru sekali. Ngga minum kopi dulu?" tanya Elsa.


"Ngga usah, aku mau mengajak istriku jalan-jalan. Mumpung dia ngga ada kuliah hari ini," kata Dokter Irawan.


"Ya, sepertinya itu bagus. Biar bisa lebih dekat dan lebih saling mengenal," kata Elsa.


"Nyonya Gia benar, kalau begitu kami permisi," kata Dokter Irawan.

__ADS_1


Setelah berpamitan kepada Elsa dan Bu Anira, dokter Irawan dan Anita pun langsung pergi dari kediaman Pranadtja.


__ADS_2