Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Kejamnya Elias


__ADS_3

Sudah satu bulan Elsa tergolek lemah di Rumah Sakit besar di Kota G, Dokter berkata jika keadaan Elsa sudah sangat stabil. Luka bekas operasi pun sudah mengering, bahkan keadaan perut Elsa yang sempat tertembak sudah sangat baik.


Herannya, belum ada tanda-tanda jika Elsa akan sadarkan diri. Hal itu membuat Gia resah, Gia gundah dan hampir putus asa.


Setiap hari dia berdo'a, setiap hari dia mencoba mendatangkan Dokter terbaik yang ada di dalam negeri. Tetap saja Elsa seakan enggan untuk membuka matanya, dia seakan sangat suka dengan acara tidurnya.


Terkadang Gia berpikir, mungkin Elsa begitu cape dalam menghadapi ketegangan hidup yang dia alami selama mengandung anak hasil perbuatan bejatnya. Mungkin Elsa tertekan melalui hidupnya dan membesarkan kedua putrinya dalam tekanan.


Hingga dia merasa butuh istirahat dalam waktu yang lama, Gia hanya bisa berharap jika Tuhan akan memberikan keajaiban pada wanita yang sangat dia cintai itu.


"Bunda, Rara kangen. Bunda tahu, Rara dapat juara kelas." Adu Aurora pada Bundanya yang masih betah memejamkan matanya.


Aurelia menangis, dia memeluk erat Bundanya lalu mengecupi kening Elsa. "Bunda tahu, Kakak curang. Aku dapet peringkat ke dua, dia ngga mau ngalah sama aku."


"Bun, matanya di buka. Aku rindu," ucap Aurora.


"Iya, Bun. Kasihan Dedenya kalau Bunda bobo terus," ucap Aurelia menimpali.


Aurora dan Aurelia mengelus lembut perut Bundanya, lalu mengecup kening Elsa secara bergantian. Mereka benar-benar merasa rindu dengan Elsa, wanita yang telah melahirkan mereka ke dunia, wanita tangguh yang selalu bisa membuat mereka tertawa senang walau dalam keadaan apa pun.


Gia menghampiri kedua putrinya, lalu membawa mereka ke dalam pelukannya. Gia mengecupi kening putrinya lalu mengajak mereka untuk pergi ke taman.


Mereka memang sedih, akan tetapi mereka tetap anak-anak. Mereka butuh waktu untuk menenangkan diri. Kedua anak Elsa yang merasa rindu pada Bundanya, langsung diantarkan oleh Ajun.


Ajun sengaja menuruti keinginan kedua putri Bosnya karena memang sedang liburan semester, Setelah acara kenaikan kelas Ajun langsung membawa mereka ke kota G, begitupun dengan Bu Anira.


Beliau ikut serta ke kota G, karena Tuan Dirja harus membantu Ajun mengurus perusahaan. Karena mengandalkan Gia adalah hal yang mustahil, dia tak akan bisa berkonsentrasi dalam bekerja.


"Kita ke taman, Sayang. Di sana banyak jajanan dan juga mainan, mau?" tanya Gia.

__ADS_1


Gia mencoba menghibur kedua putrinya yang memang terlihat begitu sedih melihat keadaan Bundanya.


"Tapi jangan lama-lama, kasihan Bunda sendirian." Aurelia langsung menatap Bundanya.


Bu Anira yang mendengar keluhan Aurelia langsung menghampirinya. " Ada Nenek, Sayang. Kalian pergilah, Nenek yang akan jaga."


"Baiklah, aku titip Bunda. Jangan ditinggal, aku ngga mau sampai Bunda kenapa-kenapa." Tegas Aurora.


"Siap cucu Nenek yang cantik," ucap Bu Anira.


Gia beserta kedua putri kembarnya langsung keluar dari dalam ruangan Elsa, sedangkan Bu Anira langsung duduk di samping Elsa. Dia mengelus lembut puncak kepala Elsa dan mengecup keningnya dengan lembut.


"Bangun, Nak. Ibu rindu, jangan biarkan ibu sendirian. Ibu ngga sanggup, inget sayang kedua anak kamu membutuhkan kamu. Bahkan yang ini juga selain butuh perhatian, dia butuh asupan gizi yang baik." Bu Anira mengelus lembut perut Elsa.


Badan Elsa terlihat kurus, karena sudah lima minggu tak sadarkan diri. Sedangkan perutnya terlihat sedikit lebih menonjol, karena usia kandungan Elsa yang kini sudah sebelas minggu.


Tanpa dia duga, lelaki tersebut langsung membekap Bu Anira dengan sapu tangan. Bu Anira sempat berontak, namun tak lama. Karena ternyata sapu tangan tersebut sudah diberi obat bius, membuat Bu Anira langsung tak sadarkan diri.


Seringai licik langsung tersungging dari bibir lelaki tersebut, ternyata dia adalah Elias. Lelaki licik yang susah sekali di tangkap karena dia selalu melakukan penyamaran.


Membuat dia susah untuk dikenali, dia terlihat begitu pandai dalam mengubah wajahnya.


Setelah melihat Bu Anira terkapar tak berdaya, Elias langsung menarik bantal yang Elsa tiduri.


"Kamu harus mati, Elsa! Anak saya sudah sangat menderita, saya harus membalaskan dendam anak saya. Saya ingin kamu mati, agar si anak sialan itu bisa merasakan yang namanya sakitnya kehilangan."


Elias lalu mulai menutup wajah Elsa dengan bantal dan mulai menekannya dengan kuat, dia berharap agar Elsa bisa mati dengan cepat. Agar Gia bisa merasa sakit hati dan sedih yang tak berujung.


Semakin lama Elias semakin kuat menekan bantal tersebut, hal yang tak terduga pun terjadi. Tangan Elsa bergerak ke atas. Seolah orang yang sedang tertidur merasa kaget.

__ADS_1


Badannya pun bergerak, bahkan Kakinya seolah ingin menerang siapa pun yang membekap wajahnya


Tangan Elsa pun berusaha untuk memukul siapa yang ada di depannya, Elias tersentak kaget. Setahunya Elsa koma, lalu kenapa dia bisa berontak.


Akan tetapi, Elias tak perduli. Yang harus dia lakukan adalah segera membunuh Elsa, agar Gia lebih terluka. Saat tangan Elsa berusaha untuk menggapai wajah Elias, tanpa sengaja dia malah memukul tombol darurat.


Tak lama Dokter dan suster pun berdatangan, mereka masuk dengan tergesa ke dalam ruangan Elsa. Akan tetapi, Dokter dan suster tersebut sangat kaget saat melihat Elsa yang sedang memberontak dengan lelaki yang sedang membekap Elsa dengan bantal.


Tanpa menunggu lama, seorang suster langsung menghampiri Elsa dia mengambil besi penyangga botol infus dan langsung memukul kepala Elias dengan sangat kencang.


Kepala Elias berdarah, dia murka bantal yang dia pakai pun untuk membekap Elsa langsung dia pukulan ke arah suster tersebut. Dengan cepat Dokter dan dua suster lainnya berusaha untuk mencegah Elias.


Elias yang menyadari dirinya tak aman langsung berlari, dia sudah tak mungkin lagi berada di sana. Dokter tersebut hendak berlari karena ingin mengejar Elias, tapi dengan cepat suster tersebut menghentikan langkah Dokter, karena dia merasa jika Elsa lebih membutuhkan bantuan ketimbang harus berlari untuk mengejar Elias.


"Dok, keadaan pasien lebih penting. Tolong ditangani dulu, saya juga harus menolong ibunya." Suster itu memandang abu Anira yang tergeletak di lantai.


Dokter itu pun sempat memandang Elsa yang terlihat bernapas dengan susah, dengan cepat dia memberikan tindakan dibantu seorang suster.


Sedangkan dua suster lainnya langsung membangunkan Bu Anira dan menidurkannya di atas sofa tunggu.


+


+



Jangan lupa untuk mampir di karya Othor yang baru ya...


Besok minggu sudah mulai bisa dibaca, semoga suka.

__ADS_1


__ADS_2