Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Yang Penting Bangun


__ADS_3

Pukul empat pagi Andrew terbangun dari tidurnya, matanya memancarkan kebahagian. Bibirnya pun tak hentinya mengembangkan senyuman.


Dia pandangi wajah wanita cantik yang kini tengah memeluknya, dia usap pipi istrinya dengan lembut. Satu kecupan hangat pun dia daratkan di bibir istrinya.


Tadi malam hilang sudah keperjakaannya, karena dia memberikannya kepada wanita yang sangat dia sayangi.


Awalnya Andrew merasa bingung dengan apa yang harus dia lakukan, beruntung Melani dengan sabar mau membimbing si otong ke jalan yang benar.


Melani bahkan tak sungkan memberitahukan kepada Andrew mana saja area tubuhnya yang sangat suka disentuh dan yang tidak dia suka.


Hal itu membuat Andrew bisa dengan mudah memberikan rangsangan pada istrinya, sebenarnya Andrew kurang percaya diri dengan miliknya.


Banyak yang berkata jika milik Aldino besar dan tahan lama, makanya wanita asal Denmark itu sangat suka bermain dengan Aldino.


Bahkan, dia rela pergi secara sembunyi-sembunyi asal bisa melakukan kegiatan panas mereka di atas ranjang.


Tentu saja hal itu Nyonya Mariene lakukan karena Aldino sangat pandai memuaskan dirinya dengan miliknya yang besar itu.


Hal itu sempat membuat Andrew minder, dia takut jika Melani tak akan puas dengan miliknya.


Namun ternyata hal itu tidak berlaku untuk Melani, dia tidak mementingkan bentuk dan ukurannya.


"Aku ngga perduli ya, mau ukurannya segede apa. Yang penting punya kamu bisa bangun dan bisa puasin aku," kata Melani sesaat sebelum pergumulan panas mereka terjadi.


Andrew tersenyum mendengar jawaban dari Melani, dia pun mulai menyentuh area sensitif istrinya.


Dia benar-benar berusaha untuk membuat Melani puas, dia tidak mau membuat wanita yang pernah menjadi janda itu kecewa terhadap dirinya.


Karena bagi Andrew hal pertama yang paling membanggakan adalah bisa memuaskan istrinya di atas ranjang.


Hal yang kedua, tentu saja dia harus bisa memberikan kebahagiaan dan kasih sayang yang tulus kepada istri dan anak-anaknya.


Tentu yang ketiga pun tak kalah penting, dia harus bisa berusaha memanjakan istrinya dengan materi.


Maka dari itu dia harus ektra bekerja keras untuk itu, beruntung dia bekerja di perusahaan besar sebagai asisten kepercayaan. Hal itu membuat dirinya mempunyai gaji yang besar, walaupun dia hanya seorang karyawan.


Ternyata ucapan Melani sangatlah terbukti, walaupun milik Andrew tas sebesar milik Aldino, namun dia bisa membuat istrinya beberapa kali pelepasan. Dia pun merasa percaya diri dan bangga akan hal itu.


"Enak?" tanya Andrew setelah menjatuhkan tubuhnya di samping istrinya.


Melani menjawab dengan anggukkan, karena dia masih mengatur napasnya yang masih tersenggal.

__ADS_1


Andrew tersenyum kala melihat istrinya yang terkulai lemas, ternyata dia berhasil memuaskan istrinya walaupun dirinya masih amatiran.


Dia menarik selimut dan menutupi tubuh polos mereka, setelah itu Andrew mendekap erat tubuh istrinya.


"Mbak!"


"Hem," jawab Melani seraya mendongakkan kepalanya.


"Mbak beneran janda, kan?" tanya Andrew seraya menatap lekat wajah istrinya.


Dahi Melani sempat mengernyit dalam sebelum dia menjawab pertanyaan dari Andrew.


"Memangnya kenapa? Kamu tuh aneh, kamu sendiri yang ngurusin proses cerai aku. Tapi masih nanya juga," keluh Melani.


"Abisan punya Mbak sempit banget, cengkramannya kuat. Mbak udah kayak perawan aja," kata Andrew.


Melani langsung tersipu, dia mempererat pelukannya dan menggigit dada Andrew dengan gemas.


"Ya ampun, Mbak. Jangan mancing-mancing deh, aku tahu Mbak cape banget, sekarang istirahatlah. Jangan sampai aku ingin melakukannya lagi," kata Andrew.


"Ya, aku sangat lelah," kata Melani seraya memejamkan matanya.


Dalam hati Melani memuji, jika Andrew sangat pandai dalam memuaskannya. Bahkan Andrew bisa memanfaatkan titik kelemahannya sebagai kunci, agar Melani bisa cepat mencapai klimaksnyaa.


Matanya memang terpejam, tapi dia bisa merespon apa yang dilakukan oleh Andrew terhadap tubuhnya.


walaupun masih mengantuk Melani berusaha untuk membuka matanya, saat matanya terbuka dengan sempurna, dia melihat Andrew yang sedang memainkan ujung dadanya.


"Kamu ngapain?" tanya Melani.


"Aus, Mbak. Mau enen dulu," kata Andrew.


Melani hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Andrew, beruntung dia sudah tidak menyusui lagi sehingga asinya sudah tidak keluar.


Sebenarnya Melani masih sangat merasa lelah, namun dia sangat paham jika Andrew pasti ingin mengulang kembali pergumulan panas mereka.


Ini adalah yang pertama buat Andrew, pasti sekalinya dia merasakan akan merasa ingin lagi, Melani pun paham akan hal itu.


"Mau lagi?" tanya Melani.


"Iya, Mbak. Mau, abisan enak. Si otong juga udah bangun lagi, mau ngajakin si Neng olah raga pagi katanya," ucap Andrew seraya nyengir kuda.

__ADS_1


Dan pergumulan panas pun terjadi kembali, Andrew benar-benar mengajak Melani untuk merasakan nikmatnya memadu kasih untuk yang kedua kalinya.


*/*


Pukul 9 pagi di ruang perawatan Gadis sudah terlihat sangat ramai, karena selain ada Tuan Alfonso dan juga Ajun, di sana ada Gia bersama Elsa dan juga ketiga putrinya.


Mereka sengaja datang untuk menjenguk Gadis yang baru saja melahirkan, tentunya mereka juga ingin menjenguk bayi tampan yang Gadis melahirkan.


Melihat bayi tampan yang dilahirkan oleh Gadis, membuat Elsa merasa ingin sekali mengandung lagi.


Dia juga ingin merasakan yang namanya memiliki anak laki-laki, namun berbeda dengan Gia, melihat istrinya kesakitan saat melahirkan membuat dirinya tak tega jika harus membiarkan Elsa untuk hamil kembali.


Rasanya mempunyai tiga putri cantik saja sudah cukup baginya, lagi pula jika Elsa mengandung kembali, belum tentu dia akan mengandung anak laki-laki, pikirnya.


Banyak orang berkata jika dia harus mempunyai seorang putra untuk pewaris tahta, namun menurut Gia jika ketiga putrinya ingin berbisnis tak masalah baginya.


Perempuan pun banyak yang kini menjadi pemimpin perusahaan, tak harus lelaki saja.


"Waah, dia terlihat sangat tampan," puji Elsa terhadap putra yang dilahirkan oleh Gadis.


"Ya, mirip Mommynya," kata Ajun.


Gadis tersenyum karena yang diucapkan oleh Ajun adalah benar adanya, putra tampan itu benar-benar mirip dengan Gadis.


"Bunda, aku mau gendong." Aurora terlihat menghampiri Elsa dan mengulurkan tangannya.


"Dedenya baru saja launching, Sayang. Jangan gendong dulu, nanti kalau sudah agak gedean baru kamu gendong," kata Elsa.


Elsa terlihat khawatir jika Aurora belum bisa menggendong bayi tampan itu.


"Baiklah," jawab Aurora dengan wajah kecewanya.


Semua yang ada di sana nampak menertawakan Aurora, karena dia terlihat begitu antusias ingin menggendong bayi tampan tersebut.


Namun, harus kecewa karena Elsa tak mengizinkannya.


Ruang perawatan Gadis benar-benar terlihat sangat ramai, terlihat sekali rona bahagia di wajah Ajun dan juga Gadis. Begitu pun di wajah Tuan Alfonso.


"Ciee... akhirnya si kulkas punya anak juga, padahal aku kira kamu tidak akan pernah menikah." Gia terlihat memukul pelan lengan Ajun.


Mendengar ucapan Gia, Ajun nampak mencebikkan bibirnya, berbeda dengan Gadis yang terlihat mengatupkan mulutnya menahan tawa.

__ADS_1


Karena memang suaminya itu begitu dingin dan irit bicara, namun begitu hangat ketika berada di dalam lingkungan keluarga.


Apa lagi kalau di atas ranjang, jangan ditanya Ajun seperti apa. Karena dia akan berubah menjadi hangat dan penuh cinta.


__ADS_2