
Melinda terlihat sangat nyaman saat menyandarkan kepalanya di pundak Gia, sedangkan Gia merasa risih dibuatnya.
Gia melihat ke arah Elsa, wanita itu nampak menekuk wajahnya. Saat Gia melihat kedua putrinya, mereka pun sama, terlihat marah sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Gia langsung menelan saliva nya dengan sangat susah, dan tanpa sadar, Gia langsung menghempaskan tangannya dengan kencang. Membuat Melinda jatuh terduduk di lantai marmer yang dingin.
"Aaww! Sakit, Gia!" Kesal Melinda.
Gia langsung bangun dan menghampiri Mas Igan, desainer yang menangani gaun pengantinnya. Gia seolah menulikan telinganya, dia berpura-pura tak mendengar omongan Melinda.
"Gimana, Mas?" tanya Gia.
"Rebes, tinggal masuk ruang ganti. Buat nyoba," Mas Igan. langsung mengayunkan tangannya, dia memanggil karyawannya untuk mengambilkan gaun pesanan Gia.
Gia langsung menghampiri Elsa dan kedua putrinya, dia menuntun mereka menuju ruang ganti. Sebenarnya, Elsa sangat kesal melihat Melinda yang berusaha untuk mendekati Gia.
Tapi, ini di tempat umum, pikirnya. Jadi, Elsa berusaha untuk menahan amarahnya.
Saat tiba di ruang ganti, Melinda langsung masuk dan menarik tangan Gia.
"Kamu kenapa sih? Aku dari tadi manggil kamu!" Melinda terlihat kesal, dengan sikap cuek Gia.
"Maaf, tapi saya tidak ada keperluan dengan anda. Jadi, saya harap anda tidak mengganggu kegiatan saya." Gia berbicara dengan gaya formal, membuat Melinda meradang.
"Gia, aku masih sayang sama kamu. Please, aku mau kita bicara." Elsa langsung mendelik sebal, percaya diri sekali wanita itu, pikirnya.
Aurora dan Aurelia yang melihat kelakuan Melinda, merasa kesal. Aurora dan Aurelia pun, memutuskan untuk mengerjai wanita itu.
Aurora langsung tersenyum, saat melihat baju Melinda yang terlihat begitu minim bahan. Bahkan, area pundak dan setengah punggungnya begitu terekspos dengan jelas.
Aurora, mengambil kecoa mainan dari dalam tasnya. Kemudian, dia naik ke atas bangku yang ada disana dan memasukkan Kecoa itu ke dalam baju Melinda dari belakang.
Saat merasa ada yang aneh di belakang tubuhnya, Melinda pun langsung menggeliatkan tubuhnya.
"Aduduh,,, apa ini? Kenapa di punggung ku ada yang mengganjal?" Melinda berucap sambil berusaha menggapai bagian belakangnya.
Aurora dan Aurelia nampak mengatupkan mulutnya menahan tawa. Sedangkan Elsa, langsung memicingkan matanya, sambil menatap kedua putrinya.
Elsa seolah berkata pada kedua putrinya 'Apa yang telah kalian lakukan?'
Kedua putrinya, hanya menggedikan bahunya.
"Mas Igan, waktu saya tidak banyak. Tolong suruh keluar dulu wanita pengganggu itu," ucap Gia sambil menunjuk Melinda yang sedang meliukan tubuhnya.
__ADS_1
Bukan karena sedang menari, tapi, karena Melinda sedang menahan geli yang menjalar di punggungnya.
Mas Igan pun langsung menghampiri melinda, dia mengajak Melinda untuk keluar. Awalnya Melinda menolak, tapi, Mas Igan seakan dengan sengaja setengah menyeret langkah Melinda agar cepat keluar dari sana.
Bukannya apa-apa, dia hanya tak enak pada pelanggannya yang berani memberikannya bayaran yang mahal padanya.
Setelah kepergian Melinda, Elsa langsung menatap Gia dengan tatapan mengintimidasi.
"Mau mengatakan sesuatu?" tanya Elsa.
Gia langsung menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, dengan cepat dia pun mulai menjelaskan.
"Dia mantan pacarku, tapi, kami sudah tidak ada hubungan lagi." Gia mencoba untuk menjelaskan.
"Bener itu, Yah?" tanya Aurora.
"Bener, Sayang." Jawab Gia.
"Awas kalau bohong, jangan harap Ayah bakalan bisa nikah sama Bunda!" Ancam Aurelia.
"Ya ampun, anak Ayah nyeremin kalau lagi marah." Keluh Gia.
Elsa langsung mendekat, dia langsung mendekatkan bibirnya di telinga Gia.
"Awas aja kalau ketahuan masih berhubungan, aku ngga bakal mau di sentuh sama kamu." Ancam Elsa.
"Jangan ucapin nama itu lagi?!" Kesal Elsa.
"Iya,, iya.. Kamu kalau marah nyeremin," ucap Gia.
"Tentu aku marah, pasti gara-gara perempuan itu kan? Makanya kamu dulu gelap. mata, sampai tega nyakitin aku." Wajah Elsa berubah suram, Gia pun jadi tak enak hati.
"Maaf, maaf atas kejadian tidak mengenakan tadi. Yuk, kita mulai fiting gaunnya." Mas Igan masuk bersama dengan beberapa karyawannya.
Elsa yang sedang marah, berusaha menetralkan keadaan hatinya. Dia, tidak mau membuat Gia malu di depan desainer ternama tersebut.
Akhirnya, mereka pun melakukan fitting gaun sampai 1 jam lamanya. Karena Gia, ingin terlihat perfect di hari pernikahannya.
Gia, bahkan tidak mempermasalahkan berapa mahalnya gaun tersebut. Yang terpenting baginya, nyaman dan terlihat sangat sempurna jika dipakai oleh mereka berempat.
"Makasih Ya, Mas. Saya sangat puas dengan gaun hasil rancangan anda," ucap Gia seraya menulurkan tangannya.
Mas Igan, pun dengan senang hati langsung menerima uluran tangan Gia, dia pun tersenyum hangat kepada Gia dan mengucapkan banyak terima kasih karena telah menggunakan jasanya.
__ADS_1
"Makasih ya, Tuan Gia. Karena sudah mau menggunakan jasa saya, semoga bisa dengan pelayanan dari butik saya ini." Mas Igan berucap dengan tulus, dia suka pelanggan Royal seperti Gia.
"Sama-sama, saya juga mengucapkan banyak terima kasih, atas bantuan Mas Igan. Saya merasa sangat puas dengan hasilnya." Ucap Gia.
Setelah melakukan fitting baju, Gia mengajak Elsa dan kedua putrinya untuk mengecek ballroom hotel tempat pernikahan mereka dilaksanakan.
Saat mereka tiba di sana, Gia sangat senang. Karena, ruangan tersebut sudah di hias dengan sedemikian rupa, membuat ruangan tersebut terlihat sangat indah dan terlihat sangat megah.
Tentunya, ballroom hotel tersebut pun sudah siap untuk dijadikan tempat acara berlangsungnya pernikahan antara Gia dan Elsa.
Gia bahkan tersenyum dengan puas, karena persiapan pernikahannya sudah 99%.
"Yah, laper." Adu Aurora.
"Aku juga, laper banget." Aurelia menimpali.
Gia langsung melihat ke arah Elsa, sebagai tanda menanyakan apa yang harus Gia lakukan.
"Sesuai keinginan kalian, Kita makan siang, kalian mau makan di mana?" tanya Elsa kepada kedua putrinya.
"Makan soto, Bun. Yang ada di dekat taman, sotonya enak." usul Aurora.
"Boleh, Ayah Gia mau, makan di pinggir jalan?" Elsa bertanya dengan nada menyindir, sudah dapat di pastikan, jika Gia belum pernah makan di pinggir jalan.
"Ah, Ayah nurut." Ucap Gia pasrah.
Elsa langsung tersenyum, ternyata, Gia benar-benar tak bisa berkutik jika berhadapan dengan mereka bertiga.
Tentu saja Gia, akan menurut. Karena bagi Gia, mereka adalah segalanya. Gia, baru sadar, jika keluarga adalah segalanya.
Betapa menyesalnya, Gia saat ini. Karena telah menyianyiakan, Elsa dan juga kedua putrinya.
+
+
+
Terima kasih, Kakak. Untuk koment'nya.
Terima kasih juga, buat kalian yang selalu setia membaca karya receh Author macam saya.
__ADS_1
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐Untuk Kaleyan semua..
Besok hari senin, jangan lupa sisain Vote nya buat penulis amatiran seperti saya.. ๐๐๐๐