
Pagi ini Ajun terlihat bersemangat, dia berjalan menuju perusahaan milik Pranadtja dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.
Bahkan saat dia bertemu dengan para karyawan di sana, Ajun terlihat menyunggingkan senyumnya. Sesekali dia terlihat menganggukkan kepalanya saat ada yang membungkuk hormat padanya.
Ya... selain Tuan Dirja dan Gia, Ajun juga sangat disegani di sana. Tentu karena kinerjanya yang bagus dan juga kepercayaan yang Tuan Dirja berikan padanya.
Semua orang yang melihatnya bahkan sampai melongo tak percaya, bisa-bisanyal laki-laki yang selalu irit bicara, hampir tak pernah tersenyum dan tak pernah terlihat peduli itu tersenyum dengan sangat manis.
Sampai di dalam ruangannya, Ajun terlihat tersenyum lalu duduk sambil berselancar di atas layar ponselnya. Sesekali dia mengusap layar ponselnya, karena tanpa Gadis tahu, Ajun sudah mengabadikan wajah Gadis di dalam galery foto miliknya.
Ya, saat Gadis tidur. Ajun masuk ke dalam kamar tamu, lalu dia memotret wajah lelap Gadis.
"Cantik, manis. Sayangnya bar-bar banget," ucap Ajun lirih.
"Siapa yang cantik?" tanya Gia yang ternyata sudah berada di depan Ajun.
"Ah, itu. Anu, artis pendatang baru." Ajun langsung mematikan ponselnya, lalu dia pun langsung menyimpan ponselnya di dalam saku celana yang dia pakai.
"Kenapa ponselnya disimpan? Apakah kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Gia.
"No! aku tidak menyembunyikan apapun," ucap Ajun tegas.
"Tapi raut wajahmu mengatakan jika kamu sedang berbohong, bahkan raut wajahmu mengatakan jika kamu seperti pria labil yang sedang bimbang dengan perasaannya," ungkap Gia.
"Mana ada yang seperti itu? Aku tidak seperti itu, nggak mungkin kaya gitu!" ucap Ajun menyangkal.
Gia langsung tertawa dengan lepas lagi, "kamu benar-benar seperti anak ABG yang sedang labil," ucap Gia.
Setelah mengatakan hal itu, dia langsung melangkahkan kakinya menuju kursi kebesarannya. Dia langsung duduk dan memulai pekerjaannya, sedangkan Ajun terlihat merenungi ucapan dari Gia.
Ya, dalam hatinya dia pun membenarkan jika dirinya kini sedang labil. Antara mendekati Gadis, atau hanya mengagumi perempuan yang dia kata sebagai bocah ingusan tersebut.
__ADS_1
Hatinya menginginkan Gadis menjadi wanitanya, namun pikirannya mengatakan jika Gadis hanyalah bocah ingusan yang berbeda jauh usianya dengan dirinya.
Sebelas tahun usia perbedaan antara Gadis dan Ajun, hal itu membuat Ajun resah. Dia takut jika dirinya sudah tua nanti namun Gadis masih membutuhkan kasih sayang darinya dan dia sudah tidak bisa memenuhi nafkah batin untuk istrinya.
Ajun terlihat menghela nafasnya, lalu dia pun mulai melakukan tugasnya. Ajun terlihat begitu serius dalam mengerjakan pekerjaannya.
Hingga tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat, Gia menghampiri Ajun untuk mengajaknya makan siang bersama. Entah kenapa hari ini Gia sangat ingin memakan kepiting saus padang yang berada di Resto yang tak jauh dari kantor miliknya.
"Ajun, kita makan yu... di Resto B, aku ingin makan kepiting saos padang." Gia terlihat merengek seperti anak kecil.
"Ck, baiklah!" ucap Ajun mengiyakan.
Tadinya Ajun ingin makan siang di dalam ruangannya saja, dia sudah bersiap untuk memesan makanan secara online.
Namun karena Gia memintanya untuk pergi, akhirnya mau tak mau dia pergi ikut pergi. Entah kenapa, setiap kali Gia merengek, dia benar-benar tidak bisa menolak keinginan lelaki yang benar-benar dia sayangi dan sudah dia anggap seperti adiknya sendiri itu.
Gia terlihat begitu senang, dengan cepat dia pun mengambil dompet dan ponselnya. Dia akan pergi ke Resto tersebut dengan berjalan kaki, karena menurutnya Resto tersebut sangatlah dekat dan jika mereka pergi menggunakan mobil, hanya akan memperlambat waktu saja.
Dengan cepat Ajun mengambil ponselnya, lalu dia pun mengirimkan sebuah pesan pada anak buahnya.
'Gadis terlihat hendak pergi, jangan lupa awasi dan jaga dia!' isi pesan dari Ajun.
'Siap, Bos!' jawaban dari pesan singkat Ajun.
Ajun terlihat bernafas dengan lega, lalu masuk ke dalam Resto tersebut dan menemani Gia makan di sana. Gia bener-bener merepotkan, karena setelah mencoba menu makanan tersebut, dia tak mau memakan makanan itu.
Gia malah meminta Ajun untuk menghabiskan makanan tersebut, kalau Ajun tak mau, Gia beralasan jika Babynya nanti akan ileran dan Gia akan marah besar pada Ajun jika sampai anaknya ileran karena Ajun.
Ajun hanya bisa pasrah menrima apapun keinginan dari Gia.
Dua orang Bodyguard suruhan Ajun kini sedang mengikuti Gadis dari kejauhan, mereka terus memperhatikan wanita itu.
__ADS_1
Seperti biasanya, Gadis terlihat mengantarkan pesanan sop buah untuk pelangga bapaknya. Bahkan Gadis terlihat mengantarkan sop buah tersebut ke beberapa tempat.
Setelah selesai, Gadis pun langsung melajukan motornya untuk segera pulang. Namun tiba-tiba saja di pertengahan jalan ada sebuah mobil yang mencegat laju motor Gadis.
Gadis terlihat ketakutan saat melihat sosok Danish yang turun dari mobilnya, sedangkan Danish terlihat menyeringai licik.
"Mau apa lagi?! Kita udah ngga ada urusan lagi, please jangan ganggu gue!?" ucap Gadis memelas.
"Ngga bisa! Gue kangen sama elu, kemarin elu boleh menghindar dari gue. Sekarang ngga bakal bisa, ngga ada orang yang bakal nyelametin elu!" kata Danish.
Danish terlihat semakin mendekat, sedangkan Gadis sudah sangat ketakutan. Dia terlalu sering disakiti oleh Danish, sehingga dia menjadi trauma karena hal itu.
Tanpa Gadis duga, Danish langsung mengambil sapu tangan dari dalam sakunya dan membekapkannya ke mulut Gadis.
Gadis terlihat meronta, bahkan dia sempat menendang milik Danish di sela kesadarannya yang semakin menghilang.
Hingga akhirnya Gadis pun tak sadarkan diri, "elu ngga bisa lari dari gue. Elu akan jadi milik gue, lebih tepatnya, boneka pemuas hasrat gue."
Danish terlihat menggendong Gadis, lalu dengan cepat dia membuka pintu mobilnya. Namun, saat dia akan memasukkan tubuh Gadis, dia merasa jika tiba-tiba saja ada yang memukul tengkuk lehernya. Tak lama kemudian, dia ambruk tak sadarkan diri
"Kita apakan enaknya orang ini? Berani sekali dia menyakiti wanitanya si Bos!?" ucap geram Bodyguard A.
"Kita bawa saja ke markas, siapa tahu Bos ingin bermain-main dulu dengannya," ucap Bodyguard B.
"Lalu, bagaimana dengan gadis ini?" tanya Bodyguard A.
"Sebaiknya kita bawa saja dua-duanya ke markas, biar si Bos yang menindak lanjutinya," ucap Bodyguard B.
Setelah itu, Bodyguard A terlihat menggeret tubuh Danish dan memasukannya ke dalam mobilnya. Sedangkan Bodyguard B terlihat menggendong tubuh Gadis dengan sangat hati-hati dan mendudukannya di dalam mobilnya.
Mobil pun melaju ke markas dua orang Bodyguard kepercayaan Ajun, sedangkan mobil Danish mereka biarkan di pinggir jalan. Bahkan pintunya pun lupa mereka tutup kembali.
__ADS_1