Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Terkejut


__ADS_3

"Saya ingin melamar anak Tuan, bolehkah?" tanya Ajun dengan bibir bergetar antara takut dan malu.


"Memangnya seperti ini melamar wanita?" tanya Tuan Alfonso.


"Ah, sebentar." Ajun langsung berlari menuju mobilnya berada.


Dia langsung masuk ke dalam mobilnya dan mengambil sebuket bunga yang memang sudah dia persiapkan, Ajun juga mengeluarkan kotak kecil berwarna merah hati yang berisikan cincin berlian dari Gia.


Ajun tersenyum sambil memperhatikan Tuan Alfonso, Pak Galuh dan juga Gadis yang berdiri tepat di samping pusara Mom Intan.


Setelah berada di antara ketiga orang tersebut, Ajun langsung berjongkok dan menyodorkan sebuket bunga di tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya membawa kotak berisikan cincin berlian dari Gia.


"Ehm, Gadis... Aku hanya lelaki biasa, tak punya banyak harta. Aku juga bukan lelaki yang romantis, aku tak pandai mengungkapkan kata-kata puitis. Tapi, aku janji akan berusaha untuk membahagiakan kamu, aku akan selalu mencintai dirimu sampai akhir hayatku."


Ajun terlihat sangat gugup, bahkan dahinya terlihat mengeluarkan banyak keringat. Wajahnya pun terlihat memucat, bahkan tangannya pun terlihat bergetar.


"Jadi, apakah kamu mau menikah denganku? Aku sudah tua, umurku sudah mau tiga puluh tiga tahun. Ngga ada waktu lagi buat pacaran, langsung nikah aja gitu. Mau ya?" ucap Ajun memelas.


Gadis ingin sekali tertawa, apa lagi saat melihat wajah Ajun yang terlihat memucat. Tapi, saat melihat ketulusan di matanya, Gadis pun jadi percaya akan apa yang Ajun ucapkan.


"Gadis, kok diem aja? Om, nunggu jawaban kamu." Ajun terlihat menatap Gadis dengan tatapan penuh permohonan.


Ini kali pertama Ajun melamar seorang wanita, dia benar-benar merasa sangat tegang. Gadis mengambil tisu dan langsung menunduk, dia mengelap dahi Ajun yang dipenuhi dengan keringat.


Ajun langsung tersenyum kala memdapatkan perhatian dari Gadis, sedangkan Tuan Alfonso dan pak Galuh terlihat mengatupkan mulutnya menahan tawa.


Wajah Ajun benar-benar terlihat menyedihkan, wajahnya makin pucat pasi. Bahkan setelah Gadis mengelap keringet di dahinya, tubuh Ajun terlihat gemetaran.


Ajun melihat ke arah pak Galuh dan juga Tuan Alfonso, dia seakan sedang meminta dukungan pada kedua lelaki paruh baya tersebut.


"Pak, Tuan, Gadisnya ngga jawab lamaran saya." Ajun terlihat resah.


Pernah didukung sebelum berjuang membuat Ajun takut berdekatan dengan wanita, sekarang setelah dia benar-benar mencintai Gadis, dia benar-benar merasa takut jika Harus akan menolaknya.


Sudah dapat Ajun pastikan, jika Gadis menolaknya. Ajun akan melarang saja seumur hidup'nya, percuma mendekati wanita jika ujung-ujungnya hanya kecewa yang dia dapatkan.


Tuan Alfonso nampal menepuk pundak Ajun, "mungkin dia sedang memikirkannya dulu."

__ADS_1


"Hem, mungkin dia masih menimang-nimang. Masih membandingkan perselisihan umur diantara kalian," ucap Pak Galuh.


Wajah Ajun Kian memucat kala pak Galuh membawa-bawa umur, dia pun jadi berpikir kembali. Umurnya sudah mau 33 tahun, sedangkan gadis 21 tahun.


Perbedaannya saja sudah mencapai 12 tahun, dia pun jadi bertanya dalam hatinya. Apakah gadis mau menikah dengan pria tua sepertinya?


Ajun lalu menatap Gadis dengan lekat, dia begitu khawatir kala melihat wajah Gadis yang biasa saja. Namun beberapa detik kemudian.


"Gadis mau nikah sama, Om." Gadis mengulurkan tangan kirinya.


Tentu saja secara tidak langsung, dia meminta Ajun agar segera memasangkan cincin berlian itu di jari manis Gadis.


Bukannya menuruti keinginan Gadis, Ajun malah terlihat syok. Untuk sesaat dia terdiam. Lalu, tersungging senyuman manis dari bibirnya.


"Be--benarkah?" tanya Ajun terbata.


Gadis pun langsung menganggukkan kepalanya, "Iya."


Tanpa Gadis duga, Ajun langsung pingsan. Tubuhnya langsung terjatuh ke tanah, wajahnya terlihat pucat sekali. Membuat Gadis meneriaki namanya.


"Aduh, itu si ujang kasep kunaon?" Pak Galuh terlihat bingung melihat Akun yang jatuh tersungkur.


Berbeda dengan Tuan Alfonso, dia terlihat mencibir ke arah Ajun. Lalu, dia pun memanggil anak buahnya untuk mengangkat tubuh jangkung calon menantunya.


"Bawa dia ke klinik terdekat!" titah Tuan Alfonso.


"Siap, Mister," jawab mereka serempak.


Tiga orang anak buah Tuan Alfonso langsung membopong tubuh atletis Ajun, Gadis terlihat cemas sekali. Lalu, dia mengambil cincin dan sebuket bunga mawar yang Ajun siapkan untuk dirinya yang terconggok di tanah.


Tuan Alfonso langsung menarik tubuh Gadis ke dalam pelukannya, dia mengelus lembut punggung Gadis dan berusaha untuk menenangkannya.


"Jangan khawatir, dia lelaki yang kuat," ucap Tuan Alfonso.


Pak Galuh terlihat bingung melihat kejadian ini, dia hanya terpaku sambil menatap kepergian anak buah Tuan Alfonso yang membawa Ajun ke klinik terdekat.


"Jangan bengong, mending kita susul Nak Ajun," usul Tuan Alfonso.

__ADS_1


Pak Galuh seakan tersadar dari kebingungannya, dia pun langsung tersenyum ke arah Tuan Alfonso.


"Lalu, bagaimana dengan mobil Nak Ajun?" tanya Pak Galuh.


"Biar anak buah saya nanti yang bawa," ucap Tuan Alfonso.


Pak Galuh terlihat mengangguk setuju, memang itu akan lebih baik, pikirnya.


"Baiklah, saya setuju," jawab Pak Galuh.


Tuan Alfonso pun mengajak Gadis dan pak Galuh untuk masuk ke dalam mobilnya, tentunya Gadis duduk di bangku penumpang bersama Tuan Alfonso. Sedangkan pak Galuh duduk di samping sopir.


Pastinya sebelum mereka pergi, Tuan Alfonso meminta anak buahnya untuk membawa mobil Ajun.


Tiba di klinik, Gadis terlihat turun dengan terburu-buru. Dia merasa khawatir dengan keadaan Ajun, dia takut terjadi apa-apa pada lelaki yang baru saja melamarnya itu.


"Bagaimana keadaan Om Ajun?" tanya Gadis pada salah satu anak buah Tuan Alfonso.


"Maaf, Nona. Kami belum tahu, Nona. Karena Tuan Ajun sedang diperiksa di dalam oleh seorang Dokter," jawabnya.


"Apakah aku boleh masuk?" tanya Gadis.


"Kata Dokter kita harus menunggu," jawabnya lagi.


"Ya Tuhan!" pekik Gadis.


Gadis benar-benar tak sabar, dia ingin sekali segera menerobos pintu ruang pemeriksaan tersebut. Namun dia harus menghargai privasi dokter, karena jika Gadis memaksa masuk itu akan membuyarkan konsentrasi dokternya.


Jadi, dia pun memilih mengalah untuk tidak masuk. Namun, dia terus saja mondar-mandir seperti setrikaan panas yang sudah siap merapihkan baju.


Tak lama kemudian, Tuhan Alfonso dan pak Galuh pun datang. Mereka langsung menghampiri Gadis dan mengelus lembut tangan Gadis secara bersamaan.


" Jangan cemas, Bapak yakin Ajun orang yang sangat kuat," ucap Pak Galuh.


"Ya, Daddy setuju. Ajun pasti akan cepat sadar, mungkin dia hanya syok setelahmendengar jawaban 'Iya' dari kamu," ucap Tuan Alfonso menyemangati.


Gadis hanya bisa menganggukan kepalanya, lalu dia pun segera duduk di bangku tunggu. Begitu pun dengan Tuan Alfonso dan juga pak Galuh, mereka langsung menyusul Gadis dan duduk tepat di sebelah kanan dan kiri Gadis.

__ADS_1


__ADS_2