Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Flash Back 2


__ADS_3

Alfonso berjalan menyusuri kampung yang berada di daerah puncak tersebut, udara yang dingin begitu menyelimuti.


Bahkan kampung tersebut masih berselimut kabut, yang membuat mata Alfonso terbatas dalam jarak pandang.


"Dingin sekali," ucapnya lirih.


Sesekali alfonso terlihat mengusap kedua tangannya, mencoba mencari sumber kehangatan dari sana.


"Lapar sekali," ucap Alfonso.


Dia mengedarkan pandangannya, mencari tempat makan yang bisa dia kunjungi. Belum makan dari kemarin membuat perut Alfonso meronta ingin diisi.


Karena di sana hanya perkampungan kecil, Alfonso hanya menemukan warung sederhana yang menjual nasi uduk dan juga berbagai macam gorengan.


Awalnya Alfonso terlihat bingung, dia harus sarapan apa. Karena makanan yang dia lihat tak pernah dia sentuh sama sekali, namun dari pada kelaparan Alfonso pun memesan satu porsi nasi uduk lengkap dengan gorengannya.


"Bu, nasi uduknya satu." Alfonso memesan lalu duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu yang tersedia di sana.


Untuk sesaat pemilik warung tersebut terlihat kaget saat melihat siapa yang memesan, seorang pria bule, tampan, muda dan gagah sedang berada tepat di hadapannya.


"Tu--tunggu sebentar," jawabnya.


Tak lama pesanannya pun datang, dengan senang hati Alfonso menerima sepiring nasi uduk lengkap ke tangannya.


Beruntung sebelum pergi ke indonesia Alfonso memang sudah mempelajari bahasanya terlebih dahulu, karena dia benar-benar menginginkan untuk pergi ke negara maritim tersebut.


Awalnya dia merasa lucu saat merasakan makanan yang terasa manis dan juga gurih bercampur jadi satu di dalam mulutnya, karena memang nasi uduk yang Alfonso pesan diberikan kuah semur oleh sang penjual.


Akan tetapi, lama kelamaan Alfonso pun menikmati hidangan sederhana tersebut.


"Enak, lumayan enak." Kembali Alfonso memakan sarapannya.


Hingga saat dia melihat gadis cantik dan juga manis masuk ke dalam warung sederhana tersebut, pandangan Alfonso seakan terpaku pada gadis tersebut.


"Bu, nasi uduknya satu," ucapnya memesan.

__ADS_1


"Oke, neng," sahut Ibu penjual.


Gadis itu sempat menoleh ke arah Alfonso, namun dia langsung menundukkan wajahnya saat melihat tatapan memuja dari Alfonso.


"Ehm, air liurnya, Kang. Netes itu," ucap salah satu pelanggan di sana.


Tanpa sadar Alfonso pun mengusap bibirnya, hal itu mengundang tawa dari pengunjung warung sederhana tersebut.


Banyak orang yang menertawakan tingkah Alfonso, tak terkecuali dengan gadis cantik yang berada tak jauh dari Alfonso.


Intan Paramita, itulah nama gadis cantik yang membuat Alfonso jatuh hati pada pandangan pertama.


Setelah hari itu, Alfonso begitu giat mengejar cinta gadis kembang desa asal kota B tersebut.


Bahkan Alfonso melupakan tujuan awalnya untuk berlibur, dia malah mengejar cinta gadis desa yang sangat dia sukai.


Hingga setelah satu bulan, Alfonso pun memberanikan diri untuk mengajak Intan menikah dengannya.


"Neng, aku tahu kita belum lama bertemu dan belum lama saling kenal. Namun, aku ngga mau kalau sampai Neng Intan menikah dengan pria lain." Alfonso terlihat menggenggam erat tangan Intan.


Intan sebenarnya mengerti arti dari ucapannya Alfonso, hanya saja dia ingin yakin dengan mendengar sendiri penuturan dari Alfonso.


"Menikahlah dengan aku, Neng. Aku janji akan berusaha untuk membahagiakan kamu," ucap Alfonso tulus.


"Tapi, aku hanya anak yatim piatu. Aku takut keluarga kamu ngga setuju," ucap Intan tertunduk lesu.


"Jangan bilang seperti itu, aku tulus padamu. Kita nikah, mau ya?" rayu si pria bule asal negara S kala itu.


Alfonsi bahkan kala itu tak pernah lagi menghubungi orang tuanya, dia juga sebenarnya takut jika kedua orang tuanya tak setuju dengan pernikahannya.


"Baiklah," ucap Intan tanpa paksaan.


Karena sejatinya, dia pun menyukai lelaki bule itu sejak mereka bertemu.


Dua hari kemudian pernikahan mereka pun dilaksanakan, karena syarat dari Alfonso kurang lengkap mereka hanya bisa menikah siri saja.

__ADS_1


Namun, walaupun begitu. Tidak mengurangi rasa bahagia dari kedua pasangan saling mencinta tersebut.


Setelah menikah dengan intan, Alfonso pun berusaha membahagiakan intan semampunya.


Bahkan dia pun rela bekerja sebagai karyawan swasta dengan gaji biasa saja, padahal dia adalah lulusan dari universitas ternama di luar negeri.


Tentu saja karena dia tak berani menghubungi orang tuanya, dia bahkan tak pernah memakai ponselnya lagi. Dia takut akan mendapatkan telpon dari Dadnya, lalu dia disuruh pulang ke negara asalnya.


Hingga di usia 6 bulan pernikahan mereka, Alfonso ketahuan tidak memperbaharui masa tinggalnya selama di Indonesia.


Itu semua bisa terjadi karena dia terlalu sibuk merasakan dan menikmati kebahagiaannya bersama dengan Intan, sehingga dia lupa untuk menunaikan kewajibannya.


Hal yang lebih menyedihkan, Alfonso langsung dideportasi ke negara asalnya. Bahkan dia tak sempat menemui istrinya, karena dia sedang berada di kantor tempat dia bekerja.


Padahal saat itu Intan ingin sekali memberikan kejutan kepada suaminya, namun malah Intan yang terkejut.


#Flash Back Of#


Tuan Alfonso terlihat menarik nafas panjang, kemudian dia mengeluarkannya secara perlahan.


"Maaf, Tuan. Apakah Tuan tidak pernah berusaha untuk mencari tahu tentang keberadaan Intan setelah anda dideportasi?" tanya Pak Galuh.


"Hidupku sangat rumit, kamu tahu... saat aku pulang Dad ternyata sedang sakit parah. Aku pun tidak bisa langsung menemui Intan, aku mengurusi Daddy dan ternyata tak lama Dad meninggal. Aku mengurus kematiannya, lalu setelah kepergian Dad, Mom pun meninggal. Perasaanku terlalu kacau saat itu," jelas Tuan Alfonso.


"Tapi, setidaknya anda harus mencari tahu keberadaan Intan. Karen intan pun pasti sangat menghawatirkan anda," ucap Pak Galuh.


"Ya, seharusnya aku melakukan hal itu. Namun karena dulu aku terlalu bingung dan juga aku pun terlalu sibuk mengurusi kematian kedua orang tuaku, membuat aku lupa segalanya. Bahkan aku terlalu sibuk untuk mengurusi perusahaan Daddy yang hampir bangkrut saat itu," jelasnya lagi.


Pak Galuh hanya bisa menghela nafas kasar, dia tak menyangka jika Tuan Alfonso sangat bodoh, pikirnya.


Seharusnya kalau memang Tuan Alfonso tidak bisa datang sendiri ke Indonesia, apa salahnya dia meminta orang lain untuk memantau keadaan istrinya. Karena Tuan Alfonso pasti sudah mempunyai banyak kenalan di Indonesia.


"Lalu?" tanya Pak Galuh.


"Hingga setelah 8 bulan aku tinggal di negaraku dan perusahaan Daddy juga sudah normal kembali, akhirnya aku pun memutuskan untuk pergi ke negara tempat istriku tinggal. Namun saat aku tiba, hanya kecewa yang aku dapat karena tetangga Istriku bilang jika Intan meninggal saat melahirkan putri kami. Aku bahkan tak sempat bertanya apakah puteri kami masih hidup apa tidak, karena saking kalutnya pikiranku kala itu." Tuan Alfonso berucap dengan sendu.

__ADS_1


"Seharusnya anda mencari tahu dulu sampai tuntas, agar saat itu Gadis ada Ayahnya yang mengurus!" ucap kesal Pak Galuh keceplosan.


__ADS_2