Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Menjual Perhiasan


__ADS_3

Sampai di toko perhiasan terbesar di pusat kota, Melani pun langsung memarkirkan mobilnya.


Dia pun dengan cepat langsung masuk ke dalam toko perhiasan tersebut, dengan membawa tas berukuran sedang.


"Selamat datang, apa ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya salah satu pelayan toko tersebut.


Melani nampak tersenyum, lalu dia pun menjawab pertanyaan dari pelayan toko tersebut.


"Saya mau menjual semua perhiasan saya, bisa?" tanya Melani.


"Bisa, Nyonya. Boleh saya lihat dulu perhiasannya seperti apa?" tanya pelayan toko tersebut.


"Boleh, tentu saja boleh." Melani lalu mengangkat tas berukuran sedang yang dia bawa.


Kemudian, dia mengeluarkan satu persatu perhiasan yang menjadi investasinya. Mulai dari kalung, cincin, gelang, giwang, bahkan beberapa emas murni dia keluarkan semua.


Pelayan toko tersebut bahkan sampai tersenyum melihat semua perhiasan yang Melani keluarkan dari dalam tasnya.


"Saya mau jual semuanya," kata Melani.


"Boleh, Nyonya. Mau beli mobil baru'kah? Soalnya beberapa hari yang lalu ada iklan mobil keluaran terbaru," ucap pelayan toko tersebut dengan ramah.


Melani terlihat tersenyum canggung, lalu dia pun menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Nona. Saya ingin membeli rumah, walaupun hanya rumah sederhana. Semoga saja uangnya cukup," kata Melani.


Mendengar ucapan Melani, pelayan toko tersebut pun nampak tersenyum. Ternyata Melani menjual semua perhiasannya untuk kebutuhan primer.


Dia pun merasa bangga terhadap perempuan yang selalu mengedepankan kebutuhan pokok, dari pada untuk berpura-pura kaya atau sekedar menghabiskan uang untuk menunjang penampilan semata.


"Sepertinya ini akan cukup kalau untuk rumah sederhana, bahkan untuk perabotannya juga cukup. Tunggu sebentar ya, Nyonya. Biar saya hitung dulu," kata pelayan toko tersebut.


Melani pun langsung menganggukkan kepalanya, pelayan toko tersebut nampak membawa semua perhiasan yang Melani keluarkan dari dalam tasnya.


Kemudian, dia pun menimbang dan menghitung semua perhiasan yang Melani berikan.


Tak lama kemudian, pelayan toko tersebut pun langsung menghampiri Melani. Dia tersenyum hangat, lalu dia pun berkata.


"Total semuanya 540 juta, itu sudah termasuk potongannya," kata pelayan toko tersebut.


Melani nampak tersenyum, ternyata tidak sia-sia selama 3 tahun ini dia tidak memakai uang yang Aldino berikan.


Sepertinya dengan jumlah yang disebutkan oleh pelayan toko tersebut, Melani pun bisa membeli rumah sederhana yang dia inginkan beserta perabotannya.


Persis seperti apa yang dikatakan oleh pelayan toko tadi.


"Maaf, Nyonya. Mau peke uang cash atau lewat mobile banking?" tanya pelayan toko tersebut.


Melanie nampak berpikir, jika dia membawa uang cash, sepertinya terlalu beresiko. Mungkin akan lebih baik kalau melalui mobile banking saja.


Jadi, kalau dia sudah menemukan rumah yang cocok dengan kriterianya, dia bisa langsung mentransfer uang tersebut.


"Pakai aplikasi mobile banking saja," jawab Melani pasti.

__ADS_1


"Boleh, Nyonya. Bisa minta nomor rekeningnya?"ucap pelayan toko tersebut.


"Boleh, tentu saja boleh," kata Melani.


Melani terlihat merogoh saku celananya, lalu dia pun mengambil ponselnya dan memberikan nomor rekeningnya kepada pelayan toko tersebut.


Dalam hitungan detik saja, uang sebesar 540 juta pun masuk kedalam rekeningnya.


"Terima kasih banyak," kata Melani.


"Sama-sama, Nyonya. Kalau mau jual atau beli perhiasan, anda bisa datang lagi kemari," ucap pelayan toko tersebut dengan sopan.


Melani pun nampak mengganggukkan kepalanya, kemudian dia pun bersiap untuk pergi.


Namun, saat dia membalikkan tubuhnya. Tiba-tiba saja dia menabrak seorang pria yang berada di belakang Melani.


Brugh!


Kepala Melani terlihat membentur dada bidang milik seorang pria yang ber postur tubuh tegap di belakangnya.


Melani terlihat mengaduh kesakitan, karena kepalanya lumayan keras terbentur dada bidang pria tersebut.


Pria tersebut pun, refleks memegang kening Melani dan mengusapnya dengan lembut.


"Maaf, saya tidak sengaja menyakiti anda," ucap pria tersebut.


Melani yang merasa mengenali suara pria tersebut pun, langsung mendongakkan kepalanya.


Alangkah kagetnya Melani, saat melihat Andrew yang kini tengah mengusap-usap keningnya dengan sangat lembut.


Dia pun menjadi salah tingkah dan menarik tangannya, lalu Andrew terlihat mengusap-usapkan kedua tangannya.


"Maaf, karena saya sudah lancang," ucap Andrew.


"Tidak apa-apa, justru aku yang meminta maaf karena sudah menabrak lmu secara tidak sengaja," kata Melani.


Melani terlihat memperhatikan penampilan Andrew, dia terlihat lebih muda dan tampan. Karena saat ini Andrew hanya menggunakan kaos hitam pendek dipadu padankan dengan jaket levis, dengan celana jins berwarna senada.


Berbeda saat dia bertemu dengan Andrew kala di kantor Tuan Alfonso, dia mengenakan pakaian formal kala itu. Sehingga, Andrew terlihat lebih dewasa.


"Tidak apa-apa, Nyonya." Andrew terlihat mengusap tengkuk lehernya yang terasa dingin.


Melani langsung tersenyum dibuatnya, Andrew bertingkah seperti anak remaja yang berpapasan dengan pacarnya.


"Ehm, kamu sedang apa di sini?" tanya Melani.


"Ah, hampir saja lupa. aku ingin mengambil kalung pesananku," ucap Andrew.


"Wahh! Pasti kalung untuk orang spesial," goda Melani.


"Tentu saja, kaluang itu memang untuk orang yang sangat spesial untukku. Wanita yang selalu berada di sampingku dalam keadaan apa pun," kata Andrew.


Mendengar ucapan Andrew, Melani terlihat tersenyum kecut. Melanie bisa melihat dari sorot mata Andrew, jika wanita yang dia bicarakan sangatlah dia sayangi.

__ADS_1


"Beruntung sekali perempuan itu," ucap Melani.


"Aku lebih beruntung mempunyai dia," kata Andrew bangga.


Melani hanya tersenyum, lalu dia pun berpamitan kepada Andrew. Karna dia ingin segera pergi untuk melihat rumah yang sudah dia incar sejak tadi malam.


"Aku permisi," kata Melani.


"Ya, Silahkan!" jawab Andrew.


Melani pun nampak keluar dari toko perhiasan tersebut, sedangkan Andrew terlihat mengambil kalung pesanan miliknya.


Tiba di depan toko perhiasan tersebut, Melani langsung masuk ke dalam mobilnya. Untuk sejenak, dia duduk terpaku memikirkan nasibnya setelah berpisah dengan Aldino.


Walaupun pada kenyataannya akte cerai memang belum turun, namun dia harus mulai berpikir untuk menata masa depan dirinya dan kedua buah hatinya.


Saat Melani hendak melajukan mobilnya, dia melihat Andrew keluar dari toko perhiasan tersebut, lalu dia berdiri tepat di pinggir jalan.


Melani yang penasaran pun, langsung melajukan mobilnya dan berhenti tepat di depan Andrew.


"Kamu ngga bawa mobil?" tanya Melani setelah menurunkan kaca mobilnya.


Andrew nampak tersenyum, lalu dia pun menjawab pertanyaan dari Melani.


"Iya, Nyonya. Saya tidak membawa mobil, soalnya mobilnya sudah di bawa terlebih dahulu oleh adik saya," jawab Andre.


"Biar saya antar pulang," kata Melani.


"Tidak usah, Nyonya. Soalnya kita berbeda arah, saya mau ke Resto dulu. Mau menemui Ibu dan juga adik saya sudah berada di sana," ucap Andrew.


"Tak apa, kamu sudah membantu saya. Sudah sepatutnya saya membantu kamu," ucap Melani.


"Baiklah jika Nyonya memksa," ucap Andrew seraya masuk ke dalam mobil Melani.


Melani nampak tersenyum mendengar ucapan dari Andrew, kemudian dia pun melanjukan mobilnya menuju Restoran yang sudah disebutkan alamatnya oleh Andrew.


Sepanjang perjalanan, tak ada obrolan diantara mereka. Hingga mobil yang Melani kendarai diberhentikan tepat di Restoran yang disebutkan alamatnya oleh Andrew.


"Sudah sampai," kata Melani.


"Terima kasih, Nyonya," jawab Andrew.


Andrew terlihat turun dari mobil Melani, lalu dia masuk ke dalam Restoran tersebut. Untuk sesaat Melani memperhatikan pria muda tersebut.


Setelah Andrew masuk, dia nampak mengeluarkan kalung Berlian dari saku jaketnya.


Lalu, dia memakaikan kalung tersebut kepada wanita paruh baya yang terlihat begitu mirip dengannya.


Setelah itu, Andrew nampak mengecup pipi wanita paruh baya tersebut.


"Manis sekali dia, pasti itu Ibunya," ucap Melani sebelum dia melajukan mobilnya.


+

__ADS_1


+


BERSAMBUNG....


__ADS_2